
Vada merasa membeku di tempatnya. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Dia berada di antara dua pria yang sedang di kuasai energi negatif tersebut. Aura kecemburuan sangat kentara diantara keduanya.
"Ya ampun. Apa enggan bisa aku ngilang gitu aja kayak jin? Ini sih lebih horor daripada se tan. Lebih mencekam," batin Vada, ia merasa seerti sedang berada di kutub Utara saat ini merasakan aura dingin dari dua pria itu.
Vada takut jika Elvan akan salah paham dengan keberadaan Mirza di sana, padahal ia sama sekali tidak tahu jika mantan kekasihnya itu juga sedang berada di sana.
"Ehem!" Vada berdehem cukup keras hingga membuat Elvan dan Mirza langsung melepas jabat tangan mereka satu sama lain. Namun mata mereka masih saling beradu dengan tatapan sama-sama dingin. Seolah waktu sedang di paus saat itu juga.
"Bukankah kita akan membeli buah?" Vada menatap Elvan dengan sorot mata memohon demi mengakhiri suasana yang sangat mencekam baginya ini.
"Maaf mas Mirza, kami permisi dulu," ucap Vada keada Mirza saat Elvan kembali mendorong trolinya.
"Permisi!" kata Elvan datar.
Mirza hanya mampu menatap sepasang suami istri itu dengan tatapan nanar.
"Vada, apakah kau benar-benar merasa bahagia tanpa aku sekarang? Benarkah ini yang kau inginkan? Jika aku mengatakan kalau aku belum ingin menyerah, masih ingin memperjuangkan hubungan kita, apakah kau akan marah atau sebaliknya?" batin Mirza.
"Sayang, dari tadi mama cari ternyata di sini," kata mama Sofia menghampiri Mirza.
"Mereka siapa?" tanya Mama Sofia saat mengikuti arah Mata Mirza yang masih terus menatap Elvan Dan Vada yang semakin menjauh.
"Oh itu, itu... Klien iya klien...tadi tidak sengaja bertemu di sini," jawab Mirza.
"Oh, ayo kita ke kasir, bayarin belanjaan mama!" ajak mama Sofia.
"Katanya Mama mau beli buah juga? Nggak jadi?" tanya Mirza.
"Buahnya lain kali saja, mama ingat di rumah masih ada beberapa," jawab Mama Sofia. Ia tahu jika tadi Mirza bertemu Dengan Vada dan juga suaminya. Mama Sofia melihat dari kejauhan. Ia tak ingin Mirza bertemu mereka lagi atau hanya akan membuat putra kesayangannya tersebut semakin terluka.
Mirza manut, ia mendorong troli yang tadi di dorong oleh Mama Sofia karena kini mama Sofia sudah berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan trolinya.
Vada menoleh lalu mendongak menatap suaminya "Aku tidak tahu kalau mas Mirza juga ada di sini juga. Sumpah bukan di sengaja, tuan," ucapnya. Namun, Elvan tak berkomentar. Pria itu memilih diam dan terus mendorong troli.
Entah kenapa tiba-tiba ia tak terima Vada memanggilnya tuan, sedangkan memanggil pria lain dengan sebutan mas. Padahal, biasanya ia tidak mempermasalahkannya. Elvan sedikit khawatir akan perasaannya yang akhir-akhir ini menjadi lebih sensitif kepada istrinya itu.
Vada langsung turun dari troli saat sampai di tempat buah-buahan. Ia segera memilih buah apa saja yang akan ia beli. Sesekali ia mengajak Elvan bicara untuk meminta pendapat namun pria itu hanya menjawab singkat-singkat saja. Terlihat jelas wajahnya yang menahan kesal.
Elvan melirik ke pasangan lain yang juga sedang berbelanja buah.
"Baby, kamu mau buah apa?" tanya sang wanita sambil bergelayut manja pada pasangannya.
"Pisang boleh baby," jawab sang pria mesra.
Lalu pandangan Elvan beralih ke istrinya kembali yang masih saja sibuk dengan buah-buahan di depannya.
"Tuan, tuan mau pisang?" Vada menyodorkan sebuah pisang Ambon kepada Elvan.
__ADS_1
Elvan mengeratkan Keningnya. Sungguh sangat berbeda sekali dengan pasangan di sebelahnya yang terlihat mesra dan romantis. Membuatnya semakin kesal karena ia dan Vada justru terdengar seperti majikan dan pembantunya.
