
Andra tengah dalam perjalann menuju tempat dimana ia janjian dengan calon kliennya. Di sampingnya duduk gadis kecil cantik yang sejak tafi asyik bernyanyi sendiri sembari memainkan boneka kesayangannya, Siapa lagi kalau bukan Kyara.
Sesekali Andra tersenyum dan mengusap rambut Kyara karena gemas dengan tingkah anak tersebut, "Sesayang ini aku sama Kya, Sa. Aku bahkn menganggapnya ankaku sendiri. Tapi kenapa kmu masih ragu untuk melangkah lebih jauh sama aku," gumam Andra dalam hati.
"Om papa kenapa, usyap-usyap kepala Kya? Ompapa sayang?" tanya Kyara polos.
"Iya, dong. Ompapa sayang banget sama Kyara. Kyara mau jadi anak ompapa nggak?" pancing Andra. Namun gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kok nggak mau?" tanya Andra lembut.
"Kata mama, papa Kya lagi kelja jauhhh, nanti kalau pulang, Kya jadi punya dua papa, aduh Kya pusying!!!" jawab Kyara memegangi kepalanya.
Andra tahu, Vada memang selalu bilang kepada Kyara kalau papanya sedang bekerja jauh setiap kali anak itu menanyakan perihal sang ayah. Dan setahu Andra, Vada dan suaminya memang sudah berpisah. Bahkan wanita itu datang sendirian ke negara asing dengan keadaan memprihatinkan. Dan selama kebih dri tiga tahun ini wanita itu berjuang mati-matian sendiri. Hal itu menguatkan spekulasinya jika Vada dan mantan suaninya memang sudah tak pernah ada hubungan lagi. Hanya saja, mungkin Vada belum siap mengatakan yang sebenarnya kepada Kyara.
"Emmm, kalau papa Kya nggak pulang, boleh ompapa jadi papa Kya?" tanya Andra.
Kyara tampak berpikir sejenak, "Boleh, ompapa baik, ompapa sayang, Kya syuka!" sahut Kyara ceria.
Andra kembali mengusap rambut Kyara, "Anak pintar!" ucapny gemas, "Nanti kalau ompapa lagi kerja, Kya duduk yang manis ya?" lanjutnya.
Kyara hanya menangguk, ia kembali asyik dengan boneka amiruguminya.
"Ompapa, mau pipis!" ucap Kyara.
"Mau pipis ya? Nggak bisa di tahan? Sebentar lagi sampai,"
Kyara menggeleng, "Mau pipis!" ucapnya.
Andra melihat jam di tangannya, sudah telat dari jam yang ia janjikan kepada kliennya. Padahal ini adalah proyek besar pertama yang di percayakan oleh ayahnya setelah dua tahun terakhir ia menduduki kurai dirut. Sebelumnya, ia hanya melanjutkan proyek-proyek yang sudah berjalan. Dn kali ini, ayahnya ingin Andra membuktikan kemampuannya sendiri.
"Ompapa, pipis. Kya ndak tahan!"
"Baiklah, kita ke toilet dulu, ya?" Andra memilih membelokkan mobilnya ke sebuah minimarket yang kebetulan ia lewati. Pria berusia dua puluh empat tahun itu segera turun dan menggendong Kyara.
.
.
.
__ADS_1
"Dia yang butuh kita, atau kita yang butuh! Hika, udah hampir sepuluh menit menunggu!" umpat Elvan, karena kliennya tak junjung datang. Baru kali ini i harus menunggu, biasanya ia yang di tunggu.
"Sebentar lagi, tuan muda. Mungkin jalanan macet, kita tunggu sebentar lagi," kata asisten Rio. Ia sudah mengantongi amanat dari tuan Adijaya jika kerja sama kali ini harus berhasil. Entah kenapa tuan besarnya itu begitu ngebet, padahal ini bukn oroyek yang besar bagi perusahaan raksasanya. Mungkin karena ini adalah anak dari temannya, pikir Asisten Rio tanpa curiga waktu di beri amanat.
