
Pagi sekali Vada sudah bangun, dengan ceria seperti tak memiliki masalah, ia mulai aktivitas seperti biasa, memasak di dapur.
Setelah selesai menyiapkan sarapan di meja makan, Vada bergegas naik ka kamarnya. Elvan yang semalaman tidak bisa tidur, kini masih terlelap bergelung selimut.
"Tumben jam segini belum bangun, apa dia sakit?" Vada mendekati ranjang. Ia berjongkok demi mengamati wajah suaminya dari dekat. Ia menyentuh kening Elvan, "Enggak panas," gumamnya.
Tiba-tiba, Elvan memegang tangan Vada yang masih menempel di keningnya. Di tariknya tangan itu dengan cepat da kuat sehingga tubuh Vada kini sudah berada di bawah kungkungannya. Kedua tangan Vada berada di atas kepalanya sendiri di tahan oleh satu tangan Elvan.
"Ngapain kamu? Pagi-pagi sudah menggangguku," ucap Elvan.
"Aku.. Aku...." Vada berusaha menelan salivanya. Pesona Elvan saat bngun tidur begitu luar biasa di matanya.
"Apa?"
"Kenapa tuan seganteng ini meskipun baru bangun tidur dan belekan," gumam Vada memuji suaminya tanpa sadar.
Elvan menautkan kedua alisnya, "Jadi, kau mau menggodaku?" tanyanya.
"Iya," Vada keceplosan. Membuat Elvan semakin mengernyit.
"Eh bukan... Maksudnya.. Aku cuma mau bangunin tuan saja. Sudah siang, apa tuan tidak bekerja hari ini?" jawab Vada gugup karena Elvan tak berkedip memandangnya dengan jarak satu jengkal saja.
Elvan bergeming, ia tetap menatap mata indah di bawahnya tersebut. Membuat Vada semakin gelisah dan salah tingkah. Menggemaskan, pikir Elvan.
" Apa kau tahu, kau membuatku tidak bisa tidur semalaman," ucap Elvan kemudian.
"Mak-sud tuan? Kenapa bisa tidak tidur gara-gara aku?"
"Kau mau tahu?"
Vada mengangguk, "Tapi bisa tidak tuan turun dulu. Aku nggak bisa napas rasanya di tindih begini," ucap Vada mencari alasan.
Bukannya turun, Elvan justru mencium bibir Vada. Vada yang tak berkutik, hanya bisa mencoba menikmati serangan pagi dari suaminya. Mubazir jika tidak nikmati, orang halal ini, pikirnya. Karena Melawan pun percuma saja.
Sementara satu tangannya masih menahan tangan Vada, tangannya yang satu membuka kancing piyama milik Vada satu persatu. Vada memejamkan matanya ketika sensasi luar biasa ia rasakan saat ciuman Elvan merembet ke leher jenjangnya. Tubuhnya semakin berdesir ketika bulu-bulu jenggot Elvan mengnyentuh kulit lehernya.
Tangan Elvan Elvan sudah mendaki di gunung kembarnya pagi itu. Membuat Vada semakin gelisah. Suaminya itu selalu berhasil melakukan pembukaan untuknya. Vada yang awalnya selalu merasa risih namun akan semakin terlena oleh permainan suaminya. Alhasil, ia pun dengan berat hati menikmati setiap gejolak yang di berikan oleh sang suami.
Merasa tidak aman jika ciuman panas pagi itu terus berlanjut, Elvan pun menyudahi morning kissnya, karena setelah ini ada meeting yang sangat penting. Jika di lanjutkan, ia yakin mereka akan berakhir satu atau dua jam lagi.
__ADS_1
Vada yang sudah terpancing hormonnya terus memejamkan matanya, menunggu aksi selanjutnya dari sang suami.
"Siapkan bajuku, aku mau mandi sekarang," ucap Elvan tiba-tiba, membuat Vada membuka matanya. Ia melihat Elvan sudah berdiri untuk melangkah ke kamar mandi.
Vada langsung mencebik, kesal karena ia merasa di kerjai. Setelah di lambungkan tinggi - tinggi, di jauhkan begitu saja. Sungguh tak berperi kemanusiaan sekali laki-laki itu, pikirnya.
Vada segera bangun dan membenarkan kancing piyamanya. Ia langsung berlari ke walk ini closet sementara Elvan berusaha menidurkan belutnya yang terus menggeliat.
Vada mengambil kemeja, celana chinos dan juga jas yang akan di kenakan oleh Elvan.
Ia beralih ke tempat dimana under wear pria itu di tata rapi. Ia langsung menelan ludahnya kasar saat mengambilnya. Meskipun sudah sering merasakan isinya, tapi tetap saja setiap memegang pembungkus aset suaminya tersebut merasa aneh dan canggung.
