
"Maksud bibi?" Vada masih tak konek karena jujur dia juga masih merasa mengantuk dan lelah.
"Itu non, non Zora pingsan, tangannya berdarah, bibi takut terjadi sesuatu dengannya," ucap bibi dengan wajah cemas.
"Ya ampun, bibi kesana dulu, aku bangunin suamiku dulu!" ucap Vada, ia langsung menutup pintu.
"Abang, bangun!" Vada mencoba mengguncang tubuh Elvan untuk membangunkannya.
"Ya ampun, lagi gawat begini malah susah di bangunin, makanya kalau once more tuh sekali aja, jangan berkali-kali!" omel Vada.
Vada menaikkan satu kakinya di ranjang lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Elvan, "Abang, suaminya Vada Laras Sabrina, bangun yuk! Once more again yuk!" bisiknya dengan suara sensual. Dan ternyata berhasil, pria itu langsung melenguh lalu mengerjapkan matanya.
"Apa sayang? Once more again?" ucap Elvan dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Ish, giliran begitu aja langsung bangun. Ayo bangun! Kata bibi Zora pingsan di kamarnya, cepat! Takutnya dia kenapa-kenapa," ucap Vada menarik tangan Elvan.
Mendengar Zora pingsan, Elvan langsung turun dari ranjang dan gantian menarik tangan Vada untuk keluar. Elvan sampai lupa jika dirinya tak mengenakan apapun saat ini.
" Abang! Pakai baju dulu, enak aja! Aku nggak mau berbagi sama siapapun!" sergah Vada ketika tangan Elvan sudah menyentuh handle pintu.
Vada segera memgambilkan baju untuk suaminya lalu mereka langsung berlari menuju ke kamar Zora yang berada di lantai satu.
Elvan dan Vada langsung mendekati Zora yang tergeletak tak sadarkan diri di samping ranjang. Baik bibi maupun penjaga tak ada yang berani mendekati Zora sampai Elvan datang.
Elvan terkejut melihat botol obat tidur dan beberapa isinya berceceran di samping Zora.
"Ya ampun, Zora," Vada langsung merasa lemes begitu melihat Elvan mengambil botol obat tersebut. Sudah di pastikan Zora mencoba mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tersebut.
__ADS_1
Elvan mengecek pergelangan tangan Zora, apakah masih ada denyut nadinya atau tidak.
"Pak cepat siapkan mobil, kita bawa ke rumah sakit!" titah Elvan setelah memastikan jika Zora masih hidup.
ššš
Sampai di rumah sakit, Zora langsung di bawa ke ruang UGD. Elvan dan Vada menunggu di luar ruangan sementara Zora di periksa oleh dokter .
Elvan mengusap wajahnya kasar, "Zora, kenapa kau bodoh sekali sampai melakukan ini!" ucapnya tak habis pikir.
"Abang tenang, duduk dulu!" Vada menyentuh lengan Elvan dan mengajaknya untuk duduk. Pria itu patuh, ia langsung duduk di samping sang istri.
Sebenarnya Vada tak kalah terkejutnya dengan Elvan, pasalnya masih teringat jelas jika tadi malam wanita itu setelah menangis terlihat lebih baik dan tidur nyenyak sampai akhirnya ia tinggak ke kamar utama.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Zora, bagaimana aku harus mengatakannya kepada orang tuanya," ucap Elvan, ia memijit pangkal hidungnya yang terasa mumet.
"Kita berdoa saja, semoga baik Zora maupun bayinya baik-baik saja. Ini bukan salah abang, jangan salahin diri abang," ucap Vada mencoba menenangkan suaminya karena memang ini bukanlah salah suaminya tersebut. Vada menggenggam erat tangan Elvan, membuat pria tersebut merasa tak sendiri. Di ciumnya tangan Vada penuh cinta," Terima kasih karena selalu ada untukku," ucapnya. Ia benar-benar beruntung memiliki Vada di sisinya. Meski berawal dari paksaan namun wanita itu tak sekalipun benar-benar meninggalkannya.
Tak lama kemudian, dokter keluar. Vada dan Elvan langsung berdiri, "Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Elvan.
