Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 58


__ADS_3

Hari-hari berikutnya masih sama. Vada masih mendiamkan Elvan. Ia bahkan sebisa mungkin menghindari bertatap muka dan bicara dengan suaminya tersebut.


Vada akan berangkat pagi-pagi sekali setelah ia menyiapkan sarapan, sebelum Elvan bangun tentunya. Dan kadang sudah tidur saat suaminya itu kembali. Kalaupun tidak, wanita itu akan terus saja menghindar saat terpaksa harus berpapasan dengan Elvan.


Apalagi mansion begitu luas, sehingga memudahkan Vada untuk menghindari Elvan. Hal yang kini Elvan sesalkan, kenapa mereka haru tinggal di mansion seluas itu.


Elvan benar-benar merasa ada bagian dari dirinya yang hilang selama beberapa hari tak bertegur sapa dengan sang istri. Beberapa hari ini rasanya makan tak enak, tidurpun tidak nyenyak. Entahlah ia sendiri tak tahu kenapa.


Untuk mengajak Vada bicara duluan dengan baik-baik memang bukan sifatnya, sehingga setiap kali mereka berpapasan, Vada melengos dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat. Sementara Elvan seperti kehilangan kata-katanya dan memilih acuh juga.


Diamnya Vada benar-benar membuat kesabaran Elvan mulai menipis perlahan. Jika kemarin ia masih bisa menahan karena Vada sedang patah hati, tapi tidak dengan weekend ini. Ia benar-benar sudah kehabisan kesabarannya.


"Aku antar!" Ucap Elvan yang sudah berdiri di samping mobil pagi-pagi sekali saat Vada hendak pergi. Vada cukup terkejut karena ia pikir Elvan belum bangun.


Vada diam tak menyahut, ia hendak melangkah begitu saja meninggalkan Elvan. Namun, dengan cepat, Elvan menarik tangan Vada supaya masuk ke mobilnya.


Sesaat mereka diam di dalam mobil tak ada yang bicara.


"Sampai kapan kau akan begini?" tanya Elvan datar.


Vada menoleh, ia sedang tak ingin membahas apapun. Sebenarnya ia hanya butuh sedikit waktu untuk mengobati luka hatinya, juga untuk berpikir dan memantabkan diri dengan pilihan hatinya. Jika sudah waktunya, ia akan sembuh sendiri dan akan kembali menjalani kehidupannya sebagai istri dari seorang Elvan.


"Aku naik taksi saja," ucap Vada hendak turun dari mobil.


"Oke kalau belum mau bicara, tetap duduk! Biar aku antar!" Elvan masih berusaha menahan egonya. Ia ingin tahu selama beberapa hari ini Vada pergi kemana dulu sebelum ke toko karena selalu berangkat pagi buta.


Elvan benar-benar membuktikan ucapannya, sepanjang jalan ia hanya diam tak mengajak Vada bicara. Sesekali mereka hanya saling lirik satu sama lain secara bergantian.


Mobil telah sampai di sebuah danau yang suasananya sangat tenang. Apalagi sepagi itu belum ada satupun orang yang datang. Ternyata Vada selalu menghabiskan waktunya sebelum ke toko di tepi danau tersebut untuk menenangkan diri dan menukar oksigen dengan yang lebih frseh.


"Tuan bisa pulang sekarang," ucap Vada saat turun dari mobil. Namun, Elvan ikut turun, "Aku juga ingin menghirup udara segar di sini," ucapnya, ia sedikit melirik ekspresi Vada sebelum melangkah mendahului istrinya tersebut menuju ke sebuah kursi di tepi danau.


Vada mendesah berat, lalu menyusul langkah Elvan,"Tuan bukannya harus bersiap-siap ke kantor," Vada duduk di sebelah Elvan.


"Sepertinya kamu terlalu larut dalam kemarahan sampai lupa kalau ini hari sabtu," Jawab Elvan datar. Vada mencebik, padahal tadi ia sudah menyiapkan pakaian kerja suaminya itu. Ia benar-benar lupa jika hari ini adalah weekend.


"Kalau begitu biar aku yang pergi!" Vada bangkit dari duduknya namun dengan cepat Elvan menarik tangan supaya kembali duduk. Vada mendengus. Laki-laki itu hanya diam dengan wajah datarnya. Melipat kedua tangannya di dada, menikmati keindahan danau di pagi hari itu. Tak peduli dengan istrinya yang menatapnya sebal karena tingkahnya.


"Dasar beruang kutub, masih aja suka maksa!" gerutu Vada dalam hati.


Saat matahari sudah berhasil menampakkan diri dengan sempurna dan suasana sekitar danau sudah cukup ramai karena orang-orang biasa akan lari oagi atau sekedar jalan-jalan di area tersebut sudah berdatangan. Vada melirik Elvan yang sejak tadi hanya diam dan kini mata pria itu terpejam. Entah tidur atau sedang memikirkan sesuatu, Vada tak peduli.


