Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 76


__ADS_3

"Abang lihat nggak tadi, waktu cowoknya pergi, ceweknya sampai nangis bombay begitu. Sedih banget aku lihatnya. Tapi pas cowoknya kembali, ya ampun bikin baper banget, aku sampai nangis terharu. Benar-benar keren filmnya tadi, aku serasa jadi ceweknya," ucap Vada ketika mereka keluar dari gedung bioskop.


Elvan hanya tersenyum menanggapinya sambil mengacak rambut Vada. Pasalnya, ia sama sekali tak fokus ke layar bioskop selama di dalam tadi. Ia justru fokus menatap Vada. Baginya, daripada menonton film romantis tersebut, istrinya jauh lebih menarik untuk di lihat. Dan juga, praktik langsung dengan sang istri justru akan lebih daat feelnya.


"Kita ke sana yuk!" Vada menunjuk arena time Zone.


Elvan mengerutkan Keningnya.


"Ayuk! Hidup cuma sekali abang, jangan di buat mengerutkan kening terus! Yuk, kencan masih berlanjut!" Vada menarik Tangan Elvan yang hanya bisa pasrah mengikutinya. Menuruti kencan ala-ala Vada Laras Sabrina.


Vada membeli beberapa coin yang akan di gunakan untuk bermain.


"Ayo!" setelah membayar, Vada kembali menarik tangan Elvan. Awalnya pria itu hanya berdiri mematung melihat sang istri yang asyik bermain walking dead, dimana ia harus membunuh segerombolan zombi. Namun, karena melihat Vada tampak kesusahan, ada akhirnya ia ikut bermain. Vada tersenyum saat sang suami mengambil alih permainan, asalnya ia sengaja memperlihatkan permainannya yang buruk supaya Elvan mau ikut bermain.


Beberapa permainan mereka mainkan bersama. Elvan tampak sangat menikmati setiap permainan yang ia mainkan untuk pertama kali tersebut. Senja kala itu mereka berdua habiskan dengan wajah berseri. Sejenak mereka melupakan Semua permasalahan hidup mereka. Tertawa dan bersenda gurau berdua tanpa beban.


Ini memang bukan kali pertama Vada bermain di time Zone, dulu ia dan Mirza sering melakukannya. Namun, kencan yang seperti ini baru pertama kali Elvan lakukan. Dan ternyata cukup menarik, pikirnya. Salah satu cara sederhana untuk bahagia bersama pasangan. Sangat berbeda saat berkenan dengan Zoya dulu. Makan malam di restoran bintang lima, shopping barang branded, jalan-jalan ke luar negeri atau sekedar mengahbiskan malam bersama.


Puas bermain Dance Dance Revolution berdua, Vadaa duduk di sebuah kursi sambil mengatur napasnya. Sementara Elvan, ia pergi membeli minum.


"Minum dulu," Elvan mengulurkan sebotol minuman dingin kepada Vada setelah ia membuka tutupnya.


"Makasih," Vada tersenyum menyambut minuman tersebut lalu meminumnya.


"Capek?" Elvan duduk tetap di Samping Vada.


"Lumayan, tapi seru! Rasanya plong, nggak ingat beban apalagi hutang," seloroh Vada. Elvan hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ada saja tingkah sang istri yang menggelitik hatinya.


"Mau pulang sekarang?" tanya Elvan.

__ADS_1


"Sebentar, masih ada satu lagi!" sahut Vada. Lagi, Elvan mengernyitkan Keningnya.


"Yuk!" Vada berjalan mendahului Elvan. Pria itu sedikit berdecak lalu menyusul sang istri.


Rupanya, Vada memainkan permainan capit boneka. Elvan menyandarkan bahunya di tepi box tersebut sambil mengamati permainan Vada. Ia hanya tersenyum tipis, ketika Vada beberapa kali gagal mencapit boneka yang ada di dalam box besar tersebut. Membuat wanita itu terus berdecak sebal.


"Ck, susah banget sih. Yaaaahhh kan gagal lagi," gerutu wanita tersebut.


"Ini terakhir, kalau gagal. Aku pecahin aja kacanya. Lalu ambil bonekanya, bikin esmosi jiwa aja!" Vada kembali memasukkn coin terkahir. Padahal, kalau dia mau pabrik bonekanya juga bisa Elvan belikan untuknya. Tapi, ini lebih ke rasa penasaran dan kepuasannya.