"Gila! Harus menunggu berapa lama lagi, lagian nggak akan rugi kalau kerjasama ini batal! Cuma proyek kecil! Papa benar-benar! Cuma buang-buang waktu nyuruh aku ke sini!" umpat Elvan.
"Akan rugi besar jika kerja sama itu gagal, dan klin langsung pulang dengan tangan kosong!" asisten Rio ingat kata-kata tuan Adijaya. Padahal benar apa yang dikatakn oleh Elvan barusan. Tapi, tun besarnya mengatakan hal lain.
"Sebentar lagi tuan muda, pasti bekiau datang. Tadi beliau mengatakan sudha hampir sampai. Kita sudah jauh-jauh ke sini, setidaknya meski proyek kecil, kita tidak pulang dengan tangan kososng,"
"Aku nggak peduli!" Elvan bangkit dari duduknya. Jangankan seperempat jam, lim menit saja baginya klien sudah tidak niat bertemu denganya.
"Tuan muda..." asisten Rio berusaha mencegah. Jika pertemuan pertama gagal, sudah di pastikan tidak akan ada pertemuan kedua dan selanjutnya. Sialnya mnta tun besarnya terus ternhianh di kepalanya, "Ah sial!" batinnya.
"Terserah kalau kau mau menunggu, ku pergi!" saat balik badan, Elvan melihat seorang pemuda yang jauh kebih muda darinya membopong seorang gadis cilik datang mendekat.
"Tuan Elvan, maaf saya terlambat. Tadi anak saya kebelet pipis, jadi saya terpaksa mencari toilet dulu,"
Entah kenapa, Elvan lanhsunf terpaku melihat gadis cilik dalam gendongan Andra. Apalagi senyum ank itu, langsung mengingatkan dirinya kepada seseorang, tapi siapa? Elvan tak tahu, tapi ia merasa senyum itu tak asing baginya.
Tiba-tiba, boneka Kyara jatuh, reflek Elvan langsung berjongkok untuk mengambilnya. Kyara merosot dari gendongan Andra. Ia maju mendekati Elvan lalu meraih bonekanya dari tangan Elvan, "Makacih, uncle baik!" ucap Kyara tersenyum. Senyum yang menghipnotisnya.
Masih berjongkok dengan bertumpu satu kaki, Elvan menatap Kyara. Ada perasaan aneh di dadanya yang tak tahu kenapa, "Sama-sama," tangan Elvan bergerak begitu saja mengusap rambut Kyara.
Asisten Rio yang melihat ketidak profesionalan Andra karena datang membawa anak, langsung berkata, "Anda sudah datang terlambat, di tambah membawa anak, benar-benar tidak profesional, kita akan membicarakan bisnis, tuan. Tapi sepertinya Anda tidak berniat untuk bekerja sama dengan perusahaan kami," ucap Andra. Ia belum melihat wajah Kyara karena terhalang Elvan.
Jika tadi ia mati-matian menahan Elvan, kini ia mendukungnya jika ingin membatalkan kerja sama karena kliennya tak profesional sama sekali.
"Maafkan saya tuan, saya terpaksa mengajak anak saya, karena dia tidak ada yang menjaga. Saya tidak mungkin meninggalkannya sendiri,"
"Lain kali, Anda harus lebih profeaional lagi tuan, sepertinya bos saya harus mempertimbangkan kembali kerja sama ini. Mari, tuan muda!" ajak Rio. Ia heran, sejak kedatangan Andra, tuan mudanya justru seperti mati kutu. Jika di lihat dari sifatnya, seharusnya tuan mudanya itu marah dan langsung pergi, masa bodoh dengan kerjasma. Eh, ini kok malah dia yang emosi sementara tuan mudaya diam-diam saja, pikirnya.
Elvan mengangkat tangannya memberi isyart kepada Rio untuk diam. Pria itu langsung mengatup, benar-benar aneh, pikirnya.
"Silahkan duduk, tuan!" ucap Elvan kemudian, mempersilakan Andra untuk duduk.
