Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 69


__ADS_3

"Eh bu Suk, ada apa siang-siang datang kemari?" tanya Vada sambil cengengesan seolah tanpa dosa.


"Kamu tuh kebiasaan kalau ibu datang padti tanya ada apa ada apa? Emang saya harus ada alasan kalau datang ke toko sendiri?" omel bu Sukma sambil celingak-celinguk mencari sosok pemilik mobil yang tetparkir di depan toko.


"Itu yang punya mobil di depan mana orangnya? Pasti yang di beli bunga mahal dan spesial ya?" tanya Bu Sukma.


Vada memejamkan matanya, sambil mencari alasan.


"Oh itu, iya tadi ada pembeli, terus pas mau pulang eh mobilnya nggak mau nyala. Kehabisan bensin kayakanya, terus dia nitip di sini deh. Nggak apa-apa kan bu Suk? Kasihan loh, udah bapak-bapak hampir kakek-kakek malahan. Biarin ajalah, itung-itung amal, ngebantu orang tua pahala gede loh,"


"Masa sih mobil semewah itu bisa kehabisan bensin?" gumam BU Sukma setengah tak percaya.


"Ya bisa aja dong bu, namanya juga manusia tempatnya lupa. Apalagi sudah tua, lupa isi bensin kali," elak Vada.


"Ibu ngapain sih ke sini, kalau nggak ada perlu mending pulang aja. Aku malah nggak konsen kerjanya kalau ibu di sini,"


"Ck, kamu ini. Saya cuma mampir sebentar habis dari arisan tadi. Untung saya lagi seneng karena baru dapat arisan, jadi kamu usirpun saya terima, Vada. Ya udahlah saya pulang aja," Bu Sukma langsung putar badan dan berjalan menuju ke pintu.


"Perasaan arisan mulu dah tuh orang, orang kaya mah gitu kali yah, kerjaan arisan sana sini," gumam Vada.


"Eh eh, kok balik lagi, mau ngapain bu Suk?" sergah Vada karena bu Sukma tak jadi keluar, wanita itu justru berjalan menuju ke toilet.


"Kebelet! Daripada ibu bawa pulang, mending buang di sini!" ucap Bu Sukma santai.


Mendengarnya, Vada langsung mencegah langkah kaki hu Sukma, "Oh tidak bisa!" ucapnya.


Bu Sukma menatap Vada aneh, "Minggir! Kamu kenapa sih, makin aneh tahu nggak?"


"Itu, toiletnya sedang rusak. Tadi aja aku numpang di toko seberang pas mau pup. Di sini lagi mampet bu Suk,"


"Ck, ada-ada saja. Ceat panggil tukang buat benerin!" ucap bu Sukma.


"Iya, udah aku panggilkan tapi belum datang. Bu Sukma bisa pergi sekarng, daripada nggak tahan malah keluar di sini kan?"


Bu Sukma menjeb, namun ia memutar badannya.


"Hachu!!!"


baru melangkahkan kakinya selangkah, bu Sukma seperti mendengar suara orang bersin.


"Haduh abang, kenapa nggak bisa tahan sih bersinnya," batin Vada meringis menatap toilet.


"Suara apa itu?" tanya bu Sukma curiga, ia kembali menatap pintu toilet dan hendak membukanya.

__ADS_1


"Kok nggak bisa di buka?" bu Sukma berusaha membuka pintu toilet.


"Aku sengaja kunci bu, soalnya kan lagi eror. Ada yang mampet, jadi aku kunciin aja, biar aromanya nggak nyebar,"


"Hachu!!" Lagi-lagi terdengar suara orang bersin.


"Hachu!!!" Vada sengaja pura-pura bersin.


"Itu suara aku bu Suk, sepertinya angkatan mau flu ini," ucapnya pura-pura meriang.


"Tadi kayaknya kamu sehat, mendadak bisa meriang,"


"Iya ini, mending ibu buru-buru pergi dari pada ketularan kan?"


"Ya udah saya pulang, kamu bawel banget, heran yang bos siapa di sini," omel BU Sukma sambil melenggang pergi.


Vada mengantar bu Sukma hingga ke depan toko dan memastikan wanita itu benar-benar pergi. Ia lalu mengembuskan napasnya lega.


"Suamiku!" seru Vada yang langsung buru-buru berlari menuju ke toilet.


Vada langsung membuka kunci pintu toilet. Melihat wajh suaminya yang sudah di tekuk Berkali-kali lipat mirip tumpukan baju yang belum di setrika, Vada hanya bisa nyengir sambil mengatupkan kedua tangannya, "Maaf," ucapnya.


