
Vada terus berlari seraya menahan rasa perih di kakinya yang tertancap beling. Tapi, rasa perih di kakinya tersebut tak ada apa-apanya di banding dengan rasa sakit di hatinya.
Kata-kata Elvan tadi sangat menyakiti hatinya yang sudah sakit sejak awal. Menyayat hatinya melebihi sayatan sebuah pisau. Terluka dan rapuh, namun tak terlihat, begitulah hatinya saat ini.
Vada masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati. Tubuhnya langsung merosot ke lantai tepat di belakang pintu. Ia memeluk lututnya, membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Tak ingin menangis, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Meluapkan segala yang ia rasakan dalam tangisnya ketika ia merasa tak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar.
Mungkin dengan begitu, ia akan merasa lebih baik setelahnya.
"Dasar beruang kutub! Nggak punya hati, dan nggak punya perasaan! Apa susahnya bicara baik-baik. Kenapa mesti pakai urat kalau ngomong. Padahal dia tahu gimana rasanya patah hati. Dia juga pernah di tinggal tunangannya pas lagi sayang-sayangnya kan. Sama, aku juga tetap merasa patah hati meskipun dari sebelumnya aku udah nyiapin mental. Tapi tetap saja hatiku patah, terpecah belah tak berbentuk lagi!" rutuk Vada lirih dalam isaknya.
"Apa tidak bisa menghargai perasaanku yang baru patah hati ini, setidaknya untuk malam ini saja sampai hatiku terasa lebih baik sedikit. Kenapa mentingin egonya sendiri. Kenapa malah mengataiku yang tidak-tidak. Dia pikir aku wanita apaan, Hanya suami beruang kutubku yang aku layani di ranjang. Kenapa mulutnya setajam itu kalau bicara. Di kira ini hati sekuat besi. Besi aja Bisa patah, apalagi hati yang mudah rapuh! Dasar Elvan si beruang kutub!" Vada terus mengeluarkan sisa unek-uneknya sambil terisak-isak.
Tanpa Vada tahu, rumah tangganya di balik pintu yang tidk tertutup rapat itu, tentu sajania berdiri sosok suaminya dengan kotak p3k di tangannya. Saat ia hendak masuk tadi, setelah ia mendengar suara Vada yang sedang merutuki dirinya dalam tangis sehingga mengurungkan niatnya untuk segera masuk.
Elvan memberi waktu kepada Vada untuk menyelesaikan rutukannya, meluapkan sisa kekesalan wanita itu terhadap dirinya. Biar Vada lebih plong. Ia tak menyesali kemarahanya karena Vada telah lancang berpelukan dengan pria lain karena itu tetap salah di matanya apalagi di hatinya yang cemburu, namun ia menyesali kata-katanya yang secara tidak langsung mengatai istrinya itu seperti wanita murahan yang obral tubuh sana sini.
Elvan mengerutkan Keningnya ketika telinganya tak lagi menangkap suara makian Vada dari balik pintu. Yang tersisa hanya suara isakan sang istri.
Elvan mengembuskan napasnya kasar lalu berniat membuka pintu, namun tubuh Vada yang berada di balik pintu menahan pintu itu untuk terbuka. Elvan sedikit menambah tenaganya untuk mendorong pintu, hingga mau tak mau Vada mengalah, ia menggeser sedikit tubuhnya supaya pintu sedikit terbuka lagi meski dengan kesal.
Vada hanya melirik kaki suaminya yang baru saja melangkah masuk sekilas lalu kembali menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Tak peduli lagi jika pria itu akan kembali memarahinya karena ia berani membentak dan bicara dengan nada tinggi tadi. Ia tak peduli!
__ADS_1
Elvan kembali menghela napasnya dalam saat melihat kaki telanjang sang istri yang tidak menapak sempurna ke lantai karena beling yang masih menancap. Sesakit itukah hatinya putus dari Mirza hingga sakit di kakinya ia abaikan, pikirnya.
Elvan berjongkok lalu membopong tubuh Vada. Karena ia tak mungkin membiarkan Vada jalan sementara di kakinya masih menancap beling.
