
Vada langsung menggerayangi badannya untuk mencari ponselnya. Ia akan menghubungi Elvan, namun sialnya ia tak menemukan benda pipih miliknya tersebut.
"Ah si Al. Pasti jatuh di parkiran mall tadi," gumamnya kesal.
Vada kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Mencari celah untuk kabur dari sana. Namun, ia harus menghela napas kecewanya karena tak menemukan celah tersebut. Satu-satunya cara adalah keluar melalui pintu.
Vada mendekati pintu, ia berusaha membukanya. Dan tentu saja tidak akan semudah itu pintu akan terbuka.
"Buka! Siapapun di luar tolong buka!" teriak Vada sambil menggerakkan handle pintu. Berulang kali ia lakukan, namun tetap saja sia-sia.
Vada berjalan ke jendela, teralis besi membuatnya semakin tak mungkin kabur dari sana malam itu juga. Ia memilih duduk di tepi ranjang sambil terus memikirkan cara untuk keluar dari kamar, bahkan pergi dari rumah tersebut.
"Dia siapa sih, kenapa pakai nyulik aku segala?" gumam Vada bertanya.
"Abang, tolong Vada," gumamnya lagi saat tiba-tiba ingat sang suami yang ia yakini kini sedang kelabakan mencarinya.
Dan benar saja, Elvan masih terus mencari keberadaan Vada, meski sebenarnya ia tak tahu dimana istrinya kini berada. Hingga lewat tengah malam ia memutuskan untuk kembali ke mansion. Ia memilih kembali ke mansion karena mungkin di sana ia akan mendapat petunjuk keberadaan Vada.
Rasa lelahnya Membuat Elvan mengantuk, namun pria itu tetap tak bisa memejamkan kedua matanya. Ia sangat mengkhawatirkan istrinya yang sekrang entah dimana. Terlalu banyak berpikir membuat Elvan pada akhirnya tertidur tanpa sadar saat dini hari.
ššš
Sementara itu di kediamannya, Helena juga tak bisa tidur semalaman, ia terus kepikiran soal Vada yang di culik di depan matanya namun ia tidak bisa menolongnya.
__ADS_1
Helena terus melihat kartu Nama Mirza yang waktu itu ia ambil dari mobil pria tersebut dengan sengaja. Ia bingung antara mau menghubungi pria itu atau tidak.
Akhirnya ia mendial nomor yang tertera di kartu nama tersebut. Pasalnya, mau menghububgi Elvan, gadis itu tak memiliki nomornya. Satu-satunya harapan dia adalah Mirza.
Setelah panggilannya diangkat, Helena menceritakan secara detail apa yang ia lihat kemarin. Mirza yang awalnya ingin langsung mematikan panggilan setelah tahu Helena yang meneleponnya, tampak geram dan langsung megepalkan tangannya saat mendengar cerita Helena soal Vada yang di culik.
ššš
Keesokan harinya....
Di kantor, Elvan tak bisa konsentrasi sama sekali saat bekerja. Ia terus memikirkan sang istri. Bahkan ia membatalkan semua meeting dengan klien hari ini.
Mirza yang tak bisa menahan diri lagi dari semalam, Pagi itu langsung mendatangi Elvan. Tanpa peduli prosedur perusahaan yang harus memiliki janji terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan pemilik Adhitama Group tersebut, Mirza terus saja menerobos masuk ke dalam lift khusus yang biasa Elvan gunakan.
Dengan langkah panjang dan tergesa, Mirza akhirnya sampai juga di depan ruangan Elvan.
"Bagaimana bisa Vada di culik? Apa yang kau lakukan hingga Vada bisa sampai di culik?" todong Mirza langsung dengan kekesalan yang sudah memuncak.
"Awalnya aku berusaha untuk menerima keputusannya yang memilih menikah denganmu, tapi jika seperti ini akhirnya, aku tidak akan pernah melepaskannya!" ucap Mirza geram. Ia tak peduli sedang bicara dengan siapa. Bahasanya pun tak lagi sopan maupun formal.
Elvan hanya menatapnya tanpa menyahut. Rasanya menjawab atau mendebatpun percuma. Pikirannya sendiri sedang kacau saat ini.