Tentu saja hal itu membuat asisten Rio syok, ada apa gerangan dengan tuan mudanya. Dan ia lebih syok lagi ketika melihat wajah Kyara yang di duduknya di samping Andra. Tapi apa yang membuatnya syok, ia masih bingung. Hanya saja, melihat Kyara, ia seperti meliht seseorang yang sangat ia kenal.
"Panggil saya Andra saja, tuan. Tidak perlu terlalu formal," ucap Andra.
__ADS_1
"Baiklah, itu juga berlaku untukmu," sahut Elvan yang berarti ia tak ingin di panggil tuan oleh Andra.
"Kya anteng di sini, ya? Ompapa mu kerja dulu, Kya duduk yang manis," ucap Andra pada Kyara.
"Baik, ompapa. Kya nulut, Mothy diam ya, ndak bole belisik. Om papa mau kelja, ndak boleh dandu! Ssst don't be noisy, oke?" celoteh Kyara kepada boneka yang ia berinama Mothy tersebut. Celotehan Kyara yang terlihat sekali ceria tak luput dari pandangan Elvan dan Rio.
Andra menatap heran dua pria di depannya yang seolah terpaku melihat Kyara.
" Ehem! Bisa kita mulai sekarang, tuan?" tanya Andra saat Elvan menatapny karena dehemannya.
"Temut-temut kecin, Kya mau tana, apatah tamu tidalah tatut...."
Tapi, yang namanya Kyara, si ceria dan ceriwis, tidak bisa untuk duduk diam dan anteng sesuai erintah Andra.
"Ssaat, Kya boleh diam sebentar, sayang? Ompapa nggk bisa kerja kalau Kya berisik, tuh unclenya jadi keganggu kalau Kya bicara terus, keras lahi bicaranya," ucap Andra. Dalam hati ia suda was-was, bisa-bisa gagal beneran kerja sama ini.
"Kya nggak bicara, Kya nani, ompapa!" Jawab Kyara.
"Emmm, boleh nyanyinya dalam hati aja?"
Kyara mengernyit, nyanyi dalam hati itu seperti apa, pikirnya.
"Masud ompapa, Kyara nyanyinya nati, ya? Klu ompapa sudah selesai bicara sama unclenya. Unclenya jadi nggak dengar kalau Kyara nyanyi, paham?" ucap Andra pelan.
Kyara memandang Elvan, pria itu dengan wajah datarnya menatap ke arahnya, "Maaf uncle hancem (handsom)," ucap Kyara seraya mengerjapkan matanya dan tersenyum.
Ah iya, selain senyum dan keceriannya, jangan lupakan , mata indah yang selalu berhasil menghipnotis Elvan milik Vada juga di warisi oleh Kyara. Benar-benar membuat Elvan terpaku dan dadanya berdesir.
Asisten Rio yang sejak tadi dia karen memikirkan sesuatu yang aneh, tapi belum menemukan apa yang ia pikirkan, pada akhirnya mendapat tugas untuk mengasuh Kyara selama meeting Elvan dan Andra berlangsung, demi kelancaran meeting tersebut.
Aneh, Elvan benar-benar merasa aneh dengan dirinya sendiri, ia yang biasnya sangat profesional dalam bekerja, kini tak mempermasalahkan kliennya yang meeting membawa anak.
Sesekali Elvan melirik ke arah Kyara yang bermain dengan ceria di bawah pengawasan asisten Rio. Saat gadis cilik itu berlari dan jatuh, ia reflek berdiri ingin menolong.
"Apa ada sesuatau, tuan Elvan?" tanya Andra. Ia tak melihat Kyara jatuh karena posisiny membelakangi kyara.
Elvan tak tahu harus mwnjawab apa, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya.
"Ah, tidak tuan Andra, kita lanjutkan," Elvan duduk kembali ketika melihat asisten Rio menolong Kyara. Ada perasaan lega saat Kyara tak menangis , tapi justru terlihat tetap ceria dan kembali asyik bermain.
__ADS_1
Asisten Rio yang sudah duduk kembali untuk mengawasi Kyara, melihat ke arah Elvan dan kembali ke Kyara. Hal itu ia lakukan berulang kali hingga membuat kesimpulan.
"Benar-benar mirip..." gumamnya.