Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 40


__ADS_3

Vada melambaikan tangannya saat mobil yang di naiki mbok Darmi dan asisten Rio melaju dengan pelan meninggalkan mansion. Ia mengembuskan napasnya dengan berat, seberat hidup yang akan ia jalani di kemudian hari jika tanpa mbok Darmi.


Vada menatap ke dalam mansion, sebelum akhirnya ia kembali masuk untuk menemui suaminya yang ia tebak sekarang sedang mewek diam-diam.


Tapi, tebakannya ternyata salah, ia justru melihat Elvan tengah siap untuk berangkat ke kantor. Wajah sendunya tadi kini sudah kembaki ke biasanya, dingin. Laki-laki itu benar-benar pintar dan cepat menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.


"Tuan. Mau kemana?" tanya Vada.


"Piknik!" sahut Elvan singkat.


"Dih, malah mau piknik. Padahal baru di tinggal Mbok Darmi pergi. Nggak ada sedihnya, malah mau piknik!" omel Vada tanpa sadar. Ia langsung mengatup begitu menyadari Elvan sedang menatapnya tajam.


"Kau pikir dengan pakaian seperti ini, aku mau kemana selain ke kantor?" ucap Elvan kesal.


"Oh iya ya. Huh jangan marah-marah tuan, masih pagi ini. Sering marah bikin uban lebih cepat tumbuh tuan, jadi kelihatan makin tua, kayak om-om. Mending sekarang kita sarapan, aku udah masak tadi," ujar Vada.


"Eits, jangan marah dulu. Simbok tadi udah nitipin tuan ke aku, supaya aku jagain. Jadi tuan harus nurut sama aku, ya,"


Elvan mengernyit tak percaya, bagaimana bisa mbok Darmi menitipkannya kepada Vada, yang ada bukannya seharusnya dia sebagai laki-laki yang menjaga Vada sebagia istrinya. Ini kenapa malah sebaliknya. Konyol!


"Aku berangkat sekarang," pamit Elvan tak mengindahkan ajakan Vada untuk sarapan.


"Eh, kan belum sarapan, tuan," timpal Vada cepat.


Elvan tak menyahut, ia tetap melangkahkan kakinya keluar.


"Nanti siang datanglah ke florist, tuan. Aku akan membawa bekal dobel untuk makan siang!" teriak Vada.


Elvan menghentikan langkahnya sejenak demi menyimak teriakan istrinya sebelum akhirnya kembali melangkah.


"Kok aku nyuruh dia sih? Emang aku siapa? Mana mungkin dia mau datang nyamperin aku di toko. Untung lagi melow hatinya, jadi nggak kena marah. Eh, tapi jadi kasihan lihatnya, pasti sedih tuh sebenarnya hatinya. Kalau nanti kita pisah, dan aku pergi dia jadi sendiri dong, kok jadi kasihan ya," gumam Vada menerawang. Ia mengembuskan napasnya lalu menuju ke meja makan, dimana makanan yang ia masak, masih utuh di meja.


"Sedih ya kalian nggak di lirik apalagi di makan oleh tuan suami? Kok aku juga merasa aneh ya kalau harus sarapan sendiri, nanti aku bawa kalian ke kantornya aja gimana? Setuju?"


Vada geli sendiri dengan ucapannya barusan yang sangat konyol. Ia seperti orang kurang waras yang mengajak makanan di meja bicara. Siapa saja yang melihatnya pasti berpikir jika dia gila.


"Dih cantik-cantik stressss!" Vada terkikik geli sendiri.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Siang harinya...


Elvan yang sejak pagi memang belum makan sama sekali, kini mulai di landa rasa lapar. Sebenarnya, ia bisa saja menyuruh bawahannya di kantor untuk membelikan makan siang, tapi teriakan Vada tadi pagi yang menyuruhnya datang ke tempat kerja wanita itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Seorang Vada berani menyuruhnya dengan berteriak? Tidak mungkin jika itu bukan Vada, dan dia satu-satunya yang berani melakukannya.


"Hah, aku benar-benar sudah gila!" umpat Elvan kesal pada dirinya sendiri. Hanya urusan makan saja, ia mempersulit dirinya sendiri seperti ini. Apa kabar dengan uangnya yang tak terhingga itu, jika makan saja ia kesusahan.


