
Vada menatap pria yang berdiri di depannya. Mendadak kakinya lemas. Tak di sangka pria itu mengenalinya.
"Ada yang ingin kau jelaskan?" tanya Elvan datar. Namun penuh dengan intimidasi yang membuat Vada gelagapan.
"Mak-sud tuan apa? Saya tidak mengerti," Vada Masih saja mengelak. Vada tidak sadar jika suaranya yang sengaja di berat-beratkan justru membuat Elvan semakin mengenali dirinya.
"Kau mau pulang sekarang, atau aku seret!" Elvan bergumam jelas dan tegas di telinga Vada.
"Tuan, jangan begini. Aku masih harus bekerja. Aku mohon, tuan mengertilah, ini reourasiku, tanggung jawabku, kalau aku pulang sekarang sama saja aku melanggar kontrak kerja," bisik Vada memohon. Berharap Elvan sedikit mengerti dirinya.
Elvan mengernyit, reputasi apa? Pelayan? Omong kosong. Lalu bagaimana dengan reputasinya yang seorang CEO dengan kekayaan berlimpah, istrinya malah memilih menjadi pelayan dari pada merengek minta uang kepadanya.
"Nanti di pending aja di rumah kalau mau marah. PLEASE! Aku siap di hukum, tapi sekarang pura-pura aja kita nggak kenal. Aku kasihan sama tuan kalau mereka tahu aku ini istri tuan, nanti tuan di bully. Jadi Please. Jaga nama baik Anda sendiri dengan tidak membuat onar di sini," Astaga, Vada merutuki kalimatnya sendiri, memangnya siapa yang berani membully suaminya?.
" Kau... " pekik Elvan tertahan. Omong kosong macam apa itu, bukankah yang suka buat ulah, buat onar, bikin huru hara yang membuat jantung pria itu tidak sehat adalah wanita itu sendiri. Wanita di depannya itu benar-benar selalu membuatnya kehilangan kata-kata. Ia bahkan harus berusaha mengontrol napasnya yang sudah naik turun karena menahan geram.
" Pulang!" Elvan hendak menarik tangan Vada, namun suara Soraya yang mendekat mengurungkannya.
"Tuh kan, tuan. Sudah saya bilang juga. Nanti nona cantik itu ilfeel sama tuan kalau tahu selera tuan pelayan seperti aku ini," bisik Vada sebelum Soraya benar-benar mendekat.
"Kenapa sih tuh orang bisa nongol dimana-mana tiba-tiba, ngagetin orang. Udah macam se tan aja," gumam Vada menggerutu sambil melenggang pergi.
"Van, ada apa ini?" tanya Soraya.
"Maaf nona, saya permisi!" Vada mengambil kesempatan untuk Vada kabur, ia mengangguk sopan dan tidak lupa mengedipkan satu matanya terhadap sang suami.
Benar-benar cari masalah. Malah menggoda suaminya dengan kediaon matanya. Asisten Rio, hanya bisa mengusap dadanya melihat kelakuan dua majikannya,"Anda tidak pernah belajar dari pengalaman, nona. Atau memang Anda senang di hukum?" batinnya.
__ADS_1
Elvan hanya bisa mengembuskan napasnya kasar sambil mengusap tengkuknya yang terasa berat karena kelakuan sang istri yang semakin hari semakin berhasil meningkatkan tekanan darahnya. Dan mungkin kini tensinya sudah melonjak naik.
"Ada apa sih Van? Dari tadi aku perhatiin kamu kayak lihatin pelayan itu terus, nggak suka? Mau aku usir dia aja?" tanya Soraya menatap kesal ke punggung Vada.
Elvan menggeleng tanpa bersuara, kemudian ia berjalan menuju meja bundar di mana tuan Hendra sudah berada di sana. Di ikuti oleh Soraya dan Rio.
