Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 45


__ADS_3

Dengan tergesa, Elvan masuk ke dalam mansion untuk bertemu Vada. Rencananya ia akan mengajak istrinya ke acara pesta yang akan ia hadiri itu.


"Kemana Vada?" tanya Elvan kepada salah satu pelayan karena tak seerti biasanya, istrinya itu tak menyambut kepulangannya.


"Maaf tuan, tapi nona belum pulang," jawab pelayan itu menunduk.


Elvan mengernyit, ia lalu melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, "Apa dia masih ada di cafe karena tidak tahu aku pulang malam ini?" tanyanya dalam hati.


Elvan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Vada, namun tidak aktif. Seertinya wanita itu sengaja mematikan ponselnya demi kelancaran pekerjaan tambahannya tersebut.


" Tuan, kita sudah terlambat," Asisten Rio mengingatkan.


"Kau pikir aku peduli?" sarkas Elvan yang kesal karena ia tak bertemu isteinya padahal ia sudah tak sabar sejak tadi ingin segera sampai mansion demi bertemu Vada.


Elvan kembali melihat jam di tangannya, dan benar mereka sudah terlambat. Kalau bukan acara dari rekan bisnis ya yang penting, Elvan tidak akan peduli.


"Kita pergi sekarang!" ucapnya memutuskan.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Vada melakukan pekerjaannya dengan penuh hati-hati. Benar yang di katakan oleh temannya, Nita. Pesta itu sangat mewah dan meriah. Bagaiman tidak, itu adalah pesta putri tunggal seorang pengusaha kaya. Meskipun sebenarnya kekayaan pengusaha itu tak sebesar suaminya, tapi Vada tidak tahu hal itu.


"Vada, tolong cek yang sebelah sana ya, aku mau lihat yang sebelah sana dulu!" ucap seorang pelayan lainnya. Vada mengangguk seraya tersenyum.


Sambil membawa nampan berisi minuman, Vada berjalan mendekat ke arah yang di maksud oleh rekan kerjanya. Sesekali ia menarik rok ya supaya sedikit turun karena rok itu panjangnya beberapa centi di atas lututnya.


Mengenakan pakaian pelayan itu benar-benar membuat Vada terlihat seksi. Dan Vada yang tidak terbiasa berpakaian minim benar-benar tidak nyaman dengan itu. Beberapa tamu khususnya laki-laki yang melihat Vada sempat menggodanya tadi. Benar-benar membuatnya merasa risih.


Vada menghentikan langkahnya karena terkejut ketika netranya menangkap sosok pria jangkung dan tampan yang baru saja sampai di acara tersebut.


Vada sampai harus mengucek matanya Berkali-kali demi memastikan apa yang dilihatnya tidak salah. Ya, dia tidak salah, yang ia lihat berjalan tegap penuh pesona itu adalah suaminya.


"Ya ampun, kenapa suami beruang kutubku juga ada di sini. Bukannya dia masih di Singapura? Astaga gimana ini," Gumam Vada. Ia langsung balik badan sebelum Elvan yang sedang di sambut oleh pemilik acara tersebut menyadari keberadaan sang istri di sana.


"Selamat datang Tuan Adhitama! Terima kasih karena sudah menyempatkan hadir di pesta ulang thun putri tunggal saya di sela-sela kesibukan Anda," sapa tuan Hendra.


Elvan, "Sama-sama tuan," sahut Elvan tersenyum.

__ADS_1


Seorang wanita cantik bergaun seksi berwarna merah menyala mendekati mereka.


"Van, kenapa baru datang? Acara tiup lilinnya sudah lewat tadi," ucap gadis itu merajuk.


"Sayang, jangan begitu. Sudah beruntung dia mau datang ke sini. Jaga sikapmu," Tuan Hendra mengingatkan sang putri.


"Tapi ayah, harusnya kan aku ngasih kue ke dua buat Elvan. Dia kna orang spesial di pesta ini. Iya kan Van?" Soraya langsung bergelayut manja di lengan Elvan. Pria itu dengan wajah datarnya menepis pelan tangan Soraya.


"Ck, kau ini. Selalu saja begini. Zoya kan sudah lama meninggal, kau masih saja acuh denganku!" Soraya tak terima dengan Perlakuan Elvan padanya.


Elvan tak menggubris setiap ucapan manja yang keluar dari mulut Soraya. Kalau tidak menghormati ayahnya yang merupakan kolega penting dan sudah bekerja sama bertahan-tahun, tentu saja Elvan malas datang ke acara ulang tahun wanita yang tak lain adalah teman kuliahnya di London dulu.


Pandangan Elvan justru tertuju kepada seorang pelayan yang terlihat sedang melayani tamu pesta yang lain. Meski posisi pelayan itu membelakanginya, tapi ia seperti mengenali pelayan tersebut.


"Van, kamu mau minum?" tawar Soraya yang Melihat Elvan terus menatap ke arah pelayan tersebut.