Bukankah kalau lapar tinggal sedikit buka mulutnya buat memerintah, maka makanan akan segera tersedia di depannya. Tapi, kenyataannya, ia ingin makan masakan sang istri. Pagi tadi tidak sarapan masakan Vada, membuatnya rindu siang ini.

__ADS_1


"Ah si al!" umpatnya. Kenapa tadi pagi pakai sok-sokan menolak sarapan, jika pada akhirnya tersisa seperti ini. Jika Rio berada di sana, pasti asistennya itu sudah menertawakan Kebodohannya dengan terbahak-bahak. Meskipun dalam hati sih.


"Apa yang gadis itu taruh di masakannya? Kenapa aku bisa sampai begini," batinnya curiga.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Sementara itu, Vada baru saja selesai melayani seorang pembeli bunga yang akan memberi kejutan untuk istrinya. Tidak hanya sekali dua kali, laki-laki itu bisa di bilang serg yang membeli bunga untuk istrinya.


"Laki-laki romantis. Beruntung sekali istrinya. Aku sampai khatam sama muka pria itu karena sering membeli bunga di sini untuk istrinya, udah cakep, romantis lagi," gumam Vada merasa sedikit iri, ia menatap pelanggannya pergi. Sedangkan dua pria yang ia punya saat ini belum ada sisi romantis-romantisnya. Mirza, baik dan kalem, tapi untuk memanjakannya dengan keromantisan, laki-laki itu seerti tak punya waktu. Sementara Elvan? Ya tahu sendiri lah ya, seperti apa pria itu.


Vada tidak tahu saja jiak laki-laki barusan yang dia bilang cakep, ternyata memiliki dua selingkuhan sekaligus. Bunga-bunga yang sering ia beli tentu saja untuk ketiganya secara bergilir. Jika Vada tahu, pasti ia tak akan iri dengan istri pria itu, bahkan akan bilang Amit-amit jangan sampai.


Vada mendesah menatap bunga-bunga indah di depannya. Saat ia menatap dinding dan melihat jam, ia baru sadar kalau ini sudah waktunya makan siang.


Vada kembali melihat ke arah depan toko, diam-diam ia berharap suaminya beneran datang ke sana untuk makan sing bareng. Tapi, ia harus mendesah kecewa karena tak melihat Elvan, sekalipun hanya bayangannya saja.


"Dia gimana ya, apa hatinya masih sedih? Atau sudah baik-baik saja," tiba-tiba Vada mengkhawatirkan Elvan.


"Lagian apa sih yang kamu harapkan Vada, mana mungkin si Mr. Introvert itu mau ke sini hanya untuk makan siang rumahan seperti ini," gumamnya lagi sambil membuka rantang yang ia bawa dari rumah satu persatu.


"Sayang banget, padahal sebanyak ini, emang kalau nggak kemakan. Mana bu Suk nggak ke sini lagi. Kalau kesini kan pasti dengan senang hati bantu menghabiskan,"


Saat Vada hendak memulai makan siangnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya Mirza memanggilnya melalui Video call.


" Hai sayang, assalamualaikum ... Lagi apa?" tanya pria itu langsung ketika melihat Vada di layar ponselnya.


"Waalaikumsalam mas... Ini lagi mau makan siang aku. Mas Mirza sudah makan?" tanya Vada.


Vada buru-buru menggeleng, "Enggak ganggu kok. Tumben mas telepon? Apa lagi nggak sibuk?" tanya Vada.


"Kok ngomongnya gitu, tumben kamu bilang,"


"bukannya gitu, tapi kan emang sekarang ini mas Mirza lagi sibuk banget, aku takut aja kalau pekerjaan mas Mirza keganggu,"


"Ini mas habis makan siang, sayang. Mas kangen kamu, jadi mas sempetin buat video call. Mas kangen pengin peluk kamu," ucap Mirza. Yang mana membuat hari Vada berdesir, seketika rasa bersalah kembali memghantuinya.


"Makan sama apa, sayang?" tanya Mirza.


"Oh, ini mas, ada macam-macam," Vada mengarahkan kamera ponselnya ke makanan yang ada di depannya.


