
"Mbok mau pergi sekarang?" Tanya Elvan dengan guratan kesedihan di wajahnya. Vada mengerti sekarang, jika sedang sedih, suaminya itu akan bersemedi di ruang kerjanya. Pantas, sejak tadi sudah tak terlihat batang hidungnya, rupanya kerana mbok Darmi, pikir Vada.
"Iya tuan muda, simbok pamit," kata mbok Darmi menahan air matanya.
Elvan menghela napasnya dalam. Sebenarnya ia tak ingin mbok Darmi pergi. Selama ini hanya mbok Darmi yang selalu ada untuknya. Mbok Darmi yang sudah merawatnya hingga tumbuh menjadi seperti sekarang. Mbok Darmi adalah lebih dari sekedar pengasuh untuknya, wanita itu lebih seperti ibunya sendiri.
Jika di tanya keinginannya. Tentu saja ia ingin Mbok Darmi tetap berada di sisinya, menghabiskan masa tuanya bersamanya. Ia begitu menyayangi mbok Darmi layaknya ibu kandungnya sendiri.
Tapi, Elvan tak ingin egois terlalu lama dengan menahan mbok Darmi. Ia sadar, mbok Darmi juga memiliki keluarga yang membutuhkannya. Bukan hanya dia saja. Terbukti beberapa waktu lalu, anak mbok Darmi bahkan sampai memohon kepadanya untuk mengijinkan mbok Darmi pulang. Anak mbok Darmi juga ingin merawat ibunya. Dan mungkin memang inilah saatnya ia mewujudkan impian Mbok Darmi yang ingin berkumpul bersama keluarga besarnya di kampung halamannya di masa tuanya.
"Aku tidak bisa mengantar mbok ke Bandara. Ada pekerjaan penting pagi ini," dusta Elvan. Elvan tetaplah Elvan yang gengsi mengakui perasaannya, terutama rasa sedihnya. Ia bukannya tak ingin atau tak bisa mengantar mbok Darmi, tapi ia takut tidak bisa membiarkan mbok Darmi pergi.
" Tidak apa-apa tuan, " sahut mbok Darmi paham. Ia sendiri takut akan goyah dan urung untuk meninggalkan Elvan. Meninggalkan laki-laki itu rasanya seperti meninggalkan anak kandungnya sendiri, sedih dan berat tentunya. Tapi, inilah janjinya kepada keluarganya, jika saatnya tiba, ia akan pulang saat tuan mudanya menikah. Dan setelah memastikan jika Vada lah yang terbaik untuk Elvan, barulah dia mantab untuk pergi.
Elvan bahkan tak mau menatap mbok Darmi, ia lebih banyak menunduk demi menyembunyikan perasaannya.
"Sebelum simbok pergi, bolehkah simbok memeluk tuan muda?" tanya mbok Darmi.
Tanpa bicara, Elvan berdiri, ia mendekati mbok Darmi yang juga berdiri. Elvan langsung mendekap tubuh rentan tersebut. Erat, sangat erat, seperti seorang anak kecil yang tak ingin di tinggal ibunya. Namun, Elvan diam, ia tak bicara apapun.
Mbok Darmi tak kuasa menahan isaknya, ia ingat pertama kali datang ke rumah tersebut saat Elvan masih menjelma sebagai bayi yang merah. Bayi tampan yang langsung menyita perhatiannya. Mendampingi tumbuh kembang Elvan dari bayi hingga dewasa, mbok Darmi tahu betul betapa selama ini hidup di tengah keegoisan orang tuanya. Tak mudah bagi pria itu menjalani hidup sebagai pewaris dua perusahaan besar yang kini bergabung menjadi satu.
__ADS_1
Sebenarnya mbok Darmi tidak ingin pergi, tapi ia tetap harus memilih. Sudah terlalu lama ia meninggalkan keluarganya. Selam ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk Elvan.
"Tuan harus hidup dengan baik dan bahagia setelah ini. Simbok lega karena kini ada cah ayu yang akan mengurus tuan," kata Mbok Darmi menahan sesak di dadanya. Masih dalam pelukan Elvan. Entah kenapa ia yakin sekali jika Vada memang yang terbaik yang ditakdirkan untuk Elvan. Berbeda saat dulu Elvan bersama Zoya, sebetulnya mbok Darmi merasa Zoya bukan yang terbaik untuk Elvan, tapi ia tak berani mengatakannya kepada Elvan yang begitu mencintai dan memuja Zoya.
