
"Abang!" Vada memukul punggung Elvan pelan. Pria itu terus saja memeluknya erat. Ia lupa jika istrinya yang ia peluk itu sedang sakit, bahkan baru saja sadar.
"Aku nggak bisa napas. Abang kekencengan meluknya," ucap Vada lagi.
Elvan langsung melepas pelukannya, "Maaf," ucapnya.
"Jangan pernah melakukan hal konyol lagi, apa kau ini punya nyawa dobel sampai bisa mengorbankan dirimu sendiri untukku. Jangan lakukan itu lagi, Nevada,"
Vada hanya tersenyum mendengar omelan suaminya, ia bisa melihat dengan jelas kekhawatiran sang suami,"Buktinya aku baik-baik saja, kan?" ucapnya.
"Abang terluka," tangan Vada berusaha menyentuh bibir Elvan namun tangannya segera di tangkap oleh Elvan.
"Aku tidak apa-apa, hanya luka sedikit. Kau ini, seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, bagaimana kalau peluru itu sampai menembus organ vitalmu?" Elvan masih saja belum bisa menghilangkan rasa cemas ya.
Padahal Vada sudah siuman, bahkan wanita itu sudah bisa tersenyum kepadanya. Namun, jika ingat kejadian siang tadi, sungguh membuatnya nyaris gila. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istrinya, entah bagaimana caranya ia akan memaafkan dirinya sendiri.
"Abang lucu kalau lagi ngedumel begitu," seloroh Vada. Elvan sedikit mengangkat sudut bibirnya. Istrinya benar-benar sudah bisa bercanda, itu artinya wanita tersebut memang baik-baik saja.
"O ya, bagaimana mas Mirza? Apa dia baik-baik saja?" sengat Vada, Mirza turut andil dalam misi penyelamatannya.
Elvan terdiam sejenak, ia bahkan tidak tahu bagaimana kabar pria itu. Terlalu fokus Kepada Vada , hingga ia melupakan Mirza yang tadi ia tinggal begitu saja.
"Em. Dia pasti baik-baik saja. Rio bilang, Dimas sudah di tahan di kantor polisi," ucap Elvan.
Mendengar nama Dimas. Vada yakin itu nama si pengkhianat. Pria yang diam-diam menusuk suaminya dari belakang selama bertahan-tahun. Vada bisa melihat jelas rasa kecewa yang Elvan rasakan saat menyebut nama mantan sahabatnya tersebut.
" Abang," panggil Vada untuk mengalihkan pikiran Elvan dari rasa sakit dan kecewanya.
"Hem, kau butuh sesuatu?" Tanya Elvan.
Vada menggeleng, "Terima kasih karena udah menyelamatkan aku. Terima kasih abang datang tepat waktu, kalau tidak..." perkataan Vada menggantung di udara saat jari telunjuk Elvan menempel di bibirnya.
"Jangan mengatakan apapun lagi, kau baru saja siuman. Buatlah istirahat. Aku akan menungguimu di sini. Tidurlah," ucap Elvan. Ia membenarkan selimut Vada.
"Ish, aku baru aja bangun. Masa udah di suruh tidur lagi. Abang nggak mau ngobrol dulu sam aku gitu?" Protes Vada bersamaan dengan datangnya dokter yang akan memeriksa kondisi Vada apsca sadar.
Setelah mengecek semuanya, dokter pun pamit. Elvan kembali duduk di samping Vada.
"Haus," ucap Vada dan Elvan dengn sigap langsung mengambil kan minum untuk sang istri.
__ADS_1
Tak lama setelah minum obat, Vada akhirnya terlelap. Elvan yang masih terjaga terus memandangi wajah sang istri. Setelah Vada pulih, Akankah ia pergi meninggalkan Elvan setelah ia tahu semuanya? Dan apakah Elvan akan siap melepas Vada jika wanitanya tersebut ingin pergi darinya. Sekarang tak ada alasan lagi bagi Vada untuk bertahan di sampingnya kecuali... Cinta.
Ya, Alasan Elvan saat ini mempertahankan Vada adalah cinta. Namun. Bagaimana dengan Vada? Apakah dia juga mencintai suaminya? Elvan hanya mampu mengembuskan napasnya kasar, wanita itu pernah berujar kepadanya dan bersumpah jika ia tak akan pernah memiliki hati maupun cintanya. Dan haruskah Elvan egois sekali lagi? Tetap tak ingin melepas wanitanya tersebut dan mengabaikan perasaan Vada demi perasaannya sendiri.
Tanpa sadar, Elvan pun akhirnya ikut terlelap dengan tetap menggenggam tangan Vada.
ššš
Pagi hari....
Vada mengerjapkan matanya, ia merasa tangannya di genggam erat oleh Elvan. Suaminya itu masih tidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya. Vada menatap lekat wajah lelap Elvan. Setidaknya sampai detik ini, ia sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang istri. Ia bahkan tak berpikir panjang saat mempertaruhkan nyawamya demi suaminya. Bukankah itu terlalu hebat untuk ukuran pernikahan paksa? Vada tersenyum tipis.
