
Dua hari kemudian....
Zora tengah menangis dalam pelukan mamanya yang baru saja tiba bersama papanya. Pasalnya, Elvan memberitahu kedua orang tua Zora jika Zora kini tengah di rawat di rumah sakit. Mereka belum tahu masalah yang sebenarnya terjadi pada putri mereka. Elvan hanya mengatakan jika Zora di sakit dan sempat kritis.
Zora terus terisak dalam pelukan mamanya, tanpa bicara sepatah katapun. Sementara papanya terus mengusap lembut rambutnya. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya. Ia terlalu takut.
Tuan Fabian yang tak lain adalah papanya Zora berdiri lalu mendekati Elvan dan Vada yang tengah duduk di sofa, "Om ingin bicara denganmu," ucapnya setengah berbisik. Tuan Fabian tahu, pasti terjadi sesuatu dengan putrinya tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan.
Sebenarnya, bukan ingin di sembunyikan. Hanya saja, Elvan ingin bicara secara langsung dengan mantan calon mertuanya tersebut biar semuanya jelas. Jiak melalu telepon rasanya kurang etis.
"Kau temani Zora, abang akan keluar sebentar dengan om Fabian," ucap Elvan kepada Vada dan wanita itu mengangguk.
"Sebaiknya tante juga ikut, sekalian kita makan siang," ucap Elvan.
Tuan Fabian setuju dan mengajak istrinya untuk ikut bersamanya.
"Titip Zora ya,..."
"Vada tante," ucap Vada cepat.
"Oh ya, titip Zora ya, Vada,"
"Iya tante," sahut Vada ramah.
"Abang pergi sebentar, nanti abang bawakan makan siang untukmu, mau makan apa?" ucap Elvan lalu mencium kening istrinya tersebut.
"Apa saja, yang penting kenyang!" jawab Vada tersenyum.
Melihatnya, baik tuan Fabian maupun istrinya merasa sedih. Mereka langsung ingat mendiang putri sulung mereka. Jika putri mereka masih ada, mungkin yang di cium keningnya barusan oleh Elvan adalah Zoya.
__ADS_1
"Ayo, ma!" tuan Fabian yang mengerti perasaan isterinya langsung menggandeng tangannya untuk keluar menyusul Elvan yang sudah keluar duluan setelah mencium istrinya.
š»š»š»
"Kurang ajar memang itu si Dimas! Breng sek! Beraninya dia melakukan ini kepada kedua putriku!" ucap tuan Fabian geram setelah mendengar penjelasan Elvan dari A sampai Z, apa adanya tanpa ada yang ia tambahi maupun kurangi.
Sedangkan nyonya Berta, istri tuan Fabian itu langsung menangis," Ya ampun, apa salah kedua putriku hingga mereka bisa terperangkap dengan pria yang sama. Pa, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang, putri kita..." rasanya nyonya Berta tak sanggup untuk bicara lagi. Hatinya sebagai seorang ibu terasa begitu sakit dan kecewa.
"Kau tak perlu membebaskan pria itu, Van. Biarkan saja dia membusuk di penjara. Aku tidak akan sudi memiliki menantu seperti dia!" ucap tuan Fabian.
"Tapi pa, Zora sedang hamil anak dia. Dan dia hampir saja kehilangan nyawanya kalau Elvan tidak membawanya tepat waktu ke rumah sakit,"
"Aku tidak peduli!" sahut tuan Fabian. Elvan hanya bisa menghela napasnya dalam, ia tahu akan seperti ini jadinya. Tuan Fabian merupakan sosok yang berpegang teguh pada prinsipnya.
Tuan Fabian bangkit dari duduknya, "Zora akan menggugurkan kandungannya!" ucapnya yakin lalu melangkah pergi.
Dan benar saja, begitu sampai di rumah sakit, tanpa basa-basi tuan Fabian langsung bicara tegas, "Gugurkan kandunganmu, Zora!" ucapnya. Tentu saja Vada dan Zora terkejut.
"Papa tahu kalau aku..."
"Ya, papa sudah tahu semuanya. Termasuk perselingkuhan mendiang kakakmu dengan pria ba jing an itu. Papa kecewa sama kamu, Zora! Bagaimana bisa kamu melakukan ini semua, kamu sudah mencoreng nama baik keluarga," ucap tuan Fabian kecewa.
