
Hal baru yang di lakukan oleh Vada, Rasanya benar-benar membuat hati Elvan menghangat di perlakukan seperti itu. Karena bingun harus bagaimana, Elvan hanya mengusap rambut Vada penuh sayang.
"Nggak dicium ini Keningnya? Biasanya kan gitu, istri cium tangan, suami cium kening," Ucap Vada.
"gitu ya?" tanya Elvan.
"Iyalah," sahut Vada.
"Kalau kening di ganti bibir boleh nggak?" tawar Elvan.
"Malah nawar ih. Ya udah aku turun aja. Abang hati-hati di jalan, jangan ngebut, ingat katak pak polisi, mending istirahat sebentar lalu capek nyetir daripada istirahat selamanya," sebelum Vada turun, Elvan menarik tangan Vada, ia menangkup kedua pipi Vada, lalu mencium keningnya cukup lama dan dalam. Gadis itu langsung tersenyum senang.
"Nanti abang jemput di cafe pulangnya," ucapnya dan Vada mengangguk.
Setelah turun dari mobil, Vada melambaikan tangannya sebelum akhirnya Elvan menurunkan kaca mobil dan melajukan mobilnya kembali menuju ke kantor.
ššš
Saat hendak turun dari mobil, tanpa sengaja Elvan menoleh ke jok belakang, rupanya Vada lupa mengambil bekal yang sudah ia siapkan dari apartemen tadi, "dasar ceroboh!" gumamnya tersenyum lalu mengambilnya.
Elvan tak peduli tatapan para karyawannya yang menatapnya aneh karena tumben membawa bekal ke kantor.
"Selamat pagi tuan muda,!" sapa Asisten Rio yang sedang menunggu kedatangannya teat di depan lift.
"Pagi," sahut Elvan.
Rio melirik tangan kanan Elvan lalu menahan senyumnya.
"Ngapain lihat-lihat? Ini bukan buat kamu!" Elvan menyembunyikan bekal yang ia bawa. Seolah hendak di rebut oleh asistennya itu.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau minta. Benar-benar sudah bucin, bahkan mau membawa bekal dari istri ke kantor," batin Rio terkekeh geli.
Eva, sekretaris Elvan yang sudah datang langsung mengangguk sopan sambil tersenyum semanis mungkin setelah merapikan rambut dan juga menyemprotkan parfum entah beraa kali hingga baunya sangat menyengat tersebut.
Elvan hanya membalasnya dengan sedikit anggukan kepala, lalu berjalan menuju ke ruangannya.
"Yo, lain kali Bilangin Eva jangan mandi pakai parfum, kamu pindah aja dia ke divisi lain!" Ucap Elvan. Karena Keberadaan Eva sebagai sekretarisnya tak begitu berpengaruh juga. Sudah ada Asisten Rio yang akan menghandle semuanya.
"Baik tuan muda, kalau begitu saya permisi ke ruangn saya," sahut Rio.
"Yo," panggil Elvan.
"Ya tuan muda?"
"Nggak jadi, pergilah!" kata Elvan. Awalnya ia ingin menyuruh Rio untuk mengantar bekal milik Vada namun ia urung kan. Lebih baik ia mengantarnya sendiri siang nanti sekalian makan siang bareng, pikirnya.
ššš
Vada tampak sedang menggerutu karena sudah waktunya jam makan siang, namun bekal kesukaannya malah tertinggal di mobil Elvan pagi tadi. Tak mungkin ia meminta suaminya untuk mengantar bekal yang mungkin saja tak berarti untuk pria itu tersebut. Masa harus datang ke toko hanya untuk mengantar bekalnya. Bisa jadi suaminya itu sedang makan siang bersama klien penting, Vada tak ingin mengganggunya.
"Pesan mie ayam di seberang sana enak kali ya," gumamnya mengusap perutnya yang sudah lapar.
Vada lalu menggulir kontak wa ponselnya. Ia akan delivery order mie ayam langganan Daripada harus panas-panasan keluar, ia sedang malas kemana-mana.
Namun, belum juga ia mengirimkan chat ke kang mie ayam, baru mengetik, ia melihat mobil berhenti di luar toko. Mengenali mobil tersebut, Vada langsung tersenyum dan keluar toko demi menyambut kedatangan suaminya.
"Kau menungguku?" Tanya Elvan setelah turun dari mobil.
"Tidak, aku menunggu makan siangku!" ucap Vada tersenyum jahil lalu meraih bekal yang di bawa oleh Elvan. Ia menarik tangan Elvan supaya masuk ke dalam.
__ADS_1
Elvan duduk dan menunggu Vada menyiapkan makan siang mereka.
"Aku nggak tahu kalau abang bakal nimbrung makan siang sama aku, jadi aku bawanya cuma sedikit. Tapi nggak apa-apa kita makan berdua. Abang pasti juga lapar kan?" ucap Vada.
"Nanti kamu nggak kenyang, kamu aja yang makan," sahut Elvan. Baginya melihat Vada saja sudah lebih dari kenyang. Elvan mengambil alih tempat lauk yang sedang berusaha Vada buka. Ia membantunya membukanya lalu memberikannya kepada sang istri.
"Enggaklah. Aku makan sedikit juga udah kenyang kok. Kan bonus buat abang juga karena udah mau antar ini ke sini. Makasih ya udah mau bela-belain antar ke sini. Tadinya aku udah mau pesan mie ayam, belum sempat kirim chat ke kang mie ayamnya eh abang udah nongol duluan, gagal deh chat kang mienya,"
"Ngapain kamu chat-chat pria lain?" Tanya Elvan langsung sewot.
"Kan mau delivery order. Aku tuh malas mau keluar badan aku masih capek. Di tambah panas banget di luar. Chat biasa mau pesan mie ayam gitu doang," terang Vada yang melihat wajah suaminya mulai masam.
"Ohhh," Sahut Elvan pendek.
Vada memberikan sendok kepada Elvan, "Sekali-kali abanglah yang nyuapin aku," ucapnya.
Tanpa bicara, Elvan melepas kancing lengan kemejanya lalu memggulungnya sampai ke siku. Ia menerima sendok dari Vada lalu mulai menyuapai sang istri.
"Enak ya ternyata. Pantas abang suka kalau aku suapi. Abang gantian makan dong, jangan nyuapi dan lihatin aku terus, aku tahu aku cantik tapi kan nggak akan kenyang juga cuma lihatin aku gitu," oceh Vada sambil mengunyah.
"Makan dulu, jangan sambil bicara nanti terse..."
"Uhuk! Uhuk!" belum juga mulut Elvan selesai dengan kalimatnya, Vada sudaj tersedak duluan.
"Abang bilang juga apa? Kamu tuh ya," Elvan mengambil alih botol minum dari tangan Vada lalu membukakannya. Vada langsung minum dengan rakus.
"Makasih abang suaminya Vada Laras Sabrina," ucap Vada nyengir.
"Ck, dasar! Kamu tuh ya!" Elvan mengacak rambut Vada gemas.
__ADS_1