Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 66


__ADS_3

Memang benar yang sering di katakan orang-orang kalau sedikit banyak pasangan kita itu akan merubah kebiasaan kita. Buktinya kini Elvan sudah tak begitu irit bicara lagi.


Ya meskipun masih angot-angotan, kadang bicaranya sedikit lebih panjang dari biasanya tapi kadang juga masih menjadi penggemar sabyan alias ham Hem ham hem. Tapi, perubahan itu sangt nyata Vada rasakan, meski ia tahu suaminya akan sedikit banyak bicara jika hanya dengannya saja, tidak dengan orang lain, namun ia sudah senang alhamdulilah rasanya.


"Once more sayang," ucap Elvan setelah mereka selesai dengan ritual wajib olah raga malam mereka sebelum tidur.


"Bentar abang, lagi atur napas ini, udah main once more once more aja, capek aku tuh! Emang abang nggak capek tiap malam main mulu? Pakai nambah pula, mending nambah ya kalau beneran cuma sekali, pasti Berkali-kali, mana besok harus kerja lagi, capek abang," oceh Vada sambil memainkan bulu-bulu halus di rahang sang suami.


"Beneran capek, nggak mau lagi? Kalau udah mulai aja kamu udah mirip tukang parkir, teras terus aja keenakan," Elvan mengusap peluh di kening Vada.


"Ih, abang mah, begitu aja diomongin terang-terangan malu tahu!"


"Abang..."


"Hem..." kan udah mode sabyan lagi.


"Apa aku masih harus minum pilnya?" tanya Vada ragu-ragu.


"Iya," jawab Elvan pendek.


Vada terdiam. Ia langsung mengambil tangannya dari Rahang Elvan. Entah kenapa ia merasa kecewa dengan jawaban suaminya.


Elvan segera menggenggam tangan Vada lalu mengecupnya, "Beri abang waktu. Setidaknya untuk sekarang, tetaplah minum dulu," ucapnya lirih. Untuk memiliki anak, ia benar-benar belum siap.


Vada mengangguk, mencoba memahami suaminya.


"Jangan ngambek," Ucap Elvan.


"Enggak, siapa yang ngambek, aku kan cuma tanya aja tadi, siapa tahu kan abang udah mau punya baby dari aku. Kalaupun belum. Juga enggak apa-apa, toh juga kita baru mulai semuanya, pelan-pelan aja asal klakon," sahut Vada. Ia mencium rahang suaminya.


Elvan tersenyum," Udah teratur napasnya? Once more Please!"

__ADS_1


"Beneran cuma sekali?"


"Nggak janji," sahut Elvan yang sudah menenggelamkan wajahnya di balik selimut entah apa yang ia lakukan di di dalam sana yang jelas Vada sudah kembali melenguh enak.


"Tapi, besok pagi nggak ada jatah ya?"


"Ssssttt, lets do it, jangan banyak bicara, urusan besok pagi pikir besok pagi!" Elvan segera membungkam mulut Vada dengan bibirnya sebelum wanita itu memprotesnya.


"Sayang, hei bangun! Udah pagi," Elvan mengusap lembut wajah Vada.


"Masih ngantuk abang!"


"Suaminya nggak mau di urus ini?"


"Iya nanti di urus sebentar, ini juga gara-gara abang kan?" Vada masih enggan membuka kedua matanya.


"Ayo bangun, mandi. Nih udah abang siapin susu coklat hangat buat kamu,"


"Iya ini bangun, nih!" Vada langsung duduk dan memaksa kedua matanya supaya melek. Daripada urusan ranjang akan menjadi panjang pagi ini.


Cup


Elvan mencoum kening Vada, "Morning kiss," ucapnya.


"Eh bibirnya iri," sambung ya cepat yang langsung mencium bibir Vada.


"Curang banget sih, semalam aja minta di temenin nonton malah di tinggal tidur. Giliran aku mau tidur eh malah di ***** ***** sampai nggak bisa tidur. Sekarang mau tidur lima menit lagi aja nggak boleh," keluh Vada sambil berdiri. Ia menjatuhkan diri dalam pelukan Elvan," Gift me spirit, Please!" rengeknya.


Elvan mendekapnya erat lalu menghujani wajah sang istri dengan ciuman," Udah sana mandi! Bau keringat!"


" Ck, ini juga keringat abang palingan yang bau nempel di badan aku. Aku mah wangi!" Dengan wajah lelah dan malas ia berjalan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


"Susunya nggak di minum dulu?" tanya Elvan.


"Mau mandi dulu, lengket, nggak enak! Nanti baru di minum,"


"Nanti keburu ding... " Elvan belum selesai bicara namun istrinya sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


Meski badan terasa pegal semua namun Vada tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri. Saat ini ia sedang berkutat di dapur apartemen untuk membuatkan sarapan untuk Elvan sekalian membuat bekal yang akan ia bawa ke toko.


"Kamu belum menyiapkan baju kerjaku," tiba-tiba saja Elvan datang mengejutkan Vada. Alhasil wanita itu kaget dan tanpa sengaja tangannya menyenghol wajan panas di depannya.


"Ih, abang! Bisa nggak sih, nggak ngagetin orang?" Vada mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa panas. Ia lalu menyalakan wastafel dan menyiram tangannya sebentar.


Tanpa menyahut, Elvan menarik tangan Vada menuju ke wastafel kembali, "paling nggak lima menit," ucapnya.


"Abang ih. Jangan nempel-nempel terus. Aku lagi masak ini! Mana nggak pakai baju lagi. Cuma pakai kolor doang. Ya ampun, punya suami gini amat ya, mibggir dulu sebentar!" omel Vada yang mana malah Membuat Elvan tersenyum.


"Baju aku belum kamu siapkan, Nevadaku," Elvan mencubit gemas pipi Vada. Pria itu baru saja selesai mandi setelah ngegym sebentar.


"Iya sebentar, ini lagi selesaiin ini dulu. Baru rencana mau siapkan baju buat abang. Kan tadi bang juga baru ngegym, tapi bukan berarti abang telanjang dada gini dong ah, kebanyakan polos nanti masuk angin!"


Pagi itu Elvan merasa senang, pagi pertama mereka di apartemen benar-benar membuatnya lebih berwarna. Dunia serasa milik berdua tanpa ada gangguan dari siapapun. Tidak salah memang ia memutuskan untuk tinggal berdua di apartemen.


Sebelum ke kantor, Elvan ngedrop Vada terlebih dahulu di toko.


Saat Elvan menghentikan mesin mobilnya, Vada tak lantas langsung turun. Ia megulurkan tangannya kepada suaminya. Elvan yang tak mengerti maksudnya malah mengernyitkan Keningnya, "Abang nggak bawa uang Cash, kartu kan udah abang kasih," ucapnya yang berpikir jika Vada ameminta uang saku kepadanya.


"Ck, di kiranya aku mau minta uang jajan apa? Kayak anak sekolahan aja. Siniin tangannya, mau salim ini!" Vada meraih sendiri Tangan Elvan untuk di salami. Ia mencium punggung tangan suaminya tersebut.


Elvan mengatup, ia benar-benar merasa takjub, ini pertama kalinya Vada melakukan hal itu kepadanya.

__ADS_1


"Kan mau belajar jadi istri yang baik," ucap Vada tersenyum menggemaskan.


__ADS_2