
Dua hari sudah berlalu, namun boneka Kyara belum juga ketemu. Andra sudah mencoba mencari di tempat terkahir ia mengajak Kyara bertemu dengan Elvan kemarin, namun benda itu tak ada di sana.
Jika moodnya sedang baik, Vada bisa mengalihkan perhatian Kyara ke mainan atau kegiatan lainnya supaya lupa dengan bonekanya setiap kali gadis kecil itu menanyakan keberadaan si Mothy. Yang paling susah adalah ketika Kyara merasa mengantuk, ia akan terus merengek mencari teman tidurnya tersebut.
"Gimana, Kya?" tanya Andra dari seberang telepon.
"Sekarang udah tidur, tapi ya gitu, mesti banyak drama dulu tadi. Lelah nangis baru ketiduran," jawab Vada, ia menoleh, melihat Kyara tidur di dalam ruang kerjanya.
"Ya ampun, kasihan anakku. Aku udah bolak-balik ke tempat kemarin, tapi di sana enggak ada. Mungkin lupa naruhnya," ucap Andra yang kini sedang dalam perjalanan ke luar kota.
"Nggak biasanya Kya lupa menaruh mainannya. Dia selalu ingat apapun, daya ingatnya sangat kuat. Apalagi menyangkut Mothy..."
"Huft, susah memang kalau sudah menyangkut Mothy. Jangankan hilang, orang lain mau pegang aja udah di galakain duluan sama Kya. Coba kamu buatkan lagi aja, gimana?" Andra memberi Saran.
"Di apartemen ada beberapa boneka serupa yang aku buat, tapi cuma Mothy yang istimewa buat dia. Nggak mau ganti yang lainnya. Aku kasih yang lain, dia malah makin kejer nangisnya," keluh Vada.
Percakapan melalui telepon itu berakhir tanpa membuahkan solusi.
Vada menghampiri Kyara dan berjongkok di depan putrinya itu. Dirapikannya rambut Kyara yang menempel di wajahnya yang masih agak basah karena menangisi Mothy.
Ada perasaan lega dalam diri Vada, setidaknya Kyara tak lagi merengek soal papa seperti dua hari sebelumnya. Mungkin kerinduannya kepada Mothy mengalihkan pikiran anak itu. Atau mungkin malam kemarin itu hanyalah reaksi sesaat, karena Kyara merasa nyaman dengan pria asing itu, pikir Vada.
Bukankah, anak-anak memang seperti itu, mereka akan terus membicarakan seauatu atau seseorang yang ia sukai. Tapi, reaksi itu tak akan bertahan lama, semua akan kembali seperti sebelumnya.
.
.
.
Di sisi lain, Elvan sedang duduk di loby hotel tempatnya tonggal selama di Kanada. Sudah beberapa saat lamanya ia duduk di sana sambil terus memandang boneka yang ia duga milik Kyara karena boneka amurugumi tersebut ada nama Kyara yang melekat di sana.
Rio yang sejak tadi duduk di siai lain kursi, masih sabar dengan apa yang akan di lakukan oleh Tuannya itu di sana. Ia merasa aneh karena baru kali ini Elvan memungut benda seperti itu. Benda yang biasanya akan Elvan anggap sampah tak penting. Tapi, kali ini pria itu memungut 'sampah' itu?
"Pasti anak itu kelimpungan nyariin ini," batin Elvan, mengingat kemarin ia melihat Kyara terus memeluk boneka tersebut. Bahkan saat ia tak sengaja menyenggol boneka itu hingga jatuh, anak itu sempat marah kepadanya, "Uncle nakal! Kacihan Mothy! Dia jatuh gala-gala uncle! Mothy jadi Syakiit!" itulah kalimat yang keluar dari bibir mungil Kyara.
"Jadi.. Namamu Mothy? Ck, aneh sekali namamu," Elvan berdecak, merasa lucu dengan nama boneka itu. Ada-ada saja anak itu memberikan nama, pikirnya.
"Anak itu manis, ceria. Tapi, galak. Melihatnya, aku seperti melihatmu. Senyum cerianya dan juga sorot matanya, mengingatkanku padamu, Nevadaku," batin Elvan.