Vada berdecak lalu bangkit dari duduknya, ia akan berangkat ke florist. Elvan membuka matanya ketika vada sudah beberapa langkah meninggalkannya.


"Masuk mobil, aku antar!" ucap Elvan begitu sampai di mobil.


"Tidak perlu, aku bisa berangkat naik taksi atau angkot, tuan pulang saja," sahut Vada jutek.


"Jangan membantah, ini perintah!" Elvan kembali menarik tangan Vada dan memaksanya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Vada tak menyahut, ia memilih mendiamkan suaminya lagi. Ia membuang pandangannya ke luar jendela. Lebih baik diam daripada tidak bisa bicara dengan baik-baik pikirnya.


Elvan mempercepat laju mobilnya, membuat Vada menoleh untuk protes. Namun Elvan diam tak peduli, jika itu bisa membuat Vada melihatnya tak masalah.


"Pelankan atau aku terpaksa buka pintu dan loncat!" ancam Vada. Elvan mengerem mobil mendadak, membuat Vada hampir terjungkal jika ia tak memakai seat bealt.


"Tuan kenapa sih?" Tanya Vada ngegas.


"Kau yang kenapa, Nevada! Kenapa marah sampai seperti ini! Kau sebenarnya mau bagaimana?" Elvan benar-benar merasa frustrasi. Ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.


Diam-diam, Vada memperhatikan wajah suaminya, sesekali pria itu menutup mulutnya yang menguap. Wajahnya terlihat letih dan seperti kurang tidur. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Elvan mengernyit ketika di depannya tersodor sebuah permen rasa mint.


"Sepertinya tuan kurang tidur. Ini mungkin akan sedikit membantu tuan knsentrasi menyetir," ucap Vada. Kalimat terpanjang yang wanita itu katakan selama beberapa hari ini.


Elvan diam, tahukah Vada kalau dia memang kurang tidur beberapa hari ini. Dan penyebabnya adalah dirinya.


Elvan membuka mulutnya, minta di suapi membuat Vada mengernyit protes.


"Aku sedang nyetir," kata Elvan pendek sambil menatap kedua tangannya dan itu mampu menjawab tatapan protes Vada.


Vada terpaksa membukakan permen tersebut dan menyuapkannya kepada Elvan.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Bugh Bugh bugh! Elvan terus meninjau samsak tinju yang tergantung di depannya. Ia melampiaskan kekesalannya terhadap samsak tersebut.


"Kau pikir kau siapa, berani sekali mengabaikan aku seperti ini, Hah!"


"Kau sendiri yang memutuskan pria itu, lalu kenapa kau marah kepadaku. Kau patah hati dan menyalahkanku? Kau benar-benar ingin menguji kesabarankau!"


Bugh bugh bugh bugh bugh! Elvan terus memukul samsak tinju itu secara membabi buta. Keringat membasahi tubuh atletisnya.


Saat asisten Rio datang, mereka berdua bermain tenis lapangan. Lagi-lagi Elvan melampiaskan apa yang selama beberapa hari ini ia rasakan dan pendam di lapangan. Ia terus menyerang asisten Rio bertubi-tubi tanpa ampun. Hingga Rio kuwalahan menghadapi permainannya.


"Cukup tuan! Anda sudah kelelahan!" ucap Rio yang tahu kondisi hati Elvan yang sedang tidak baik-baik saja.


"Aarrrgghhhh!!" Teriak Elvan sambil memukul bola sekeras-kerasnya lalu ia melempar raket di tangannya dengan kasar. Ia duduk selonjoran di lantai lapangan sambil mengatur napasnya yang naik turun.


Asisten Rio mendekat sambil membawa sebotol air putih dan menyodorkannya kepada Elvan. Elvan mendongak, ia menyambar botol di Tangan Rio dengan sewot lalu meminumnya.


Asisten Rio duduk di samping Elvan,"Apa nona masih belum mau bicara?" tanyanya menebak, karena beberapa hari ini bosnya itu sering badmood tak jelas di kantor.


"Hah, melihat wajahku saja ia enggan. Aku menyesal kenapa dulu membangun mansion sebesar ini, hingga buat dia leluasa bersembunyi, menghindariku!" Sahut Elvan tersenyum getir.


Asisten Rio mengembuskan napasnya, ia tahu suasananya hati tuan mudanya masih belum stabil. Masih belum baik-baik saja di weekend ini.


"Masalah hati memang sulit di tebak," pikirnya.

__ADS_1


Rio lalu bangun dari duduknya," Ayo kita main sekali lagi, tuan!" ajaknya. Setidaknya melampiaskan dalam tenis lebih baik daripada mengamuk Vada secara langung pikir Rio.


" Ck, kenapa? Kau takut aku mengamuk istriku?" Tanya Elvan sinis.


