
Elvan terus memeluk Vada erat dan mengucapkan kata maaf berulang kali.
Vada hanya bisa diam, tanganya terulur melingkar di pinggang Elvan, membalas pelukan pria tersebut.
"Berjanjilah kau akan tetap di sisiku, Berjanjilah!" ucap Elvan.
Jika kemarin alasannya menahan Vada tetap di sisinya adalah karena Zoya, kini alasan itu berubah menjadi cinta. Namun, Elvan tak pernah lupa akan sumpah yang pernah di ucapkan Vada waktu itu sehingga ia memilih untuk memendamnya hingga ia yakin jika wanita itu sudah benar-benar mencintainya. Yang terpenting baginya, Vada tetap berada di sampingnya apapun alasan wanita itu bertahan, Elvan tak peduli.
Vada memejamkan matanya, jika mengingat kejadian demi kejadian di waktu lampau, memang rasanya sulit untuk memaafkan sang suami.
"Aku janji, tidak akan meninggalkan abang, kecuali abang sendiri yang menginginkannya," ucap Vada.
Bodoh dan naif, mungkin dua kata itu pantas di tujukan untuk Vada saat ini. Bukankah ini kesempatan untuk lepas dari Elvan, pria yang sudah membuat hidupnya hancur dengan sengaja. Tapi, ia hanya berusaha mengikuti kata hatinya saat ini yang sama sekali tak ingin pergi dari suaminya tersebut. Ia tetap ingin berada di sisi pria yang kini sedang terlihat rapuh tersebut.
Mendengar ucapan Vada, Elvan semakin mengeratkan pelukannya, "Terima kasih, sayang," ucapnya.
"Iya, terima kasih ya terima kasih. Tapi, dingin abang, apa tidak bisa kita pelukannya nggak di bawah air begini, biarpun pelukan tetap saja dingin, takutnya nanti masuk angin," ucap Vada yang mulai menggigil karena mereka masih berada di bawah guyuran shower.
"Maaf!" Elvan langsung mematikan showernya lalu mengambil handuk untuk Vada.
"Lepaskan saja bajunya, basah," Vada tersenyum, ia menanggalkan satu persatu pakaiannya di depan Elvan dengan santainya. Tanpa memikirkan otak Elvan yang langsung on melihat pemandangan indah di depannya.
"Sini handuknya!" Vada mengulurkan tangannya untuk meminta handuk yang di pegang oleh Elvan. Namun, pria itu justru menarik tangannya sehingga tubuhnya masuk dalam dekapan pria itu.
"Jangan menggodaku. Meskipun aku lagi tidak baik-baik saja, tapi yang di dalam 'sarung' tetap sehat dan bringas," bisik Elvan tepat di telinga Vada. Membuat wajah wanitanya tersebut langsung merona.
"Abang mau? Aku kasih!" ucap Vada dengan wajah tersipu. Ia tahu suaminya itu sudah menahan hasratnya beberapa hari ini demi dirinya.
Elvan meraih dagu Vada supaya mendongak. Ia menundukkan kepalanya lalu mencium bibir Vada dengan lembut di bawah kucurn shower tentunya.
__ADS_1
"Tidak, kau masih sakit, belum benar-benar fit untuk abang goyang," ucap Elvan setelah ia melepas pagutannya.
Tiba-tiba, Elvan ingat dengan luka di punggung Vada yang belum sembuh sempurna dan kini terkena air. Ia memutar badan wanita itu menjadi membelakanginya demi memastikan lukanya baik-baik saja.
"Sakit?" Elvan mengusap pelan kain kasa yang menutupi bekas luka itu.
"Tidak," Vada menggeleng. Elvan memeluk Vada dari belakang sebentar lalu ia melingkarkan handuk ke tubuh Vada.
"Keluarlah dulu, nanti abang bantu ganti perbannya. Abang mau lepas baju, kalau kamu tetap disini dan kita sama-sama te lan jang, abang nggak kuat," ucap Elvan memegangi kedua bahu Vada. Wanita itu tersenyum dan mengangguk patuh.
Setelah memastikan Vada keluar, Elvan segera melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia menunduk, menatap sendu belut impornya yang menjulang. Elvan sedikit meringis, "Kau memang tak tahu situasi dan kondisi untuk bangun," gumamnya mengajak bicara belutnya sendiri. Ia kemudian menoleh ke sabun cair yang ada tak jauh darinya, sepertinya saat ini ia butuh bantuan sabun itu, pikirnya.
ššš
Saat keluar dari kamar mandi, Elvan yang memakai bath robe melihat Vada sedang mengeringkan rambutnya di depan cermin. Ia mendekat, "Kenapa belum pakai baju?" tanyanya menyentuh bahu Vada.
