
Entah berapa lama Elvan dan Vada menumoahkan segaka kerinduan mereka dalam ciuman tersebut hingga tanpa mereka sadari apa yang mereka lakukan itu terekam oleh Kyara yang terbangun dari tidurnya karena ia belum minum susuk sebelum tidur tadi.
Anak itu tak tahu apa yang sedang orang tuanya lakukan karena posisi Elvan yang mengukung tubuh Vada di tembok. Yang Kyara tahu, kedu orng tuanya sedang bertengkar karena terdengan suara lenguhan kecil dari ibunya. Dan Kyara yang polos mengira ibunya kesakitan.
"Mamaaa...." panggil Kyara.
Elvan dan Vada yang masih asyik menikmati bibir masing-masing pun langsung menghentikan aktivitas saling saling memagut mereka. Mata keduanya langsung melotot saling menatap lalu menelan salivanya dengan kasar.
"Kyara?" guma Keduanya yang tersentak. Elvan menoleh, oun dengan Vada yang memiringkan kepalanya demi melihat sang putri karena pandanganya yang kalah tinggi dari Elvan terhalang dada pria itu.
"Mamaaaa...," ulang Kyara, "Uncle jangan belantem, jangan belmusyuhan, Kya ndak syuka...." ucapnya, matanya sudah memerh dengan bibir bergetar siap menangis.
Mendengarnya, Elvan dan Vada kembaki saling menatap satu sama lain. Elvan lalu melihat kedu tangannya yang masih berada di atas bahu Vada, langsung ia angkat.
" Anakku?" Elvan menatap Vada dan wanita itu mengngguk. Mata Elvan langsung berkaca-kaca. Tanpa meminta persetujuan Vada, ia berjalan mendekati putrinya tersebut yang berdiri di dekat sofa ruang tamu.
Di depan Kyara, Elvan langsung berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Kyara.
"Uncle jangan mlah syama mama, Mama ndak nakal," ucap Kyara polos.
"Kyara mau uncke nggak marah?" tanya Elvan lembut. Anak itu mengangguk.
"Kalau begitu, panggil uncle daddy," pinta Elvan. Kyara menatap Vada yang saat ini sedang menatap suami dan anakya dengan mata berkaca-kaca tersebut untuk meminta persetujuannya.
Vada mengangguk, Kyara langsung tersenyum, "Daddy..." ucapnya.
Hati Elvan bergetar lali tiba-tiba menghangat saat mendengar panggilan itu, "Katakan sekali lagi..." pintanya lirih.
"Daddy, daddy daddy!" tak hanya sekali Kyara menyebutnya.
Tak bisa berkata-kata lagi, Elvan tak tahan untuk tidak memeluk Kyara, "Maafkan daddy, Kyara, anakku," gumam Elvan dengan berderai air mata. Yang mana membuat Kyara bingung namun tak memberontak saat Elvan semakin erat memeluknya.
Vada tak kuasa menahan air matanya melihat pemandangan tersebut. Ia menjadi merasa bersalah karena sekian thun menyembunyikan Kyara dari ayah kandungnya sendiri, meskipun ia melakukannya bukan tanpa sebab.
Perlahan Vada mendekati mereka. Elvan berdiri menggendong Kyara. Ia menyambut Vada dengan satu tangannya. Wanita itu langsung menyusup ke dalam pelukannya.
Elvan memeluk anak dan istrinya erat, ia mencium kedua wanita yang paling ia cibtai itu bergantian.
__ADS_1
Kyara menatap kedua orang tuanya yang menangis bergantian dengan raut kebingungan, "Kenapa klian menangis? Kya ndak jahat, Kya ndak nakal," ucapnya. Yang mana membuat Elvan dan Vada seketika tersenyum.
"Ya ampun, sayang. Maaf, karena cintaku untukmu harus ku bagi dengannya mulai sekarang. Aku jatuh cinta padanya sejk pandangan pertama," Elvan menciumi Kyara terus menerus hingga membuat anak itu menggeliat karena geli karena bulu-bulu halus di sekitar rahang Elvan.
" Aw geli uncle! Kyala kegelian, hahahaha," tawa Kyara meledak ketika Elvan justeu semakin menggunakan dagunya untuk menggoda Kyara.
Elvan menurunkan Kyara dan berjongkok, di sentuhnya kepala Kyara dengan lembut, "Mulai sekarang, Kya panggil uncle daddy, ya?" ucapnya penuh sayang.
Kyara tampak berpikir sebekum bertanya, "Kenapa? Uncle hancem mau jadi papa Kya?"