Ya alasan dia kemarin mau diajak bermain dan di jahili sedemikian rupa oleh Kyara hanya karena anak itu memiliki sorot mata yang mirip dengan Vada. Selebihnya, tentang kemiripan lainnya yang hampir semunya mirip dengannya, ia tak begitu memperhatikan meski sekilas memang ia akui jika memang ada kemiripan antara dirinya dan Kyara. Bisa di bilang kalau Kyara adalah Elvan kecil versi cewek.
__ADS_1
"Sungguh amazing, anak itu!" gumam Rio, "Jangan katakan tuan muda jatuh cinta pada balita itu! Hanya karena wajah mereka mirip yang berarti jodoh. Gila! Bisa geger dunia persilatan kalau tuan muda beneran jatuh cinta sama balita!" batinnya, ia menggedik ngeri membayangkan.
Elvan yang melihat Rio menatapnya dengan tatapan aneh langsung menatapnya tajam," Kondisikan matamu!" umpatnya.
" Maaf, tuan muda. Saya hanya sedang memikirkan sesuatu. Dan sepertinya pikiran kita sama," ucap Rio.
"Ck, sok tahu. Emang apa yang aku pikirkan?"
"Kyara," jawab Rio to the poin. Dan jawabannya mampu membuat Elvan tersentak lalu terdiam.
"Apa sekarang kau beralih menjadi cenayang, Yo?" sindir Elvan sembari berdiri dari duduknya. Tak lupa ia melempar boneka di tangannya ke arah Rio lalu melangkahkan kakinya.
Rio dengan cekatan menangkap boneka itu sebelum mengenai wajahnya. Ia pikir, Elvan ingin membuang boneka itu karena tak mungkin tuan mudanya itu mau menyimpan benda itu lebih lama. Toh apa gunanya. Riopun berdiri dan bergerak menuju tempat sampah yang ada di sudut ruangan tersebut untuk membntu Elvan membuangnya.
Namun, sebelum boneka itu terlepas ke tong sampah, tangan Rio sudah di cekal terlebih dahulu oleh Elvan, "Ngapain kamu?" tanya Elvan dingin.
"Membantu tuan muda membuang sampah ini," jawab Rio tanpa rasa bersalah.
Tanpa bicara lagi, Elvan mengambil paksa boneka itu dari tangan Rio lalu kembali melangkah keluar loby.
"Perasaan tadi udah keluar, dia balik lagi cuma buat ambil lagi boneka itu? Aneh!" batin Rio sambil mengibaskan tangnnya yang di cengkeram sangat kuat oleh Elvan tadi.
"Tuan muda, kita mau kemana?" jujur, urusan mereka di sana sudah selesai karena kerja sama dengan Andra sudah deal, tapi lagi-lagi amanah dari tuan Adijaya yang memerintahkan Rio untuk menahan Elvan di sana sedikit lebih lama lagi.
Dan untungnya, Elvan sendiri yang belum ingin kembali ke Jakarta. Entah kenapa Pria itu merasa ingin sedikit berlama-lama di sana seolah ada magnet yang menarik hatinya untuk tetap stay terlebih dahulu. Sehingga, Rio tak perlu bersusah-susah untuk mencari alasan untuk membuat Elvan tetap di sana lebih lama lagi.
"Lakukan saja apa yang aku suruh!" hanya itu jawaban tuan Adijaya ketika Rio mempertanyakan alasannya.
"Sepertinya tuan besar memang ingin menyingkirkan tuan muda, buktinya tuan muda belum boleh kembali padahal urusan sudah selesai," batinnya waktu menerima telepon dari tuan Adijaya kemarin.
Elvan mendengus sebal mendengar pertanyaa Rio. Karena ia juga tak tahu mau kemana, seharusnya dia pulang saja, dan kembali menjalankan kerajaan bisnisnya dari Jakarta. Tapi, hatinya menahannya untuk tetap di sana. Pergi ke tempat wisata dan berswaphoto seperti orang lain? Jelas tak mungkin Elvan melakukannya. Lalu, ia harus kemana dan melakukan apa?
"Jalan saja, yo!" titah Elvan.
