
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Elvan sampai di parkiran apartemen. Ia dan juga Vada turun dari mobil setelah melepas seat belt masing-masing.
"Ada barang abang yang ketinggalan di jok belakang, bisa tolong ambilkan?" ucap Elvan. Sementara ia mengangkat telepon dari Asisten Rio.
"Baiklah," Vada langsung membuka pintu mobil belakang, matanya langsung berbinar, bibirnya melengkung sempurna ketika melihat buket bunga mawar putih terongggok di kursi jok belakang. Bagaimana bisa ia tak melihat ada bunga itu sejak masuk ke dalam mobil tadi. Ia benar-benar tak menyadarinya.
Vada mengambil buket bunga tersebut lalu menghirup aromanya dalam-dalam. Ia menatap punggung suaminya yang masih bercengkerama melalui telepon, "Dasar suami beruang kutub, mau kasih bunga aja sok gengsi," batinnya tersenyum. Lagi, dia menghirup aroma bunga mawar putih tersebut. Warna yang ia sukai.
Elvan memutar badannya demi melihat sang istri, "Bagaimana? Apa kau menemukan barangnya?" tanyanya.
Vada langsung mencebik seraya menunjukkan bunga yang ia pegang, "Mau ngasih bunga aja pakai bilang ada barang ketinggalan," ucapnya.
Elvan sedikit tersenyum, "Nanti aku telepon lagi, yo!" ucapnya lalu menyimpan ponselnya dalam saku celana. Ia berjalan mendekati Vada, menarik pinggang wanita utu supaya lebih mendekat.
"Suka?" tanyanya.
"Suka sih, tapi sayang.... Tuan romantisnya nanggung! Kan tinggal kasih aja, bunga buat istri tersayang gitu, kenapa pakai trik sok lupa barang segala? Malu ya? Emang dasar ya suami beruang kutub mah, gengsi ya selangit!" seloroh Vada menggoda suaminya. Ia langsung berjalan mendahului Elvan masuk ke dalam lift.
"Awas ya, dasar Nevada!" Elvan segera menyusul sang istri masuk.
Vada mendekap erat bunga tersebut posesif, ia terus menghirup aromanya, "Makasih ya, tuan suami. Sukkkkkkaaaaakkk!" ucapnya tersenyum tulus.
"Terima kasihnya nanti saja," balas Elvan. Ia menekan tombol lift menuju ke apartemennya.
"Kok gitu?" Protes wanita itu.
Elvan mendekatkan bibirnya ke telinga Vada, "Pakailah lingerie yang berwarna merah nanti," bisik ya yang membuat wajah Vada langsung merah.
Bugh! Refleks, Vada menabok lengan Elvan, "Ish, abang mah gitu. Maunya di karaoke terus tiap malam, emang nggak capek belutnya muntah tiap malam?" ucapnya setengah bercanda.
Menyadari ulahnya yang menabok suaminya, Vada langsung meringis, ia merutuki kebodohannya yang selalu saja kelepasan. Untung suaminya sekarang sudah sedikit lebih jinak dari pada dulu.
__ADS_1
Elvan yang tadinya menatapnya tajam saat di tabok, hanya bisa menghela napasnya. Mengelola emosinya dengan sangat baik.
"Justru itu yang buat abang semangat setiap harinya," balas Elvan kemudian seraya menerapkan rambut Vada yang sedikit berantakan.
"Yaudah kalau gitu nanti bang pakai sarung yang motifnya kotak-kotak, gimana? Sama-sama request!" wanita itu berjalan mundur demi melihat sang suami saat lift terbuka.
"Nggak ada, sayang," sahut Elvan sambil berjalan pelan. Hadeh, ada-ada saja istrinya itu, mana ada dia punya sarang burung motif kotak-kotak, tak sesuai dengan kepribadianlah. Elvan jadi geli sendiri membayangkan dirinya memakai underwear motif kotak-kotak.
Padahal Elvan hanya request warna merah, eh isteinya malah requestnya yang aneh menurutnya.
"Masa sih. Abang nggak punya. Beneran?"Vada masih berjalan mundur dengan pelan.
" Emang kamu pernah lihat abang pakai yang begitu? Kalau kotak-kotak sarung beneran yang buat ibadah abang punya. Tapi kalau yang buat ibadah di ranjang, abang nggak punya," jelas Elvan dengan polosnya.
Entah kenapa Vada langsung tersenyum membayangkan sesuatu, yang mana Membuat Elvan mengernyit. Pria itu menggeser tubuh Vada yang menutupi pintu.
"Kalau begitu nanti abang pakai sarung luar aja, nggak usah pakai sarung dalam," ternyata pikiran kotornya sedang berjalan, makanya senyum-senyum tidak jelas membayangkan.
"Udah, sekarang masuk dulu. Mandi terus masakin abang. Udah lapar!" Elvan memutar tubuh Vada supaya membelakanginya lalu mendorong pelan bahu istrinya tersebut.
