
Sebulan lebih telah berlalu...
"Abang jangan tidur dulu, temani aku nonton dulu. Pokoknya nggak boleh tidur sebelum dramanya kelar!" rengek Vada sambil menggoyang-goyang tubuh sang suami yang hampir saja terlelap.
"Iya enggak, melek nih!" Elvan membuka matanya lebar-lebar, namun detik kemudian matanya kembali merem.
Bugh!
Sebuah bantal Vada timpukkan ke tubuh telanjang dada sang suami,"Kan merem lagi, janjinya tadi apa? Once more again tapi setelahnya abang mau nemenin aku nonton drakor!" sungut Vada.
Mendapat omelan dari sang istri, otomatis mata Elvan menjadi terbuka lebar, ia hanya bisa meringis, "Abang perhatiin kok akhir-akhir ini kamu jadi sensian banget sih?" ucap Elvan.
"Tahu ah! kalau mau tidur sana jauh-jauh. Jangan dekat-dekat!" ucap Vada jutek.
Elvan hanya bisa meringis, hanya perkara ia ketiduran sebentar istrinya itu kini malah mengomel tidak jelas. Entahlah kenapa akhir-akhir ini Istrinya tersebut gampang sekali marah. Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar marah lagi kalau sesuatu tidak sesuai keinginnnya. Bahkan kadang sudah sesuai pun masih di protes. Hal itu membuat Elvan bingung sendiri.
Elvan memeluk bantal yang baru saja Vada gunakan untuk menimpuknya, ia lalu berjalan menuju ke sofa.
"Ck, begitu ya, abang. Habis manis sepah di buang!" ucap Vada, Elvan menghentikan langkahnya lalu menoleh, dimana kini Vada sudah menatapnya tajam, "Apa sih?" tanyanya.
"Iya, habis abang minta once more once more terus mau ninggalin aku gitu aja, enak banget!"
Yassalaam, Elvan mengusap wajahnya kasar, "Kan tadi kamu yang nyuruh abang tidur di sofa," ucapnya.
"Ya sudah sana, kalau nggak mau nemenin!"
Elvan mengusap wajahnya kasar, nih cewek maunya apa sih, di turutin malah makin sewot, pikirnya.
Jika sudah begini, ia hanya perlu memasang wajah penuh rasa bersalahnya semanis mungkin di depan sang istri. Ia kembali merangkak naik ke ranjang.
"Sayang, ayolah. Maafin abang. Abang temenin kamu nonton, mau sampai pagi abang temenin,"
__ADS_1
"Nanti merem lagi, makanya kalau capek jangan once more baby mulu, kecapean kan jadinya. Cowok mah gitu, habis dapat jatah mesti langsung tepar duluan , nggak mikirin ceweknya," keluh Vada.
Elvan meringis, padahal tadi yang nempel-nempel duluan, yang mancing-mancing duluan istrinya. Ya, otomatis Elvan langsung on dan tidak bisa berhenti sebelum meledak berkali-kali.
Cewek mah emag gitu, dia yang mancing-mancing, eh dia yang merasa di paksa di kelonin.
"Janji deh, nggak merem lagi. Udah jangan cemberut lagi. Kamu tahu kan kalau abang tuh nggak cukup kalau cuma sekali, apalagi sekarang kamu tuh tambah, emmm, berisi makin seksi, makin liar lagi, abang suka," ucap Elvan.
"Jadi menurut abang aku gendut sekarang?"
"Enggak, cuma makin berisi aja. Makin hemmm," sahut Elvan. Harus hati-hati bicara dengn sang isteri yang akhir-akhir ini terlalu sensitif. Dan anehnya lagi, ada satu hal yang membuat Elvan merasa sedikit aneh. Vada harus menggigit bahunya, meskipun hanya sekali dalam sehari tapi harus.
" Ya iayalah tambah bengkak, gimana nggak coba. Tiap hari aku cuma di kurung di rumah, nggak boleh kerja lagi, kuliah juga dari rumah, udah macam tawanan aja. Kerjaannya makan mulu, makin suburlah aku, bang!" sindir Vada.
"Nggak apa-apa, abang suka begini. Tapi, serius abang lihat kamu agak beda, biasa juga makan banyak nggak tambah beratnya tetap cungkring, bahkan di ranjang pun kamu makin.... Hot!" balas Elvan yang mendapat cubitan mesra di pinggang.
