
Hari ini Vada akan kembali bekerja, ia langsung bersiap-siap setelah suaminya berangkat ke kantor. Tak lupa ia membawa bekal untuk makan siang nanti. Hitung-hitung dalam mode irit, pikirnya.
"Semangat Vada, bekerjalah dengan keras, siapa tahu ada keajaiban, sebulan lagi bisa ngumpulin duit lima ratus juta!" Vada menywmangayi dirinya sendiri. Namun, detik kemudian wajahnya langsung berubah lesu, membayangkan uang lima ratus juta. Terlalu mustahil baginya. Tapi, tetap saja, ia tak mau menyerah begitu saja dengan keadaan. Selama ia masih bisa, ia akan terus berusaha hingga tak kenal lagi kata menyerah.
Sesampainya di florist, bu Sukma sudah menunggunya di depan pintu dengan wajah di tekuk.
"Heeee, pagi bu Suk!" sapa Vada cengengesan.
"Nggak lihat jam kamu? Ini udah jam berapa, kenapa baru datang. Heran deh, di sini bosnya siapa," omel bu Sukma.
"Hehe, jalanan macet bu Suk..." ucap Vada nyengir.
"Alasan aja kamu," cebik bu Sukma.
"Itu bunga-bunga yang baru datang kamu tata biar agak rapian dikit, terus nanti agak siangan kirim buket bunga ke pimpinan Adhitama Group. Tulis kata-kata yang bagus, ucapan selamat ulang tahun, pengirimnya dari tuan Anderson," ucap Bu Sukma.
"Adhitama Group? Kayak pernah dengar," gumam Vada.
"Ya pasti pernahlah, itu perusahaan real estate terbesar," sahut bu Sukma yang ternyata mendengar gumaman Vada.
"Oh, tapi serius, kayak kenal gitu dengan nama Adhitama itu, bu Suk," ucap Vada. Ia merasa pernah mendengar nama perusahaan tersebut, tapi entah kapan dan dimana, ia lupa.
"Ya ampun Vada, kenal dimana? Jangan halu deh, takutnya kamu stres karena berkhayal terlalu tinggi. Tempat main kalian aja udah pasti njomplang sekali perbedaannya, kamu di kebun tetangga, lah dia pasti mainnya di luar negeri terus. Kamu mainannya tanah, dia mainan saham dari orok. Mau kenal bagaimana ceritanya," cibir bu Sukma.
" Hehe iya kali ya, tapi beneran nggak asing namanya itu,,, " Vada masih mencoba berpikir.
"Heleh, palingan Adhitama yang kamu kenal itu tuan bakso, atau tukang ojek perempatan sana,"
"Masa sih,"
"Udah daripada mikirin yang nggak mungkin, sana nyapu dulu, biar bersih ini toko, nggak berdebu kayak nggak ada kehidupan aja. Ingat, buat buket bunga yang paling bagus dan muahal, ini bukan kaleng-kaleng yang nerima. Dan satu lagi, kamu harus kasih langsung ke orangnya, pimpinan Adithama Group itu, jangan hanya sampai resepsionis doang, soalnya yang sudah-sudah cuma sampai resepsionis langsung masuk tong sampah nggak sampai ke tujuannya,"pesan bu Sukma sambil mengayun-ayunkan kipas bergambar wayangnya.
" Lagian, ulang tahun di kirimnya bunga. Laki-laki kan pimpinannya, masa bunga sih. Sultan mah harusnya hadiah mobil lamborgini, atau apartemen gitu, yang elitan dikit. Ini bunga doang, mending kalau bunga bank,"
"Bagus dong bunga, jadi toko kita ini laku, mana pesanan bunganya yang paling bagus dan mahal lagi, harsunya senang Kapan lagi kan laku yang mehong begitu. Kamu kok malah protes. Suka-suka yang ngasihlah, mau bunga atau apapun. Kalau yang mahal-mahal bisa beli sendiri, kan Sultan. Udah ah, ibu mau arisan dulu. Bye!" Bu Sukma langsung melenggang keluar.
"Ingat, harus langsung di terima CEOnya langsung, sesuai permintaan klien kita!" teriak BU Sukma dari luar toko.
"Siap!" sahut Vada berteriak.
"Dih, klien bilangnya. Sok banget, bu Suk bu Suk," gumam Vada menggeleng.
"Jangan lupa bukti kalau kamu benar-benar ngasih ke yang punya perusahaan!" teriak bu Sukma lagi.
"Iya iya, ya ampun bu Suk, bawel deh! Hush Hush pergi sana!" Vada sudah mengambil sapu dan bersiap menyapu lantai.
"Oh ya ampun. Anak itu, di bilangin jangan panggil bu Suk juga, emang buah, busuk," omel bu Sukma sambil berlalu.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Sementara di perusahaannya, Elvan tampak sedang menerima telepon dari mamanya.
"Selamat ulang tahun, sayang. Wish you all the best. Semoga......" nyonya Tamara terus bicara di seberang telepon. Sementara Elvan hanya mendengarkan saja dengan wajah datarnya tanpa menyahut.
"Hem, Elvan tutup teleponnya kalau mama sudah selesai bicaranya, ada meeting penting setelah ini," ucap Elvan tanpa basa basi.
"Oh baiklah kalau begitu, nanti mama telepon lagi. O ya, bagaimana kabar istrimu? Apa dia mengurusmu dengan baik? Apa kamu bahagia, Nak?" tanya bu Tamara.
"Maaf, ma. Elvan sibuk, lain kali mama bisa telepon lagi. Kita bicara lain kali," Elvan langsung memutus panggilan. Ia melempar ponselnya ke meja kemudian ia memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing. Ulang tahun adalah hal yang tidak Elvan sukai sejak ia berusia dua belas tahun.
