Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 133


__ADS_3

Vada mengangguk patuh, kali ini ia membalas pelukan Elvan dengan erat.


Elvan meluapkan napas kelegaan dalam pelukan tersebut. Akhirnya setelah sekian tahun, kesalahpahaman itu berakhir juga.


Elvan menangkup kedua pipi Vada, matanya menatap haru kedua netra milik sang istri yang sangat ia rindukan itu.


Tanpa berkata lagi, Elvan mendaratkan bibirnya tepat di bibir Vada. Mata Vada langsung terpejam, menyambut bibir Elvan lalu membalas ciumannya.


Namun, ciuman hangat dan menuntut itu tak berlangsung lama. Vada mendorong tubuh Elvan. Membuat pria itu mengernyit bingung dan bertanya lewat sorot matanya.


"Semua ini terlalu mengejutkan buatku. Aku... Aku belum siap... Maaf!" Vada segera masuk dan menutup pintu.


Elvan menatap nanar pintu apartemen Vada dalam hati ia terus bertanya kenapa dan kenapa. Bukankah seharusnya Vada senang. Apa wanita itu benar-benar sudah tak lagi menginginkannya.


Sementara Vada, ia menangis di balik pintu. Harusnya ia senang karena ternyata ketakutan demi ketakutannya selama ini hanyalah sia-sia. Harusnya ia senang jika ternyata Elvan bukanlah kakaknya. Namun, entah kenapa masih ada yang mengganjal di hatinya. Ia masih belum bisa memaafkan Elvan dengan semudah itu. Vada benar-benar dilema.


"Kenapa... Kenapa di saat aku udah mulai hidup tenang dan bahagia tanpa kamu, kamu malah datang membawa kejutan seperti ini bang. Aku harus bagaimana?"


Vada ingat dengan Andra. Meskipun ia tak mencintai Andra, namun Vada merasa banyak berhutang budi dengan pria itu. Terlalu banyak kebaikan yang pria itu berikan untuk dirinya dan Kyara. Jika tak ada Andra dalam hidupnya, entah akan sekacau apa hidupnya dan Kyara. Jika ia kembali dengan Elvan, apakah ini akan adil untuk Andra? Vada merosot ke lantai. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya supaya tak membangunkan Kyara.


.


.


.


Sejak kejadian kemarin sore di apartemen Vada, Elvan belum melakukan pergerakan lagi. Ia masih stay di hotel hingga hari kembali malam. Saatnya ia menghadiri jamuan makan malam di rumah kedua orang tua Andra.


Sebenarnya ia sangat malas datang. Tapi rasa penasaran atas keluarga pria yang juga menaruh hati kepada istrinya, pria yang kemungkinan besar menjadi pertimbangan Vada untuk menerimanya kembali, membuatnya menyempatkan waktu untuk datang.


Di tempat lain, Andra baru saja tiba di apartemen Vada untuk menjemputnya dan juga Kyara. Siang tadi ia sudah menghubungi Vada dan membicarakan soal makan malam kali ini.


"Kau yakin akan mengajakku ke sana, Ndra?" tanya Vada yang masih ragu karena selama ini orang tua Andra tak setuju jika putra mereka dekat dengan Vada yang mereka tahu adalah seorang janda.


"Tentu saja, lagian bukan hanya kamu yang akan datang. Tapi ada yang lainnya juga. Kapan lagi kamu bisa kenal dekat dengan orang tuaku," jawab Andra.


"Tapi, Kyara? Aku takut mereka akan menolak kedatangan kami,"

__ADS_1


"Selama ada aku di sana, tidak akan ada yang berani menolak kalian, percayalah!"


Vada terdiam sejenak. Mungkin memang ini saatnya untuk membuat keoutusan atas keraguannya semalam. Ia pun mengangguk. Yang langsung di sambut senyuman oleh Andra.


"Aku lihat, kamu sepertinya kurang sehat, apa ada masalah?" selidik Andra.


"Tidak ada. Sebentar, aku siap-siap dan panggil Kyara," sahut Vada sebagai pengalihan topik dari pertanyaan Andra tak mungkin ia bilang jika ia menangis dan tak bisa tidur semalaman karena masalahnya dengan Elvan.


Tak lama kemudian, Kyara keluar, "Ompapa!" seru anak itu yang langsung dingkat oleh Andra ke dalam gendongannya.


"Anak ompapa, cantik banget!" puji Andra.


"Iya dong, halus!" jawab Kyara.


"Kita ke rumah ompapa, mau?" tanya Andra.


Kyara langsung menggeleng.


"Kenapa?" tanya Andra.


"Kya takut! Ada oma jahat di syana," adu Kya. Karena memang ia pernah diajak ke rumah orang tua Andra oleh Andra waktu itu dan ibunya Andra melihatnya dengan tatapan horornya.


.


.


.


Elvan datang duluan sebelum Andra. Ia di sambut begitu hangat oleh orang tua Andra yang tak lain adalah sahabat lama tuan Adijaya.


"Sebentar lagi Andra datang, dia masih di jalan. Ayo silakan masuk dulu," ucap ibu Andra.


