
Elvan langsung menghubungi bagian keamanan mall dan meminta untuk mengecek cctv yang ada di sekitar parkiran tersebut.
Elvan megepalkan tangannya, ia benar-benar geram ketika melihat seseorang telah sengaja membius istrinya. Namun sayang, pria itu sangat tertutup pakaiannya dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Elvan sedikit membungkuk dengan berkacak pinggang satu tangan, sedang satu tangannya mengisyaratkan kepada petugas untuk menggeser bagian layar.
"Coba di zoom!" perintah Elvan untuk melihat plat mobil yang di gunakan oleh pelaku.
"S h i t!" Elvan langsung mengumpat ketika mobil tersebut tidak ada plat mobilnya. Entah bagaimana mobil tersebut bisa berkeliaran tanpa plat mobil. Atau mungkin pelaku sengaja melepas plat mobilnya sebelum melakukan aksinya.
"Coba cek cctv di bagian luar mall!" titahnya lagi. Ia ingin tahu kemana arah perginya mobil tersebut. Namun, Elvan langsung mengusap wajahnya kasar seraya mengumpat frustrasi. Ternyata cctv di bagian luar tersebut sudah di rusak dengan sengaja oleh pelaku.
Tak mendapatkan hasil dari cctv, Elvan langsung menghubungi asisten Rio dan memerintahkan asistennya tersebut untuk segera bertindak.
Setelahnya, Elvan langsung melajukan mobilnya. Meski ia tak memiliki bayangan sedikitpun soal penculik tersebut, ia tetap akan mencarinya. Ia terus melajukan mobilnya tanpa arah yang pasti.
Elvan benar-benar buta petunjuk. Berpikir keraspun ia tak bisa menemukan sedikit titik terang. Pasalnya, ia tak merasa memiliki musuh selama ini kecuali rival bisnisnya. Namun, pernikahannya dengan Vada bukankah masih belum ia publikasikan.
"Apa mungkin Vada punya musuh?" gumamnya bertanya. Tapi, rasanya wanita seperti sang istri tidak akan memiliki musuh.
"Arrrghhh, sial!" Elvan memukul stir mobilnya dengan keras.
Elvan kembali menghubungi Rio, namun asistennya tersebut rupanya juga belum memiliki petunjuk yang berarti. Untuk lapor ke polisi pun belum ada dua puluh empat jam.
Seharusnya, untuk orang seperti Elvan tidaklah susah untuk menemukan pelaku penculikan tersebut. Namun, sepertinya sang penculik sengaja ingin sedikit bermain-main dengannya.
__ADS_1
ššš
Sudah hampir tengah malam, Vada baru saja sadar dari pengaruh obat bius. Ia mengerjapkan kedua mata sambil memegangi kepalanya. Seperti de javu ke masa dimana ia di culik oleh asisten Rio kala itu, ia kembali berada disebuah kamar saat terbangun dari pingsannya.
"Ssshhh, ini pasti kelakuan abang nih. Heran deh hobi banget nyulik istri sendiri. Lagian kenapa pakai di culik segala sih? Sekarang kan udah sah jadi istri. Mau diapain juga udah halal. Biar apa coba di culik, bikin kepala pening aja. Ah nggak lucu banget bercandanya. Abaaaangg!!!" teriaknya sebal. Ia pikir ini adalah ulah sang suami. Pasalnya, yang pernah melakukan hal culik menculik seperti ini adalah suaminya sendiri. Kalau orang lain, tentu tidak memiliki alasan berarti untuk menculiknya.
Detik kemudian, masuklah seorang pria berawakan setinggi suaminya, namun kadar ketampanannya masih di bawah Elvan. Vada menoleh ke pintu, pria itu berjalan mendekat seraya tersenyum kepadanya.
"Kau sudah bangun," ucap pria itu ramah.
Vada terdiam, ia masih menelisik wajah sang pria. Seperti tidak asing baginya, tapi entahlah ia pernah bertemu pria yang kini berada di depannya itu dimana, Vada ingat-ingat lupa.
"Siapa kamu?" tanya Vada.
Pria itu tersenyum kecut, "Sepertinya daya ingatmu sangat buruk ya, baru beberapa hari lalu kita bertemu, kau sudah lupa," sahut pria itu.