Rio manut, ia melajukan mobil yng di beli oleh Elvan sebagai sarana transportasi mereka selama di sana.
Elvan hanya menggunakan instingnya untuk berjalan ke sebuah pusat pertokoan di sana.
"Apa ada yang ingn tuan muda beli?" tanya Rio.
"Kau sendiri?" Elvan malah balik bertanya. Dan itu membuat Rio ingin jengkel, bukannya pria yang duduk di belakang yang menuntunnya ke sini, eh malah tanya. Benar-benar ingin memaki, tapi ini tuan mudanya.
__ADS_1
"Tidak ada, tuan," jawabnya kemudian.
"Tapi, ini sudah waktunya makan siang, apa... Tuan muda ingin mencari restauran untuk makan siang?" cetus Rio kemudian.
Elvan melirik jam tangan Rol*x miliknya. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke luar mobil dan menemukan sebuah cafe yang tak terlalu besar. Elvan langsung turun dari mobil tanpa banyak bicara. Rio memilih melajukan mobilnya pelan sambil mengikuti Elvan, hingga mobil berhenti di depan cafe saat Elvan berhenti di sana. Ia menatap bangunan tersebut dengan perasaan aneh. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar.
"Tuan muda yakin akan makan di sini?" tanya Rio. Ia tak yakin dengan cafe yang ia bilang kecil itu.
"Kenapa? Bukankah perutmu sudah keroncongn ingin minta jatah?" tanya Elvan.
Rio tak bertanya lagi, apalagi protes, karena akan percuma. Ia memang sudah lapar karena pagi tadi tidak sarapan.
.......
Sementara itu, Vada tengah sibuk membantu Cindy karena di jam-jam seperti itu cafenya cukup ramai dan Cindy pasti kewalahan. Hanya memiliki satu karyawan yang membantu benar-benar membuat Vada kewalahan. Sepertinya ia memang harus segera mencari teman untuk Cindy mengingat cafe yang semakin ramai. Jika Andra sedang senggang, pria itu tak akan keberatan membantu. Namun, justru Vada yang merasa tak enak karena pria itu kelewat baik.
Seperti biasa, Kyara berada di dalam ruang kerja Vada ketika cafe ramai. Anak itu sudah bangun dari tidurnya beberapa saat yang lalu dan kini sedang meminum susu dari dot setelah kembali terjadi drama pencarian Mothy.
Dengan susah Payah Vada membujuk Kyara untuk bisa ngedot tanpa Mothy. Mungkin karena haus juga, anak itu pada akhirnya mau minum susunya juga. Sebagai ganti Mothy.
"Selamat datang....." sapa Vada saat menyadari ada yang masuk ke dalam cafe tanpa menoleh ke arah orang tersebut karena ia sedang sibuk akan mengambil menu pesanan pelanggan.
Elvan yang baru saja melangkah masuk, langsung berdiri mematung begitu mendengar wanita yang ia kira pelayan cafe menyapa kedatangannya dengan ramah. Ya, ia tak pernah sedetikpun lupa akan suara itu.
Elvan masih berdiri di tempatnya sampai ia benar-benar memastikan siapa wanita yng baru saja menyapanya tersebut. Perasaanya sudah berkecamuk tak karuan.
"Tuan muda, ayo duduk. Tinggal kursi sebelah sang yang kosong. Nanti keburu di duduki pelanggan lainnya," ucap Rio yang baru saja menyusulnya masuk.
Elvan menoleh dan hanya menatap tajam Rio tanpa bersuara. Pikirannya sedang benar-benar berkecamuk karena penasaran. Apalagi jantungnya yang sudah berdebar hebat.
Vada kembali dengan membawa nampan berisi pesanan pelanggan.
"Silahkan duduk tuan, masih ada yang kos..." kalimat Vada terjeda bersamaan dengan menolehnya pria di depannya.
Pyar....
Sangking terkejutnya, Vada sampai menjatuhkan nampan dari tangannya.
Seolah waktu berhenti, mata Vada kini beradu dengan mata Elvan. Keduanya hanya mampu saling menatap dengan perasaan yang sudah tak bisa di kondisikan.
...****************...
__ADS_1