
"Ibu perhatikan makin lama kamu makin kayak orang gila ya?" ujar bu Sukma ya g melihat Vada keluar dari toilet sambil senyum-senyum sendiri.
"Ih, jangan-jangan kamu kekesambet jin toilet? Nyebut Vada nyebut!"
Vada mencebik, "Apa sih bu Suk? Merusak suasana aja deh," ucapnya.
"Yang ada kamu tuh yang merusak nama baikkmu, namaku Sukma, bagus kan. Harus berapa kali aku ingatkan, masih aja manggil bu Suk," Omel bu Sukma menjeb sambil mengibaskan kipas souvenir kondangan di tempat tetangganya beberapa hari yang lalu.
"Salahnya dimana? Namaku aja Vada orang bebas manggil Va atau da, atau Vada. Lah aku manggil bu Suk, itu kan juga bagian dari nama ibu. Jangan di buat susah deh ah. Jangan di buat alasan ngomel, nanti cepat tua," ucap Vada datar.
"Huh kamu ini, itu gimana urusan Vas bunga kesayangan aku? Kamu udah janji mau ganti ya?"
"Iya iya, ini juga lagi di cariin, itu barang kan langka, mirip yang punya. Susah carinya. Mentahannya aja gimana bu Suk? Mau enggak? Lumayan bisa buat jalan-jalan ke luar negeri loh!"
Bu Sukma tampak berpikir, "Emang. Kamu punya uang? Sok-sokan mau ngasih duit, hidup kamu aja sendirinya udah susah,"
"Ada dong, gimana?"
"Mana, coba lihat!"
Vada mengeluarkan cek yang sudah kusust dari saku celananya. Ia membuka lipatan cek tersebut, "Kebanyakan ini kalau cuma untuk ganti Vas itu," gumam Vada.
"Sini coba lihat!" bu Sukma merebut paksa cek di Tangan Vada, matanya langsung membulat sempurna melihat angka n di cek tersebut, "Kamu merampok dimana ini?" tanyanya tak percaya.
"Sini aku cairin dulu, nanti buat ibuk separo aja, sisanya ku kembalikan sama yang berhak. Setengah aja udah kebanyakan itu, BU suk bisa beli Vas itu sama tokohnya," Vada merebut kembali cek tersebut sebelum bu Sukma menyadari nama pemberi cek tersebut.
🖤🖤🖤
Malam hari....
Vada baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya di atas nakas berdering. Ia segera mengambil ponselnya samnil tersenyum, ia pikir itu telepon dari Elvan. Namun ternyata salah, itu panggilan video call dari Mirza. Vada mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia tak mungkin mengangkat panggilan dari laki-laki yang sampai saat ini masih berstatus kekasihnya tersebut. Yang ada Mirza akan curiga melihat mewahnya kamar yang ia tempati sekarang.
__ADS_1
Akhirnya Vada membiarkan ponsel itu terus berdering, besok pagi ia akan mengirim pesan, beralasan jika malam ini ia sudah tidur.
Vada mengembuskan napasnya kasar. Ia tak bisa seerti ini terus. Tapi memutuskan hubungan melalui telepon juga tidak baik. Setidaknya sabar sampai pria itu kembali dan ia akan mengatakan semuanya.
Malam ini, Vada benar-benar merasa lelah. Selama Elvan pergi, ia mencari pekerjaan lebih untuk tambahan membantu panti. Setidaknya ia sudah berusaha sampai titi nadir.
Terdengar ironis memang jika mengetahui suaminya seorang pengusaha kaya raya tapi ia masih memilih untuk bekerja banting tulang. Tapi, Vada tentu saja memiliki alasan tersendiri. Dengan pemikirannya sendiri.
"Selamat tidur Vada, istirhatkan tububmu malam ini untuk besok bekerja lagi," gumam Vada menyemangati diri sendiri sebelum terlelap. Tak butuh waktu lama, raga lelah itu berangsur terlelap menuju alam mimpi.
🖤🖤🖤
Jam berganti, hari pun berlalu...
Jadwal Elvan yang seharusnya pulang esok hari, tapi ia memajukan jadwal kepulangannya. Sore ini ia akan kembali ke Jakarta karena semua pekerjaannya sudah beres di Singapura dan malam nanti, ia akan pergi ke Pesta ulang tahun putri salah satu rekan bisnis ya yang sangat penting.
Saat melewati sebuah butik mewah, Elvan meminta asisten Rio untuk berhenti. Asisten Rio hanya menurut tanpa bertanya.
Elvan terdiam sejenak, ia sedang berpikir gaun seperti apa yang cocok untuk istrinya.