Lagi, pria itu tersenyum kecut, "Apa wajah tampanku cocok untuk menjadi suruhan Suamimu?"
Melihat senyum pria itu, semakin diperhatikan, semakin membuat Vada mengingat jika mereka pernah bertemu bahkan bertabrakan di cafe, "Kamu?" seru Vada.
"Rupanya kau sudah ingat, sayang," ujar pria itu.
"Dih, sayang-sayang. Kita kenal aja enggak. Maaf sepertinya kamu salah menculik orang, aku permisi!" Vada langsung turun dari ranjang lalu bersiap melangkah menuju ke pintu. Namun, tangannya langsung di cekal oleh pria tak dikenalnya tersebut, "Mau kemana? Ini adalah tempatmu," ucapnya.
"Tidak, bukan. Aku ada tempat tinggal sendiri, lepaskan!" Vada sedikit memberontak, namun cekalan pria itu semakin erat.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, ini adalah tempatmu mulai sekarang! Jangan berpikir untuk bisa pergi dari sini. Karena kau adalah milikku!" bentaknya.
Mendengarnya, Vada sedikit berdecak, kenal enggak bertemu juga sekali itupun tidak sengaja, bagaimana bisa pria itu mengklaim dirinya sebagai milik pria itu.
"Kamu sepertinya benar-benar salah orang. Aku nggak kenal sama kamu, dan kamu juga sepertinya tidak mengenalku. Kita bertemu waktu itu tidak sengaja. Kalau kau marah karena aku menabrakmu waktu itu, aku minta maaf. Tapi tolong biarkan aku pergi dari sini," Vada masih terus berusaha lepas dari cengkeraman pria tersebut. Namun terlalu sulit baginya.
" Lepas atau suamiku akan marah," ucap Vada yang masih mengira pria itu adalah suruhan suaminya.
Tangan kanan pria tersebut justru mengusap lembut sudut mata kiri milik Vada. Tanpa sengaja, Vada langsung menatapnya. Pria itu tersenyum," Mata yang indah. Dan ini seharusnya milikku. Bukan milik pria breng sek itu!" ucapnya terdengar sadis.
Vada berpikir, siapa pria yang dimaksud oleh pria ini, apakah suaminya, Elvan?
"Kau mengenal suamiku, Elvan?" tanya Vada.
"Hah, lebih dari sekedar mengenal," jawabnya.
"Kamu kenal ya? Benar kan, pasti kamu suruhan suamiku. Kamu saudaranya? Atau sahabatnya?" tanya Vada. Ia berusaha tetap tenang meski sebenarnya ia sedikit takut karena tatapan tajam pria itu.
Pria itu tak menyahut, ia hanya tersenyum sinis, "Sahabat," gumamnya dengan nada tak suka.
"Berarti benar sahabat Elvan? Terus dimana suamiku sekarang? Bisa tolong panggilkan? Aku merindukannya!" ucap Vada.
Mendengarnya, pria itu langsung mengempaskan tubuh Vada ke atas ranjang dengan kasar, "Jangan sekali-kali menyebutnya sebagai sahabatku. Apalagi kau mengatakan merindukannya, Vada laras Sabrina. Karena kau seharusnya menjadi milikku, bukan miliknya! Malam ini istirahatlah! Besok kita bicara lagi," ucap pria itu lali melangkah pergi begitu saja. Kalau berada di sana terus, bisa-bisa ia kehilangan kesabarannya.
"Dia siapa sih? Kok kayak seram gitu tatapan nya kalau lagi marah. Lagian dia marah kenapa coba. Emang nggak boleh aku kangen sama suami sendiri. Aneh tuh orang," UCAP Vada seraya mengusap-usah pergelangan tangannya yang sakit akibat cekalan pria itu.
__ADS_1
"Vada mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari celah untuk kabur dari sana. Ia mendekati jendela, melihat luar kamar yang begitu ketat penjagaannya.
Vada kembali memikirkan kata-kata pria tadi yang mengatakan jika tak seharusnya Vada menjadi milik pria breng sek. Itu artinya pria tadi bukan sahabat, melainkan musuh, "Eh, aku beneran di culik ini? Bukan abang yang nyulik?" Vada mendadak panik karena sepertinya ia benar-benar menjadi seorang tawanan sekarang.