Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 71


__ADS_3

Helena terus berjalan kesana kemari untuk melihat-lihat bunga sambil terus menggandeng tangan Mirza dan menoleh dengan riangnya. Dan sialnya pria itu hanya bisa pasrah mengekorinya.


"Helly, sudahlah. Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang," kata Mirza. Namun gadis itu abai.


"Kalau akting tuh harus totalitas," ucapnya lirih seraya menoleh menatap om-om tampan kesayangannya tersebut.


"Kak, buatin aku buket dari bunga mawar merah itu ya. Buat yang cantik!" ucap Helena setelah ia selesai tour berkeliling melihat-lihat.


Meski merasa ini aneh dan lucu karena tiba-tiba ada seorang gadis remaja yang entah datangnya darimana itu, Vada tetap bersikap ramah dan melakukan apa yang gadis itu minta.


Mirza dan Elvan hanya saling diam sejak tadi. Mereka terlalu malas untuk bicara satu sama lain.


Mirza tak peduli dengan pikiran Elvan terhadapnya saat ini yang terus meliriknya sinis, yang ia pedulikan adalah penilaian Vada terhadapnya sekarang. Apakah wanita itu akan berpikir yang bukan-bukan. Akankah Vada berpikir jika gadis itu benar-benar cabe-cabeannya. Ah, memikirkan ya benar-benar membuat kepala Mirza serasa migrain saat itu juga.


Jika tak ada orang lain, terutama Elvan ingin sekali Mirza menjelaskan kepada Vada supaya wanita itu tak salah paham.


"Abang kalau ada pekerjaan penting, pergilah! Nggak apa-apa," ucap Vada Kepada Elvan. Tentu saja Elvan tak mau pergi selama Mirza masih berada di sana. Alih-alih pergi, ia justru duduk manis di Depan Vada.


"Nggak ada yang penting, masih ada waktu buat kamu," ucap Elvan.


"Ahhh, ya ampun om ganteng, sweet banget sih," seru Helena girang sambil mencubit-cubit lengan Mirza. Namun segera di tepi oleh Mirza.


Sesekali Vada melirik Mirza yang melihatnya dalam diam. Entah apa yang pria itu pikirkan saat ini, yang pasti Vada bertanya-tanya sebenarnya siapa gadis remaja ini, dan aa hubungannya Dengan Mirza. Namun ia pendam semua pertanyaan untuknya sendiri, ia tak ingin Mirza salah paham jika ia mempertanyakan soal Helena. Bisa-bisa Mirza berpikir jika Vada cemburu atau masih peduli dengannya.


"Tolong selotip!" Ucap Vada.


Dengan cepat, baik Elvan maupun Mirza mengambil selotip dan menyodorkannya kepada Vada secara bersamaan. Membuat Vada merasa canggung dan bingung selotip mana yang akan ia terima.


Demi kesejahteraan bersama, Vada akhirnya memilih menerima selotip yang di berikan oleh Elvan.


Dengan cepat, Helena mengambil selotip yang ada di tangan Mirza lalu memainkannya. Gadis itu cukup cepat tanggap dengan situasi.


"Om, duduk sana yuk sambil nunggu kak..."


"Vada, namaku Vada," ucap Vada.


"Ah iya, kak Vada. Aku Helena kak, tapi panggilan kesayangan om Mirza ke aku Helly, salam kenal. Aku sekolah di SMP yang nggak jauh dari sini. Tapi udah mau lulus sih, bentar lagi SMA. Salam kenal kak," celoteh gadis itu.

__ADS_1


"Helly? Bukannya itu nama anj... Aw!" belum Elvan selesai bicara, Vada sudah menendang kakinya.


Helena justru terkekeh melihatnya, "Iya, emang itu kayak nama guk guk, om ganteng, tapi nggak apa-apa, aku suka kok. Ih kalian beneran sweet banget sih, yuk om kita tunggu di sana aja. Di sini panas sekali hawanya, ACnya rusak kayaknya!" Helena menarik lengan Mirza untuk duduk di sofa.