"Yang itu ngak usah di bahas, malu aku,"
Dan alhasil, meski dengan mata yang sudah sangat lengket, susah melek ia tetap menemani Vada menonton drama. Tak mau sang isteri yang ngedrama dengan menuduhnya habis manis sepah di buang .
Namanya perempuan, bilangnya satu episode lagi terus udah, tapi ada akhirnya harus menonton sampai tamat. Jika tidak, katanya tidak akan bisa tidur nyenyak karena kepikiran. Dan hal itu berlaku pula untuk Vada. Ia masih belum mau berhenti sebelum drama yang ia tonton tamat.
Selesai menonton , entah pukul berapa, yang jelas ayam tetangga sudah berkokok, matahari bersiap menampakkan diri, Dengan tanpa merasa bersalah, Vada langsung meringkuk nyenyak di bawah ketiak sang suami.
Dampak dari bergadang semalam, membuat Elvan tidur bagaikan orang pingsan. Ponselnya entah tak terhitung lagi berapa kali berdering. Bahkan asisten Rio hampir membanting ponselnya karena kesal, pasalnya kini ia sedang berada di depan para investor penting untuk melakukan meeting penting. Tapi, bosnya malah masih asyik berselancar dalam alam mimpi.
Sekali lagi ponselnya bedering, dengan malas Elvan mengangkat panggilan dari asisten Rio.
"Tuan muda, tuan Abimanyu dan juga tuan Mahendra sudah berada di ruang meeting sejak setengah jam yang lalu. Apa tuan muda masih di jalan?" tanya Asisten Rio yang bersusah ayah menahn kesalnya, pasalnya dari tadi ia sudah kena amukan dua pria di depannya.
" Apa itu Tua Elvan? Katakan padanya, jika tidak serius mengurus perusahaan, kami akan dengan senang hati mencabut investasi kami! "
__ADS_1
Terdengar suara tuan Abimanyu yang sudah kesal.
Tanpa Rio menjelaskan, Elvan pasti sudah mendengar sendiri dan paham. Ia mendengus sebal, kalau bukan karena kedua pria yang sedang menunggunya itu adalah orang tua dan juga teman dari ayahnya, tentu saja Elvan tidak akan peduli dengan ancaman mereka.
"Tahan mereka setengah jam lagi, aku segera ke sana," ucap Elvan yang langsug memutus panggilan.
Elvan menoleh sang istri yang masih meringkuk di bawah selimut, "Gara-gara kau nyonya aku jadi terlambat," ia membelai pipi Vada sebelum akhirnya berjakan ke kamar mandi.
.
.
.
Vada menggeliat dari tidurnya. Ia meraba tempat di sampingnya dan ternyata kosong. Ia lalu membuka matanya, perasaan sebal tiba-tiba menghinggapinya. Akhir-akhir ini, ia mewajibkan sang suami berada di sampingnya saat ia membuka mata. Dan sekarang? Pria itu malah sudh pergi ke kantor tanpa pamit. Hanya selembar memo kecil yang Elvan tinggalkan untuknya. Mendadak Vada menjadi melow, ia bahkan menangis tanpa sebab.
"Ya ampun, aku kenapa sih. Kok jadi nyebelin begini, cuma nggak dapat morning kiss aja mewek, hiks!" Vada mengambil ponselnya dan menghubungi sang suami.
Elvan yang sedang meeting pun tak bisa langsung mengangkat panggilan sang istri yang terasa terus menerornya. Hingga akhirnya ia tak tahan lagi dan mengangkatnya di sela-sela meeting.
" Huaaa, abaaaang. Jahat banget sih!" tangis Vada seketika meledak.
Elvan mengernyit bingung.
"Jahat bagaimana?" tanyanya tak mengerti. Perasaan ia tak melakukan kejahatan apapun terhadap istrinya. Bahkan ia berangkat kerja pun dengan enaknya Vada masih nyenyak.
"Aku bangun abang udah nggak ada. Aku nggak dapat morning kiss! Abang jahat!" teriak Vada protes
Elvan melongo, pun dengan para penghuni ruangan tersebut saat ini yang serempak menatap kearahnya karena tanpa Elvan sadari, ponselnya ternyata di loud speaker.
š¼ š¼ š¼
__ADS_1