
Mendengar suara yang tak asing tersebut, Vada menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke sumber suara.
"Aku ingin bicara sama kamu, berdua," ucap Mirza.
"Aku rasa semuanya sudah jelas mas, nggak ada lagi yang perlu di bicarakan," ucap Vada tegas.
"Ada, ada banyak hal yang masih perlu kita bicarakan, Vada. Aku belum mengatakan kalau aku mau putus sama kamu," sergah Mirza.
Vada menghela napasnya berat, "Mau atau tidak, kita tetap harus berakhir mas. Tolong ngertiin aku, aku bukan lagi Vada yang dulu, aku bukan lagi Vada yang bebas, aku udah nikah mas," ucapnya.
"Justru karena itu aku ingin bicara sama kamu. Aku tahu kamu terpaksa menikah dengannya kan? Kamu tidak menginginkan pernikahan kalian bukan?"
Deg! Dari mana Mirza tahu soal hal itu. Vada tak menyanggah ucapan Mirza, namun ia juga tak bisa mengiyakannya. Karena nyatanya sekarang ia mulai nyaman dengan Elvan.
" Aku rasa, sekarang apapun yang terjadi sama aku, sudah tidak lagi menjadi urusan mas Mirza. Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, sebaiknya Mas Mirza pergi dari sini!" dalam hati Vada terus meminta maaf kepada Mirza karena sudah bersikap angkuh dan berbicara dengan angkuh.
"Aku mohon mengerti dan pergilah mas, raihlah kebahagiaanmu yang lain. Jangan biarkan pengorbananku selama ini menjadi sia-sia," batin Vada penuh harap.
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kamu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. PErcaya lah sama aku Vada, aku bisa melakukan apapun buat kamu, bisa ngebahagiain kamu lebih dari pria itu,"
Mirza mencekal pergelangan tangan Vada tiba-tiba membuat wanita itu terkejut.
" Mas Mirza lepasin!" pinta Vada.
" Tidak, sebelum kamu mau bicara baik-baik sama aku, Vada. Apa salah mas, kenapa kamu melakukan ini semua? Apa yang sudah pria itu berikan yang tidak bisa mas kasih ke kamu?"
"Mas Mirza jangan seperti ini, tolong cobalah mengerti MAS. Aku hanya ingin kita semua hidup dengan tenang dan damai, apalagi mas Mirza dan suamiku adalah rekan bisnis. Jangan sampai karena aku bisnis mas Mirza hancur,"
"Aku nggak peduli Vada, aku nggak peduli soal kerja sama kami, asal kamu tetap sama aku. Mas tahu, kamu masih cinta kan sama mas?" kekeh Mirza.
__ADS_1
Vada mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Mirza, namun pria itu terlalu erat mencengkeram ya hingga Vada kesusahan.
" Mas lepasin! "
" Nggak, sebelum kamu jawab kalau kamu memang masih cinta sama aku, "
Vada menggeleng," Aku udah punya suami, punya kehidupan baru, tidak sepantasnya aku mengatakan cinta kepada pria lain," jawab ada tegas.
" Tapi aku masih cinta sama kamu, Vada. Dan akan terus begitu, ini nggak akan mudah untukku setelah semua yang kita lewati,"
"Kenapa mas Mirza jadi seperti ini? Mana mas Mirza yang Vada kenal dulu? Jangan seperti ini mas. Kita memang sudah tidak bisa bersama, itu kenyataannya. Tolong lepaskan!"
"Tapi...."
"Kalau mas Mirza memang cinta sama aku, aku mohon terimalah semua keputusan meski itu menyakitkan buat mas, aku minta maaf. Kalau mas benar-benar cinta sama aku buktikan. Buktikan dengan, merelakan aku bersamanya dan mas Mirza harus hidup dengan baik dan bahagia meski tidak denganku. Doakan aku semoga aku bahagia dengan suamiku, begitupun aku akan mendoakan kebahagiaan mas Mirza dengan yang lain. Cintai aku dengan cara seperti itu mas, sampai Mas Mirza benar-benar bisa melupakan dan menemukan yang lain," ucap Vada tulus.
Vada ingin memulai bersama dengan Elvan namun tidak dengan melihat Mirza menderita tentunya. Ia ingin semua damai dan baik-baik saja meski itu akan sangat sulit. Ia tak ingin Mirza terus terpuruk dalam patah hati.
"Berarti mas Mirza nggak benar-benar cinta sama aku," terpaksa Vada mengatakannya. Adahal ia tahu pria itu sangat tulus mencintainya sejak dulu.
Mendengarnya, Mirza langsung melepas cekalannya pada pergelangan tangan Vada.