Tanpa menunggu jawaban dari Elvan, Soraya memanggil pelayan tersebut yang tak lain adalah Vada yang kini sudah menyamar dengan memakai masker.


"Kamu, sini!" panggil Soraya angkuh.


Vada yang melihat Elvan langsung menelan salivanya kasar. Ia berharap suaminya itu tak mengenalinya.


Jantung Vada berpacu sngat cepat, "Ya ampun Vada, teruslah berdoa supaya dia nggak ngeh siapa kamu. Ampun deh, gini amat nasibmu, Vada Vada!" desah Vada dalam hati.


Soraya mengambil minuman berwarna merah untuk di berikan Kepada Elvan.


"Minum Van!" Soraya menyodorkan minuman tersebut Kepada Elvan.


"Makasih!" ucap Elvan datar. Ia terus menatap Vada tanpa berkedip. Membuat Soraya jengkel.


"Udah kamu pergi sana!" usir Soraya.


Dengan senang hati, pikir Vada.


"Permisi, nona!" Vada langsung memutar badan. Namun, Elvan mencekal tangan wanita itu, "Tunggu!" sergahnya.


Vada terpaksa menoleh. Ia menatap manik mata Elang milik suaminya sekejab lalu menunduk.

__ADS_1


Tangan Elvan tergerak ingin membuka masker yang di kenakan Oleh Vada, namun wanita itu langsung melenhis demi menghindar, "Maaf tuan, saya sedang flu. Jadi saya harus memakai masker ini," ucap Vada beralasan.


Tangan Elvan yang sudah berada di udara, seketika mengepal dan mengurungkan niatnya, tidak salah lagi. Meski menyamar sekalipun, ia tahu jika itu istrinya. Mata indah milik Vada tak bisa membohonginya. Meskipun wanita itu merubah wajahnya dengan ierasinpalstik sekalipun, namun pemilik mata itu hanya satu yaitu istrinya yang pembangkang.


Elvan meletakkan gelas yang ia pegang ke atas nampan yang di pegang oleh Vada dengan sedikit kasar, "Bawa ini pergi!" ucapnya datar.


Vada mengangguk, ia lalu buru-buru meninggalkan Elvan dan lainnya.


Soraya dan Tuan hendra kembali mengajak Elvan mengobrol. Tapi, mata Elvan tak pernah lepas menatap Kemana pun pergerakan sang istri. Termasuk saat wanita itu melayani beberapa pria di tempat lain. Terlihat sekali mereka menggoda istrinya yang memang memiliki tubuh seksi, apalagi seragam pelayan yang ia kenakan membuat istrinya itu semakin menarik di mata laki-laki.


"Permisi, saya harus ke sana dulu sebentar. Silakan kalian menyapa tamu yang lainnya," Ucap Elvan, ia langsung pergi menyusul kemana arah Vada melangkah saat istrinya itu pergi dari gerombolan pria yang sempat menggodanya tadi.


"Tapi, van... Aku masih mau mengobrol sama kamu. Udah lama kita nggak ketemu," rengek Soraya namun tak di hiraukan Oleh Elvan yang pergi begitu saja.


Asisten Rio yang sejak tadi diam hanya mengikuti langkah tuan mudanya tanpa bersuara.


Soraya menghentakkan kakinya karena kesal, ia tahu kemana arah Pandangan Elvan sejak pertama kali laki-laki itu datang tadi.


"Raya, jaga sikapmu! Jangan terlalu bernap su seperti itu. Nanti Tuan Adhitama malah ilfeel sama kamu," peringkat tuan Hendra.


"Tapi ayah, ayah kan yang janji bakal jododhin aku sama Dia,"


"Iya, iya. Nanti yah bicarakan sama dia. Tapi kamu tenang dulu," ucap tuan hendra menenangkan putri semata wayangnya.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Vada buru-buru ke toilet setelah ia berhasil pergi dari orang-orang yang menggodanya tadi. Ia membuka maskernya kemudian mencuci mukanya supaya lebih segar.


" Gila, kenapa suamiku bisa berada di sini sih? Dia tadi ngenalin aku nggak ya?"


Setelah mengatur napasnya yang seperti baru saja menaiki roal coaster tersebut. Vada kembali memakai maskernya dan keluar toilet.


"Vada, kamu ke sana ya. Ini tolong, aku kebelet!" kata rekan kerjanya. Vada hanya bisa mengangguk dan menerima nampan berisi minum tersebut.


Saat berjalan menuju yang di maksud rekannya, langkah Vada terhenti karena tiba-tiba Elvan berdiri tepat di depannya.


Elvan mengernyit, menatap wajah Vada yang ia yakin kini sedang ketakutan, seperti seorang anak kecil yang ketahuan mencuri.

__ADS_1


Elvan mengambil satu gelas minuman seraya menundukkan kepalanya, "Kau tak menyapa Suamimu?" bisik Elvan penuh penekanan tepat di telinga Vada. Membuat wanita itu melotot seketika karena terkejut.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


__ADS_2