Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 83


__ADS_3

"Tidak bisa kah membawa cabe-cabeanmu ini pergi dari sini? Terlalu berisik. Istriku butuh istirahat," Elvan sedikit bergumam tepat di telinga Mirza. Sontak, Mirza langsung menoleh dan menatapnya tajam. Namun, ada benarnya juga ucapan Elvan, takutnya semakin lama Helena berada di sana akan menghambat kesembuhan Vada.


Mirza langsung memegang lengan Helena yang masih aja nyetocos ajak Vada bicara.


"Apa ooom pegang-pegang?" tanya Helena menoleh dan sedikit mendongak demi menatap wajah pria di sampingnya.


"Kita pulang sekarang!" ucap Mirza.


"Tapi om...." Helena cemberut.


"Ini sudah siang, saya lapar. Kalau tidak mau ya sudah. Saya pulang sendiri!" Mirza yakin, ucapannya adalah jurus jitu untuk menarik gadis bau kencur itu keluar dari sana.


"Mau dong. Makan siang sama om. Masa nolak sih. Kak, aku pergi dulu ya, kapan lagi kan di ajakin kencan sama om Mirza," Helena langsung pamit kepada Vada sambil mengerlingkan matanya.


"Besok aku ke sini lagi," sambung Helena.


"Tidak perlu!" sahut Elvan cepat. Helena langsung menatapnya lalu berdecak, "Aku pamit om. Jagain kak Vada," pamitnya langsung beranjak mendahului Mirza.


"Hem," sahut Elvan pendek.


"Aku pamit dulu, kamu cepat sembuh ya," giliran Mirza yang pamit kepada Vada. Wanita itu mengangguk tersenyum.


"Titip Vada," Mirza menatap Elvan. Pria itu langsung mengangguk. Tak perlu bilang pasti dia jaga Vada dengan baik, pikirnya.


"Mas Mirza!" Vada memanggil Mirza yang hampir sampai di pintu. Pria itu langsung menoleh.


"Terima kasih, dan juga.... Banyakin stok sabar ya buat Helen, menjalin hubungan sama gadis yang jauh lebih muda memang butuh sedikit tenaga dan pikiran extra," ucap Vada tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Vada aku..." Mirza hendak menyangkal dan mengatakan jika ia dan helen tak ada hubungan apa-apa. Namun ia urungkan, tak ada gunanya juga menjelaskan, pikirnya.


Mirza tersenyum tipis dan mengangguk pelan, "Aku pergi dulu," pamitnya sekali lagi sebelum menyusul Helena.


"Ayo om. Kita mau makan dimana ini?" tanya Helena langsung yang sudah menunggu di depan pintu.


"Nggak dimana-mana. Saya mau ke kantor dan kamu Pulanglah," ucap Mirza.


"Ish, om kok bohong? Tadi katanya mau ngajak aku makan siang," ucap Helena kesal. Ia menghentakkan kakinya di lantai.


Vada dan Elvan sama-sama menoleh ke arah pintu, rupanya dua manusia beda usia itu masih di depan pintu.


"Saya nggak bilang ajak kamu, saya hanya bilang saya mau makan siang, tapi Sendiri. Lagian kamu udah makan jeruk sekilo di dalam tadi, apa masih lapar?" ucap Mirza mengingat tadi gadis itu ngemil buah yang ia bawa sendiri selama di dalam.


"Sekilo apanya, nggak ada ya, cuma berapa biji doang, om kok gitu sih, bohong kan dosa, apalagi bohongin anak kecil yang masih lugu dan imut kayak aku. Jangan ngajarin buat bohong dong, dosa tahu," rengek Helena.


"Tahu gini. Aku nggak ikut om pamit tadi. Mau masuk lagi aja, di dalam lebih seru ada teman ngobrolnya," ancam Helena.


"Sana kalau nggak malu, udah pamit masa masuk lagi," tantang Mirza.


"Ngapain juga malu. Udah sana om pergi, aku mau balik masuk," Helena mendorong Mirza. Tangannya bersiap membuka pintu kembali.


Mirza mengusap wajahnya kasar seraya menghela napasnya dalam, "Keras kepala. Yaudah ayo kita makan," ia menarik tangan gadis itu sebelum pintu terbuka lebar.


Helena tersenyum menang, "Ayo, kita mau makan dimana?" tanya helena yang kini sudah berjalan mundur di depan Mirza.


"Terserah!" Jawab Mirza.

__ADS_1


"Okey aku yang pilih tempatnya ya om!"


"Hem ," jawab Mirza pendek.


Pandangan Vada beralih ke pria yang kini sudah duduk di samping ranjangnya setelah memastikan Mirza Dan helena tak balik lagi.


"Abang kenapa?" tanya Vada.


"Ngapain kamu panggil - panggil Mirza, pergi ya biar pergi. Kenapa harus di panggil lagi? Di senyuman pula,"


"Dih cemburu ya? Enggak.... Lucu aja lihat Helen, kayak lihat aku dulu gitu kalau lihat dia tuh, ceria, ramai anaknya. Kayak yang nggak ada beban, padahal kan siapa yang tahu seberat apa bebean kita," ucap Vada.


"Iya, abang lihat juga dia kayak kamu, tapi versi mininya. Baru mau tumbuh," sahut Elvan. Ia pikir pasti Mirza dekat dengan Helena karena gadis mirip Dengan Vada dan belum bisa move on.


"Mas Mirza harus nunggu berapa lama lagi ya kalau mau serius sama Helen. Kalau sekarang apa nggak kayak gimana gitu, main sama anak kecil. Apa dia beneran suka sama Helen?"


"Kenapa? Kamu nggak rela kalau mereka pacaran?" langsung mode sewot bin ketus.


"Bukan gitu, aku udah nyakitin mas Mirza terlalu banyak. Berharap dia bahagia setelah ini meski nggak sama aku," jawab Vada. Mirza adalah pria yang baik bahkan terbaik yang pernah ia kenal. Tapi, jika bersama dengan Helena yang masih remaja, Akankah pria itu bahagia. Mirza seorang pria dewasa yang siap membina rumah tangga, sementara Helena? Gadis itu bahkan belum lulus Smp.


Elvan hanya diam, ia menelisik wajah Vada yang terlihat sendu. Sebenarnya lebih ke rasa bersalah, tapi Elvan mungkin salah mengartikannya. Ia pikir istrinya masih belum rela melepas Mirza.


" Makan dulu ya, abang suapi!" Elva. Mengambil makanan siang Vada di atas nakas.


"Hem," Vada mengangguk.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•

__ADS_1


__ADS_2