Melihat wajah Mirza yang terlihat sangat terpukul membuat hati Vada merasa sakit.
"Aku melakukan ini untuk kita semua, termasuk demi kamu mas Mirza. Mengertilah," batinnya.
Terlalu serius bicara, hingga keduanya tak menyadari jika Elvan kembali ke toko untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan. Karena buru-buru, Elvan tak menyadari adanya Mirza di sana. Ia langsung membuka pintu.
" Sayang, ponsel abang ketinggalan..." ucap Elvan seraya membuka pintu.
__ADS_1
Vada dan Mirza tentu sangat kaget dengan kedatangan Elvan. Pun Dengan Elvan yang terkejut, namun ia berhasil menyembunyikan keterkejutannya dengan bersikap biasa cenderung dingin seperti biasa. Ia berjalan mendekati Vada dan Mirza.
"Oh, rupanya ada tuan Mirza di sini," ucap Elvan dingin. Ia lalu menarik kepala Vada lalu mencium puncak kepala Vada seolah ingin menunjukkan kepemilikannya.
"Ponsel abang ketinggalan tadi," ucapnya yang langsung mengambil ponsel pintarnya di atas meja. Elvan menggenggam ponselnya sangat kuat untuk melupakan kekesalannya namun tetap berusaha untuk mengontrol diri.
Vada dan Mirza masih mematung di tempatnya, seolah mereka tertangkap basah sedang selingkuh padahal tidak.
"Apa tuan Mirza ada urusan dengan istri saya secara pribadi, atau urusan untuk membeli bunga?" tanya Elvan penuh penekanan. Ia menarik pinggang Vada supaya lebih menempel dengannya. Ia tersenyum tipis saat menoleh kepada sang istri dan kembali mencium puncak kepala wanita itu. Vada bisa melihat jelas jika suaminya sedang menahan kesal. Senyuman yang biasa Vada lihat manis, kini terasa menakutkan, ia jadi merinding sendiri.
"Om, lama amat sih!" belum Mirza menjawab pertanyaan, suara cemprengmu Helena sudah memenuhi ruangan. Gadis itu berjalan masuk dengan langkah melompat-lompat riang mendekati Mirza.
"Lama banget sih, om. Katanya mau beli bunga buat aku, pilihnya kelamaan ih, bingung ya mau kasih aku bunga apa?" Helena menyusupkan tangannya ke lengan Mirza dan menggandenganya erat.
Ketiga orang itu langsung terdiam, tak bisa berkata-kata. Terutama Mirza yang mendadak menjadi Gagap. Kenapa bocah bau kencur itu bisa muncul tiba-tiba dengan sok menjadi pahlawan kesiangan. Mending kalau seorang wanita dewasa, lah ini masih bocil.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Mirza.
"Aku bosan om nunggu di mobilnya. Mending aku pilih sendiri aja ya bunganya," celoteh Helena. Mrza serasa kehabisan kata-kata untuk gadis itu.
Helena tersenyum manis menatap sepasang suami istri di depannya yang kini sedang menatapnya aneh tersebut smbil mengangguk sopan.
"Maaf ya kak, om. Aku boleh pilih bunganya sendiri kan?" ijin ya kepada Vada dan Elvan. Yang di balas anggukan oleh Vada yang masih bingung dengan keadaan.
"Terima kasih kak," sahut Helena riang. Ia lalu menarik tangan Mirza supaya mengikutinya. Namun sebelumnya ia berisik kepada Vada, "Suami kakak ganteng banget, om Mirzanya buat aku aja ya kak?" bisiknya. Saat di dalam mobil Mirza, Helena sempat membaca kartu nama pria itu. Vada auto semakin melongo. Ia menatap suaminya yang tetap terlihat datar namun terlihat menahan senyum karena di puji Helena. Membuat kadar kepercayaan dirinya untuk bersaing dengan Mirza sedikit meningkat.
Mirza benar-benar kesal dengan Helena, namun ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini selain mengikuti langkah gadis bau kencur itu sambil otaknya terus bekerja berpikir kenapa malah jadi begini. Ia menoleh keada Vada namun langkah kakinya tetap berjalan mengikuti Helena.
" Wah bunganya bagus-bagus! Aku mau mawar yang merah tanda cinta tapi nggak mau cuma satu, maunya di buat buket yang bagus!" seru Helena.
__ADS_1
"Apa sih, lepaskan!" gumam Mirza kesal dengan tingkah gadis itu yang terus menggandenganya posesif.
"Sssstt, diam. Harusnya om terima kasih sama aku karena aku sudah bantuin om," bisik Helena.