Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 98


__ADS_3

Dikarenakan masih esok hari keluarga tuan Fabian akan kembali ke Canada, mereka terlebih dahulu pulang ke mansion Elvan atas permintaan Vada.


Awalnya tuan Fabian menolak, karena tak ingin merepotkan Elvan dan Vada lagi dan memilih untuk menginap di hotel. Namun, Vada memaksa dan meminta kepada Elvan untuk membujuk mereka. Karena sang istri tercinta yang meminta, Elvan pun melakukannya meskipun itu bukanlah tipenya yang suka membujuk orang. Yang ada orang yang memohon kepadanya.


"Terima kasih, Van. Kamu dan istrimu sudah berbaik hati kepada kami, padahal anak-anakku, mereka..." tuan fabian tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Perasaannya masih sedih dan sulit menerima.


"Semuanya sudah berlalu, om. Tak ada gunanya menyimpan amarah dan dendam pada masa lalu dan tak perlu ada lagi yang di sesali. Kedepannya kita hanya perlu berusaha menjadi lebih baik lagi. Kuncinya kita harus bisa berdamai dengan diri sendiri dan mencoba berdamai dengan masa lalu," ucap Vada mewakili suaminya. Karena ia tahu, elvan tak akan bisa berkata-kata bijak. Pria itu lebih sering bicara dingin dan singkat kepada orang lain.


Mendengar ucapan sang istri, entah kenapa tiba-tiba Elvan teringat kedua orang tuanya. Bukankah Selama ini hubungan mereka kurang baik.


"Abang mau ke kantor setelah ini?" tanya Vada.


" Hem, tolong siapkan baju ganti, abang mau mandi dulu," ucap Elvan.


"Baiklah... Om, tante, Zora, kalian silahkan beristirahat, biar bibi mengantar ke kamar kalian. Saya permisi ke atas dulu," ujar Vada lalu pergi ke kamar intuk menyiapkan air dan juga pakaian untuk Elvan.


"Kau beruntung memiliki istri sebaik dia Van," ucap tuan Fabian yang melihat Elvan menatap kepergian Vada dengan sorot penuh cinta.


"Ya, aku memang beruntung, om. Sangat beruntung, karena dia adalah Vada," ucap Elvan yang setengah berbisik di akhir kalimatnya. Entah jika wanita yang ia nikahi itu bukan sosok Vada, wanita ceria yang berhasil menjungkir balikkan dunianya.


"Nikmatilah waktu om dan tante di sini sebelum kembali ke Canada besok. Anggap saja rumah sendiri. Kalau ada perlu apa-apa bisa katakan kepada pelayan, aku harus ke kantor setelah ini, permisi" ucap Elvan setelah menyuruh pelayan mengantar mereka ke kamar, lalu ia menyusul Vada ke kamar.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


"Ayo zora, kau harus makan. Kalau tidak kau bisa sakit dan kasihan anakmu," bujuk Vada karena Zora tak mau makan.


"Tidak Vada, aku sangat mual rasanya. Aku tidak bisa makan apapun rasanya,"


"Tapi dari siang kamu belum makan sama sekali, nak!" nyonya Berta masuk ke dalam kamar Zora.


"Aku tidak lapar, ma," ucap Zora. Wanita itu selain memang karena mual, juga masih merasa sedih dan terus mengingat Dimas.


"Tapi kamu harus tetap makan, Zora. Kasihan bayi kamu kalau kamu tidak makan. Nanti kalau Dimas bertanya apa kau mengurus anak kalian dengan baik, apa yang akan kamu jawab? Bukankah kau sudah berjanji akan menjaga anakmu dengan baik. Meski mual usahakan tetap makan. Atau kau mau makan apa, biar aku buatkan," ucap Vada.

__ADS_1


Zora diam, saat sulit pada trimester awal kehamilan seperti ini harusnya menjadi momen yang merepotkan namun sekaligus menyenangkan jika ia lalui bersama ayah dari anaknya. Tapi, semuanya tidaklah seindah bayangannya seperti saat ia mengetahui kehamilannya waktu itu. Dimana ia pikir, dengan hamil akan membuat Dimas menerima dan mencintainya seperti ia mencintai pria itu dan mereka akan merawat dan membesarkan anak mereka berdua. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Sayang, jangan nangis terus. Semuanya sudah terjadi dan ini adalah resiko dari pilihan yang kamu ambil dengan jalan yang salah. Sekarang kamu harus menebus kesalahan kamu dengan merawatnya dengan baik. Jangan siksa dia dengan terus bersedih dan menangis. Kau tahu, saat hamil, apa yang kita rasakan akan di rasakan pula oleh anak dalam kandungan kita. Kalau kau bersedih dan stress terus, itu akan berdampak pada kehamilan kamu. Kamu nggak mau kan, anak kamu juga sedih?" nyonya Berta duduk di samping Zora dan menyentuh perut putrinya.


Meski kecewa, namun seorang ibu tetaplah ibu yang tidak bisa melihat putrinya terus bersedih dan menangis. Nyonya Berta menarik Zora ke dalam pelukannya. Tangis Zora kembali pecah dalam pelukan sang ibu.


"Zora takut ma, Zora...."