Mirza semakin kesal karena merasa diabaikan oleh Pria di depannya. Ia mengusap wajahnya kasar. Istrinya di culik, Elvan malah tak melakukan apapun, pikir Mirza. Ia benar-benar merasa kesal.
__ADS_1
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Vada, aku tidak akan memaafkanmu!" hardik Mirza. Ia memutar badannya untuk pergi mencari Vada. Namun, saat itu juga asisten Rio datang tergesa dengan sebuah amplop cokelat di tangannya. Mirza langsung mengurungkan niatnya untuk pergi saat mendengar Rio melaporkan jika amplop tersebut berhubungan dengan penculikan Vada.
Elvan segera membuka amplop yang baru saja di berikan oleh asisten Rio.
Deg! Jantungnya serasa di hujam ribuan anak panah. Air mukanya langsung berubah berang saat ia melihat satu persatu foto yang menunjukkan kemesraan Zoya dengan Dimas dulu. Bahkan ada satu foto yang memperlihatkan keduanya sedang berada dalam sebuah kamar tanpa busana. Tubuhnya langsung semakin merasa lemas saat sebuah foto jelas memperlihatkan mantan tunangan dan juga sahabatnya tersebut sedang melakukan hubungan badan yang ia tahu itu di kamar apartemen milik Zoya yang di berikan olehnya.
"Apa yang seharusnya menjadi milikku, akan tetap menajdi milikku," sebuah pesan tersemat di balik foto tersebut. Elvan langsung meremat kuat foto yang ia pegang. Wajahnya semakin murka, rahangnya semakin terlihat jelas dan tegas karena amarah sekaligus kecewanya yang sangat dalam.
" Dimas... Bagiamana bisa," gumamnya tak percaya dengan menggertakkan gigi-giginya.
Meski tanpa nama, namun Elvan jelas tahu itu adalah kiriman dari Dimas yang sengaja membongkar perselingkuhannya dengan Zoya selama ini.
Sedih bercampur kecewa luar baisa langsung menghinggapi perasaannya. Bagaimana bisa mereka begitu tega menghianatinya. Dua orang yang sangat ia percayai itu diam-diam menusuknya dari belakang tanpa ampun. Sahabat yang ia percaya untuk menjaga tunangannya ternyata menghianatinya.
Entah motif apa yang sedang Dimas mainkan, yang jelas saat ini Elvan harus segera menemukan Vada terlepas dari bukti perselingkuhan Zoya dan dimas yang baru saja ia ketahui tersebut.
Tanpa banyak bicara lagi, Elvan langsung bangkit dari duduknya. Ia bersumpah akan segera menemukan istrinya. Urusan perselingkuhan yang membuatnya akhirnya terjebak pernikahan dengan Vada akan ia pikirkan lagi nanti. Yang penting sekarang adalah keselamatan wanitanya tersebut.
"Dimana Vada? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Mirza yang menghadang langkah Elvan.
"Aku akan segera menemukannya," sahut Elvan datar.
"Ini semua pasti ada hubungannya denganmu bukan? kalau sampai Vada kenapa-kenapa, aku bersumpah akan membuat perhitungan denganmu! Aku akan mengambilnya kembali, karena kau tidak bisa menjaganya!" ancam Mirza. Elvan lagi-lagi tak menyahut, ia memilih melanjutkan langkah kakinya untuk mencari Vada di ikuti oleh Asisten Rio yang menganggukkan kepalanya soan terhadap Mirza saat melewati pria itu.
__ADS_1
" Si al!" umpat Mirza, ia langsung menyusul Elvan dan asisten Rio. Bagaimana pun ia akan ikut mencari mantan kekasihnya tersebut. Tak mungkin ia hanya berdiam diri menunggu kabar soal Vada. Mirza tak akan tenang sebelum Vada benar-benar ketemu dan di pastikan baik-baik saja oleh mata kepalanya sendiri.
Elvan segera masuk ke dalam mobil diikuti rio dan langsung melajukan mobilnya. Pun dengan Mirza yang mengendarai mobilnya sendiri dan mengikuti mobil Elvan.