Elvan kembali berdecak, ia berjalan mendekati Vada. Menarik perut sang istri dari belakang lalu satu tangannya bergabung dengan tangan kanan Vada yang siap kembali bermain.


Vada menoleh dan tersenyum.


" Konsentrasi," Bisik Elvan. Wanita itu langsung melihat ke depan. Elvan mulai membimbing tangga Vada dan sekali gerakan, ia berhasil mencapit sebuh boneka beruang kecil berwarna pink yang memeluk hati.


Elvan mengambil. Boneka tersebut lalu memberikannya untuk Vada, "Baby bear buat nyonya Adhitama," ucapnya.


"Makasih papa bear," Vada langsung memeluk boneka tersebut.


Lagi-lagi Elvan mengeratkan Keningnya mendengar Vada membuat julukan baru untuknya. Papa Bear? Hah ada-ada saja, pikirnya.


"Ayo!" Elvan menggandeng Tangan Vada.


Saat menuju ke parkiran, Elvan merasa ingin buang air kecil, "Kau ke mobillah dulu, abang ke toilet sebentar," ucap pria itu.


"Hem, jangan lama-lama," Vada mengangguk.


Sambil menunggu Elvan karena kunci mobil di bawa oleh suaminya tersebut, Vada memilih memainkan ponselnya sambil berdiri di samping mobil. Ia tak menyadari jika ada seseorang yang sedang mengintainya.

__ADS_1


Sementara itu, Helena yang baru saja shopping bersama mamanya juga berada di parkiran yang ada di baseman mall tersebut.


"Kak Vada?" gumam Helena dari jauh karena jarak mobil mamanya dengan mobil Elvan cukup jauh.


"Helen, cepak masuk. Mama masih ada urusan setelah ini!" perintah mama Helena.


"Sebentar ma, itu ada teman Helen," ucap gadis itu. Ketika Helen hendak melangkahkan kakinya untuk nyamperin Vada, Mamanya menarik tangan Helen.


"Teman siapa, cepat masuk! Mama harus segera bersiap. Mama harus ke luar negeri setelah ini," ucap sang mama.


Helena hanya bisa patuh, ia masuk ke dalam mobil. Namun, saat mobilnya mulai melaju dengan pelan, ia melihat ia melihat dari kaca spion seseorang dengan pakaian tertutup dari atas hingga ujung kaki mendekap mulut Vada dari belakang.


Helen langsung panik saat melihat Vada lemas dan pingsan begitu saja, "Ma, berhenti! Itu kak Vada di culik kayaknya!" seru Helen mengguncang lengan sang mama saya menghentikan mobilnya.


"Vada siapa? Jangan ngarang kamu, teman kamu mampu tahu. Udahlah nggak usah bikin drama. Mama tetap harus pergi!" kekeh mama Helen. Ia pikir itu hanya akal-akalan putrinya untuk mengukur waktu supaya ia tak pergi ke luar negeri.


"Aku serius ma. Berhenti dong. Itu kasihan!" teriak Helen. Ia membuka kaca jendela mobil dan melihat ke arah tadi Vada berada. Namun, ternyata penculik itu bergerak sangat cepat. Vada sudah di bawa pergi oleh penculik tersebut. Helen hanya bisa tertunduk lesu, ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Gimana kalau kak Vada di culik orang jahat," lagi-lagi Helen menoleh, namun mobil sang mama sudah melaju cukup jauh.


Sementara Elvan yang baru saja tiba di mobil tak mendapati sang istri di sana.


"Kemana Vada? Apa nyusul ke dalam lagi? gumamnya. Saat hendak kembali untuk mencari Vada, tanpa sengaja kakinya menendang boneka yang tadi ia berikan untuk Vada.


Elvan mengambil boneka tersebut, tak jauh dari sana ia melihat ponsel Vada tergeletak di lantai. Ia lalu mengambil ponsel tersebut. Di lihatnya layar ponsel masih menunjukkan game yang baru saja di mainkan oleh sang istri. .


"S h i t!" umpat Elvan. Ia menggenggam erat ponsel dan boneka itu dengan wajah khawatir dan geram sekaligus. Ia menyadari pasti sudah terjadi sesuatu yang buruk terhadap Nevadanya.


__ADS_1


__ADS_2