Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 51


__ADS_3

Siang itu Vada menghabiskan waktunya bersama-sama anak panti hingga menjelang sore. Ia juga sempat membantu bunda dan mbak Mirna masak untuk makan siang mereka semua.


Untuk pertama kalinya, Elvan makan semeja dengan anak-anak panti. Yang mana membuat hatinya menghangat. Dalam diam ya, ia senang bisa membantu mereka memberikan tempat tinggal yang lebih layak dari tempat tinggal mereka sebelumnya.


Elvan pastikan kalau mereka harus hidup dengan baik dan bahagia meski tanpa orang tua mereka yang mungkin sengaja membuang mereka atau memang karena tidak mampu untuk membesarkan mereka.


Melihat anak-anak itu serasa melihat dirinya sendiri semasa kecil dulu. Bedanya, Elvan memiliki orang tua yang lengkap. Meskipun ia kerap kali kesepian karena kedua orang tuanya selalu sibuk dengan perusahaan masing-masing. Jarang sekali ada waktu untuknya dan terus menekankan kata-kata kalau Elvan harus menjadi seorang yang hebat dan kuat di masa depan karen dia satu-satunya harapan mereka untuk tetap menjaga kejayaan perusahaan. Bahkan saat Elvan beranjak dewasa mereka membebankan kedua perusahaan besar itu kepadanya.


Sesekali Vada mencuri pandang kepada suaminya. Ia berpikir, suaminya terlihat menyukai anak-anak, tetapi kenapa pria itu tak menginginkan anaknya sendiri. Atau karena tak ingin anak yang terlahir dari rahim istri yang tidak di cintainya. Entahlah, Vada tak ingin terlalu pusing memikirkannya.


Saat berpamitan, bunda dan juga anak-anak panti tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Elvan. Anak-anak itu bahkan dengan tulus mendoakan kebaikan untuk Elvan dan di amini pria itu dalam hati.


"Yo, pastikan kebutuhan mereka terjamin," ucap Elvan.


"Pasti tuan muda. Saya akan pastikan mereka tidak akan kekurangan suatu apapun. Tuan muda jangan khawatir," sahut asisten Rio.


"Ngomongin apa sih? Aku kepo nih!" tiba-tiba Vada sudah berada di belakang mereka. Padahal tadi wanita itu masih sibuk berpamitan dan memberikan wejangan kepada adik-adiknya di dalam. Tiba-tiba sudah nongol saja.


Elvan hanya melihatnya sekilas tanpa berniat menjawab pertanyaan istrinya tersebut. Ia lalu masuk ke dalam mobil.


"Ngomongin apa sih, kayaknya serius amat tadi?" Vada bertanya kepada asisten Rio. Namun pria itu hanya menganggukkan kepalanya sedikit lalu pergi menuju ke mobilnya. Yang mana membuat Vada berdecak sebal.


Vada langsung meringis begitu menyadari tatapan horor suaminya. Rupanya pria itu menunggunya masuk ke dalam dan duduk di sampingnya. Kedua celengan Vada sudah duduk manis di samping kemudi.


Mobil melaju dengan kecepatan standar menuju ke mansion.


"Tuan, aku harus ke toko. Kalau tidak nanti bos aku marah," ucap Vada memelas.


Elvan diam tak langsung menyahut. Hal yang sering membuat Vada gemas sendiri setiap kali mengajak suaminya bicara. Terkadang rasanya ia ingin sekali menggerakkan bibir suaminya itu dengan kedua tangannya supaya bersuara.


Sedetik dua detik, tetap tak bicara. Mobil juga melesat begitu saja ke jalan menuju mansion.


"Tuan..." Vada mulai merengek.


"Apa?"


Vada berdecak, malah di tanya kenapa.


"Lalu, kau tidak takut kalau suamiku yang marah. Begitu?" nada bicaranya sangat mengintimidasi.


Vada membuang napasnya kasar. Lalu tersenyum, "Baiklah, karena hari ini tuan sudah berbaik hati, kita kembali ke mansion," ucapnya mengalah.


"Tapi, nanti malam aku ke cafe ya, setelah makan malam. Cuma sebentar kok. Palingan nyanyi satu atau dua lagu, udah, boleh kan? Boleh ya?"

__ADS_1


"Terserah!" sahut Elvan.


