Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 79


__ADS_3

Ceklek!


Saat mendengar suara pintu kamar di buka, Vada pura-pura masih tertidur. Terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan.


Dimas tersenyum melihat Vada yang ia pikir masih pulas tersebut. Ia meletakkan nampan berisi sarapan untuk Vada di atas nakas kemudian berjalan mendekati Vada. Ia duduk di tepi ranjang. Menatap wanita yang ia tahu sebagai penerima donor mata dari Zoya tersebut sejenak. Kemudian, ia Menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah Vada.


Tubuh Vada sedikit bergetar, antara rasa takut dan risih ketika dimas membelai wajahnya. Ia masih memejamkan kedua matanya, menunggu kesempatan untuk bisa kabur dari sana.


Dimas tersenyum tipis, ia tahu kalau wanita di depannya hanya pura-pura tidur.


"Apa aku perlu menciumnya untuk membangunkannya?" gumam Dimas dengan sengaja. Membuat hati Vada semakin was-was mendengarnya.


"Ya, bukankah seorang pangeran membangunkan putri tidur harusnya dengan cara mencium bibirnya?" gumam pria itu lagi.


Vada merasa sesuatu semakin mendekati wajahnya. Semakin terasa deru napas pria itu kian mendekat. Sebelum hal yang tak diingkannya terjadi, Vada menggerakkan kakinya untuk menendang pria di depannya tersebut hingga Dimas terjengkang.


"Mau ngapain kamu?" tanya Vada takut-takut. Namun, Ia berusaha tetap tenang. Ia segera turun dari ranjang dan berusaha membuka pintu untuk keluar. Namun, dengan cepat Dimas berhasil menarik tubuhnya dan mengenalkannya di ranjang.


Dimas hanya tersenyum tipis. Entahlah, Vada merasa senyuman Dimas begitu menakutkan baginya. Pria itu bangkit lalu kembali mendekati ranjang. Dimas menaikkan kaki kirinya ke atas ranjang dengan di Tekuk lalu tangannya memegang dagu Vada. Wanita itu langsung melengos, namun dengan cepat di tarik oleh Dimas supaya melihat ke arahnya.


"Aku membawakanmu sarapan, sayang. Tapi, sepertinya ada sarapan yang lebih enak daripada nasi itu. Rupanya kau ingin bermain-main denganku pagi ini," ucap Dimas.


Vada benar-benar merinding mendengarnya. Ia terus memanggil nama suaminya dalam hati.


"Abang, tolong aku. Siapapun tolong aku," Vada benar-benar berharap ada pertolongan yang segera datang.


"Jangan macam-macam kamu. Atau aku akan teriak!" ancam Vada yang tentu saja tidak berarti apa-apa untuk pria di depannya itu. Pria itu hanya tersenyum sinis menanggapinya.


"Sebenarnya siapa kamu? Dan apa salahku? Ke-kenapa kamu melakukan ini kepadaku?" tanya Vada yang tetap berusaha tenang meski sebenarnya sangat gugup.


"Aku? Hah. Aku adalah kekasih dari wanita yang sudah mendinorkan matanya untukmu. Dan juga... Kau tahu, aku kehilangan dia karena Kau! Kau yang menyebabkan Zoya meninggal dalam kecelakaan waktu itu. Jadi kau harus bertanggung jawab. Kau harus jadi milikku, sayang. Bukan si Breng sek Elvan itu. Harusnya aku! Aku yang berhak memilikimu!" ucap Dimas tegas.

__ADS_1


Kaget? Sudah pasti Vada rasakan, bukankah Zoya adalah tunangan dari suaminya dulu, lalu kenapa kini ada laki-laki yang mengaku sebagai kekasih wanita itu. Kecuali mereka selingkuh. Vada benar-benar terkejut mendengarnya. Permainan macam apa ini. Kenapa ia harus terlibat dalam cerita cinta yang begitu rumit karena ketidaktahuannya. Karena kornea mata yang melekat di matanya. Sungguh, Vada tak mengerti. Menyesali semuanya pun kini terasa terasa percuma. Nasi sudah menjadi bubur, Zoya tak mungkin hidup lagi dan ia tak mungkin mengembalikan matanya.