Blush... Pipinya seketika merona, membayangkan belut milik suaminya. Ia memang belum pernah melihat belut-belut yang lain. Namun yakin sekali jika milik suaminya adalah belut jumbo kualitas impor.
Vada langsung menoyor kepalanya sendiri saat membayangankan besar dan panjangnya isi dari benda tersebut. Dan hal itu seketika membuat area bawahnya berdenyut.
"Astaga, otakku! Benar-benar racun itu si belut. Ya ampun Vada, otakmu sudah terkontaminasi," rutuk Vada ada dirinya sendiri.
Vada menunggu Elvan keluar dari kamar mandi. Lagi-lagi ia harus bersusah payah menelan salivanya melihat tubuh atletis pria itu dengan perut six packnya. Rambutnya yang basah membuat ketampanannya meningkat drastis.
Jangan lupakan benda di balik handuk putih yang melilit sempurna di pinggangnya.
Oh my god, Vada serasa kehabisan oksigen. Meski tidak atau belum cinta, tapi ia tidak munafik mengagumi sosok sempurna di depannya tersebut.
"Tuan,"
"Apa?"
"Bisakah memakai sarungnya di kamar mandi saja?" ucap Vada, ia menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Sarung?" Elvan bingung, ia bahkan tak melihat sarung di sana. Apa istrinya itu menyuruhnya memakai sarung? C'mon Vada, Suamimu mau ngantor bukan habis sunat, Elvan tak habis pikir.
"Itu, maksudnya sarang burung, kalau aku jelasin ce la na da lam, nanti kena sensor,"
Elvan menunduk, melihat sarunh yang di maksud oleh sang istri. Elvan spechless, istrinya itu selalu ada aja keabsurdannya.
Tak menghiraukan ucapan sang istri, Elvan justru melorotkan handuknya dan dengan santai dan gaya slow motion memakai satu persatu pakaiannya.
"Kenapa? Apa penutup surga duniaku basah?" tanya Elvan.
__ADS_1
Vada berpikir keras untuk mencerna ucapan suaminya, dan ia langsunh mendelik, artinya sama saja dengan sarang burungnya.
"Dih, tuan diam-diam mesum!" cebik Vada.
Elvan tak peduli, ia menyodorkan dasinya kepada Vada, "Tugasmu!" ucapnya.
Vada berdiri, ia berjinjit untuk mengalungkan dasi ke leher Elvan.
"Bisa nggak tuan agak jongkok sedikit, susah nih!" ucap Vada yang kesusahan memakaikan dasinya.
"Makanya tumbuh ke atas, bukan ke samping," ucap Elvan tanpa mau menurut.
"Eh malah ngiklan," Vada langsung naik ke atas kasur, di tariknya kedua ujung dasi, membuat Elvan terpaksa maju mendekat.
"Gini kan enak," ucap Vada tersenyum dan mulai menyimpul dasi tersebut.
"Eh ya, ingat. Tadi tuan bilang nggak bisa tidur gara-gara aku, kenapa?"
"Itu karena..."
Vada menunggu jawabannya.
"Karena kau ngorok kencang sekali!" ucap Elvan jutek. Ia tak mungkin mengatakan karena Vada menyebut nama Mirza dalam tidurnya. Gengsi dong.
"Eh iya kah? Masa sih aku ngorok? Tuan bohong kan?" Vada menyusul Elvan yang sudah berjalan untuk keluar.
"Beneran aku ngorok tuan? Kayaknya enggak deh, tapi nggk tahu juga, aku kan bukan ikan, jadi aku tidur,"
Elvan tak menggubris ocehan Vada, ia terus berjalan menuju meja makan.
"Ya ampun Vada, lengkap sudah kejelekanmu, ken tut sembarangan, tidur ngorok pula. Ya ampun memalukan. Ilfil pasti dia kalau dia laki-laki normal. Eh tapi dia tetap nyosor, nggak normal dong berarti, hihihi," Vada cekikikan sendiri tanpa sadar Elvan yang menunggu untuk di layani sedang menatapnya tajam.
Melihat Vada terkekeh lepas seperti itu, membuat Elvan senang tanpa alasan. Tanpa sadar, ia mengngkat sedikit sudut bibirnya.
Namun, senyumnya langsung sirna, begitu ingat Zoya.
"Ehem!" Elvan berdehem. Membuat Vada berjengit, senang sekali buat orang jantungan, pikir Vada yang langsung mencebik.
"Apa yang kau tertawakan?"
__ADS_1
"Situ... Eh?" Vada langsung menutup mulutnya yang keceplosan.
š¤š¤š¤