
Elvan yang menyadari sedang di tatap aneh oleh para kliennya, langsung berdehem dan membenarkan duduknya, "Nanti abang telepon lagi, sekadang abang lagi meeting," ucapnya lirih dan langsung mematikan ponselnya.
Tentu saja, Vada merasa lebih kesal lagi karena merasa di abaikan oleh Elvan. Bahkan pria tersebut memutus panggilan begitu saja tanpa memberinya sebuah ciuman meski hanya melalui telepon.
.
.
.
Hingga siang hari, Elvan tak juga menghubungi Vada. Membuat wanita itu semakin merasa sebal. Selesai dengan kuliah onlinenya, ia mengambil ponselnya dan ternyata masih belum ada kabar dari sang suami.
"Tadi katanya mau telepon, tapi sampai sekarang nggak menghubungi aku, kirim pesan juga enggak," keluh Vada yang tiba-tiba merasa kalau suaminya itu sudah tak peduli dengannya. Dan seketika matanya kembali berkaca-kaca.
"Duh, aku kenapa sih. Kok jadi cengeng gini. Padahal kan cuma perkara sepele. Udah biasa juga dia nggak kasih kabar, ini baru dari pagi. Dulu bisa berhari-hari kan?" gumamnya bermonolog pada dirirnya sendiri. Meski demikian, Vada tetap merasa di abaikan.
Vada langsung menyambar tasnya dan bergegas pergi, ia harus memastikan sesuatu..
.
.
Sementara di kantor, Elvan yang memang sedang sangat sibuk sehingga belum sempat menghubingi Vada sejak selesai meeting tadi. Karena jika menghubungi Vada, sudah di asrikan ia tak akan bisa konsentrasi dengan pekerjaannya yang seabrek tersebut. Ia pasti rasanya infin pukang dan menemui sang istri yang akhir-akhir ini sedang dalam mode manja parah dan anehnya dia menyukainya.
Di tengah kesibukannya, datang Soraya yang lanhsung saja masuk tanpa kengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Soraya.
Elvan yang sedang sibuk menghentikan aktivitasnya sejenak demi melihat siapa yang lancang masuk ke ruangannya tanpa ijin terlebih dahulu tersebut.
"Maaf tuan, saya sudah mencegahnya, tapi..." suara Asisten Rio terputus oleh gerakan tangan Elvan yang mengusirnya. I hanya bisa menghela napas lalu keluar. Membiarkan tuan mudanya menyelesaikan masalahnya sendiri dan ia hanya tinggal menunggu hukuman yang akan tuan mudanya berikan nanti karena tidak bisa mencegah wanita itu masuk.
"Meeting kita masih satu jam lagi," ucap Elvan dingin. Ia kembali fokua dengan pekerjaannya, sama sekali tak mempedulikan Soraya yang audah berdiri di depannya.
"Ya, aku tahu. Tapi aku sengaja datang lebih awal supaya bisa lebih lama bertemu denganmu," ucap Soraya dengan tanpa malunya.
"Pergilah, aku sibuk!" usir Elvan.
__ADS_1
Ya, Elvan memang masih ada satu meeting lagi yaitu dengan perusahaan milik ayahnya Soraya, dan sudah pasti Soraya yang mewakili perusahaan sang ayah.
"Aku akan menunggu sampai kau selesai," kekeh Soraya. Meski ia tahu Elvan sudh menikah, tapi ia tak peduli jika harus menjadi pelakor.
Elvan tak menyahut, semakin di ladeni, maka sahabatnya wakyu kuliah itu pasri akan semakin tidak tahu malu mendekatinya.
Soraya memutar badannya, dengan langkah bak seorang model ia berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruangan teraebut.
Elvan hnya melirik sekilas wanita gila itu. Entajlah, kenapa dulu ia bisa berteman dengan wanita yang berpakaian sangat seksi tersebut.
"Kau selalu terlihat tampan saat serius, daei dulu," ucap Soraya yang tak berkedip menatap Elvan.
Elvan tak menghubrisnya, ia sama sekali tak tersentuh akan pujian itu.
.
.
.
Di lobby, Vada baru saja tiba. Di tangannya ia membawa makan siang yang ia beli sebelum ke kantor suaminya tersebut. Selain unruk menagih morning kiss yang audah kada luarsa karena kini sudah siang tersebut, ia juga ingin makan siang bersama sang suami. Dan itu harus! Akhir-alhir ini jika ia menginginkan sesutu, maka harus, tidak bisa tidak. Padahal jika sudah ia dapatkn keinginannya, ia sering kali abai, bahkan tak berselera lagi. Sudah seperti orang mengidam saja. Eh? Ngomong-ngomong soal ngidam, Vada jadi kepikiran sesuatu, bulan ini ia belum mendapat tamu bulanannya.
"Siang mbak Muthia, kefemu lagi kita. Dan mbak. Masih sibuk teleponan sama pacar aja, minta di halalin dong jangan minta di telepon doang," ucap Vada.