"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja. Ada mama juga papa yang akan selalu ada untukmu," ucap nyonya Berta. Ia tahu, meskipun tuan Fabian masih marah hingga sekarng kepada Zora, namun jauh di dalam lubuk hatinya pria itu begitu mencintai sang putri melebihi nyawanya sendiri. Hanya saja tuan Fabian masih merasa kecewa terhadap putrinya tersebut.


Lagi, Vada menitikkan air matanya melihat keharuan ibu dan anak tersebut. Betapa beruntungnya Zora yang masih di kelilingi orang tua lengkap di saat-saat tersulitnya. Sementara dia sejak kecil sudah di tinggal orang tuanya.


Setelah di bujuk , akhirnya Zora mau makan malam juga. Ia memilih bergabung bersama yang lain di meja makan saat Vada bertanya apakah mau makan di kamar atau di meja makan.


Dan sekali lagi, mata Zora berkaca-kaca saat melihat betapa mesra dan romantisnya pasangan Elvan dan Vada dimana kini Vada sedang melayani suaminya tersebut dengan mengambilkan ini itu untuk makan. Ia kembali teringat dengan Dimas. Seandainya.... Ah berandai-andai hanya akan membuat hatinya semakin sakit, Zora memilih untuk mengusap air matanya yang sudah menetes.


"Makanlah yang banyak, Zora. Supaya anakmu sehat dan kuat, jangan nanhis terus, nanti cucuku jadi cengeng," ucap tuan Fabian.


Zora mengulum senyum karena meski masih ketus, tapi ia tahu ayahnya peduli dengan janin dalam kandungannya. Apalagi pria itu menyebut cucuku, tentu saja membuat Zora dan yang lainnya senang.


šŸ’•šŸ’•šŸ’•


"Vada, terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Dan aku juga minta maaf atas apa yang pernah aku lakukan terhadapmu. Maafkan juga apa yang sudah Kak Dimas lakukan terhadap kamu," ucap Zora tulus. Wanita itu terlihat lebih tenang sekarang.


Saat ini Zora dan kedua orang tuanya tengah bersiap pergi ke Bandara.


" Sudah aku maafkan Zora, hati-hati dan jaga kandungan kamu sebaik mungkin, ya" Vada memeluk Zora.


"Pasti," sahut Zora seraya membalas pelukan Vada.


"Semoga kamu juga cepat menyusul hamil ya, kakak pasti akan senang jika kamu hamil," lanjut Zora setelah pelukan mereka terurai.


Vada hanya bisa tersenyum menanggapinya, "Semoga," ucapnya. Semoga benar-benar cepat hamil dan semoga Elvan senang dengan kehamilannya, harapan Vada dalam hati.

__ADS_1


"Kak, kakak harus yang rajin ya, kalau perlu setiap malam kalian melakukannya supaya cepat jadi Elvan junior!" ucap Zora kepada Elvan yang baru saja turun. Laki-laki itu tampak mengenrnyitkan keningnya tak mengerti denga apa yang Zora ucapkan. Ia memilih tak memikirkannya dan terus berjalan bergabung dengan mereka.


Elvan menarik pinggang sang istri lalu mencium pelipisnya, "Kau tidak menungguku mandi, sayang," ucapnya.


"Maaf, aku tadi bantu Zora bersiap," sahut Vada.


"Biar sopir mengantar kalian ke Bandara!" ucap Elvan kepada guan Fabian dan keluarganya.


"Terima kasih, kami pamit!" ucap tuan Fabian.


"Hem, hati-hati," sahut Elvan. Ia dan Vada mengantar mereka sampai ke depan.


"Ayo!" Elvan melingkarkan tangannya di bahu Vada dan mengajaknya masuk.


"Kenapa kita tidak mengantar mereka ke Bandara? Aku ingin memastikam Zora dan bayinya baik-baik saja, pasti akan sukit sekali bagi Zora setelah ini. Apalagi ia masih mual parah," ucap Vada, ia melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.


Bukannya menjawab , Elvan justru menatap isterinya tersebut dengan tatapan aneh.


"Kenapa abang melihatku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" tanya Vada.


"Kenapa kamu begitu baik, sayang. Apa kau tak dendam sama sekali dengan Zora dan Dimas? Terutama Dimas, apa yang di lakukan sangat tidak bisa di maafkan. Abang aja rasanya ingin membunuhnya kalau ingat. Tapi, kau justru memaafkan dan malah peduli dengan mereka,"


"akupun sama abang, jika ingat kejadian wktu itu aku merasa sakit dan sedih . Tapi, bukankah memaafkan akan jauh lebih indah dan membuat hati lebih tenang," ucap Vada tersenyum.


Elvan langsung menarik Vada ke dalam pelukannya. Betapa ia beruntung memiliki istri sebaik Vada.


Tiba-tiba saja, ponsel Elvan bergetar. Ia segera mengangkatnya karena itu adalah telepon dari nomor anak mbok Darmi.


Air muka Elvan langsung berubah sendu setelah ia mengangkat teleponnya. Membuat Vada penasaran.


"Sayang..."


"Ada apa, bang? Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Kita ke Magelang sekarang. Mbok Darmi sakit,"


__ADS_2