Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 85


__ADS_3

Elvan masuk ke dalam kamar, ia mendaati sang istri sedang duduk bersandar di ranjang sambil membalas chat dari seseorang.


"Abang bawa apa?" tanya Vada begitu melihat suaminya masuk dengan nampan di tangannya.


Elvan berjalan mendekat lalu duduk di depan Vada, wanita itu langsung menaruh ponselnya dan mengubah posisi duduknya bersila.


"Makanlah, lalu minum obat biar cepat sembuh," ucap Elvan. Ia mengambil mangkuk berisi bubur dan meletakkan nampanya di atas nakas.


"Abang nggka tahu gimana rasanya, semoga tidak mengecewakan," ucap Elvan yang tak percaya diri dengan hasil masakannya. Karena jujur, ia melihatnya saja enggan untuk mencicipi karena tadi bubur itu menempel di pan tat panci alias sedikit gosong.


"Abang buat sendiri?" tanya Vada dan di jawab anggukan oleh suaminya yang sedang menyendok bubur buatannya.


"Aku jadi nggak sabar, enasaran gimana rasanya masakan abang," Vada tersenyum senang, ternyata suaminya rela menurunkan gengsinya berkutat di dapur demi dirinya.


Vada tak sabar menyambut suapan sang suami. Ekspresi wajahnya sedikit berubah saat bubur itu masuk ke dalam mulutnya. Terlalu dan bau asap karena gosong.


Elvan mengernyit melihat perubahan ekspresi sang istri," Aku akan pesanan makanan yang lain untukmu," ucapnya.


"Enggak usah, kenapa mesti pesan? Ini aja, enak kok," Vada langsung mengubah air mukanya tersenyum smbil mengunyah bubur tersebut, berpura-pura menikmatinya demi melegakan hati sang suami.


"Ayo, suapi lagi!" Vada sudah membuka mukutnya kembali bersiap menerima suapan Elvan. Namun, pria itu justru menarik mangkuknya dan menjauhkan dari depan Vada, "Jangan di paksakan," ujarnya.


"Nggak terpaksa, abang. Sini ih, kalau nggak mau nyiapin. Aku makan sendiri aja!" Vada merebut mangkuk dari tangan Elvan. Namun dengan cepat pria ia merebutnya kembali.


"Kamu yakin?" tanya Elvan dan di jawab anggukan oleh Vada.


Dengan terpaksa Elvan kembali menyuapi Vada. Meski susah payah makan bubur keasinan dan sangit tersebut, Vada tetap berusaha bersikap biasa saja bahkan sesekali tersenyum.

__ADS_1


Elvan yang penasaran dengan rasa hasil masakannya karena sang istri terlihat begitu menikmatinya ingin mencoba mencicipinya. Apa iya memang sejenak itu, atau hanya akting demi menyenangkan hatinya.


"Abang jangan makan!" Sergah Vada dengan cepat saat bubur itu tinggal sedikit lagi masuk ke dalam mulut Elvan.


Elvan lngsung menatapnya curiga.


"Enak aja mau di makan, ini kan jatah aku, abang masak buat aku bukan buat abang sendiri kan? Abang pesan makanan aja, ya. Ini buat aku semua, enak aku suka!" Vada memegang Tangan Elvan dan menuntunnya supaya menyuapkannya ke mulutnya.


Elvan hanya mengembuskan napasnya pelan. Ia tahu pasti istrinya melakukannya karena bubur ya tidak enak. Vada tak ingin melihatnya merasa bersalah.


Akhirnya dengan penuh perjuangan dan kepura-puraan, Vada menghabiskan bubur itu tanpa sisa bahkan ia sampai bersendawa karena kenyang. Elvan mengacak rambutnya gemas melihat sang istri yang tidak ada jaimnya sama sekali. Kalau perempuan lain pasti akan malu-malu bersendawa di depan pasangan mereka.


Elvan meletakkan mangkuk yang suda kosong ke atas nampan. Ia kemudian mengambil obat untuk Vada.


"Aku udah sembuh, udah enggak kenapa-kenapa, harus banget ya minum obat lagi?" keluh Vada yang sebenarnya paling anti sama yang namanya obat.


Elvan tak menyahut, jika di debat maka akan menjadi panjang, lebih baik ia menyiapkan obatnya dan langsung menyuapkannya ke mulut Vada. " Buka mulutnya!" titah Elvan.


"Sayang, buka!" Elvan terpaksa memencet kedua pipi Vada sehingga bibir wanita itu sedikit terbuka.elvan langsung memasukkan obatnya ke dalam mulut Vada lalu melepas tangannya dari pipi istrinya tersebut dan segera menyodorkan air putih.


Dengan wajah cemberut, Vada menerima gelas Dari Elvan dan meminumnya.


"Sakit abang, jahat banget pipi aku di gencet begitu," Vada mendengus sebal.


"Habisnya nggk di rumah nggak di rumah sakit selalu ngedrama dulu kalau minum obat," Elvan mengelus-elus pipi Vada yang memerah karena ulah tangannya tadi.


"Sakit ya?"

__ADS_1


"Sakitlah, masa enggak.Mana pahit lagi obatnya keburu ambyar di mulut sebelum di kasih air," keluh Vada mirip anak kecil.


"Sini, abang kasih penawarnya," Elvan langsung melu mat bibir Vada. Ia memasukkan lidahnya ke mulut Vada untuk mencari lidah sang istri lalu menyesapnya lembut. Dan yang pelan dan lembut seperti itu selalu berhasil membuat tubuh Vada meremang.


"Udah nggak pahit kan?" Elvan mengusap bibir Vada yang basah menggunakan ibu jarinya.


Vada tersenyum seraya mengangguk. Ia menoleh ke ponselnya yang bergetar. Di ambilnya ponsel tersebut.


"Mas Mirza yang chat, tanya apa aku sudah pulang. Dia lagi di rumah sakit," ucap Vada jujur. Suaminya itu hanya diam tak menanggapinya.


Vada kembali membaca pesan masuk lalu menatap suaminya, "Boleh nggak dia ke sini?" tanyanya.


"Tidak!" Elvan merebut ponsel Vada dan ia yang membalas pesan dari Mirza dengan mengatakan jika istrinya sedang tidur butuh istirahat.


Elvan melihat raut kecewa di wajah sang istri, tapi ia tak peduli, "Kau butuh istirahat yang banyak, dia akan mengerti," ucap Elvan lembut. Mencoba menekan segala kecemburuan yang ada.


"Ya sudah, kalau gitu boleh pinjam laptop abang?"


"Buat?"


"Mau nonton drama aja. Abng temenin ya? Aku gabut nggak boleh ini itu sama abang, jadi bosan!" ucap wanita itu tersenyum.


Elvan segera mengambil laptopnya dan kembali ke ranjang. Ia mulai mencari drama yang ingin Vada tonton.


Vada bersandar di dada Elvan sambil menonton drama romantis komedi di layar laptop suaminya.


Mungkin karena efek obat yang tadi ia minum, tak sampai drama selesai Vada sudah terlelap di dada suaminya.

__ADS_1


Dengan hati-hati, Elvan mengambil laptop yang terletak di kakinya tersebut dan meletakkan di atas nakas. Kemudian, dengan perlahan ia membenarkan posisi tidur Vada.


Di tatapnya wajah sang istri yang terlihat begitu cantik lalu ia belai pelan, "Tidak bisa kah kau hanya menyimpan namaku di hatimu? Maaf jika aku egois dengan tidak melepasmu kembali ke dia," Elvan mengecup kening Vada dengan perasaan yang dalam.


__ADS_2