Wanita yng memang sedang menelepon kekasihnya itu langsung menatap Vada sinis.
"Eh, Kang bunga. Mau apa? Anterin bunga?" tanya Muthia. Dulu memang ia sempay syok saat Elvan menarik tangan Vada dan mengajaknya ke ruangannya. Tapi, kini Muthia yakin jika Vada hanyalah selingan saja buat Elvan karena belum lama tadi ada Soraya yng mengaku sebagai calon istri dari pemilik perusahaan tersebut.
Vada yang memang dulunya bekerja di toko bunga tak tersinggung sama sekali, "Enggak mbak, aku udh nggak kerja Lagi di toko bunga, aku nganggur mbak sekarang. Hihi. Emm, Elvannya ada kan?" tanya Vada.
"Pak Elvan sedang sibuk, nggak bisa di ganggu, ada calon istrinya datang," jawab Muthia.
"Calon istri?" rupanya belum ada yang tahu soal pernikahannya dengan Elvan kecuali segelintir orang. Vada mendadak merasa ciut hatinya. Entah berapa orang yng mengetahui doa sebagai istri seorang Elvan. Bisa di hitung dengan jari saja, dan kenapa Elvan tak berniat untuk mengumumkannya kepada dunia? Apa karena memang pria itu belum mencintainya.
Ah sudahlah, dari pada berpikir macam-macam, Vada memilih langsung mengecek siapa siapa wanita yang di maksud oleh Muthia tersebut. Karena, selama Ia masih menjabat sebagai istri sah dari Adhitama Elvan Syahreza, Vada tak akan membiarkan wanita lain mengusik rumah tangganya.
"Baguslah, biar sadar siapa disini calon nyonya yang sebenarnya," sindir Muthia yang tak berniat menghentikan langkah kaki Vada menuju lift khusus.
__ADS_1
"Nggak tahu diri emang, ngejar-ngejar calon suami orang sampai segitunya. Maklumlah dia bilang tadi kan lagi nganggur, pasti mau merengek minta di tiduri terua minta duit," lanjut Muthia lagi.
Vada yang mendengar ucapan Muthia karena memang wanita itu sengaja mengeraskan suaranya hanya tersenyum tipis menanggapinya. Oh tidak, tentu saja dia tidak terima, Vada menoleh," Mbak Muthia yang cantik, mending di sapu deh hatinya biar bersih. Atau, di cuci otaknya biar nggak berpikiran kotor. Hati-hati loh, mulutmu harimaumu," ucap Vada yang tak mempedulikan ocehan Muthia lagi. Ia sengaja tak mengaku sebagai istri Elvan demi membungkam mukut Muthia karena ia tak ingin memanfaatkan statusnya tersebut unruk menindas orang lain.
.
.
.
Entah mendapat pesan apa dan dari siapa, Soraya yang baru saja melihat ponselnya langsung memegangi dadanya, "Aduh, Van. Sesak, aku nggak bisa napas!" ucapnya tersengal.
Elvan yang mengetahui jika dulu Soraya memang memiliki asma, langsung bangkit dari duduknya.
"Kamu kenapa?" tanya Elvan yang sudah berjongkok di depan Soraya yang terduduk di lantai.
"Asmaku kambuh... Sesak..." ucap Soraya yang terus memgangi dadanya dengan napas tersengal.
Elvan mengambil tas Soraya dan berusaha mencari inhealer yang biasa wanita itu bawa kemana-mana. Ia bahkan menumpahkn seluruh isi tas Soraya ke. Meja namun tak ada benda yang ia cari tersebut.
"Dimana kamu simpan inhelernya?" tanya Elvan.
"Aku... Aku lupa membawanya," sahut Soraya yang terlihat semakin kesulitan bernapas.
"Si al!" umpat Elvan, ia malah bingung sendiri. Tak ingin wanita ini kenapa-kenapa di ruangnnya, apalagi kalau sampai mati, pikirnya. Ia lalu menelepon Asisten Rio yang ternyata sedang berada di toilet.
"Sesak, Van. Tolong aku... Bantu aku buka baju, ini benar-benar membuatku semakin sesak," ucap Soraya.
"Kau bisa membukanya sendiri," tentu saja Elvan menolak. Soraya berusaha membuka kancing kemejanya sendiri namun ridak bisa, ia sudah terlihat lemas.
"Ah si al!" umpat Elvan lagi. Dengan ragu ia memajukan tangannya mendekati dada kancing kemeja Soraya.
Tangan Soraya menyentuh tangan Elvan, "Pelan-pelan saja bukanya," ucapnya. Elvan berhasil membuka satu kancing kemeja Soraya, dan siap membuka kancing bawahnya.
"Abang!"
Elvan yang tangannya sedang menyentuh kancing kemeja Soraya langsung menoleh mendengar teriakan horor tersebut.
__ADS_1
š š š