Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Bab 33


__ADS_3

Tanpa sadar, Elvan dan Vada makan sampai habis, tandas tak tersisa. Suapan terakhir, Vada berikan untuk suaminya.


"Bilang apa?" ucap Vada sesaat setelah mereka selesai makan siang.


Elvan menatapnya seraya menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti maksud sang istri.


"Kan udah aku suapi, tuan. Terus harusnya tuan bilang apa?" tanya Vada mirip sekali saat dia sedang momong anak kecil.


"Terima kasih," Refleks, Elvan langsung mengucapkan terima kasih kepada Vada, membuat wanita itu tersenyum.


"Sama-sama, tuan suami," ucap Vada tersenyum jahil melihat air muka Elvan yang langsung berubah setelah menyadari ucapannya, seolah ia menyesali apa yang baru saja keluar dari mulutnya secara tiba-tiba tersebut.


Tiba-tiba, Vada ingat akan nasib bunganya. Sampai sekarang bunga itu belum sampai ke ruangan suaminya.


"Tuan," panggil Vada.


Elvan menoleh, "Apa?" tanyanya.


"Itu, soal bunga, bagaimana?" tanya Vada takut-takut.


"Katakan saja pada bosmu, aku sudah menerimanya," sahut Elvan.


"Tapi..." Bada masih belum puas dengan jawaban Elvan.


Elvan kembali menatapnya, "Apa?"


"Aku butuh bukti kalau tuan benar-benar menerimanya. Tapi, sampai sekarang tak ada yang mengantar bunganya kesini," ujar Vada.


Elvan mengembuskan napasnya berat, lalu bangkit dari duduknya. Ia menarik tangan Vada masuk ke dalam lift tanpa suara.


Vada hanya bisa diam dan menerka-nerka apa yang akan di lakukan oleh suaminya tersebut. Apa dia akan bilang sendiri ke bu Sukma jika dia sudah menerima bunganya, begitu? Haha mana mungkin dia sebaik itu, Vada. Vada segera mengusir pikiran mustahilnya tersebut.


Lift kembali terbuka, Elvan kembali menarik tangan Vada. Saat lewat di lobi, Vada melihat bunganya di bawa oleh seorang Office boy yang akan membuangnya.

__ADS_1


"Bunganya!" seru Vada yang menghentikan langkah Elvan.


"Ada apa?" tanya Elvan.


"Tidak apa-apa tuan," sahut Vada. Tiba-tiba Ia ingat jika suaminya memiliki alasan sendiri kenapa tidak menyukai ulang tahunnya, sehingga ia tak ingin lagi memaksa Elvan untuk menerima bunga itu.


Terdengar jelas oleh telinga Elvan, ada nada kecewa dari kalimat istrinya tersebut. Ia mengikuti arah mata Vada yang terus menatap Office boy yang membawa bunga yang tadi di bawa oleh istrinya tersebut.


"Tunggu!" Teriakan Elvan menghentikan langkah Office boy yang akan membuang bunga tersebut, menyusul bunga-bunga yang lain yang sudah masuk ke dalam tong sampah berukuran cukup besar.


"Yang itu, letakkan di ruangan saya!" ucap Elvan kepada OB tersebut. Meski terkejut, OB tersebut menganggukkan kepalanya patuh.


Vada menatap Elvan tak percaya, ia benar-benar spechless untuk satu hal yang di lakukan suaminya hari ini.


Elvan kembali menarik tangan Vada, namun Vada bergeming dari tempatnya berdiri.


"Tunggu, mas!" sergah Vada kepada OB itu.


"Tuan, aku butuh bukti untuk menunjukkan kalau tuan benar-benar menerima bunganya," kata Vada, ia benar-benar merasa tidak tahu di untung, udah syukur suami beruang kutubnya mau menerima bunga itu, eh dia ngelunjak minta lebih.


Kini gantian Vada yang menarik tangan Elvan mendekati OB. Seperti kerbau di cucuk hidungnya, Elvan mengikuti langkahnya tanpa bicara.


"Pak tolong photoin kami ya?" pinta Vada kepada OB.


OB tersebut tampak bingung dan memandang Elvan yang tak menunjukkan ekspresinya alias datar. Ia mengambil ponsel yang di sodorkan oleh Vada setelah melihat anggukan kecil dari Elvan.


Vada tersenyum cerah menatap ke layar yang membidiknya. Tangan kanannya memeluk bunga itu sementara tangan kirinya menggandeng posesif lengan Elvan yang tetap dengan wajah datarnya. Vada tak peduli, toh memang wajah suaminya seerti itu. Akan aneh jika tiba-tiba sang suami tersenyum secerah dirinya.