Elvan mengangguk, "Kya mau kan jadi anak daddy?" tanyanya.
Kyara tak langsung mengiyakan, ia mendongak meminta persetujuan Vada.
Vada ikut berjongkok, "Dengar mama, ya? Sebenarnya uncle ini adalah papa Kyara, jadi Kyara harus panggil dia daddy, bisa?" tanyanya hati-hati.
Mata Kyara mengerjap senang, "Daddy Kya? Benelan? Ndak bohong? Bohong dosya!" celotehnya.
"Nggak, sayang. Ini beneran Daddy Kyara," ucap Elvan.
"Waaah, Kyala syuka, Kyala syenang syekali. Daddy!" Kyara memeluk leher Elvan, "Daddy udah pulang kelja jauh? Benelan?" tanyanya kemudian.
"Aku selalu mengatakan kalau ayahnya sedang bekerja jauh, maaf," ucap Vada.
Bukan marah, elvan justru tersenyum, "Terima kasih karena kamu tetap menjaga nama baikuu di depn putri kita dengan tidak mengatakan yang sebenarnya, kalau ayahnya adalah seorang pria breng..."
Vada menggelengkan kepalanya agar Elvan tak meneruskan kalimatnya. Pria itu lngsung mengatupkan bibirnya, ia sadar hampir saja keceplosan mengucapkan kata yang tak pantas di dengar oleh Kyara yang tentu saja sedang menyimk ucapannya tersebut.
"Abang ayah terbaik," ucap Vada tegas. Membuat Elvan langsung tersenyum dan memberi wanuta itu bonus ciuman di kening. Hal itu tak luput dari pandangan Kyara yang terkekeh, "Abang habis kelja jauh, bawa duwit banak-banak?" tanyanya.
Elvan dan Vada langsung terkekeh mendengar Kyara ikut memanggil ayahnya abang, "Ah ya ampun, abang benar-benar di buat meleyot sama anak ini, sayang," kata Elvan memegang dadanya seraya tersenyum.
"Belum apa-apa, posisiku udah di geser aja," Protes Vada yang tentu saja cuma bercanda.
"Abang, mana duwit banak-banak?" tanya Kyara lagi. Bukannya jengkel, Elvan justru tergelak dengan celotehan putrinya.
"Sayang, panggil Daddy, bukan abang, oke?" tutur Vada.
__ADS_1
"Oce mama!" seru Kyara. Ia kembali menatap Elvan, "Daddy bawa uang banak-banak ndak?"
Vada menghela napasnya, akibat dia ya g selalu mengatakn jika ayahnya sedang bekerja sangat jauh utnuk mencari uang, kini yang di tanyakan oleh Kyara adalah hasil kerja ayahnya.
"Punya, daddy punya banyak," jawab Elvan. Ia menggendong Kyara dan memangkunya di sofa. Vada ikut duduk di samping pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut. Ia hanya bisa bersabar untuk menuntaskan rasa rindunya karena kini Elvan sedang di monopoli oleh sang putri.
"Benelan? Banak?" tanya Kyara.
Elvan mengangguk.
"Belapa?" Kyara menunjukkan semua jari tangannya, ingin menghitunya dengan jari jemarinya.
"Sangat banyak, nggak bisa di hitung pakai jari Kya,"
"Woooaaahh, daddy kaya laya!" seru Kyara Tanpa dosa.
"Tentu saja," sahut Elvan
"Abang..." peringat Vada. Elvan hanya tersenyum menanggapinya.
"Kya mau apa? Mainan?" tanya Elvan.
Kyara berpikir lalu menggeleng, "Kya mau beli duit buat mama, bial mama puna uang banak-banak juga. Mama kelja telus, kasyihan, capek," ungkapnya
Elvan memandang Vada, wanita itu hanya bisa diam.
"Baiklah, uang daddy juga uang Kya dan mama, jadi nanti mama nggk perlu kerja lagi," ucap Elvan.
"Benelan?" tanya Kyara, matanya langsung berbinar.
"Iya, sayang," ucap Elvan lembut.
"Kya sayang daddy banak-banak," Kyara menghujani Elvan dengan ciuman. Tapi, ia langsung berhenti ketika ingat pesan Vada untuk tidak sembarang mau dicium atau mencium orang. Ia melirik kepada ibunya takut-takut lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Elvan.
" Kenapa?" tanya Elvan.
"Mama malah kalau Kya genit," ucap Kyara tanpa mau mengangkat wajahnya dari dada Elvan.
__ADS_1
Hal itu tak pelak membuat Elvan tergelak. Sementara Vada juga ikut tersenyum melihat kelakun putrinya tersebut.