Sontak, Vada terkejut karena tiba-tiba sudah berada di Gendongan Elvan, "Lepaskan aku, turunkan aku!" ucap Vada ngegas, ia mengira jika suaminya tetap akan memintanya untuk melayaninya di ranjang. Benar-benar tak punya hati! Rutuknya kesal.
Elvan tak peduli, ia membawa Vada ke kamar mandi untuk membersihkan luka ya sebelum di obati. Setelahanya Elvan menggendong tubuh Vada kembali ke kamar lalu mendudukkannya d ranjang.
Tanpa bicara, Elvan jongkok di depan Vada. Diraihnya kaki kiri Vada, di letakkan di atas pahanya. Vada hendak menarik kakinya dari paha Elvan, "Aku bisa sendiri!" ucapnya jutek.
Namun, Elvan segera menahan kakinya supaya tetap berada di atas pahanya.
"Jangan bergerak! Ini harus segera di ambil kalau tidak takut infeksi," pelan-pelan Elvan mencabut beling yang menancap di kaki Vada menggunakan pinset yang sudah ka bersihkan menggunakan alkoholl. Vada hanya menatap suaminya sebal. Ia sedikit meringis menahan sakitnya saat beling itu di ambil paksa oleh Elvan. Sama seperti hatinya yang di ambil paksa oleh suaminya itu.
Vada hanya menatap datar apa yang suaminya lakukan tanpa berniat mengajaknya bicara.
Selesai mengobati luka Vada, Elvan menurunkan kaki Vada dari ahanya dengan pelan. Ia lalu berdiri, "Malam ini tidurlah di sini, kamar sedang di bersihkan oleh bibi," ucapnya. Ia memandang sang istri yang lebih memilih diam daripada menyahut.
Vada langsung beringsut naik ke atas ranjang lalu meringkuk membelakangi Elvan. Ia langsung memejamkan matanya. Tak peduli dengan apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya.
Elvan hanya menatap punggung Vada dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Ia menarik selimut untuk menutupi kaki Vada lalu memilih keluar menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
Vada mengembuskan napasnya dalam saat ia mendengar suara derit pintu yang tertutup. Air mata kembali mengalir di pipinya. Terlalu lelah, memudahkan Vada beralih ke alam mimpinya dengan segera.
Sementara Elvan, pria itu duduk di kursi yang berada di ruang kerjanya. Semua kata-kata yang Vada ucapkan terus terngiang di kepalanya. Terutama saat istrinya tersebut mengatakan jika dirinya hanya akan memiliki raganya namun tidak dengan cintanya. Tidak akan pernah.
Elvan memijit pangkal hidungnya. Kepalanya benar-benar terasa pening.
š¤š¤š¤
Malam merangkak naik di ganti dengan pagi yang cerah, Elvan yang tertidur di ruang kerjanya semalaman segera beranjak menuju kamar yang semalam di tempati oleh Vada. Pelan-pelan ia membuka pintu, namun ia tak melihat Vada di sana. Mungkin sudah kembali ke kamar mereka, dan pikirnya. Ia pun segera menuju ke kamar utama.
Tapi, di sana ia juga tak menemukan sang istri. Yang ada hanya baju kerjanya yang sudah siap di atas tempat tidur.
Elvan segera membersihkan diri, memakai baju yang Sudah Vada siapkan lalu turun ke meja makan. Di sana, sudah tersaji beberapa menu sarapan. Namun kembali ia tak melihat istrinya.
"Maaf tuan muda. Tadi nona bilang supaya tuan sarapan, nona sudah memasak buat tuan muda," kata pelayan sopan.
"Dia kemana?" tanya Elvan.
"Itu, nona sejak pagi sekali sudah berangkat, permisi tuan," bibi segera pamit, dan ia takut kalau majikannya akan marah jika tahu Vada sudah pergi tanpa pamit.
"Kemana dia pergi sepagi ini?" Batin Elvan. Rasanya tidak mungkin Vada berangkat kerja sepagi itu. Tidak biasanya.
__ADS_1
Elvan terpaksa makan sendiri pagi itu. Namun, suasananya terasa aneh dan berbeda, tak ada sang istri yang melayani dan menemaninya sarapan seperti biasa membuat napsu makannya menghilang. Hanya beberapa sendok ia makan dan memilih untuk segera berangkat ke kantor.
š¤š¤š¤