ššš
Vada langsung terlelap setelah sesi permintaannya dengan Elvan selesai. Terhitung tiga kali pria itu melakukannya. Yang terakhir mereka lakukan di kamar mandi beberapa menit yang lalu. Entahlah, Elvan seperti tak pernah bosan untuk melakukannya lagi dan lagi. Jika orang lain mungkin ada fase bosan sesekali, tapi hal itu tidak berlaku untuknya, justru semakin hari, pria itu semakin kecanduan. Kalau bisa mah dia pengin ngalahin aturan minum obat, tiga kali sehari dalam melakukannya.
Di pandanginya wajah lelah sang istri yang ia tahu kalau sampai sekarang wanita itu masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya tersebut. Namun, Elvan sendiri sadar, Sampai detik ini ia masih meyakini bahwa sejauh ini ia nyaman bersama wanita tersebut semata karena ada bagian dari wanita yang dulu sangat ia cintai melekat dalam tubuh Vada.
Meski kadang logikanya menepis akan keyakinannya tersebut, akan tetapi keyakinan itu kembali lagi ketika ia selalu terhipnotis saat menatap dua netra milik Vada. Ia yakin itulah alasan utamanya akan perasaan yang selama ini berkecamuk di dalam dadanya. Perasaan yang tak ingin jauh dan juga rasa candu yang ia rasakan terhadap istrinya itu. Dan jujur, Sampai detik ini ia masih bingung akan nama dari perasaannya tersebut. Elvan masih belum berani mengklaimnya sebagai CINTA.
Elvan merapikan rambut Vada yang menutupi wajahnya. Ia mengusap pipi Vada penuh perasaan. Jika Zoya tidak mendonorkan koerna matanya untuk Vada, apakah takdir mereka akan tetap seperti ini. Akankah takdir akan berkata lain. Jika mata indah itu bukan milik Zoya, Akankah ia tetap terhipnotis olehnya? Elvan menusp lembut kelopak mata sang istri lalu mengecupnya.
Jika mereka tetap di takdirkan untuk menjadi suami istri, mungkin skenario Tuhan akan jauh lebih baik dari pada saat ini. Dimana mereka terpaksa menikah hanya karena sebuah amarah dan dendam semata.
__ADS_1
Elvan mengembuskan napasnya panjang. Ia mencium puncak kepala Vada sebelum pergi meninggalkan wanita itu menuju ruang kerjanya karena masih ada pekerjaan yang harus ia lakukan malam itu.
ššš
Weekend ini, Vada sengaja tidak masuk bekerja. Wanita itu kini sedang membolak-balik tiket film terbaru yang di berikan oleh Roni kemarin untuknya. Berharap bisa pergi berdua dengan sang suami, namun ternyata hari itu Elvan harus pergi ke luar kota. Ada pekerjaan penting yang harus suaminya itu lakukan.
Saat Elvan keluar dari kamar mandi, Vada menyimpan kembali tiketnya di bawah bantal. Ia memang belum memberitahu suaminya tersebut soal tiket itu. Karena ia tak yakin jika Elvan mau menemaninya menonton karena selama ini Vada tahu bagaimana kehidupan suaminya.
"Kok mukanya di tekuk begitu?" Tanya Elvan.
"Enggak kok. Biasa aja. Nanti abang pulangnya sore atau malam? Atau menginap?" tanya Vada berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
"Belum tahu, kalau udah selesai nanti abang langsung pulang, nggak sampai menginap," Jawab Elvan.
"Kenapa? Apa mau ikut?" tanya Elvan, ia mengambil dasinyang sudah di siapkan oleh Vada sebelumnya.
Vada mengambil alih dasi tersebut, ia naik ke atas ranjang dan mengisyaratkan supaya Elvan mendekat, "Tidak. Bukan begitu. Aku nggak mau ganggu abang kerja," ucapnya sambil memasangakan dasi suaminya.
Elvan menarik pinggang Vada hingga tak ada jarak antara mereka, "Kau pulang kerja malam nanti. Abang pastikan sudah pulang. Abang yang jemput seperti biasa," ucap Elvan.
"Itu, sebenarnya hari ini aku libur," Sahut Vada. Elvan langsung mengernyit, "Libur?" tanyanya. Ia menjadi menyesal. Karena harus pergi dan membiarkan sang istri sendiri.
"Hem, capek. Jadi aku minta libur," ucap Vada. Ia tak mungkin mengatakan kalau sebenarnya ingin mengajak prianya tersebut berkencan. Nanti Elvan malah akan semakin merasa bersalah.
"Pergilah. Tidak apa-apa. Aku akan ke panti nanti, kangen sama bunda dan adik-adik," ucap Vada kemudian diiringi senyuman. Ia mengusap-usap dada Elvan setelah selesai memasangakan dasinya.
"Kau yakin tak apa?" Elvan masih ragu, apa ia harus membatalkan perjalanan bisnisnya demi sang istri
"Hem, yakin sekali. Toh sudah biasa bukan abang pergi ke luar negeri beberapa hari,"
Vada benar, ini bukan kali pertama pria itu melakukan perjalanan bisnis. Dan kali ini tidak akan selama biasanya. Hanya dalam hitungan jam saja, bisa di bilang. Tapi, entahlah, pria itu seperti tak rela meninggalkan sang istri.
__ADS_1