
Elvan langsung menggendong Kyara, "Apa yang kamu lakukan, sampai anakku nangis begini?" tanya Elvan.
"Tuh kan, ku bilang apa, aku nggak percaya kalau Pak Rio bisa jagain Kyara!" imbuh Vada mengompori. Ia menatap sinis pada asisten suaminya tersebut. Seperti ada dendam pribadi antara mereka yang memang belum selesai sampai sekarang. Rio pun heran dengan wanita itu.
"Maafkn saya, tuan, nyonya. Tadi saya hanya mengikuti permintaan nona Kyara tebak-tebakan suara hewan. Dan saya bertanya suara Anj ing. Tapi sepertinya Kyara salah tangkap, dia kira saya mengatainya seperti itu," Rio mencoba menjelaskan. Hal yang sama sudah ia lakukan sejak tadi, menjelaskan kepada Kyara kalau dia tidak bermksud mengatainya, tapi anak itu sepertinya sudah terlanjur sakit hati. Bahkan karena tak kunjung diam, kunjungan ke kebun biatang pun gagal. Asisten rio menyerah, ia memilih membawa Kyara ke orang tuanya apapun konsekuansinya.
"Tidak! Uncle lio ndak tanya, dia diam lalu bilang anj ing. Kyala syedih, Kya teluka hatinya, huaaaa,"
Melihat Kyara semakin dramatis menangisnya membuat Elvan menatap tajam asistennya tersebut. Yang mana membuat, Rio kelabakan sendiri, "Nona, uncle benar-benar tidak bermaksud," ucapnya. Ini anak benar-benar titisan drama queen, pikirnya.
"Sayang, uncle Rio hnya bertanya suaranya, bukan mengatai Kya. Uncle juga sudah minta maaf kalau menyinggung perasaan Kya, kan? Jadi di maafkan ya?" Vada mencoba menenangkan Kyara yang masih berdrama.
"Tidak, uncle tidak minta maaf. Padahal udah buat hati Kya syedih dan telluka, nakal!" ungkap anak itu.
Rio hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia memang tak meminta maaf. Sejak tadi ia hanya sibuk mengklarifikasi ucapannya saja.
"Maafkan uncle nona, uncle tidak bermaksud membuat nona kecil sedih," ucap Rio kemudian.
Dan sesimpel itu ternyata, Kyara langsung diam menangisnya. Ia merosot dari gendongan Elvan dan menarik tangan Rio, "Salim!" ucapnya. Kyara mencium punggung tangan Rio, "Kita baikan, uncle lio!" ucapnya. Yang mana membuat Rio tercengang shock. Benar-benar calon drama Queen, pikirnya.
Urusan kyara selesai, anak itu kini sudah tertidur pulas setelah menghabiskan sebotol susu sapi. Rio juga sudah kembali ke kamarnya beberapa saat tadi setelah mendapat amukan dari Elvan. Bagaimanaoun dia sudah membuat putri kesayangannya menangis. Lebih-lebih, karena ia sedang ingin menyalurkan kekesalannya dan sekalian saja ia lampiaskan pada Rio yang dia omeli habis-habisan.
Dan kini wajah menyedihkan itu beralih kepada daddinya yang kembali ingat akan kegagalannya berolah raga tadi.
"Sayang, emang benar nggak boleh ya sebelum akad lagi?" tanya Elvan pada Vada. Mereka berdua sedang menonton televisi di temani camilan yang di pegang oleh Vada. Sesekali wnita itu menyuapi suaminya.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, bang. Aku nggak paham soal itu. Kita nurut saja, mungkin untuk lebih yakin. Karena kan dulu kita nikahnya aku di paksa juga, kalau sekarang juga ada walinya aku. Kan masih punya papa kandung," ucap Vada.
Elvan mengangguk pasrah,"Secepatnya kita kembali ya sebelum masuk musim dingin. Ah tidak itu kelamaan, lusa kita pulang. Biar urusan di sini rio yang mengurus, termasuk soal cafe. Mau di jual atau di renovasi biar lebih besar dan bagus?" tanya Elvan.
"Kalau biar di kelola Cindy saja Bagiamana? Kasihn dia kalau di jual, mau kerja apa, selama ini yang selalu bantu aku dari awal buka cafe,".sahut Vada.