Pikiran Vada soal kerumitan yang terjadi buyar begitu saja ketika ia menyadari Dimas kembali memajukan wajahnya mendekati Wajah Vada. Pria itu bahkan tak peduli dengan keributan yang sedang terjadi di luar sana.


Vada berusaha mundur terus menghindari wajah Dimas yang terlihat sudah ber naf su terhadapnya. Namun, Dimas Lagi-lagi mencengkeram dagunya. Saat bibir pria itu hampir menyentuh bibirnya, Vada melayangkan sebuah tamparan keras di wajah pria tersebut hingga sudut bibirnya terasa persis dan sedikit mengeluarkan darah.


Dimas menyentuh sudut bibirnya yang berdarah, ia langsung tersenyum sinis dan meludahbke sembarang, "Jangan menguji kesabaranku, sayang," ucapnya lembut namun terdengar sangat menakutkan.


Dimas kembali berusaha mencium bibir Vada, dan kali ini wanita itu refleks meludahi wajah Dimas, "Jangan berani menyentuhku! Apalagi melakukan hal yang tidak sepantasnya!" seru Vada dengan nada bergetar.


Dimas mengusap wajahnya kasar lalu senyum menakutkan itu kembali terbit dari bibirnya, "Kau benar-benar ingin aku bermain kasar denganmu, Vada!" Dimas langsung mencengkeram pipi Vada hingga Vada merasaka sakit di kedua pipinya. Tangannya berusaha melepas cengkeraman Dimas namun sia-sia. Tenaga pria itu kini berkali liat karena amarahnya.


Dimas berusaha melepas kancing kemeja yang di kenakan oleh Vada. Tentu saja Vada memberinya sekuat tenaga. Karena kesal dan emosi, Dimas menarik paksa kemeja itu hingga sobek. Vada langsung berusaha menutup tubuhnya menggunakan kedua tangannya.


"Aku tidak ingin berbuat kasar kepadamu, tapi kau yang memintanya! Dasar, wanita tidak tahu diri! Harusnya kau tak perlu menyusahkan diri seperti ini!" Dimas kembali berusaha mencium bibir Vada. Vada terus berusaha menggeleng ke kanan dan kekiri demi menghindari bibir Dimas seraya menahan sakit akibat cengkeraman tangan Dimas. Dengan tangannya terus berusaha memukul dan mendorong pria itu.


Vada kembali meludahi wajah Dimas, membuat pria itu memejamkan matanya kehilangan kesabaran.


Plak! Dimas menampar wajah Vada lalu ia mengambil tali untuk mengikat kedua tangan Vada di belakang tubuhnya. Ia kemudian kembali mencengkeram wajahnya nya dan berusaha mencium wanita tersebut. Vada yang sudah merasa lelah dan sakit akibat tamparan keras Dimas hanya bisa pasrah dengan derai air mata.


Tinggal menempel saja bibirnya di bibir Vada, tiba-tiba tubuh Dimas di tarik oleh seseorang dari belakang.


"Berani kau menyentuh istriku, akan ku bunuh kau!" teriak Elvan seraya menarik tubuh Dimas dan melemparnya hingga membentur tembok.


Elvan langsung melepas tali yang mengikat kedua tangan istrinya.


"Abang!" Vada langsung memeluk Elvan sambil terus menangis.


"Tenanglah. Aku di sini," Elvan berusaha menenangkan Vada dengan memeluknya erat dan mengusap punggung wanitanya tersebut. Ia langsung melepas jasanya untuk menutupi Tubuh Vada yang kemejanya sudah di robek Oleh Dimas.


Dimas berusaha Bangkit dan mendekati Elvan. Saat ia bersiap memukul Elvan, Mirza terlebih dahulu memukulnya. Pria itu datang menyusul ke dalam setelah berhasil mengajar beberapa anak buah Dimas yang berjaga di luar.

__ADS_1


Dimas megepalkan tangannya kuat lalu membalas memukul Mirza.