"Wihhh, banyak sekali menunya. Tumben, masak banyak banget," Ujar Mirza, pasalnya biasanya Vada hanya membawa bekal makan siang seadanya kalau tidak di kirimi makanan oleh Mirza. Tapi, karena sibuk, sepertinya Mirza melupakan kebiasaannya dulu.


"Iya mas, mumpung ada rejeki lebih ini. Sesekali masak banyak," Vada tersenyum penuh arti. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya kenapa membawa makanan banyak.


"Makan yang banyak, sayang. Mas lihat kamu kayaknya kurusan ya, jangan terlalu memfosir badan buat kerja. Kalau capek istirahat,"


"Iya mas. O ya, kapan mas Mirza pulang?"

__ADS_1


"Kenapa? Kangen ya? Nggak sabar pengin ketemu mas?" seloroh Mirza.


Vada hanya tersenyum menanggapinya, sebenarnya ia ingin mengatakan yang sebenarnya kepada kekasihnya itu. Sudah saatnya ia mengambil sikap soal hubungannya dengan Mirza. Bagaimana pun, kini statusnya adalah istri orang.


" Aku ingin bicara sesuatu sama mas Mirza,"


"Katakan saja, apa itu sayang?"


"Nanti saja, kalau mas Mirza pulang, aku bicara langsung," tidak mungkin jika Vada mengatakannya hanya melalui telepon. Tidak etis rasanya.


"Baiklah, nanti mas juga punya kejutan buat kamu. Tunggu mas pulang ya, sayang," ucap Mirza tersenyum.


Vada mengangguk dengan tersenyum canggung. Rasa nyeri di dadanya yang sejak tadi ia tahan, kini semakin terasa saat melihat senyuman Mirza. Laki-laki yang sedang ia bohongi. Vada merasa sebagai seorang yang breng sek. Pengkhianat dan juga pengecut.


"Ya udah, kamu buruan makan gih. Mas nggak akan ganggu. Mas tutup dulu teleponnya ya? Kalau nggak, nanti kamu nggak makan-makan lagi,"


"Iya mas. Mas hati-hati di sana, jaga kesehatan.


"Pasti, sayang. Kamu juga ya. Tunggu mas pulang. I love you!" seru laki-laki itu.


Lagi-lagi Vada tersenyum canggung, rasanya kok jahat banget kalau dia balas i love you yoo, tapi kenyataannya dia sudah menikah dengan pria lain.


"Kok nggak balas?" protes Mirza memberengut. Ya ampun, bikin Vada meleleh jika kekasihnya memasang wajah unyu andalannya.


" I lo-ve... You too," balas Vada dengan nada tercekat. Susah payah ia menahan sesak di dadanya. Menahan air matanya yang sudah mengangkat, siap menangis.


Mirza tersenyum, "Malu-malu gitu. Takut ada yang dengar ya?"


Ehem!


Vada menoleh ke arah sumber suara. Dimana suaminya kini sedang berdiri tepat di depan pintu dengan wajah yang susah di jelaskan. Vada sangat terkejut tentunya. Sejak kapan Elvan berdiri di sana, ia bahkan tak menyadari kedatangan laki-laki itu. Apakah Elvan mendengar percakaannya dengan Mirza? Vada langsung harap-harap cemas.


"Kenapa sayang? Kok mukanya kayak kaget begitu?" tanya Mirza.


"Ah enggak. Itu... Ada pembeli bunga... Aku tutup dulu ya mas teleponnya. Assalamualaikum," Vada buru-buru mematikan panggilan tanpa menunggu balasan salam dari Mirza. Ia merasa seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh oleh suaminya.


"Tuan..."


Vada meremat ponselnya. Ia mendadak salah tingkah, antara takut dan juga merasa bersalah. Takut jika Elvan mendengar semuanya, merasa bersalah karena dia telah bermesraan dengan pria lain dengan statusnya sebagai istri sah Elvan.


Meskipun sebenarnya Elvanlah orang ketiga dalam hubungannya dengan Mirza. Tapi, kembali lagi mengingat status mereka, kini Mirza lah yang menjadi orang ketiga di antara dia dan Elvan.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


šŸ’ šŸ’ 


Like dan komennya jangan lupa, terima kasih šŸ™šŸ¼ šŸ™šŸ¼

__ADS_1


Salam hangat author šŸ¤—ā¤ļøā¤ļø


šŸ’ šŸ’ 


__ADS_2