Saat hendak melangkah masuk, mobil Andra datang. Elvan dan rio memilih berhenti dan menunggu pria itu.


Elvan tercengang begitu melihat Vada dan Kyara yang datang bersama Kyara. Pun dengan Vada yang tersentak kaget saat turun dari mobil dan melihat Elvan berdiri di depan pintu. Ia tak menyangka orang kain yabg dimaksud Andra tadi adalah Elvan. Ia mengeratkan tangannya yang menuntun Kyara.


"Uncle hancem!" seru Kyara yang melihat Elvan. Pria itu langsung tersenyum hangat kepadanya.

__ADS_1


Kyara ingin lepas dari genggaman Vada dan berlari ke Elvan. Namun, Vada menahannya. Hingga anak itu terlihat cemberut dan diam.


"Jadi, ini alasanmu menolakku semalam?" batin Elvan.


"Dasar, ada tamu penting malah mengajak wanita murahan itu ke sini!" gumam ibu Andra yang terdengar sampai ke telinga Elvan. Pria itu langsung mengepalkan tangannya.


Terlihat, Andra begitu antusias menyongsong Vada dan juga Kyara. Saat sampai teras, Vada langsung menyapa ibunya Andra namun wanita itu malah melengos. Itulah salah satu alasan kenapa Vada masih mempertimbangkan untuk menerima Andra. Meskipun tak mencibtai Andra, namun demi Kyara apapun akan ia lakukan, Jika anak itu ingin Andra menjadi ayahnya. Jauh sebelum Elvan datang tentunya. Dan kini ia semakin dilema, antara dua pria itu yang sama-sama membuat Kyara nyaman dan merasa aman.


.


.


.


Makan malam tengah berlangsung dengan suasana yang cukup tegang antara Vada dan Elvan tanpa di sadari yang lain kecuali Rio yang memang tahu. Ayah Andra sesekali memecah keheningan dengan mengajak Elvan bicara, pun dengan Andra dan ibunya.


Hanya saja, Vada dari awal hingga makan malam hampir selesai di abaikan keberadaannya oleh ayah dan ibu Andra. Hanya Andra yang mengajaknya bicara sesekali. Hal itu tak luput dari pengamatan Elvan. Sekalinya di ajak bicara oleh ibunya Andra, begitu menusuk sampai ke relung hatinya.


"Kalau mau ke sini, seharusnya kamu tahu diri. Jangan saat ada tamu penting seperti ini. Apa kamu ingin memamerkan anak kamu yang tidak ada ayahnya ini? Apa kamu tidak malu ketahuan masih muda begini sudah menyandang status janda," ucap ibunya Andra. Yang mana membuat semua orang yang ada di sana langsung kehilangan selera makannya.


" Mom!" seru Andra tak terima.


"Mommy sudah bilang, mommy akan mempertimbangkan untuk merestui kamu dengan dia asal jangan bawa-bawa anaknya. Biarkan anaknya di kasih ikut sama ayahnya dan kalian nanti bisa memilikinya sendiri!" ucap ibu Andra.


"Sayang, jangan bahas hal itu sekarang. Tidak enak ada nak Elvan di sini," ayah Andra mencoba meredam amarah istrinya.


"Kenapa? Biar saja Elvan tahu kalau anak kita itu terlalu bo doh sampai-sampai kepincut janda! Udah punya anak yang nggak jelas ayahnya lagi! Apa tidak bisa mencari yang masih gadis!"


Mata Vada sudah berkaca-kaca. Ia menutup telinga Kyara supaya anak itu tak mendengar hinaan terhadapnya yang masih terlalu suci untuk mendengar hal seperti itu.


"Cukup mom, kalau mommy mau menerima Vada, momnya juga harus bisa menerima Kyara. Aku mencintai keduanya. Aku udah anggap Kyara seperti anakku sendiri, tidak akan ada bedanya dengan anak kandungku nanti," ucap Andra yang sudah di kuasai emosi.


"Ck, heran mommy, apa yang sudah wanita ini berikan hingga kamu tergila-gila seperti itu. Kamu berani menentang mommy hanya karena mereka?"


Tubuh Vada sudah gemetar dan lemas. Ia tak masalah jika penghinaan datang kepadanya, tapi tidak dengan Kyara. Tentu dia tidak terima.


Pun dengan Elvan. Ia sudah mengepalkan tangannya dan menggertakkan rahangnya menahan emosi. Ia hampir saja kehilangan kendali dan ingin menggebrak meja namun gelengan kepala Vada membuatnya urung dan berusaha tetap menahan emosinya.

__ADS_1


Elvan benar-benar tak habis pikir, sampai segitunya Vada rela menerima hinaan demi hinaan, demi seorang Andra.


"Apakah keluarga seperti ini yang kamu harapkan, Vada?" Elvan bertanya melalui sorot matanya. Yang mana membuat Vada semakin berkaca-kaca. Ia merasa bersalah karena membawa Kyara ke sana. Dan tidak tahu jika Elvan juga ada di sana.


__ADS_2