"Mbok jaga kesehatan. Jangan lupakan Elvan, terus beri kabar kepada Elvan. Jika mbok berubah pikiran ingin kembali ke sini atau anak-anak mbok tidak mengurus mbok dengan baik, langsung hubungi Elvan. Aku akan langsung menjemput simbok ke sana dan tidak akan pernah mengijinkan mbok untuk pulang lagi. Jadi, mbok juga harus hidup dengan baik dan lama," ucap Elvan yang semakin erat memeluk mbok Darmi seakan ia enggan melepaskannya.
" Pasti, simbok pasti akan hidup Dengan baik dan lama, simbok ingin lihat tuan muda memiliki anak dan cucu," kata mbok Darmi terisak.
Elvan bergeming, ia tak tahu harus menjawab apa."Jangan lupakan aku mbok," ucapnya kemudian.
"Tidak akan, tuan. Simbok tidak akan melupakan tuan muda. Mana mungkin simbok melupakan anak simbok," isak mbok Darmi semakin menjadi.
Mbok Darmi hanya bisa mengangguk pasrah. Sekarang saatnya ia meninggalkan mansion. Meninggalkan anak laki-laki yang dulu selalu di manjakannya. Inilah saatnya ia kembali keada keluarganya setelah sekian lama ia mengorbankan keluarganya demi mengurus Elvan.
"Simbok pamit, tuan muda," pamit mbok Darmi. Ia bergegas pergi, takut hatinya goyah jika melihat punggung tuan mudanya yang bergetar karena menahan sesak di dadanya.
Elvan bergeming, ia tak menyahut. Lidahnya terlalu kelu untuk mempersilakan Mbok Darmi pergi. Lagi-lagi ia harus rela ditinggalkan orang yang ia sayangi setelah kedua orang tuanya yang memilih menetap di luar negeri, kematian tunangannya dan kini mbok Darmi.
Vada yang masih berdiri di depan pintu, tak kuasa untuk tidak menitikkan air matanya.
"Aku antar, mbok!" ucapnya saat mbok Darmi sampai di depannya.
__ADS_1
Mbok Darmi mengangguk. Vada menatap sendu punggung suaminya yang tetap bergeming. Lalu memapah mbok Darmi keluar.
Di luar, rupanya asisten Rio sudah menunggu. Koper-koper mbok Darmi sudah di masukkan ke bagasi.
"Saya akan mengantarkan mbok Darmi sampai kampung halamannya, memastikan simbok sampai dengan selamat, sesuai perintah tuan muda," kata asisten Rio yang sejak subuh tadi sudah di wanti-wanti oleh bosnya.
Mbok Darmi menoleh, lalu memeluk Vada, "Tidak usah mengantar simbok ke Bandara. Sudah ada Rio. Kamu segeralah masuk dan lihat tuan muda," ucap mbok Darmi. Ia sangat mengkhawatirkan Elvan.
"Baiklah, mbok hati-hati ya? Kalau sudah sampai kabari Vada," ucap Vada seraya mengurai pelukan mereka.
Mbok Darmi mengangguk, "Titip tuan muda," ucapnya sekali lagi. Vada mengangguk, "Pasti," ucapnya.
"Di usahakan tapi nggak bisa janji untuk sekarang," sambung Vada dalam hati.
Mbok Darmi segera masuk ek dalam mobil. Asisten Rio menatap Vada lalu sedikit membungkuk hormat, "Saya permisi, nona!" ucapnya.
Vada acuh, ia justru melengos dengan gaya sok cantik. Ia masih kesal soal nomor ponsel waktu itu. Ingin sekali ia membalasnya, mengomeli asisten suaminya tersebut karena berani mengerjainya. tapi di rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Terpaksa ia pending dulu kekesalannya.
"Pait Pait Pait, hush pergi sana!" ucapnya mengibaskan tangan di udara. Yang mana membuat asisten Rio langsung mengatup. Ia di samakan dengan tawon, pikirnya.
š¤š¤š¤
__ADS_1