Elvan mengangguk, ia menarik kepala Vada ke dadanya lalu di ciumnya puncak kepala wanita itu, "semua terserah padamu, nyonya. Nanti biar cafenya di renovasi. Dan kita bisa berkujung beberapa bulan sekali ke sini," ucapnya.
"Hem," kali ini Vada yang mengangguk setuju.
.
.
.
Vada yang masih saja merasa canggung dengan kekayaan sang suami berkali-kali menasihati Kyara untuk tidak menyentuh ini dan itu, ia takut jika rusak tidak bisa menggantinya.
"Biarkan saja, sayang. Ini miliknya, dia bebas melakukan apapun di sini selama tidak berbahaya untuknya, biarkan dia berkesplorasi semaunya," ucap Elvan.
"Tapi, bang...."
"Sssaat...." Elvan menempelkan jari telunjuknya di bibir Vada sembari menggeleng, "Biarkan....fasilitas di sini tidak ada artinya untuk abang karena kalianlah harya abang yang sesungguhnya. Apa yang abang punya otomatis milik kalian juga," ucapnya.
Dan memang benar, dalam kekayaan yang di miliki oleh Elvan ada hak Bada sebagai pewaris tuan Adijaya. Karena perusahaan raksasa itu adalah perusahaan gabungan antara keluarga tian Adijaya dan nyonya Tamara. Di luar haknya sebagai istri pemimpin perusahaan tentunya.
__ADS_1
Vada tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa melihat putrinya yang asyik kesana kemari bermain dengan segala ketakjubannya. Siapa sangka jika nasib putrinya akan berubah hanya dalm hitungan hari. Kini gadis cilik itu menyandang status sebagai balita sultan.
Perjalanan yang cukup lama akhirnya membawa mereka kembali ke Mansion. Di sana, tuan dan nyonya Adithama sudah menunggu kedatangan mereka.
Vada menggendong Kyara saat turun dari mobil yang menjemput mereka di bandara. Ia menatap nanar bangunan besar di hadapannya, kenangan masa lalu kembali muncul dalam benaknya. Ia hanya berdiri mematung, ragu untuk melangkahkan kakinya.
Elvan merengkuh kedua bahunya, "Ayo sayang, kita masuk," ajak Elvan. Vada tetap bergeming.
"Sayang, ayo! Papa sama mama sudah menunggu di dalam," kata Elvan lagi.
Vada pun menurut. Dengan pelan tapi pasti ia kembali menginjakkan kaki di mansion itu. Pintu terbuka lebar, Vada menghentikan langkahnya saat ia melihat di dalam sana
Ada seorang wanita yang sedang mendorong kursi roda yang di duduki oleh seorang pria paruh baya. Vada bisa menyimpulkan jika pria yang duduk di kursi roda itu adalah ayahnya.
Baik Vada maupun tuan Adijaya saling menatap dalam diam dengan mata yang sudah berkaca-kaca satu sama lain.
Elvan mengambil alih Kyara dari gendongan Vada, lalu menganggukan kepalanya saat Vada menoleh padanya.
Vada berjalan memdekati tuan Adijaya dengan pelan, sangat pelan karena tubuhnya begitu gemetar dan lemas. Sosok ayah yang selama selama ini hanya bisa ia rindukan, kini ada di depan matanya.
Karena tak sabar ingin segera memeluk putrinya, tuan Adijaya menjalankan kursi rodanya dengan tergesa tanpa bntuan sang istri yang mematung di belakangnya dan sudah menangis penuh penyesalan.
"Mas..." nyonya Tamara hendak mencegah tuan Adijaya melakukannya sendiri, tapi tuan Adijaya tidak mempedulikannya.
Hingga sepasang ayah dan anak yang terpisah sangat lama itu bertemu pada satu titik. Mereka masih saling diam, tak tahu harus berkata apa untuk pertama kalinya saling menyapa. Mata keduanya yang semakin berkaca-kaca sudah menunjukkan segalanya.
__ADS_1
"Laras... Anakku..." tuan adijaya berusaha beridri supaya bisa memeluk Vada tapi tidak bisa.
Vada menggeleng, ia langsung membungkuk dan memeluk sang ayah, "Papa..." gumamnya, tangisnya pun langsung pecah.