Vada meletakkan hair drier di meja rias lalu mendongak, "Bukankah abang mau bantu ganti perbannya, kan basah. Kalau pakai baju nanti sama saja harus di buka, kan?" ucapnya.
Setelah selesai, Elvan mengecup punggung Vada beberapa saat, "Maaf, ini semua gara-gara abang," ucapnya lalu menelusupkan tangannya hingga melingkar di perut wanita tersebut.
"Tidak ada yang perlu di maafkan. Abang suami aku, jadi udah seharusnya kita saling menjaga," ucap Vada, ia menyentuh pipi Elvan lembut.
"Abang harus bisa berdamai dengan masa lalu, marah pun percuma. Biarkan Zoya tenang di sana," ucap Vada.
Elvan diam tak menyahut, "Abang akan ambilkan baju buat kamu," ia memilih beranjak dan mengambil pakaian untuk Vada.
Elvan keluar dari walk in closet membawa piyama untuk Vada, semenatar ia sendiri sudah memaki celana kolor panjang dan kaos berwarna putih gading.
Vada memakai piyamanya lalu berjalan mendekati pintu.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Elvan.
"Mau ke dapur, buat makan malam untuk abang," jawab Vada.
"Tidak perlu, abang sudah menyuruh Rio memesan makan malam, sini!" Elvan menepuk tempat kosong di sampingnya yang kini sedang duduk bersandar dengan kaki selonjor.
Vada patuh, ia naik ke ranjang, bersandar di dada suaminya tersebut lalu mereka mengobrol sebentar.
"Kamu nggak marah sama abang? Nggak mau hukum abang atas apa yang sudah terjadi?" Tanya Elvan. Seharusnya, Vada marah besar bahkan membencinya. Apa wanita itu memendamnya karena masih memikirkan keselamatan Mirza, pikir Elvan.
"Marah sudah pasti, dan ingin hukum abang tentunya, tapi kan aku lagi nggak fit, besok aja kalau aku udah benar-benar ada tenaga," sahut Vada penuh arti.
"Kau ingin memukulku sampai babak belur hingga butuh tenaga ekstra?" tanya Elvan. Tak masalah jika ia harus babak belur, asal bukan hatinya yang babak belur, pikirnya.
"Ya kayak selama ini abang selalu hukum akulah, apalagi,"Sahut Vada tersenyum malu.
Elvan menjauhkan wajahnya beberapa centi demi menatap ekspresi wajah sang istri, ia mengernyitakn Keningnya tak percaya dengan jawaban yang terlontar dari mulut Vada. Ia langsung menangkup wajah Vada dan menghujaninya dengan ciuman, "Terima kasih, sayang," ucapnya lalu menarik Vada ke dalam pelukannya.
Vada tersenyum, mereka kini sama-sama merasa damai dengan hati mereka sendiri. Tanpa peduli dengan perasaan satu sama lain, yang jelas komitmen sebagai suami istri menjadi landasan utama mereka untuk tetap bersama.
Biarlah semua mengalir apa adanya. Tanpa terasa Vada menitikkn air matanya, karena jujur sampai detik ini ia masih belum tahu akan perasaannya.
Dulu ia terlalu benci dengan pria yang kini berstatus sebagai suaminya tersebut, semua ia lakukan semata-mata demi Mirza dan juga tugasnya sebagai seorang istri. Karena terlalu benci, sampai ia kini bingung mengartikan perasaannya sendiri yang merasa benar-benar nyaman dan tak ingin pergi bahkan rela bertaruh nyawa demi pria dibagi dan menyebalkan itu.
Jika benci, bukankah seharusnya tak peduli, tapi dia justru lebih peduli daripada dengan nyawanya sendiri, terbukti tanpa pikir panjang ia berani pasang badan saat Elvan hendak di tembak. Lalu, apa namanya itu? Bukankah itu lebih dari cinta? Cinta mati? Vada merinding sendiri dengan pikirannya.
Tapi, Jika cinta, kenapa ia tak pernah merasa cemburu dengan suaminya ini? Bukankah cemburu tanda cinta? Dulu saja saat bersama Mirza ia rela jambak-jambakan dengan wanita lain yang terang-terangan mengatakan menyukai Mirza dan akan merebutnta. Ah, Vada jadi bingung sendiri sekarang.
"Kenapa?" Elvan mengernyit menatap sang istri yang geleng-geleng kepala sendiri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, apapun itu namanya yang jelas saat ini aku mau sama abang terus,"
Elvan semakin mengernyit, wanita ini sedang bicara apa, pikirnya. Tapi terlihat sangat menggemaskan, ia mencubit hidung Vada. Ia merubah posisi dengan meletakkan kepalanya di atas paha Vada, "Abang lelah," ucapnya seraya memejamkan kedua matanya.