Vada langsung mengirim pesan kepada Roni, mengatakan jika Band yang biasa tampil setelah dia, malam ini biar mereka tampil duluan, sedangkan Vada akan tampil setelahnya.


Sekali-kali manggungnya malam tidak masalah. Jika biasanya dia akan menyanyi sampai jam tujuh paling mentok jam setengah sembilan, setelahnya ia harus sudah pulang untuk membuatkan makan malam untuk Elvan yang sering pulang pukul delapan atau sembilan, bahkan terkadang lebih. Jam makan malamnya pun bisa di bilang sering lewat dari seharusnya.


Vada sendiri heran, sampai segitunya tuan suaminya bekerja, berangkat pagi pulang malam. Padahal kan bos, bisa pulang sore bahkan siang, semaunya. Tapi begitulah Elvan, sampai saat ini ia masih gila kerja, masih belum menemukan alasan tepat untuk pulang lebih awal. Padahal tanpa Vada sadari, sebenarnya ia dan suaminya sama. Sama-sama keras kepala dan juga pekerja keras.


"Tuan, terima kasih untuk hari ini. Nggak nyangka tuan sebaik ini," entah ucapan terima kasih yang ke berapa kali wanita itu ucapkan untuk suaminya. Elvan sampai bosan mendengarnya.


"Tahu nggak sih, kalau tuan baik begini tuh kadar ketampanan tuan kan jadi bertambah," puji Vada.


Elvan melengos demi menyembunyikan senyum tipisnya karena pujian sang istri.


"Sepertinya jantungku mulai bermasalah," batin Elvan, tangannya memegang dadanya.


"Satu persen!" imbuh Vada kemudian, membuat Elvan diam-diam mendengus kesal kemudian.


"Jangan GR kamu, aku melakukannya bukan buat kamu. Tapi demi anak-anak," ujar Elvan setengah berbohong.


"Iya, apapun itu alasannya. Tetap terima kasih dan terima kasih. Setidaknya bunda bisa lega dan tenag sekarang karena tidak harus khawatir harus memberi makan adik-adik apa esok hari," ucap Vada tersenyum bahagia.


Melihat senyum sang istri, membuat Elvan juga ingin tersenyum. Namun, pria itu menahannya.


"Eh, sebenarnya tuan itu pernah buang gas nggak sih? Kalau iya, gimana baunya ya. Apa wangi seperti tubuh tuan, atau tetap bau kayak ken tut?. Sumpah aku penasaran jadinya,"


"Vada...." Elvan memijit pangkal hidungnya. Ia merasa pusing sendiri dengan celotehan wanita di sebelahnya. Ia bahkan menjadi kepikiran dengan pertanyaan konyol Vada barusan. Karena ia sendiri tak begitu memperhatikan soal hal tersebut.


Sopir yang berada di belakang kemudi, hanya bisa menahan tawarnya saat mendengar celoteh Vada. Tapi ia juga takut, jika menahan tawanya, bagaimana kalau beneran buang gas seperti yang di bilang istri tuannya tersebut, tentu saja Elvan tak akan mentolerirnya.


"Kalau kau pusing, ngantuk. Lebih baik tidur," ucap Elvan, dari pada terus bicara tapi yang aneh-aneh.


"Tidak, aku tidak ngantuk, tuan. Sekali lagi terima kasih, tuan suami. Aku ingin memberikan celengan ayamku sebagai tanda terima kasih. Tapi jelas-jelas tuan lebih kaya dari aku. Pasti nggak guna,"


"Jika ingin berterima kasih, berterima kasihlah dengan benar, Nevada,"


Vada langsung manyun,


"Ujung-ujungnya...Ujung-ujungnya...pasti itu.." gumamnya mencibir.


"Apa?" tanya Elvan datar.


"Tuan mau gaya terima kasih yang seperti apa? Biasa atau gaya.... " Vada sudah menaikkan satu kakinya bertumpu pada paha Elvan, satu kakinya menjuntai ke lantai mobil. Sementara tangannya menarik dasi Elvan dengan senyum sen sualnya.

__ADS_1


"Ehem!" Elvan berdehem dengan keras sebelum Vada melanjutkan kalimatnya.