"Sini sini, ngadem sama Helly kesayangan Om Mirza!" ucap gadis itu seraya menjatuhkan pan tatnya di sofa.


"Kok di tendang sih?" Protes Elvan lirih begitu Mirza dan Helena menjauh.


"Abang sih, itu masih abg, ntar kalau nangis gimana di katain gitu anak gadis orang?" ucap Vada berbisik. Ia heran, sekalinya suami beruang kutubnya itu mau jahil eh malah kepada seorang abg.


"Dia lebih mirip Beo daripada Helly," ucap Elvan datar. Yang mana membuat Vada langsung melirik ke arah Helena dan Mirza. Gadis itu memang terus mengoceh tak ada henti nya, sementara Mirza hanya diam dengan sesekali menghela napasnya panjang.


"Lihat abang, jangan lihat kesana!" Protes Elvan menarik dagu Vada supaya menghadap kepadanya.


"Kalau lihat abnga terus, ini kapan selesainya. Kerjaan aku tiap hari yang gini bang, buat buket bunga buat pacar orang, kapan sendirinya dpat buket bunga ya," ucap Vada ngelantur. Elvan hanya menatapnya lekat. Selama menjadi suami Vada, dia memang belum pernah melakukan hal romantis, memberi bunga misalnya.


"Abang sehat?" tanya Vada tiba-tiba. Ia merasa suaminya sedikit aneh. Tidak biasanya Elvan mau berkomentar soal orang lain.


"Maksudnya?"


"Cepat selesaikan, biar mereka cepat pergi," Ucap Elvan. Sebenarnya ia masih ada pekerjaan penting, terbukti dari ponselnya yang terus saja bergetar karena panggilan dari Asisten Rio. Namun, jika Mirza belum pergi dari sana, tentu ia juga tak akan pergi.


"Vada, yuhuuuuu! Ibu lupa mau ngasih tahu kamu kalau besok ada pesanan buket bunga dari...."


"Oh Wow, baru di tinggal numpang buang air di depan udah di apelin aja," ucap bu Sukma yang melihat Mirza. Pria itu berdiri untuk menyapa bu Sukma.


"Apa kabar bu Sukma?" sapa Mirza ramah. Tak lupa Helena ikut berdiri dan tersenyum manis.


"Oh kabar baik, lama nggak kelihatan kamu. Ini adiknya ya?" bu Sukma menunjuk Helena menggunakan dagunya. Namun, belum Helena mengklarifikasi statusnya, pandangan bu Sukma langsung tertuju ke sosok pria yang duduk di kursi kasir. Matanya langsung berbinar.


"Oh my god, Tu-tuan Adhitama," bu Sukma langsung mendekat.


"Ya ampun, Vada. Kenapa nggak bilang kalau ada Tuan Adhitama di sini, ya ampun tahu gini kan tadi aku harusnya ke salon dulu," ucap bu Sukma menoel lengan Vada.


"Hadeh, sia-sia diumpetin di toilet juga akhirnya ketahuan juga. Masalah mas Mirza sama Hellinya belum selesai, eh ini malah muncul biangnya," batin Vada, ia hanya bisa meringis kepada bu Sukma.


"Udah selesai belum sih, jangan biarkan tuan Adhitama menunggu terlalu lama, Vada. Astaga!, maaf ya tuan, pegawai saya ini memang kadang suka lemot, apalagi ditungguin pacarnya, pasti dia sok jaga image, jadi ya gitu deh," ucap bu Sukma yang mengira Vada sedang membuat buket bunga pesanan Elvan.

__ADS_1


Elvan megepalkan tangannya saat bu Sukma menyebut Mirza sebagai pacar istrinya.


" Nggak apa-apa di lamain juga. Biar tuan Adhitama lebih lama di sini," bisik BU Sukma kepada Vada.


"Dih, modus! Ganteng ya bu Suk? Gimana? Cocok ngak jadi suami aku?" ucap Vada berbisik namun di dengar oleh Elvan. Pria itu langsung menahan senyumnya.