Asisten Rio tersenyum tipis, "saya tahu, Anda tidak akan melakukannya," ucapnya lalu memukul bola tenis ke arah Elvan.


Mereka berdua kembali bermain Tenis. Kali ini, asisten Rio mengimbangi permainan gila tuan mudanya di lapangan. Hingga mereka berdua terkapar di lantai dengan keringat membasahi tubuh dan juga wajah tampan mereka, terlentang menatap langit yang semakin sore sambil ngos-ngosan.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


Pukul tujuh, Vada sudah kembali ke mansion. Ia langsung menuju ke kamar. Sangat berharap jika Elvan tidak berada di rumah malam itu. Sehingga ia bisa tidur terlebih dahulu seperti biasa.


Namun, saat ia masuk ke dalam kamar, Suaminya itu baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengacak-acak rambutnya yang setengah basah menggunakan handuk. Dada bidangnya terkespose dengan jelas karena pria itu hanya melilit kan handuk putih di pinggangnya. Sesaat Vada terpaku dengan pemandangan di depannya, betapa sudah berhati-hari ia mengabaikan ciptaan Tuhan yang sempurna di depannya itu?


"Kau sudah kembali?" tanya Elvan yang baru menyadari kedatangan Vada. Dengan santai ia berjalan ke ruang ganti. Vada terus menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Rasanya sudah lama ia tak membelai tubuh dengan potongan roti yang berbaris dengan rapi, membuat siapa saja yang melihatnya ingin sekali menyentuhnya.


Vada meletakkan tasnya di atas nakas lalu masuk kekamar mandi.


Selesai membersihkan diri dan memakai piyama tidur, Vada bermaksud untuk membuat makan malam. Meski ia mendiamkan suaminya namun ia tetap menyiapkan apapun keperluan Elvan. Entah mau di makan atau tidak, ia tak peduli.


Saat berjalan menuju dapur, ia menoleh ke ruang kerja Elvan, sepertinya pria itu sedang berada di sana karena saat ia keluar dari kamar mandi tadi, Elvan sudah tak ada di kamar.


Namun, ternyata ia salah, entah dari mana pria itu, nyatanya kini sedang berdiri di depannya, menghalangi jalannya dan Menatap lekat padanya. Membuat Vada menjadi salah tingkah sendiri dan berpikir untuk menghindar lagi.


"Aku... Akan masak buat makan malam!" ucap Vada yang langsung berjalan melewati Elvan. Namun pria itu dengan cepat mencekal lengan Vada saat wanita itu tepat berada di sampingnya.


"Sampai kapan kau akan menghindariku, Nevada?" Ucap Elvan penuh penekanan.


"Sudah cukup kau bermain-main denganku. Sepertinya aku terlalu baik dengan membiarkanmu berkeliaran bebas menghindariku di mansion ini, ikutlah denganku!" Elvan menarik paksa lengan Vada. Yang mana membuat wanita itu memberontak, meminta di lepaskan namun Elvan tak menggubrisnya. Ia terus menariknya hingga ke mobil.


"Lepaskan! Kita mau kemana?" tanya Vada saat sampi di mobil.


"Masuklah, mansion ini terlalu luas untuk kita berdua tinggali," Ucap Elvan.


"Pakai seat beltmu!" titah Elvan.


Namun Vada bergeming, "Tidak mau! Kita mau kemana?" tanyanya.


"Jangan menguji kesabaranku lebih lama lagi Nevada! Cepat pakai!" Elvan sedikit mengeraskan suaranya.


"Tidak! Kalau mau jalan ya jalan saja!"


Elvan mendengus, benar-benar wanita ini, pikirnya. Ia mengalah, mencondongkan tubuhnya ke Arah Vada untuk memakaikan seat belt untuk istrinya tersebut.


Deru napas Vada begitu terasa saat Elvan memasangkan seat belt tersebut. Vada mati-matian menahan laju detak jantungnya yang berdetak sangat secepat seperti habsi alri marathon. Elvan menoleh ke samping, rasanya sudah lama ia tak melihat wajah sang istri dari sedekat itu, "Apa kau tak merindukanku?" tanyanya. Napas Elvan yang menyapu wajahnya sukses membuat dada Vada naik turun demi mengatur napasnya yang semakin tak karuan.


"Tidak!" Ucap Vada gugup karena di tatap sedekat itu.


"Benarkah?" Elvan memajukan bibirnya. Ia mengecup bibir Vada sekilas, wanita itu hanya diam mematung, tanpa melakukan penolakan.

__ADS_1


Elvan tersenyum smirk, "Kau bohong!" ucapnya lalu kembali mencium bibir itu, kali ini lebih dalam. Ia melumatt bibir Vada dengan lembut. Meski bilang tidak, namun gestur Tubuh Vada mengatakan sebaliknya. Ia memang tak membalas pagutan Elvan, namun juga tak menolaknya.


šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


__ADS_2