"Syukurlah, tuan membawanya tepat waktu. Jika tadi terlambat sedikit saja mungkin nyawanya tidak tertolong. Beruntung sekali kandungannya kuat, sehingga janin di dalam perutnya juga baik-baik saja. Untuk saat ini pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya tapi belum sadar dan sebentar lagi akan di pindah ke ruang perawatan. Saya permisi!" kata dokter.
Elvan dan vada menghela napas lega mereka bersamaan. Untung saja belum fatal, sehingga nyawa Zora masih tertolong. Dan yang lebih melegakan lagi bahwa janin dalam kandungan Zora baik-baik saja.
ššš
Beberapa saat yang lalu, Zora telah sadar. Kini ia sudah berada di ruang rawat.
__ADS_1
"Kenapa kakak peduli padaku? Kenapa kalian membawa ke sini, kenapa tidak membiarkan aku mati saja," ucap Zora.
"Kalau mau mati jangan di mansionku, merepotkan!" ucap Elvan sangking geramnya terhadap wanita tersebut yang selalu bikin ulah.
"Kakak memang udah nggak peduli lagi denganku. Aku matipun kakak tidak peduli kan?"
"Ish, jangan begitu, abang!" Vada mengusap lengan Elvan. Ia tahu suaminya itu marah karena khawatir sebenarnya.
"Zora, kamu udah buat kami khawatir. Apa yang kamu lakukan itu, jahat!" ucap Vada lalu berhenti sebentar, ia jadi ingat film what's wrong with love.
"Iya kamu jahat. Karena kamu tidak hanya mendzolimi diri kamu sendiri tapi juga anak kamu yang tidak bersalah. Untung anak dalam perut kamu kuat, kalau tidak kamu akan melakukan kesalahan fatal dua kali," lanjutnya.
Zora langsung mengusap perutnya yang masih terlihat datar, "Buat apa ada anak ini, kalau ayahnya saja tidak mau mengakui. Lebih baik dia mati bersamaku," bulir bening menetes di pipinya.
"Ayahnya tidak mengakui, bukan berarti kau juga ikut tidak mengakui bahkan tidak menginginkannya bukan?" Vada menarik napasnya dalam demi menahan emosi.
"Kau tidak mengalaminya, kau tidak tahu bagaimana rasanya hamil tanpa suami di sisi kamu. Kau bahkan belum hamil sampai sekarang, makanya kau bisa bicara seperti itu,"
Ucapan Zora yang mengatakn dirinya belum hamil sedikit banyak membuat hati Vada mencelos, ia langsung menatap Elvan.
Suasana menjadi sedikit tenang, tak ada yang bicara, mereka bertiga hanyut dengan pikiran masing-masing.
"Aku takut kalu sampai paPA Mama tahu aku hamil di luar nikah dan ayah dari anakku tidak mau bertanggung jawab, mereka pasti akan membunuhku, jadi sama saja," ucap Zora tiba-tiba di tengah keheningan.
"Kalau tahu akan seperti itu, kenapa kau melakukannya sampai hamil?"
"Karena aku cinta kak Dimas. Dia satu-satunya pria di dunia ini yang aku cintai selain papa," ucap Zora. Lagi-lagi air matanya keluar tanpa bisa ia cegah.
__ADS_1
"Kalau begitu, kenapa kamu ingin membunuh anakmu sendiri. Anak dari pria yang kamu cintai dengan mengajaknya mati bersamamu. Kamu tahu, apa yang kamu lakukam dengan Dimas itu salah. Jangan sampai kamu menambah kesalahan dan dosa kamu dengan membunuh janin yang tidak berdosa ini. Dia memang hadir dari kesalahan kalian berdua tapi dia tidak bersalah, dia berhak untuk tetap hidup. percayalah, orang tuamu juga akan semakin murka terhadapmu jika mereka tahu hal konyol yang kamu lakukan tadi. Kamu sudah menyakiti hati mereka dengan kelakuan kamu di tambah menyakiti calon cucu mereka yang tidak berdosa," ucap Vada panjang lebar.
Zora diam, ia tampak memikirkan kata-kata Vada barusan lalu kembali menangis.