"Sudah, mbak," OB itu mengembalikan ponsel milik Vada. Vada yang menyadari jika tangannya menggandeng lengan suaminya langsung melepaskannya, "Maaf tuan," ucap Vada, ia langsung menerima ponselnya kembali.


"Makasih ya, mas. Bunganya langsung di antar ke ruangan pak CEO ya," ucap Vada tersenyum ramah. Elvan menatapnya tidak suka. Kenapa setiap laki-laki di panggil 'Mas' oleh istrinya itu.


"Tuan, terima kasih untuk hari ini. Aku permisi!" pamit Vada. Ia senang sekali siang ini, sudah dapat makan siang gratis udah gitu bunganya di terima dan... Bisa photo bareng dengan suaminya lagi. Bu Sukma pasti akan kejang-kejang melihatnya. Benar-benar, Vada merasa beruntung.

__ADS_1


Karena sudah mendapat apa yang dia inginkan, dengan wajah tanpa dosanya, Vada ngeloyor begitu saja meninggalkan Elvan yang rahangnya langsung mengeras. Benar-benar tidak sopan, pikirnya.


Dengan langkah cepat, Elvan menyusul sang istri dan kembali menarik tangannya, "Biar aku antar!" ucapnya tanpa bisa di tolak. Tak peduli dengan tatapan penasaran orang-orang yang berlalu lalang di lobi tersebut.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Di dalam mobil, tak ada yang berbicara. Elvan hanya menatap fokus jalanan yang ada di depannya. Sesekali Vada melirik suaminya yang terkesan lebih mirip patung dari pada manusia, bedanya suaminya itu masih bernapas. Ia meringis dalam hati, kok bisa-bisanya dia menikah dengan laki-laki macam beruang kutub seperti Elvan. Dingin, datar dan kehidupan sosialnya tidak bagus cenderung introvert. Hidup pria itu juga flat-flat saja sepertinya. Tak ada warna apalagi pelangi.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Elvan tanpa menoleh.


"Eh, enggak siapa yang lihatin tuan," sanggah Vada yang langsung membuang muka, menatap luar jendela mobil. Ternyata suaminya tahu diam-diam ia menatapnya.


"Em... Tuan," panggil Vada.


Elvan menoleh, "Ada apa?" tanyanya datar.


"Tidak jadi," sahut Vada. Sebenarnya ia ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk suaminya, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat, salah-salah malah dia di turunkan di tengah jalan kalau suaminya marah.


Tanpa terasa, mobil Elvan sudah berhenti di depan Sukma Florist.


"Sebaiknya tuan tidak usah turun, tuan bisa langsung kembali ke kantor. Terima kasih sudah mengantarku," kalimat Vada sukses menghentikan gerakan tangan Elvan yang akan melepaskan seat beltnya.


"Bukan apa-apa, tuan. Tapi pemilik toko ini pasti akan heboh nggak ketulungan jika tahu aku di antar oleh tuan, bisa-bisa dia malah pingsan. Aku malas mealdeninya. Kasihan juga tuan nanti pasti tidak akan nyaman dengan kelakuannya," ucap Vada setelah melihat raut wajah masam suaminya.


""Turunlah!" titah Elvan kemudian.


Vada tersenyum, lalu melepas seat beltnya. Sebelum turun, Vada menoleh kepada suaminya, ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia memberanikan diri mencium pipi Elvan, namun teat saat bibir Vada hampir sampai di pipi suaminya, Elvan justru menoleh dan ciuman itu mendarat tepat di bibirnya, Vada langsung membelalak, begutupun Elvan yang terkejut.


"Kado dariku," ucap Vada tersenyum dengan wajah meronanya, ia langsung buru-buru keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam toko dengan salah tingkah dan juga takut jika kena marah karena lanang mencium suaminya.


Elvan hanya menatap punggung Vada sambil memegangi bibirnya yang baru saja mendapat ciuman dari istrinya tersebut dengan wajah cengo, shock sudah asti karena ini pertama kali wanita itu berani mencium dirinya terlebih dahulu tanpa di suruh.


"Ck. Dasar!" decaknya dan langsung mengemufikan mobilnya kembali menuju ke kantor.

__ADS_1


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


πŸ’ πŸ’ Hai hai hai, maaf ya kemarin tidak up πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ jangan lupa like dan komennya, terima kasih.... πŸ’ πŸ’ 


__ADS_2