Elvan sedikit mendengus, "Strwaberry aja," ucapnya ketus.
Vada menatap suaminya aneh, sejak kapan suaminya itu menyukai buah asam tersebut karena biasanya pria itu sukanya buah pisang.
Vada mengambil strawberry dan juga pisang kemudian.
ššš
Karena sudah waktunya makan siang, akhirnya Elvan dan Vada makan siang di mall sebelum mereka pulang. Setelah bertemu dengan Mirza tanpa sengaja tadi, Elvan menjadi lebih banyak diam. Namun, Vada cuek saja karena ia tidak menyadarinya. Bukankah selama ini memang sifat Elvan seperti itu? Jadi Vada tak berpikir jika suaminya sebenarnya sedang merajuk.
Sesampainya di apartemen, Elvan langsung meletakkan barang belanjaan di dapur begitu saja dan langsung ke kamar. Vada yang awalnya berniat ingin merapikan barang belanjaannya itu memutuskan untuk menyusul sang suami.
"Tuan kenapa sih? Dari tadi begitu?" tanya Vada.
"Begitu bagaimana?" jawab Elvan.
"Ya gitu, banyak diam. Kenapa?"
"Bukanya aku memang seperti itu?"
"Ya bukan gitu maksudnya. Pokoknya tuan beda aja aku rasa,"
"Syukurlah kalau ngerasa!" batin Elvan.
" Apa karena tadi bertemu mas Mirza? Kan aku udah bilang nggak di sengaja, sumpah!" imbuh Vada cepat.
"Tuh kan! Ngomongin mas Mirza langsung gitu ekspresinya, pasti iya nih gegera tadi tuan jadi bete begini. Lagian kenapa sih aku kan nggak ngelakuin apa-apa tadi. Perasaan aku diam aja nggak ngajak mas Mirza ngobrol juga, yang ngobrol sama jabat tangan kan kalian, tapi tetap saja aku yang di salahin kan. Vada mah memang selalu salah di mata tuan, ah nggak seru! Tadi pagi aja kita baru enak-enak masa sekarang udah gini lagi," celoteh wanita itu cemberut.
Ya ampun, rasanya Elvan ingin sekali membubgkam bibir sang istri yang terlihat menggoda saat sengaja di manyun-manyunkan seperti itu dengan bibirnya, kenapa wanita yang sedang duduk di sampingnya itu kurang peka sekali. Sudah membuat hatinya cemburu karena ia memanggil pria lain dengan istimewa sedangkan dengannya tuan, tuan dan tuan.
"Apa kau tidak paham juga, Nevada?" tanya Elvan.
"Apa? Soal ketemu mas Mirza tadi? Kan udah aku jelasin. Enggak sengaja! Harus paham apalagi, tuan?"
Jika tidak di jelaskan secara detail, sepertinya kepolosan Vada hanya akan membuat tensi Elvan semakin naik saja. Elvan lebih menyerongkan badannya supaya bisa menatap lekat wajah sang istri. Ia memegang kedua bahu Vada, " Apa kau tak ingin merubah panggilan terhadapku?"
"Maksud tuan?"
Yassalam, Elvan merauo wajahnya gusar sendiri.
"Apa kau tidak merasa perlu memanggilku dengan panggilan lain selain tuan? Aku Suamimu bukan majikanmu? Paham sekarang?" tanyanya fruatrasi.
Vada tampak berpikir sejenak, "Tuan mau di panggil apa?" Vada malah balik bertanya. Membuat Elvan jadi ikut berpikir.
"Mau aku panggil mas? Biar samaan jadi nggak iri atau cemburu sama mas Mirza lagi?"
__ADS_1
"Nggak!" jawab Elvan cepat dan tegas, enak saja mau di samain sama pria itu, pikirnya.
Vada mencebik, "Ck, tadi minta di panggil lain, giliran mau di panggil mas nggak mau," gumamnya. Ia diam-diam menahan senyum melihat suaminya yang kini ia sadari jika pria itu sedang cemburu.
"Emm, gini deh. Sekarang aku tanya dulu. Emang tuan mau manggil aku apa? Masa yang ganti cuma aku aja manggil tuan, tuan juga donk,"
Elvan kembali berpikir, jakunnya naik turun seakan ingin mengatakan sesuatu, namun terasa tercekat.