"Dih, halumu ketinggian Vada, lihat tuh dia pesan bunga buat pacarnya, bukan buat kamu. Lagian ada pacarmu di sini kok ya berani mimpiin pria lain jadi suami.nggak boleh gitu. Lagian, Nggak mungkinlah Tuan Adhitama mau sama kamu, bakal aku adain dangdutan tujuh hari tujuh malam kalau itu terjadi, ingat itu. Udah syukur alhamdulillah si Mirza mau sama kamu, syukuri ajalah,"


Vada langsung menjeb," Itu terus yang di ucapkan, dangdutan tujuh hari tujuh malam. Benar ya dangdutan tujuh hari tujuh malam," tantang Vada.


Tak menjawab tantangan Vada, bu Sukma mengalihkan pandanganny Kepada Elvan.


"Tuan, perkenalkan saya adalah pemilik Sukma FLORIST. Benar-benar suatu kehormatan bagi saya bisa kedatangan pelanggan seperti tuan ini," bu Sukma mengulurkan tangannya setelah sebelumnya ia mengusap-usapkan tangannya di bajunya supaya lebih bersih.


Elvan hanya sedikit mengangguk dan tersenyum tipis membalasnya. Ia tak membalas ukuran tangan bu Sukma.


"Saya Elvan, suaminya Vada Laras Sabrina," ucap Elvan tegas dan jelas.


"Oh, suaminya Vada Laras Sabrina," ucap bu Sukma membeo tanpa sadar.


"Su-suami siapa tadi?" ucap bu Sukma, bercampur antara shock dan tak percaya begitu sadar ada yang aneh dengan ucapan Elvan.


"Ya, saya suaminya Vada," ulang Elvan.


Bu Sukma langsung melongo, ia melihat Mirza dan Elvan secara bergantian, "Itu pacarnya, ini suaminya..." gumamnya Shock. Bagaimana bisa Vada di keliling dua pria tampan dan kaya. Bahkan dua pria itu kini bersamaan mendatanginya. Dan yang membuatnya lebih shock lagi adalah Vada benar-benar memiliki suami Seorang Adhitama. Hal yang selama ini ia mustahilkan kini menjadi kenyataan.


"Laah kan beneran, malah pingsan!" ucap Vada santai ketika tubuh bu Sukma ambruk begitu saja, dengan cekatan ia menahan tubuh wanita berbadan gempal tersebut.


"Eh bantuin ini yang cowok, berat! Malah pada lihatin doang," seru Vada. Mau tidak mau Elvan dan Mirza mengambil alih bu Sukma, menggotongnya lalu menidurkannya di sofa.


"Nah gitu, yang akur om-om. Kalau kerja sama kan jadi ringan nggak berat. Bekerja samalah ke depannya dengan saling legowo. Om Mirza harus menerima kalau kak Vada memang bukan buat om, takdir om bisa aja kan seorang gadis yang sekarang masih kelas tiga SMP, masih piyik. Tapi tiga atau empat tahun lagi kan jadi gadis yang mekar. Kalau mangga mah mengkal istilahnya. Asal om rawat dan jaga dengan baik dari sekarang,"


Helena beralih menatap Elvan," Om ganteng juga, jagain kak Vadanya, jangan lengah! Awas tikungan sekarang tajam-tajam loh. Apalagi tikungan sepertiga malam, beuh dahsyat efeknya," ucapnya.


Apa sih ini bocah, pikir Vada, Mirza dan Elvan kompak. Orang lagi sibuk mencoba membangunkan bu Sukma yang pingsan, gadis bau kencur itu malah menghubungkannya dengan cinta segi tidak beraturan mereka. Kebanyakan makan micin kayaknya nih bocah, jadi mekar sebelum waktunya.


"Ya ampun, bu Suk! Bu Suk! Bangun! Bu Suk! Hadeh, Bu Suk!" Vada terus mengguncang-guncang tubuh Bu Sukma supaya bangun. Elvan, Mirza dan Helena menatapnya sambil berpikir apanya yang busuk.

__ADS_1


__ADS_2