Akankah setelah ini Elvan memintanya pergi? Apakah dia benar-benar siap untuk berpisah jika itu keinginan suaminya. Bukankah jika hal itu terjadi, ia harusnya senang? Bisa bebas dari belenggu pernikahan yang sama sekali tak diinginkannya. Dan bukankah seharusnya begitu? Yang ia tahu Elvan menikahinya hanya karena rasa dendam pria itu terhadapnya dan rasa cintanya yang sungguh luar biasa untuk Zoya dan sekarang keadaan itu sudah berbalik.
Vada mengusap rambut Elvan hingga pria itu bangun.
"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Elvan langsung.
"Tidak, kenapa abang tidur di sini? Nanti leher abang pegal," ucap Vada.
"Tidak apa. Tidur di sana terlalu jauh," Elvan menunjuk sofa besar yang ada di ruangan tersebut.
"Ranjangnya besar, pasti muat kalau tidur berdua," ucap Vada malu-malu. Perkara keputusan soal pernikahan mereka, itu urusan nanti. Selama mereka masih belum ada pembicaraan soal perpisahan atau tetap bersama, ia Masih lah istri dari Elvan.
"Coba deh sini naik, muat pasti!" Vada menarik tangan Elvan.
"Kau masih sakit, sayang," ucap Elvan.
"Aku hanya minta abang tidur di sini, istirahat dengan benar, bukan buat..."
"Buat apa?" Elvan sudah naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut yang sama dengan sang istri. Tangannya melingkar di pinggang Vada. Sedangkan wajahnya sudah terbenam di leher wanitanya tersebut.
"Abang geli," Protes Vada.
"Ssstt, abang hanya ingin merem sebentar lagi. Kau juga tidur lagi," ucap Elvan. Pria itu memejamkan matanya.
Vada yang tidak bisa tidur lagi merasa pengap di peluk oleh Elvan. Sepertinya memang salah meminta pria itu tidur satu ranjang dengannya. Apalagi tangannya kini tepat berada di belut impor milik suaminya.
"Kondisikan tanganmu, Vada. Abang takut khilaf. Kau masih sakit," Gumam Elvan tanpa membuka matanya.
__ADS_1
Vada segera ingin memindahkan tangannya dari sana, namun tangan Elvan dengan cepat mencegahnya, "Kau yang membangunkan ya, jadi tanggung jawab. Beli dia sebentar saja,"
"Aku.... Aku lagi sakit, abang," kilah Vada.
"Abang bantu," Elvan membimbing tangan Vada naik turun teat di antara kedua pahanya.
"Ish, abang mah. Istri lagi sakit juga masih aja di paksa kerja rodi," Nvada sengaja meremat belut impor suaminya. Yang mana membuat Elvan justru melenguh keenakan.
"Again," bisik Elvan dengan nada sensual di telinga Vada.
"Ini mah enak di abang nggak enak di aku, abangnya kenakan, aku kesiksa jadinya. Enggak bisa ikut enak-enak," batin Vada meringis.
Tanpa mereka berdua sadari, Mirza yang pagi itu kembali ingin menjenguk Vada hanya bisa diam menunggu di depan pintu dengan hati yang semakin sakit melihat kemesraan keduanya. Sebagai pria dewasa, ia tahu, sedang terjadi sesuatu di balik selimut yang menutupi tubuh pasangan suami istri tersebut.
"Naaaa nana nana!" Helena yang baru saja tiba berjalan dengan kaki sedikt melompat-lompat, sambil bersenandung ria. Di tangannya, gadis itu membawa parcell buah yang akan ia berikan untuk Vada.
"Om, Ngapain di depan pintu? Kenapa nggak masuk aja sih? Ntar bi titan loh kalau ngintip gitu," ucapnya setelah mendekati Mirza.
"Ngapain kamu ke sini pagi-pagi?" tanya Mirza.
"Mau jenguk bestie aku lah," jawab Helena.
"Bestie?" Mirza mengerutkan Keningnya.
"Kak Vada, kita kan sekarang udah jadi besti," ucap Helena dengan percaya diri. Yang hanya di tanggap gelengan kecil oleh Mirza, bestienya Vada? Sejak kapan, ngarang ini bocah.
Helena berjinjit demi melihat Vada di dalam karena. Terhalang tubuh nangkung Mirza.
"Mirnggir om, aku mau masuk ih!"
Mirza sedikit menoleh ke dalam, ia tak mungkin membiarkan Helena masuk begitu saja mengingat apa yang sedang terjadi di dalam.
"Vada lagi istirahat, jangan ganggu dia. Sebaiknya kita pergi saja dari sini!" Mirza hendak menarik tangan Helena untuk mengajaknya pergi, namun sayang, ia kalah cepat, gadis itu sudah menerobos membuka pintu untuk masuk duluan melalui celah ketiak Mirza.
Brak!
"Kakak, Helen coming!"
Suara ceria Helene tentu saja mengagetkan Elvan dan Vada yang sedang asyik di balik selimut. Elvan sontak langsung turun dari ranjang, tak lupa ia menyeret selimut demi menutupi bagian yang belum di tutup
__ADS_1