"Mas Mirza!" teriak Vada saat MELIHAT Mirza di pukul oleh Dimas. Elvan menoleh, ia langsung membantu Mirza menghajar Dimas.


Beberapa anak buah Dimas yang lain masuk ke dalam saat Elvan hendak memukul Dimas. Mirza yang mencoba melawan mereka, sementara Elvan sudah mencengkeram kerah kemeja Dimas, "Dasar ba jing an! Beraninya kau mengusik ku! Breng sek!"


Bugh! Elvan melayangkan sebuah tinjuan di wajah Dimas. Pria itu justru tersenyum sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Bugh! Kali ini dimas yang melayangkan tinjunya kepada Elvan.


"Kau sudah tahu bukan? Kalau dulu Zoya adalah milikku!" ucap Dimas tanpa rasa bersalah. Tentu saja hal itu semakin menyulut Amarah Elvan.


Bugh Bugh bugh! Tiga tinjauan dan satu tendangan Elvan layangkan untuk Dimas. Lagi, pria itu tersenyum sinis. Ia seperti tak memiliki rasa sakit.


" Kenapa? Kau merasa tertipu selama ini? Kau sekarang menyadari kebodohanmu? Bagaimana rasanya setelah sekian tahun baru menyadarinya? Sakit? Ck, rasa sakit mu tak sebanding denganku! Karena ayahmu , ayahku harus masuk penjara dan berakhir mengenaskan di sana! Breng sek!" Dimas hendak memukul Elvan namun pria itu daat menghindar dengan cepat.


Elvan tak menyangka, ternyata Dimas yang ia anggap sahabat terbaik, yang ia anggap seperti saudara dan ia ercaya untuk menjaga Zoya, tunangannya ternyata menaruh dendam kepadanya karena tuan Adijaya, ayah Elvan telah memasukkan ayahnya ke penjara karena telah melakukan penggelapan dana perusahaan yang sangat besar.


"Itu semua karena kesalahan ayahmu sendiri!" sahut Elvan. Meski ayah Dimas yang dulunya adalah orang kepercayaan ayahnya Elvan telah berhianat, Namun Elvan tetap Menganggap Dimas sahabat bahkan saudara. Ia dan dimas tetap tumbuh bersama hingga lulus kuliah. Bahkan Elvan tak segan-segan memodali Dimas untuk membuka usaha.


"Sekarang kau tahu kalau Zoya juga menghianatimu. Jadi, Lepaskanlah istrimu itu untukku. Bukankah kau menikahinya karena rasa cintamu untuk Zoya? Sekarang tak ada gunanya lagi bukan wanita ini untukmu? Biarlah dia menjadi milikku, sama seperti Zoya yang sebenarnya lebih mencintaiku dari ada dirimu!"


Mirza yang tanpa sengaja mendengarnya terkejut, ternyata itu alasan utama Vada menikah Dengan Elvan. Namun fokus nya kembali teralihkan kepada anak buah Dimas yang tak kunjung habis, datang silih berganti setelah yang lain tumbang.


Sungguh Elvan muak dengan ucapan Dimas. Ia kembali mencengkeram kerah pria itu, "Jangan harap aku akan menyerahkan istriku kepadamu, sekalipun itu dalam mimpi!" Elvan langsung menghajar Dimas hingga tersungkur di lantai.


Melihat Mirza yang semakin kewalahan melawan anak buah Dimas, Elvan segera membantunya. Vad aterus berteriak historis menyaksikan perkelahian di depannya tersebut dari atas ranjang.


Vada melihat Dimas mengeluarkan senjata dari saku celananya. Ia langsung menodongkan pis tol ke Elvan yang sedang sibuk menghajar anak buahnya.


Vada menggelengkan kepalanya dan langsung berteriak, "Abang awas!" teriak y sambil berlari.

__ADS_1


Elvan yang merasa tubuhnya di dekap dari belakang oleh Vada langsung menoleh bersamaan dengan suara tembakan.


Terlambat menghindar, Sebuah peluru telah mengenai punggung Vada.


__ADS_2