
Setelah tahu kalau Elvan adalah benar ayahnya, Kyara semakin lengket dengan pria itu. Terlihat kini Elvn sedang membuatkan susu untuk Kyara di dapur. Kyara sendiri duduk dengan tumukninah di atas meja dapur seraya memperhatikan ayahnya yang sedang membuatkan susu untuknya.
Sementara Vada, wanita itu duduk di kursi meja makan yang letaknya juga di dapur tersebut. Tugasnya langsung diambil alih oleh Elvan. Awalnya ia merasa tak enak karena Kyara merengek, mengharuskan Elvan yang membuatkannya. Tapi, karena elvan sendiri yang dengan senang hati mengiyakan permintaan puteri kesayangannya tersebut, Vada pun hanya bisa melihat pria yang dulu begitu angkuh dan dingin itu berkutat dengan botol susu.
Vada melihat interaksi suami dan anaknya dengan perasaan hangat,"Bisa enggak, Bang?" tanyanya memastikan.
Elvan menoleh, "Jangan meremehkan aku, sayang. Semalam saat kau sakit, siapa yang mengurus princessku ini? Abang!" ucap Elvan jumawa, jarinya mencolek hidung mancung Kyara. Membuat anak itu terkekeh.
"Kya yang ajalin, mama! Daddy belajal!" Kyara menyambung, "Ail panas, syama ail dingin, telus syusyunya tiga! Daddy belajal!" imbuhnya cepat.
"See? Gurunya secantik secerdas ini, abang langsung bisa nangkep dan hapal!" gelak Elvan. Ia melanjutkan membuat susu untuk Kyara.
Mata Vada memicing heran, apakah di depannya saat ini benar Elvan suaminya? Sepertinya waktu perpisahan mereka memang benar-benar membuat Elvan banyak berubah. Atau karena Kyara yng berhasil membuat dunia baru buat Elvan.
" Sudah jadi, princess, nih!" ucap Elvan. Kyara menerima dotnya lalu mengulurkan kedua tangannya kepada Elvan, "Gendong, mau bobok!" ucapnya.
"Baiklah," Elvan menggendong Kyara dan membawanya ke kamar.
Vada ikut berdiri dan mengekori keduanya dengan perasaan yang masih merasa aneh. Benar-benar aneh, ia seperti melihat sosok lain dari suaminya.
Dugh!
Karena melamun, Vada tidak sadar jika Elvan berhenti dan ia menubruknya.
"Eh, maaf!" ucapnya saat Elvan memutar badannya dan mengerling, menatapnya dengan binar terang dimatanya.
"Mikirin apa sampai bengong begitu? Abang udah di sini loh padahal," ucap Elvan tersenyum penuh arti.
"Ayo daddy! Kya udah ngantuk!" seru Kyara sebelum Vada bersuara membalas ucapan Elvan.
Elvan meraih tangan Vada, "Ayo, sayang!" ucapnya menarik tangan Vada supaya berjalan beriringan dengannya ke kamar.
Malam ini Kyara sangat senang karena saat ini di atas tempat tidur, ia di temani oleh kedua orang tuanya. Lengkap, ayah dan ibunya.
Tangan kanan Kyara memeluk mothy, sementara tangan kirinya memeluk lengan kanan Elvan takut jika sang ayah akan pergi lagi. Ia sudah mewanti-wanti ayhnya tersebut untuk tidak pergi lagi, berulang kali samoi Elvan merasa bersalah karena selama ini ia tak pernah ada untuk putri kecilnya itu. Sementara tangan kiri Elvan memegangi dot susu.
Pemandangan yang indah sekali bagi Vada. Ia merasa ini seperti mimpi. Ia masih tak percaya jika kini Elvan benar-benar ada di hadapannya. Jika ini hanyalah sebuah mimpi indah, ia berharap untuk tidak pernah bangun lagi.
__ADS_1
Ia sampai berkaca-kaca. Apakah selam ini ia begitu jahat terhadap Kyara dan Elvan karena menyembunyikan status ayah dan anak mereka? Sungguh Vada menyesalinya, apalagi kini ia melihat betapa bahagianya sang putri, " mama harap suatu saat jika kamu tahu hal ini, kamu bisa mengerti posisi mama saat itu, sayang. Saat dimana mama terpaksa membawamu yang masih dalam perut mama pergi jauh dari daddy. Dan kamu juga tak menyalahkan daddimu," batinnya.
Namun, panggilan dari Elvan menyadarkan Vada jika semua ini memang kenyataan.
"Vada, sayang... !" pria itu terus memanggilnya karena ponsel milik Vada berdering sejk tadi, nmaun wanita itu malah asyik dengan pikirannya sendiri.
"Eh, iya bang?" ucap Vada.
"Kamu ngelamunin apa sih dari tadi, hem? Ponsel kamu bunyi dari tadi," ucap Elvan.
Vada tergagap, ia mengambil ponselnya yang ada dia tas nakas di belakanganya.
Vada tak langsung mengangkatnya, ia malah memandang Elvan seolah meminta persetujuan dari sorot matanya. Pria itu tersenyum dan mengangguk," Angkatlah, kalian perlu bicara," ucap Elvan yang sudah menebak siapa yang menelepon.
"Halo, Ndra!" ucap Vada.
"Shabrina... Aku..."