"Maafin Zora, pa, ma," ucap Zora terisak.
"Kenapa kamu menyalahngunakan kepercayaan kami, Zora mama kecewa sama kamu," nyonya Berta tak kuasa menahan tangis kecewanya.
"Maafin Zora, Zora tahu kalau Zora salah,"
"Papa nggak mau tahu, pokonya kamu harus menggugurkannya!" ucap Tuan Fabian.
__ADS_1
Zora menggeleng, "Enggak pa, aku nggak mau. Dia tidak bersalah, bagaimana bisa aku menggugurkannya. Aku yakin kak Dimas pasti akan bertanggung jawab, papa tenang saja,"
"Kau jangan bodoh Zora, pria itu kini sedang mendekam di penjara, bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap kamu? Lagi pula papa tidak sudi mempunyai menantu seperti dia. Mau di taruh dimana muka papa kalau pria nara pidana itu menjadi menantu papa! Jalan satu-satunya kamu harus menggugurkannya!"
"Tidak mau, pa. Jangan paksa Zora melakukannya, bagaimanapun Zora akan merawat dan membesarkannya, dengan atau tanpa persetujuan papa,"
"Kau....!" geram Tuan Fabian hampir saja lepas kendali menampar Zora jika tidak di cegah oleh Vada.
"Tuan, benar kata Zora. Bayi dalam kandungannya tidak bersalah. Dia adalah cucu tuan, darah daging tuan. Mau tidak mau tuan harus mengakui hal itu. Putri tuan sudah melakukan sebuah kesalahan besar, sebagai orang tua seharusnya tuan tidak menyuruhnya melakukan kesalahan yang lebih besar lagi dengan menggugurkan kandungannya. Janin itu tak pernah minta di lahirkan oleh siapa dan dalam kondisi yang seperti ini, dia tidak bersalah. Tidakkah tuan akan menyesal dan merasa bersalah nanti jika tuan melenyapkan cucu tuan sendiri sebelum ia lahir di dunia ini?" ucap Vada menahan emosi. Ia sangat benci dengan orang yang dengan mudahnya ingin melenyapkan nyawa yang tidak berdosa.
"Yang salah, yang berdosa itu orang tuanya, bukan anaknya! Jadi jangan menghakimi anak yang bahkan belum lahir ke dunia!" lanjut Vada.
Tuan Fabian hanya bisa diam. Jika tidak mengingat kondisi Zora yang masih sakit,
Ingin rasanya ia mengamuk putrinya tersebut.
"Vada benar, pa. Kita sebagai orang tua telah gagal mendidik putri kita. Ini juga termasuk salah kita, jangan sampai kita melakukan kesalahan yang lebih besar lagi kepada cucu kita. Bagaimanapun, terima atau tidak, dia adalah cucuk kita, keturunan keluarga kita. Anak kita tinggal Zora, pa. Dan dia anaknya Zora, darah daging kita terlepas dari siapa ayahnya," ujar nyonya Berta, meski sebenarnya ia juga sangat kecewa dengan Zora.
Tuan Fabian duduk di samping Elvan yang sejak tadi hanya diam menyaksikan karena diapun tak tahu harus berbicara apa lagi. Tuan Fabian memijit pelipisnya yang terasa mau pecah.
Vada mencoba menenangkan nyonya Berta dan Zora yang terus mengeluarkan air matanya.
Tuan Fabian melihat Vada yang begitu perhatian dengan istri dan anaknya, padahal Zora pernah jahat terhadapnya. Saat tak sengaja tatapan mereka bertemu, mata tuan Fabian langsung berkaca-kaca karena ia tahu ada kornea mata Zoya di mata wanita tersebut.
Dalam hati, tuan Fabian merasa sangat sedih setelah tahu jika kini Elvan sudah menikah dengan Vada. Pasalnya, ia ingin Zora yang menggantikan posisi Zoya menjadi istri Elvan. Namun sayang, Zora justru malah menjalin hubungan dengan pria breng sek macam Dimas dan telah mencoreng wajahnya dengan hamil di luar nikah.
Setelah beberapa saat lamanya suasana hening, akhirnya tuan Fabian mengambil keputusannya.
"Baiklah, kau boleh tetap mempertahankan anak itu, tapi tidak dengan pria itu. Kita akan membesarkanya tanpa papanya. Lusa kita kembali ke Canada!" pupus tuan Fabian.
__ADS_1