"Apa? Ayo katakan saja, biar aku juga bisa rubah panggilan ku ke tuan!" Vada menarik turunkan kedua alisnya tak sabar menunggu.
"Be.... Bi..." Ucap Elvan ragu, ia tiba-tiba ingat pasangan yang tadi juga membeli buah, mereka terlihat mesra dengan panggilan baby tersebut. tangan Elvan sambil mengusap wajah sang istri meski terlihat kaku dan canggung saat melakukannya.
"Pffttt, kok baby. Namaku kan Vada tuan bukan bebi, kenapa jauh banget coba!" Vada menabo pelan lengan Elvan.
Gubrak! Rasanya Elvan ingin menjungkalkan diri karena gagal mesra. Padahal baby adalah panggilan untuk orang terkasih, tapi tak di sangka Vada justru berpikir lain.
Elvan mendengus lalu berdiri. Lebih baik dia pergi daripada di sana yang ada tensinya benar-benar akan naik.
"Eh, mau kemana? Kan belum. Kelar diskusi soal panggilannya, main berdiri mau pergi aja! Sini!" Vada menarik tangan Elvan supaya kembali duduk.
"Ayo katakan, panggilan kesayangan untukku apa?" tanya Vada.
"Kau memang cocoknya di panggil Nevada, itu udah paling pas dan cocok untukmu! Iya itu paling cocok," ucap Elvan ketus. Niat ingin mesra malah gagal.
Vada tersenyum lalu ia naik ke kasur dan langsung memeluk leher sang suami dari belakang. Wajahnya sengaja ia tempelkan ke pipi Elvan.
"Abang jangan marah-marah. Takut nanti lekas tua. Vada orangnya setia tidak akan mampu mendua! Dari jutaan bintang, abang paling gemerlapan. Dari segenap lelaki, abanglah yang paling Rupawan!" (Siapa yang sambil nyanyi nih...?)
Vada sengaja nyanyi lagu Dinda dengan merubah sedikit liriknya sebagai isyarat perubahan panggilannya untuk sang suami.
Meski ia tak tahu lagu itu. Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Vada sukses membuat hati Elvan berbunga-bunga. Ia mengecup tangan Vada lalu mengusap wajah wanitanya tersebut gemas, "Ck, dasar!" ucapnya seraya tersenyum.
Vada juga tersenyum. Ia lebih mengeratkan pelukannya, "Abang," ucap Vada, memanggil tuan suami dengan panggilan lain tanpa meminjam lirik lagu rasanya masih agak aneh, tapi di rasanya itu lebih baik daripada memanggil tuan.
"Abang jangan marah-marah, nanti abang lekas tua," iseng Vada kembali bersenandung. Dan tak di sangka, suaminya itu membalasnya, "Adik orangnya cerewet, tapi baik hatinya...." setelahnya Elvan langsung mengatup kan bibirnya sangat rapat menahan malu. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Vada menatapnya tak percaya, sumpah demi apa suaminya nyanyi guys! Rasanya Vada ingin sekali mengabadikan momen langka tersebut dalam ponselnya. Ia segera mencari ponselnya.
" Lagi... "rengeknya saat ponselnya sudah stand by untuk merekam.
" Enggak!" Tolak Elvan yang merasa malu.
" Ayolah, abang! Lagi, sedikit aja kayak tadi! Ulang yang tadi! Please!"
" Enggak, Nevada! Cukup!" Tolak Elvan. Ya kali, si Mr. Introvert mau mengulangi nyanyiannya meski seuprit. Bisa geger dunia per-introvert-an.
Vada memanyunkan bibirnya," Padahal aku suka. Pengin aku museumkan nanti kalau udah di rekam," ucapnya sendu.
Elvan menggelengkan kepalanya tersenyum. Ia menarik tubuh sang istri lalu memeluknya, "Cukup kamu ingat saja dalam sini," ia menunjuk dada sang istri.
__ADS_1
"Tidak perlu di museumkan, karena aku bukan konsumsi publik, Just for you, Nevadaku," Elvan mengecup puncak kepala Vada. Ya, dia senang dengan panggilan baru dari sang istri. Namun, Ia tetap memanggil Nevada, adalah bukti nyata dari respect nyata terhadap wanita yang ia tahu sedang berusaha membuka diri untuknya tersebut. Atau bisa di bilang, itu sebagai panggilan kesayangannya untuk sang istri.
š š š