
Apa yang di lakukan Elvan dan Vada tentu saja menyita perhatian pengunjung kafe. Namun, hal itu tak berselang lama, mereka kembali acuh dan bersikap seolah apa yang baru saja mereka lihat bukanlah hal yang harus mereka hebohkan.
Berbeda jika hal itu terjadi sini, sudah pasti baik Vada maupun Elvan sebentar lagi akan Viral di medsos karena unggahan Video mereka dari orang iseng.
"Bang, lepasin! Nggak enak sama pengunjung lain," ucap Vada, namun diacuhkan oleh Elvan yang masih enggan melepas pelukannya.
Tadinya Vada membiarkan Elvan memeluknya karena berpikir pelukan kakak adik tidak masalah. Nyatanya, hatinya berkhianat. Semakin ia ingin bersikap biasa layaknya saudara, semakin hatinya terluka. Dan ini tidak bisa di biarkan.
"Banyak hal yang ingin aku katakan... Tapi kamu terlalu jauh pergi, Vada," ucap Elvan yang tak peduli dengan permintaan Vada untuk melepas pelukannya.
"Abang yang nyuruh aku pergi, sejauh mungkin dari hidup abang, jika abang lupa itu. Dan itu... Lebih baik untuk kita... Sekarang tolong lepaskan, bang," ucap Vada lirih. Tanpa sepengetahuan Elvan, ia menangis namun segera ia usap.
"Aku tidak akan melepasmu lagi, tidak akan,"
"Bang!" entahlah, Vada sebenarnya juga tak ingin Elvan melepaskan pelukannya, tapi logikanya masih bekerja dengan baik.
Ada satu hal yang mereka tidak sadari, yaitu Kyara yang mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Anak itu memperhatikan apa yang sedang dua orang dewasa itu lakukan.
"Mamaaa," panggil Kya. Ia takut mamanya di sakiti oleh uncle hancemnya karena Elvan mendekap Vada begitu erat sedangkan Vada berusaha melepaskanya.
"Lepas, bang. Kyara memanggilku," ucap Vada, pasti Kyara takut pikirnya. Namun Elvan masih bergeming.
"Abang! ANAK AKU MANGGIL! DIA AKAN TAKUT KALAU ABANG BEGINI!" Vada menekan kata anak sehingga Elvan mengurai pelukannya. Ia sadar, jika kini Vada tak sendiri lagi.
Elvan melihat ke arah Kyara yang masih setia mengintip di celah pintu. Ia lalu tersenyum kepada anak itu, "Maaf, uncle pinjam bahu mama Kya sebentar tadi," ucapnya.
Kyara mengangguk, dan berangsur menggerakkan tubuhnya mendekat, "Tidak apa-apa, Kya kalau syedih juga peluk mama, uncle hancem syedih kenapa?" tanya anak itu polos.
Elvan berjongkok di depan Kyara, "Masalah orang dewasa, Kyara tidak boleh tahu,"
"Kenapa?" tanya Kyara.
"Kya, unclenya mau makan jangan diajak bicara terus. Susunya sudah habis?" Vada berusaha mengalihkan perhatian Kyara. Ia tak ingin Elvan menyadari banyak hal tentang Kyara.
"Belum, mama. Masih syedikit!" Kyara memperagakannya dengan jari telunjuk dan jempolnya yang hampir menyatu.
__ADS_1
"Habiskan dulu ya? Ingat pesan mama?"
"Tidak boleh mubazir makanan," jawab Kya, ia langsung kembali ke ruangan Vada, tak lupa ia melambaikan tangannya kepada Elvan sebelum menghilang di balik pintu.
"Silakan abang duduk, biar Cindy yang melayani abang. Aku permisi harus mengurus anakku," ucap Vada pada Elvan setelah Kyara masuk.
"Tunggu!" sergah Elvan, ia kembali menegang pergelangan tangan.
"Susah payah aku mencarimu, Vada. Dan sekarang kamu mau menghindariku? Banyak hal yang ingin aku katakan sama kamu, termasuk soal hubungan kita..."
"Aku tahu!" potong Vada cepat, ia tak ingin mendengar hal menyakitkan itu lagi.
"Aku tahu, bang. Aku udah tahu semuanya, tak perlu abang jelaskan. Tidak apa-apa, itu bukan salah abang. Memang takdir kita seperti ini. Aku udah menerima semua yang terjadi apalagi sekarang ada Kyara yang harus aku utamakan dari apapun. Lebih baik abang sekarang ke meja, atau orang-orang akan kembali memeprhatikan kita.. Aku nggak mau kalau... "
" Suami kamu salah paham?" tebak Elvan.