"Apakah ada gaun terlihat simpel namun elegan?" tanya Elvan kemudian.
"Sebelah sini Tuan, ini adalah keluaran terbaru butik kami, lihatlah, simpel tapi elegan. Sangat cocok untuk..."
"Istri saya," sahut Elvan cepat tetap dengan nada dingin.
Pelayan yang sejak tadi tersenyum tersebut tampak berubah raut mukanya, ternyata pria tampan di depannya sudah beristri.
"Pilihkan yang cocok untuk seorang wanita yang ukurannya...." Elvan menjelaskan setiap detail ukuran tubuh Vada menggunakan sesuai pengalamannya selama melakukan penyatuan dengan istrinya di ranjang.
Mulai dari ukuran dada, pinggang, bahkan pan tat serta panjang pendek kaki dan juga paha istrinya tersebut. Sangat detail, bahkan tangannya bergerak sendiri sambil menjelaskan, menggambarkan seberapa besarnya dada sang istri dan lainnya dengan lugas dan dingin yang pasti. Tak peduli dengan ekspresi pelayan itu yang melongo takjub.
__ADS_1
"Harus banget di jelaskan sedetail itu? Kan bisa pakai ukuran 123 atau ABC,. Lagian hapal banget ukurannya. Kan aku jadi ngebayangin. Astaga pait pait pait!" asisten Rio mengusir pikirannya yang langsung saja berkelana kemana-mana setelah mendengar Elvan selesai menjelaskan kepada pelayan butik.
Elvan memang selalu memilih sesuatu secara detail dan sempurna.
"Kenapa? Kau mau beli juga?" Tanya Elvan kepada Asisten Rio.
"Tidak tuan muda," Sahut Rio seraya mendesah.
🖤🖤🖤
Dengan langkah lelah, Vada keluar dari cafe. Ia akan melanjutkan ke pekerjaan satunya lagi, yaitu menjadi pelayan. Kebetulan kemarin ia di telepon teman SMAnya dulu, tempat kerja temannya itu membutuhkan pelayan tambahan untuk acara pesta ulang tahun konglomerat kaya raya. Mendengar bayaran yang di janjian, Vada tergiur. Ia menyanggupinya. Lumayan buat nambah mencari sewa rumah untuk anak panti, pikirnya. Jika uang yang terkumpul lebih, tentu saja ia akan menyewa rumah yang lebih besar nantinya. Karena di pikir-pikir. Ia tak akan mungkin sanggup membayar tanah dengan harga segitu banyaknya.
"Semangat Vada! You can do it!" Vada berjalan ke tepi jalan untuk menghentikan angkot yang lewat. Sebenarnya ada sopir khusus yang Elvan siapkan untuknya. Tapi, namanya juga Vada, gengsi ya terlalu besar, apalagi akan terlihat lucu jika di antar mobil mewah plus sopir tapi bekerja di toko bunga kecil dan juga cafe. Vada belum siap menjadi nyonya bos sepertinya.
"Sory Nit, gue baru datang. Telat ya?" ucap Vada kepada Nita, temannya yang kini meneruskan usaha catering terkenal milik keluarganya.
Nita menggeleng, "Cepat ganti bajumu dengan ini, aku cuma bisa bantu sampai sini ya. Selebihnya fighting sendiri. Aku masih ada yang harus di cek. Maklum pesta besar, anak pengusaha konglomerat. Harus perfect!" Nita menyerahkan seragam pelayan kepada Vada lalu menepuk pundak wanita itu.
"Thanks ya Nit," ucap Vada tulus. Meski dari keluarga kaya, tapi Nita tetap bersikap baik Kepada Vada karena Vada sering membantunya saat dulu di bully teman-temannya karena penampilan Nita yang di nilai cupu oleh teman-temannya.
Tapi, waktu merubah segalanya, Nita yang dulu cupu itu kini menjelma menjadi seorang wanita cantik, pengusaha catering ternama. Sementara Vada? Siap juga yang tahu jika kini nasibnya di bilang apes ya apes, di culik dan di nikah paksa pria blasteran setengah bule. Tapi, di bilang beruntung,... Sampai saat ini ia baru merasa beruntung jika di atas tempat tidur yang pasti. Beruntung dan puas...karena ia belum merasakan milik yang lain, termasuk milik Mirza. The one and only adalah milik suaminya sendiri.
Vada mendesa, ia melihat seragam pelayan yang ada di tangannya dan segera menuju ke toilet untuk berganti pakaiannya.
🖤🖤🖤
💠ðŸ’
LIKE dan komennya jangan lupa... Kopi juga boleh, sekalian camilannya euy😄😄
💠ðŸ’
__ADS_1