š¤š¤š¤
Sepanjang acara, Elvan terus memperhatikan gerak gerik istrinya dari tempatnya duduk. Saat melihat Vada kembali ke belakang, Elvan segera bangkit dari duduknya.
"Mau kemana Van?" Tanya Soraya mendongak demi menatap Elvan.
"Toilet, mau ikut?" tanya Elvan datar. Membuat Soraya langsung diam.
Elvan langsung mencari keberadaan Vada. Wanita itu terlihat sedang minum," Ya ampun, gini amat ya kerja. Capek gusti!," gumamnya sambil berjongkok.
"Semangat Vada, demi adik-adik panti," batin Vada menyemangati dirinya sendiri. Ia menepuk-nepuk lututnya lalu berdiri, meletakkan gelas ke tempat semula lalu memutar badannya.
"Tuan..." Lagi-lagi Vada terkejut, benar-benar mirip syaiton yang suka muncul tiba, pikirnya. Dan lebih parahnya membuat deg-degan yang pasti.
Dengan wajah garangnya, Elvan berjalan maju.
"Apa yang tuan lakukan di sini?" Vada mundur satu langkah. Ia celingak-celinguk memastikan tak ada yang melihat.
Elvan tak menyahut, ia terus maju mendekat hingga Vada terpojok di dinding.
"Tuan mau ngapain?"
__ADS_1
"Menurutmu?" Elvan mengukun Vada dengan satu tangannya di di dinding.
"Bagaimana kalau ada yang lihat," Vada kembali celingak-celinguk.
"Aku tidak peduli! Kau memang istri keras kepala, pembangkang! Harus di hukum!" gertak Elvan.
Vada menelan salivanya ketika wajah Elvan semakin mendekat ke wajahnya.
"Iya iya, aku tahu. Aku akui aku memang salah. Tapi Please jangan di sini. Kalau ada yang kesini bagaimana?" Vada semakin panik ketika deru napas Elvan terasa nyata di wajahnya.
"Itu urusan mereka!" Elvan langsung me lumatt bibir Vada. Ia tak peduli dengan reaksi Vada yang terkejut dan memukul-mukul dada bidangnya. Semakin Vada berontak, semakin dalam dan intens pula pagutan pria itu.
Seperti mendengar ada langkah kaki mendekat, Vada semakin merasa tegang, jantung ya berpacu kuat. Namun, Suaminya itu justru malah semakin asyik melu mat bibirnya tanpa ampun. Menumpahkan sebagian kekesalannya dalam ciumannya. Ia tak peduli dengan Vada yang susah payah mengatur napasnya karena seluruh bibirnya di lahap habis oleh pria itu.
Pria itu benar-benar sudah tidak tahan menahan gejolak rindu akan bibir dan juga tubuh sang istri. Apalagi melihat Vada dengan seragam pelayan yang seksi itu. Ingin sekali ia menyeret Vada pulang dan mengurungnya di kamar semalaman.
"Benar-benar ini laki satu!" pekik Vada dalam hati. Ia tak punya cara lain selain mengulurkan tangannya ke belut impor milik suaminya yang sudah memegang di balik celana bahan dan juga sarungnya. Vada meremat benda pusaka milik suaminya itu dengan kencang penuh nap su. Otomatis Membuat Elvan melepas pagutannya. Pria itu sedikit melenguh.
"Kau... Berani menggodaku di sini?" geram Elvan menahan gejolak.
"Itu depe dulu, satu remassaaan. Ada yang mau ke sini. Sebaiknya tuan keluar atau memang ingin kita melakukannya di sini, dan menjadi tontonan semua orang?" ucap Vada memberanikan diri. Sok-sokan menantang, padahal sudah pasti dia yang akan lebih malu jika hal itu terjadi.
Elvan mengepalkan tangannya kuat, lalu menggeser tubuhnya, memberi celah untuk Vada melewatinya.
" Huh dasar! tuman!" Omel Vada sambil melangkah menjauh.
š¤š¤š¤
__ADS_1