Vada mengernyit, bagaimana bisa Elvan mengira dirinya sudah menikah lagi. Ah iya, mungkin karena ada Kyara, pikirnya. Ia pun tak berniat menjelaskan kepada Elvan jika dirinya belum menikah. Untuk apa? Toh tidak akan merubah apapun.
Melihat Vada terdiam tak menyangkal, hati Elvan rasanya pedih sekali, "Secinta itu kamu sama Andra?," batinnya dengan tangan mengepal. Tak ingin memperlihatkan betapa ia terluka mendapati kenyataan yang salah ini dan takut tak bisa mengontrol diri, Elvan memilih pergi begitu saja.
Sementara Elvan dengan wajah memerah menahan panas di mata, berjalan keluar kafe. Tak berselera lagi untuk makan.
Untung saja Rio sudah sempat mengisi perutnya meskipun hanya beberapa suap karena tuan mudanya keburu pergi dan ia harus menyusulnya.
"Tuan muda, mumpung masih di sini, apa perlu saya mengembalikan boneka itu kepada pemiliknya?" tanya Rio menatap bineka milik Kyara yang tergeletak di jok belakang samping Elvan duduk.
Elvan mengambil boneka itu, "Tidak perlu! Jalan sekarang!" titahnya.
"Tapi, Kyara pasti mencari bonekanya..."
Elvan tak peduli dengan ucapan Rio. Rio pun tak berani lagi bicara. Ia memilih menjalankan mobil. Ia sangat penasaran dengan pertemuan tuan mudanya tersebut dengan sang istri, tapi dilihat dari wajahnya sepertinya pertemuan itu jauh dari ekspektasi tuan mudanya.
.
.
__ADS_1
.
Keesokan harinya...
Setelah pertemuannya dengan vada di kafe kemarin namun Elvan tak puas dengan hasilnya. Entah kenapa ia tetap masih ingin menemui Vada. Tak di pungkiri ia sngat sennag bisa menemukan Vada. Namun, kini wanita itu sudah memiliki keluarga baru.
Elvan menyesal karena terlambat menemukan Vada. Wanita itu sudah memiliki kehidupan baru.
Penjelasan soal mereka yang tak sedarah pun tak akan berguna. Wanita itu sudah memiliki hidup baru. Bersama suami yang baik dan seorang anak yang cantik. Sedangkan dirinya? Masih di titik yang sama.
Memang seharusnya wanita itu move on dan melanjutkan hidupnya dengan bahagia. Bukankah itu keinginannya dulu? Tapi tak menyangka aka secepat itu Vada melupakannya. Jika dilihat dari umur Kyara, berarti tak lama setelah mereka berpisah Vada langsung menikah dan hamil.
"Secepat itu...?" gumam Elvan dalam lamunanya.
"Tuan muda..." sapa Rio yang baru saja bergabung dengannya. Entah darimana asistennya itu seharian ini tak terlihat batang hidungnya.
"Dari mana saja kamu?" tanya Elvan.
"Saya seharian di kamar, perut saya sakit dari semalam, diare. Entah kemarin saya di kasih makan apa waktu di kafe nona Vada, sampai bisa begini," cerita Rio. Wajahnya masih terlihat pucat.
"Ayo ke dokter!!" ucap Elvan.
"Tadi sudah minum obat. Ini sudah enakan," sahut Rio.
"Emmm... Bagaimana kelanjutannya dengan nona? Apakah kemarin tuan muda sempat memberitahu nona kebenarannya?" tanya Rio penasaran. Sangking penasarannya, ia menahan perutnya yang masih sakit demi menemui Elvan.
"Memangnya apa yang kamu harapkan?" tanya Elvan jutek.
"Sama seperti yang tuan harapkan," jawab Rio yang membuat Elvan diam.
"Aku terlambat, yo. Apa kau tak melihat dia sudah menikah bahkan punya anak. Aku nggak nyangka suminya adalah Andra dan anaknya Kyara. Mengatakan yang sebenarnya pun tak ada gunanya, aku udah banyak memberi luka untuknya. Jika sekarang dia bahagia dengan kehidupannya, aku...aku ikhlas," tutur Elvan. Sorot matanya begitu sedih saat mengatakannya.
"Tapi, yang saya lihat beda, tuan muda..." ucap Rio.
...----------------...
__ADS_1