
Beberapa hari kemudian....
Pagi hari, saat Vada kembali ke kamarnya setelah selesai masak, ia tak menndaayi suaminya di sana.
"Udah bangun ternyata orangnya, baru mau aku bangunin. Tapi kemana dia?" gumam Vada saat melihat ranjangnya kosong. Ia melongo ke kamar mandi, tapi sepertinya suaminya juga tak ada di sana.
"Tumben, jam segini udah nggak kelihatan batang hidungnya, kemana sih? Apa lagi ngegym ya?" gumam Vada sambil menuruni anak tangga untuk mencari kenera suaminya.
"Bi, tahu nggak dimana tuan?" tanya Vada keada salah satu pelayan yang kebetulan lewat di depan Vada.
"Sepertinya tuan muda sedang berada di ruang kerjanya, nona," sahut pelayan itu sopan.
Vada menoleh ke ruang kerja suaminya yang berada di lantai satu tersebut, "Oh ya, makasih," ucapnya.
"Jam segini udah mikirin kerjaan aja, adahal habis ini ke kantor buat kerja. Benar-benar, hidupnya hanya ada kerj dan kerja," gumam Vada. Ia lupa jika dirinya juga sama workaholic. Bedanya, keadaan yang memaksanya untuk banyak bekerja dan bekerja, demi semua mimpi yang pernah terangkat indah di kepalanya.
Saat hendak melangkahkan kakinya ke rung kerja suaminya, Vada tertegun melihat mbok Darmi yang diikuti pelayan yang membawa dua koper di belakangnya. Penampilan mbok Darmi pagi itu terlihat berbeda, lebih rapi untuk ukuran penampilannya sehari-hari. Terutama di pagi hari. Ya, meskipun biasanya mbok Darmi selalu rapi dan, tapi pagi itu berbeda, itu yang di rasakan Vada saat melihatnya.
Vada berjalan mendekati mbok Darmi yang sedang berjalan ke arahnya. Jika biasanya mbok Darmi selalu membantunya memasak, namun berbeda dengan pagi itu, sejak Vada membuka matanya, ia tak melihat mbok Darmi.
"Loh, mbok mau kemana? Kok itu bawa koper segala?" tanya Vada curiga.
Mbok Darmi tersenyum. Rencananya ia memang akan pergi ke kamar Vada untuk berpamitan, namun ternyata majikannya tersebut sudah turun.
"Simbok mau pulang kampung, cah ayu," jawab mbok Darmi.
"Loh kok mendadak, mau berapa hari mbok pulangnya?" tanya Vada, ia melihat dua koper di belakang mbok Darmi, tidak mungkin wanita berusia Senja itu hanya sebentar pulang kampungnya.
__ADS_1
"Simbok tidak akan balik ke sini lagi, cah ayu," kata mbok Darmi. Dan tentu saja Vada sangat terkejut.
"Kok gitu? Kenapa mbok? Kok mendadak begini? Apa simbok di marah sama tuan, sampai mbok mau pulang? Nggak betah sama sikapnya yang kadang memang lebih mirip beruang kutub?" tanya Vada.
Mbok Darmi menggeleng, kalau dia tidak betah dengan sikap Elvan, sudah dari dulu ia pergi dari mansion. Tapi bukan itu alasannya.
"Terus kenapa? Apa aku yang bikin masalah? Apa aku menyebalkan sampai mbok mau pulang kampung ninggalin kami di sini? Tuan muda tahu hal ini?" Vada tiba-tiba di serang panik dan khawatir. Bagaimana tidak, tiba-tiba mbok Darmi mau pergi.
"Duduk dulu yuk, mbok mau bicara," mbok Darmi meraih tangan Vada, menuntunnya untuk duduk di meja makan.
"Kenapa mendadak begini mbok, kenapa?" mata Vada mulai menghangat.
"Tidak, ini tidak mendadak, cah ayu. Sudah rencana lama,"
Vada mengernyit, ia tidak mengerti dengan maksud ucapan mbok Darmi.