Elvan melihat ke arah kemudi, mengisyaratkan kepada Vada jika di dalam. Mobil itu merek tidak hanya berdua. Menyadari hal itu, Vada langsung melepas dasi Elvan dengan cepat. Ia segera membenarkan posisi duduknya di sebelah Elvan.


"Ehem, maaf pak sopir. Khilaf. Kirain tidak ada orang," ucap Vada menahan malu. Padahal tadi niatnya ia hanya ingin menggoda suaminya, eh malah dia yang ketiban malu.


Sang Sopir hanya sedikit mengangguk, sekuat tenaga ia menahan tawa bahkan senyumnya. Jika ketahuan menertawakan majikannya, pekerjaannya taruhannya yang pasti.


Elvan menggelengkan kepalanya seraya menghela napas. Kembaki acuh, Bersikap seolah semua baik-baik saja, padahal sudah ada yang sesak pengen menggeliat.


"Terima kasih ya, nanti saja di mansion," bisik Vada tepat di telinga Elvan. Yang mana membuat telinga pria itu langsung merah dan terasa panas.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Seminggu sejak kejadian panti itu, Vada masih tetap beraktivitas seperti biasa. Bekerja di toko bunga dan juga cafe karena sejauh ini, Elvan tak melarangnya. Asal Vada bisa mengatur waktu dan tidak mengabaikan tugasnya sebagai istri.


Apalagi seperti saat ini saat ia di tinggal oleh Elvan ke luar kota. Ia benar-benar akan kesepian dan bosan jika hany berdiam diri di mansion dan tidak bekerja. Sudah seminggu pria itu meninggalkannya untuk perjalanan bisnis. Dan ini adalah waktu terlama pria itu pergi setelah menikah.


Ya, setelah maalamnya acara terima kasih Vada lakukan, keesokan paginya Elvan berangkat. Malam panas itu sekaligus sebagai bekal untuk Elvan. Namun, pria itu beruntung karena melakukan lah raga panas malam harinya dimana pagi sebekum ia berangkat, Vada kedatangan tamu bulanan. Dan itu tak masalah Buat Elvan, toh seminggu ia akan pergi, sat kembali istrinya pasti sudah selesai berhalangan.


Baru saja menutup toko dan hendak menguncirnya, ponsel Vada bergetar. Sebuah pesan dari Roni masuk.


"Dimana?" tanya pria itu melalui chat.


Vada segera membalasnya, "Di floristlah, dimana lagi. Tumben chat. Ada apa. Bentar lagi juga ke sana," balas Vada.


"Oh, yaudah buruan kesini!" pesan dari Roni kembali masuk.


"Ada aap sih? Ini baru telat sebentar udah heboh, biasa juga bodo amat mau datang jam berapa," gumam Vada. Ia tak membalas pesan Roni tapi justru memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu segera mengunci toko.


Sekitar pukul setengah tujuh, Vada sampai di cafe. Ia segera turun dari taksi.


Suasana cafe sepi, tak seperti biasanya. Bahkan cafe tersebut gelap, hanya sinar dari Lilin-lilin yang menyala.


"Ini gelap karena bang Roni belum bayar listrik apa bagaimana sih? Nyuruh aku buru-buru kesini untuk pinjam duit?" gumamnya yang merasa geli sendiri, mana mungkin Roni yang notabennya bosnya meminjam uang kepadanya.


Tatapan Vada terpaku pada satu sudut. Ia bisa bisa melihat dengan jelas di meja yang terletak di sudut ruangan menjadi tempat paling menonjol di antara cahaya remang-remang yang ada, karena di atasnya terdapat Lilin-lilin yang menyala indah. Meja tersebut telah di set menjadi tempat makan malam romantis, dimana dia tas nya sudah tertata beberapa menu makan malam lengkap dengan minumnya.


"Mungkin ada yang nyewa cafe, untuk candy Light dinner sama pacarnya," gumam Vada, ia melangkahkan kakinya melewati pintu. Namun, tiba-tiba langkahnya berhenti ketika menyadari sosok laki-laki tengah berdiri di depan pintu untuk beberapa saat tanpa Vad sadari karena ia hanya fokus ke meja romantis tadi, pria itu menyambutnya tersenyum hangat dengan sebuket bunga mawar merah di tangannya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


πŸ’ LIKE dan komennya jangan lupa.. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2