
Sudah hampir setengah jam Elvan menatap makam Zoya dalam Diam. Terlihat sekali dari raut wajahnya ia menyimpan luka dan kekecewaan sendiri.
"Apa dulu kau tak pernah bahagia denganku, Zoy?" Elvan bertanya dalam hati, tangannya menyentuh nisan bertuliskan nama mantan tunangannya tersebut.
"Apa kau tak bahagia bersamaku? Kenapa kamu melakukan itu, Zoy?" mata Elvan memerah di balik kaca mata hitamnya.
"Kau tahu, Zoy, karena keodohanku selama ini sampai aku menyiksa dan menyakiti perempuan lain dengan sengaja," Elvan kembali mengingat sikap buruknya selama ini terhadap Vada. Seorang gadis yang tidak tahu apa-apa, namun harus menanggung kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.
Entahlah, bagaimana ia harus bersikap. Marah dan memaki pun rasanya percuma, Zoya kini telah tiada. Rasanya tak etis jika ia harus menghakimi orang yang telah tiada. Elvan hanya bisa menelan rasa sakit dan kecewanya sendiri.
Tetapi, jika boleh jujur, Elvan sedikit mensyukuri kebodohannya selama ini atas perselingkuhan Zoya dan Dimas. Karena kebodohannya itulah, ia pada akhirnya bertemu dengan Vada. Meski memang bukan dengan awal yang baik bahkan sangat buruk dan tak pantas untuk diingat.
"Tuan, hari sudah mulai sore. Sebaiknya kita pulang sekarang," ucap asisten Rio yang baru saja mendekat.
Elvan melihat jam tangannya, benar sudah lebih dari setengah jam ia berada di sana, meninggalkan Vada yang sedang tidur.
Elvan beranjak dari makam Zoya. Sebelumnya ia kembali mengusap nisannya, mungkin ini akan menjadi kali terakhir ia datang ke sana.
Sepanjang perjalanan ke apartemen, Elvan lebih banyak diam. Asisten Rio tak berani mengajaknya bicara. Ia tahu, tuan mudanya kini sedang bergejolak hatinya.
"Kau langsung pulang saja, yo. Aku sedang tak ingin membahas apapun sekarang," ucap Elvan begitu mereka sampai apartemen.
"Baik, tuan muda, saya permisi!" asisten Rio menganggukkan kepalanya lalu pamit tanpa turun dari mobilnya. Padahal tadi dia datang ke apartemen untuk membicarakan pekerjaan dengan bosnya tersebut, namun baru sampai di apartemen, ternyata Elvan hendak pergi ke makam Zoya sehingga mau tidak mau Asisten Rio mengikutinya.
Di lobby apartemen, Elvan menghentikan langkahnya saat melihat Mirza duduk di sofa. Pria itu berdiri saat melihat Elvan datang.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Elvan langsung tanpa basa-basi. Ia dan Mirza kini sudah berada di sebuh cafe yang tak jauh dari apartemen.
__ADS_1
"Soal Vada," jawab Mirza. Elvan langsung menatapnya tajam.
"Apa lagi yang ingin kamu katakan? Bukankah semua sudah jelas?" tanya Elvan.
"Selama ini aku hanya diam. Tapi, sekarang aku ingin bicara serius soal Vada dengan kamu," sahut Mirza. Karena tak ada hubungannya dengan bisnis, bahasa mereka pun tak formal saat bicara.
Elvan diam, menunggu Mirza melanjutkan bicaranya.
"Lepaskan Vada, kembalikan dia padaku!" ucap Mirza. Meskipun ia ragu soal perasaan Vada untuknya karena dia tak lagi bisa melihat ada cinta untuknya di mata wanita itu.
"Ck, kau bercanda," sahut Elvan berdecak.
"Aku serius, bukankah pernikahan kalian karena terpaksa? Kau menjebaknya, dan itu tak adil untuknya. Dia tidak mencintaimu, Van. Aku pria yang Vada cintai," ucap Mirza membohongi dirinya sendiri. Padahal ia jelas melihat betapa wanita itu rela mati hanya demi pria yang kini sedang duduk di depannya ini.