"Besok kita ketemu, kita bicara langsung Ndra," potong Vada cepat. Ia pikir asti Andra ingin meminta maaf soal kejadian tadi di rumah kedua orng tuanya. Dan Ia merasa harus bertemu langsung dengan Andra untuk menjelaskan masalah yang sebenarnya. Ya, Andra harus tahu sola Elvan.
"Baiklah, besok aku ke cafe," sahut Andra.
"Bukan Kyara yang butuh kamu, tapi dadinya," ucap Elvan, matanya melirik kearah Kyara yang sudah terpejam pulas, namun bibirnya masih sibuk mengenyot dotnya.
"Ck, apa sih bang," decak Vada malu-malu.
Elvan tersenyum penuh arti, "Sebentar!" ucapnya.
Elvan mencoba menarik dot di tangannya dan perlahan dot itu terlepas dari bibir mungil Kyara, nmun bibir anak itu tetap masih mengenyot, lucu sekali.
" Akhirnya..." Elvan mendesaah lega lalu meletakkan dot di nakas. Ia kemudian mencoba melepas tanganya yng masih di peluk oleh Kyara dan untungnya berhasil tanpa drama.
"Lihat bibirnya, masih aktif gitu, lucu, ya?" ucap Elvan pada Vada.
"Iya," sahut Vada yang menatap Kyara penuh sayang.
"Maaf, abang nggak ada di saat saat sulit kamu mengandung dan melahirkannya, oasri sangat sulit saat-saat itu ," bulu kuduk Vada berdiri seketika karena Elvan bicara teat di samping telinganya. Entah kapan pria itu berpindah posisi, tidak Vada sadari.
__ADS_1
"AB-abang tidak mau balik? I-ini sudah malam," ucap Vada terbata.
"Balik? Kemana? Istri dn ank abang di sini, kemana abang harus pergi?" Elvan memeluk Vada dari belakang.
"Apa kau tidak merindukanku? Sampai kau mau mengusirku pergi dari sini, hem?" Elvan mulai mengendus leher Vada, yang man membuat tubuh wanita itu langsung bergetar. Bagaimana tidak, hamoir emoat tahun lamanya ia tak merasakan sentuhan laki-laki.
"Bu-bukan begitu, abang.. Tapi..."
"Bukankah Kyara sudah memebri6 waktu buat kita untuk meluapkan kerinduan kita selama ini? Lihatlah, anak kita sudah tidur pulas, apalagi yang di tunggu?" ujar Elvan sengaja menggoda Vada.
Vada menelan salivanya susah payah, tubuhnya merinding karena pikirannya langsung traveling kemana-mana.
" Nanti Kya bangun bagaimna? Kalau dia lihat bagaimna? Nggak mungkin kita lakuin di sini, bang,"
Elvan terkekeh mendengarnya, ia tahu pikiran istrinya kemana. Ia menggendong tubuh sang istri dan menidurkannya si sebelah Kyara.
"Abang..." Vada menggeleng, ia benar-benar tidak bisa membayangkan Bagiamana jika Kyara bangun di saat yang tidak tepat.
"Ssst.!" Elvan menempelkan jari telunjuknya di bibir Vada. Pria itu kini sedang berada di atas tubuh Vada dengan bertumpu pada tangan kirinya hingga masih ada jarak diantara mereka.
"Kyara suka bangun tengah malam buat minum susu, nanti kalau dia bangun pas kita... Mmmphh," Vada tak sempat melanjutkan ucapannya karena Elvan terlebih dahulu membungkam bibir Vada dengan bibirnya.
Setelah memberi beberapa lumataaan, Elvan melepas ciumannya,"Justru karena suaramu dia akan bangun, bahkan sebelum tengah malam," ucapnya kemudian.
Elvan menjatuhkan diri di samping Vada, "Jangan usir aku, malam ini aku ingin tetap di sini. Aku ingin memastikan kalau ini nyata, bukan mimpi, sayang," ucapnya.
Vada bergerak hingga tubuhnya miring menghadap Elvan, ia menyentuh garis tegas suaminya llu6 mengangguk.
Elvan tersenyum dan menarik tubuh Vada ke dalam dekapnnya, di ciumnya puncak kepala wanita itu bertubi-tubi," Tidurlah!" ucapnya. Yang mana membuat Vada mendongak, menatapny tak percaya. Ia pikir pria itu menginginkannya malam ini.
Elvan mengerti arti tatapan Vada, ia tersenyum hangat lalu kembali mencium kepala istrinya tersebut, "Untuk yang itu, sepertinya kau benar, kita harus mengamankan dia dulu," Elvan menunjuk Kyara yang sedang tersenyum dalam tidurnya, entah anak itu sedang bermimpi apa.
Vada mencubit pingganga Elvan," Itu anakmu, mau diamankan!" protesnya.
Elvan terkekeh," Aku hanya tidak ingin dia bangun di saat-saat yang nanggung," Ungkapnya.
"Ish, abaaang..." Vada menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut.
__ADS_1
"Tidur, sekarang giliran ibunya, kasihan yang sejak tadi mengalah sama anknya," Elvan mengusap lembut pipi Vada, "Sebelum Kyara bangun aku harus berpindah posisi di sebelahnya, atau aku akan mendapat omelannya besok pagi," sambungnya tersenyum membayangkan andanya mengomel karena dia malah berada di samping sang ibu.