"Jangan pergi, jangan tinggalin Vada di sini sendirian, jujur Vada takut," ucap Vada mulai terisak.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, cah ayu. Semuanya akan berjalan dengan semestinya. Simbok titip tuan muda ya? Pesan simbok, sabar dan jangan tinggalkan tuan muda apapun yang terjadi. Simbok percayakan tuan muda kepadamu, karena simbok yakin kamu bisa," ucap mbok Darmi.
" Tapi mbok...." Vada merengek. Bahkan dia tidak memiliki berada di sisi Elvan selamanya.
Pergi dari mansion dan juga sisi Elvan sampai saat ini masih berada dalam list harapannya. Bukankah sejak awal pernikahan mereka tidak sehat. Kenapa mbok Darmi malah menitipkan Elvan kepadanya. Seolah Elvan adalah anak kecil yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang lebih.
"Aku ikut mbok Darmi aja kalau gitu, gimana? Aku nggak mau di sini sendiri, mbok. Jangan pergi!" rengek Vada.
Mbok Darmi mengulum tersenyum, "Jangan takut, tuan muda bukannya tidak menggigit?" ucapnya dengan wajah jenaka.
__ADS_1
"Gigit sih enggak, tapi...." Vada tak mungkin melanjutkan ucapannya. Ia sedang waras dengan tidak mengumbar urusan ranjang, yang mana suaminya itu staminanya melebihi binatang buas, menurutnya. Meskipun itu mbok Darmi yang notabennya pasti akan menyimpan rahasia, tapi Vada tetap memilih diam.
"Seremlah pokoknya mbok," lanjut Vada kemudian.
"Tapi, simbok perhatikan, sepertinya tuan muda sudah menemukan pawangnya. Simbok percaya kamu bisa, makanya simbok lega karena meninggalkan tuan muda bersama kamu, cah ayu. Sudah sudah, simbok harus pamit dulu sama tuan muda," kata Mbok Darmi.
"O ya, satu hal yang penting. Ingat selalu apa yang sudah mbok ajarkan selama ini, apa yang di sukai dan tidak di sukai tuan muda. Kebiasaannya dan juga apa yang tidak bisa ia makan. Jam tidur dan istirahatnya juga di perhatikan soalnya dulu tuan muda sering tidak tidur kerana pekerjaan. Pokoknya Kamu harus memperhatikan semuanya dengan detail ya ya cah ayu, sabar-sabar momong tuan muda. Dia sebenarnya jinak. Dan kamu tahu caranya menjinakkannya kalau dia sedang buas bukan?" ucap mbok Darmi di akhiri kekehan bergurau.
"Kok aku ngerasa jadi kayak baby sitter ya mbok bilang begitu. Aku kayak ngerasa dititipin anak TK gitu," timpal Vada meringis.
Mbok Darmi Lagi-lagi tersenyum, Ia lalu bangkit dari duduknya.
"Simbok mau pamit sama tuan muda dulu, apa dia ada di kamar?" tanya MBOK Darmi.
Vada menggeleng, "Nggak ada, waktu aku balik ke kamar, dia sudah tidak ada, nggak tahu dimana. Belum aku cari. Apa aku juga harus cari dia kalau nggak kelihatan lebih dari satu jam, kayak anak TK yang pergi main ke tetangga nggan pulang-pulang?" kata Vada mesem.
"Ck, kamu ini bisa aja," Mbok Darmi menepuk pu dak Vada. Ia tahu dimana tuan mudanya berada jika sedang galau.
Mbok Darmi langsung pergi ke ruang kerja Elvan. Vada diam-diam mengikuti mbok Darmi di belakangnya.
"Tuan muda," panggil mbok Darmi. Elvan yang tampak sedang memijit pangkal hidupnya mendongak, menatap mbok Darmi yang perlahan masuk ke dalam. Sementara Vada hanya berani sampai di daun pintu. Ia sadar, sepertinya ini akan menjadi momen mengharukan. Bagaimana pun ia tak ingin mengganggu perpisahan dua orang yang sudah seperti ibu dan anak tersebut.
š¤š¤š¤
š š
Karena panjang, aku jadikan dua bab...jangan lupa like dan komen setiap babnya. Terima kasih.
__ADS_1
š š