Selama ini Mirza belum berusaha mempertahankan Vada maksimal, ia tak peduli jika wanita itu kini tak lagi mencintainya. Asal Vada kembali ke dalam pelukannya, ia akan membuat Vada kembali mencintainya seperti dulu. Ia yakin, tidak akan sulit untuk membuat Vada jatuh cinta lagi dengannya. Daripada harus menderita hidup bersama Elvan, yang Mirza tahu seperti apa orangnya, ia rasanya masih belum bisa ikhlas.
"Ceraikan Vada, dan aku tidk peduli jika kerja sama perusahaan kita batal," ucap Mirza lagi. Membuat Elvan semakin mengenal kuat demi menahan amarahnya.
"Kau yakin setelah aku melepaskan Vada dia akan kembali padamu?" tanya Elvan. Bukankah Vada rela melakukan apapun demi Mirza? Demi perusahaan pria itu? Dan bahkan wanita utu bertahan sampi detik ini juga karena pria menyebalkan di depannya ini.
"Kau yakin rela kerja sama kita batal dan melihat perusahaan yang susah payah orang tuamu bangun dari nol hancur begitu saja?"
Mirza diam, mungkin benar ia tak memikirkan bagaimana semuanya akn hancur jika laki-laki di depannya ini menjentikkan jari telunjuknya.
Elvan tersenyum sinis llu berdiri," Jika hanya itu yang ingin kau katakan, kau hanya membuang-buang waktuku karena aku tidak akan melepaskan Vada! Dan akan ku pastikan jika dia hanya mencintaiku!" ucapnya tegas kemudian pergi meninggalkan Elvan, rasanya ia sudah sangat lelah dengan semua yang akhir-akhir ini terjadi, dan semakin panas karena ucapan Mirza. .
Sampai di penthouse, Elvan langsung naik ke kamarnya. Ia melihat Vada masih terlelap. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
ššš
Vada melenguh seraya mengerjapkan kedua matanya. Entah beraa lama ia tidur hingga tanpa sadar hari sudh sore.
"Ya ampun. Itu obat ada obat tidurnya kali ya, kalau udah minum aku jadi keno banget tidurnya," Gumam Vada sambil merentangkan kedua tangannya di atas.
"Abang kemana ya?" gumamnya lagi, ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu turun dari tempat tidur.
Vada menoleh ke pintu kamar mandi, mungkin suaminya sedang mandi, pikirnya. Karena haus, Vada turun ke dapur untuk mengambil minum dan kembali lagi ke dalam kamar.
"Abang mandi nggak sih, kok lama banget?" gumamnya bertanya.
Menunggu beberapa saat, Vada tak kunjung melihat suaminya itu keluar dari kamar mandi.
Untuk memastikan Apakah Elvan ada di dalam kamar mandi atau tidak, Vada memutuskan untuk masuk ke dalam karena ini terlalu lama jika memang suaminya ada di dalam sedang mandi.
Vada membuka pintu kamar mandi yang tidak di kunci dari dalam tersebut, ia langsung tertegun begitu melihat Elvan yang masih dengan pakaian lengkap berdiri di bawah shower dengan tangan kiri bertumpu pada dinding.
Vada pasti kan jika suaminya sudah lama berada di bawah guyuran shower tersebut hingga seluruh pakaiannya basah kuyup. Vada menatap sendu punggung Elvan yang terlihat begitu rapuh saat ini. Vada spontan langsung menubruk tubuh Elvan. Memeluknya erat dari belakang tanpa bersuara.
Elvan terkejut saat ada tangan melingkar di perutnya. Ia tahu yang sedang memeluknya saat ini adalah istrinya.
"S-sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Elvan dengan nada bergetar.
"Abang kenapa? Kenapa seperti ini?" tanya Vada sedih dari balik punggung Elvan. Pria itu hendak memutar badannya tapi Vada mencegahnya, ia tahu jika suaminya paling tidak suka orang lain melihat kerapuhannya. Apalagi sampai melihat ia menitikkan air mata.
"Ada aku, abang tidak sendiri," ucap Vada. Elvan hanya menunduk, ia menyentuh tangan Vada yang melingkar di perutnya beberapa saat, hingga ia memutar badannya demi bisa memeluk sang istri.
__ADS_1
Elvan mendekap Vada sangat erat di bawah guyuran shower yang masih menyala, "Maafin abang! Maaf,"