Elvan hanya bisa mendengus sebal, tak bisa marah apalagi ngamuk kepada sang istri. Vada segera menarik tangan Elvan supaya keluar, "Ayo keluar, betah amat di dalam," seloroh Vada.


"Lagian abang kenapa pakai bersin segala sih, hampir saja ketahuan kan sama bos aku. Ketahuan bisa-bisa di grebek kita, di arak terus di kawinin,"


"Kan emang udah nikah, Nevada," sahut Elvan gemas.


"Oh iya ya, lupa!" Ujar Vada terkekeh.


"Tapi malaslah, kalau bos aku tahu abang suami aku, bisa bayangkan kehebohannya gimana. Nggak siap aku lihat reaksinya,"


Elvan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.


Vada iseng mengendus-endus dada Elvan, "Hem kok kayak ada bau-bau tak sedap ya? Suami aku kayaknya kelamaan di toilet nih," selorohnya jahil.


Elvan berdecak, ia menahan dan sedikit kepala Vada di dadanya," Nih, cium terus," ucapnya tersenyum tipis.


Vada justru semakin asyik mengendus dan mendekap suaminya yang nyatanya masih saja tetap wangi semriwing meski habis semedi di toilet beberapa saat.


Elvan melihat jam tangannya, "Abang harus kembali ke kantor," ucapnya dengan nada berat. Jika tak ingat masih ada pekerjaan penting ia tak ingin meninggalkan toko tersebut.


"Pergilah," Vada mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Hem, nanti abang jemput di cafe," Elvan mengecup puncak kepala Vada lalu pergi.


Vada mengantar sampai depan pintu, tak tahunya Elvan kembali menghampirinya dan mengecup bibir istrinya tersebut, "Sisanya abang tagih nanti malam," ucapnya sebelum akhirnya benar-benar masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


Vada melambaikan tangannya mengantar kepergian sang suami dengan senyum mengembang di bibirnya lalu kembali masuk ke dalam toko.


"Sabar, sabar om," Helena menenangkan Mirza yang mencengkeram stir mobilnya saat melihat adegan uwu di depan toko barusan. Ia mengusap-usah punggung Mirza, bahkan berusaha meniup-niup pria itu sambil terus mengatakan sabar.


"Apa sih nih bocah?" gumamnya, menatap sebal kepada Helena.


"Ck, aku kan cuma berusaha menyejukkan hati om yang panas karena kakak cantik itu di cium sama om ganteng itu. Om nggak kuat pasti lihat yang uwu-uwu begitu kan, sabar...,"


Ya ampun, kenapa bocah di sampingnya ini mirip sekali dengan Vada, hanya bedanya Helena masih versi mini ya, masih bau kencur.


" Kamu tuh, harusnya mikir sekolah yang benar bukan malah ngurusin yang begituan," ucap Mirza.


" Aku udah gede om, dua tahun lagi aku udah punya KTP loh, kalau udah punya KTP kan bisa...."


"Bisa apa?" potong Mirza cepat dan ngegas.


"Udah sana turun, bodyguard kamu udah pergi," usir Mirza.


"Anterin aku pulang lah om. Aku nggak ada duit ini mau ngangkot juga,"


Mirza Mendengus, "Dengar ya..."


"Helena om namaku, panggil aja Helen gemoy, atau sayang juga nggak apa-apa,"


Mirza kembali mengusap wajahnya kasar, "Ya Tuhan, apa salah dan dosaku," batinnya ingin menangis.


"Dengar ya helly,"


"Kok Helly sih om. Emang aku guk guk apa? Ehm tapi nggak apa-apa deh kalau itu panggilan sayang om ke aku,"


"Serah dah, yang penting kamu turun, saya masih ada urusan. Kalau nggak ada uang buat ngankot atau naik taksi, nih saya kasih. Silahkan ergi atau cari teman main yang sebaya dengan kamu," ucapnya seraya menyerahkan dua lembar uang berwarna merah kepada gadis itu.


Mirza langsung turun dari mobil tanpa mempedulikan ocehan Helena yang masih berada di dalam mobil.


" Ih dasar, om-om bucin. Ucah di tolak masih aja usaha!" gumam Helena sambil melihat kedua tangannya di dada.


Vada sedang membereskan bekas makan siang ya Dengan Elvan saat seseorang masuk ke dalam toko.


"Selamat datang, ada yang bisa di bantu? Mohon maaf ya, sebentar saya bereskan ini dulu. Silakan lihat-lihat dulu," sapa Vada ramah tanpa melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Iya, kamu selesaikan aja dulu, aku akan menunggu," sahut Mirza yang kini sudah berdiri di sampingnya.


__ADS_2