"Tuan muda,"
Elvan mendongak, di depannya sudah berdiri asisten Rio.
"Meeting akan segera di mulai," ucap asisten Rio.
"Hem," Elvan mengangguk, dia langsung berdiri dan menaymbar jasnya untuk di pakai.
"Tuan muda," panggil asisten Rio yang berjalan di belakang Elvan.
"Apa?"
"Itu, di lobi sudah ada banyak hadiah yang di kirim oleh para klien," asisten Rio memberitahu.
"Buang saja seperti biasa," ucap Elvan datar, membuat asisten Rio menghela napas.
"Tentu saja mau, tuan muda. Siapa yang tidak mau, saya pun mau," batin asisten Rio.
"Kecuali kamu!"
"Ya?"
"Apa kamu tidak mampu membeli sendiri, hingga hadiah untuk orang lain mau kamu bawa pulang, gajimu kurang banyak, yo?"
"Tidak, tuan muda," ucap asisten Rio lesu. Sepertinya bosnya itu bisa membaca isi pikirannya, apakah dia seorang cenayang, pikirnya.
🖤🖤🖤
Vada melongo takjub melihat kemewahan interior lobi perusahaan yang akan ia kirimi bunga tersebut. Ini kali pertama ia mengirim bunga ke perusahaan tersebut semenjak bekerja di Sukma Florist beberapa bulan yang lalu.
"Siang mbak," Vada mendekati meja resepsionis.
"Selamat siang, ada yang bisa di bantu?" tanya resepsionis ramah.
"Saya mau bertemu pemilik perusahaan ini mbak, mau antar bunga dari Tuan Anderson untuk pemilik perusahaan," ucap Vada ramah.
__ADS_1
"Taruh saja di situ, mbak!" kata resepsionis menunjuk tempat di belakang Vada.
Vada menoleh, ia langsung melotot. Ternyata di sana sudah ada banyak sekali bunga-bunga dan juga bingkisan-bingkisan hadiah yang bisa langsung di tebak oleh Vada jika itu semua adalah untuk CEO perusahaan yang sedang berulang tahun hari ini.
Tapi, Vada tidak mau menyerah, ia ingat pesan bu Sukma, harus di kasih langsung ke orangnya. Ini amanah, harus ia lakukan.
"Tapi, mbak. Saya harus ketemu langsung sama pemilik perusahaan. Kasih tahu deh mbak, orangnya ada tidak. Kalau ada di lantai berapa? Biar saya ke sana sendiri kalau beliau tidak mau ke sini," ucap Vada ngeyel.
Resepsionis itu langsung menatap Vada, "Apa sudah buat janji?" tanyanya.
Vada menggeleng, "Belum mbak, emang harus buat janji dulu ya?"
"Iya, tuan muda sangat sibuk, mbak. Kalau mau ketemu beliau harus buat janji dulu, paling tidak tiga hari sebelumnya.,"
"Ribet benar sih, sebentar aja kok mbak. Cuma mau antar ini. Ini dari klien penting loh, mbak,"
"Semua itu juga dari klien penting, mbak," resepsionis menunjuk jajaran hadiah itu kembali. Vada menoleh lalu mengembuskan napasnya pasrah. Iya, pasti hadiah itu uga dari para klien penting dan tak kalah mahal ya dengan harga bunga di tangannya, bahkan banyak yang jauh lebih mahal. Mereka saja di abaikan, apalagi bunganya. Tidak akan mungkin ketemu langsung, pikirnya.
"Tapi orangnya ada di kantor kan mbak?" tanya Vada memastikan, pantang menyerah.
Resepsionis mengangguk, ia sedang menerima telepon dari kekasihnya.
"Kira-kira dia lewat lobi ini jam berapa?" tanya Vada masih usaha.
Resepsionis itu menatapnya tajam, ngeyel banget ini orang, pikirnya. Ia masih bicara dengan orang di seberang telepon dengan mesra dan manja. Membuat Vada memutar bola matanya malas. Lebay, pikirnya.
"Jam berapa mbak,?" tanya Vada lagi.
Resepsionis itu tampak jengkel, ia mengambil pulpen dan secarik kertas," MUNGKIN SAAT MAKAN SIANG!!" tulisnya di kertas tersebut.
"Oh, makan siang," Vada melihat jam murah meriah di tangannya.
"Nggak lama lagi, tungguin aja deh!" gumamnya.
"Mbak," panggilnya kepada resepsionis yang langsung menoleh.
"Saya boleh duduk di sana kan?" Vada menunjuk sofa.
Lagi-lagi resepsionis itu hanya mengangguk, dan kembali asyik bercengkrama di telepon dengan pacarnya.
"Mbak!" panggil Vada lagi.
"Apa sih mbak, ganggu saja!" omel resepsionis bername tag Mutia tersebut.
"Jam kerja kok pacaran, kerja mbak. Kerja. Jangan makan gaji buta! Buta itu nggak enak mbak, beneran! Aku pernah ngerasain ya. kasihan gajinya loh, kalau buta," Vada tersenyum lalu meninggalkan Mutia yang menatapnya kesal.
"Kerja kok malah asyik teleponan sama yayangnya, padahal kalau perusahaan gede begini sabtu minggu pasti libur, kan bisa buat pacaran sepuasanya tanpa mencuri jam kerja. Kalau aku yang punya perusahaan udah aku pecat deh dia," Vada menjatuhkan pan tatnya di sofa empuk yang ada di lobi tersebut.
__ADS_1
🖤🖤🖤
💠💠Masih ada satu lagi, tapi jangan lewatkan like dan komennya ya kesayangan aku,.... 😊😊💠ðŸ’