Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 82


__ADS_3

Mirza yang langsung menyusul Helena masuk hanya bisa diam salah tingkah melihat ketegangan yang sedang terjadi antara Elvan dan Vada, antara kesal dan menahan malu tentunya. Berbeda Dengan Helena yang masih polos, gadis itu tampak biasa saja sambil tersenyum tanpa dosa.


"Ngap-ain kamu ke sini?" tanya Elvan masih dengan selimut menutupi bagian bawah tubuhnya.


Helena tak menjawab pertanyaan Elvan, "Awas om!" ia sedikit mendorong tubuh Elvan supaya memberi ruang untuknya yang langsung mendekati ranjang Vada.


"Kakak, syukurlah kakak nggak kenapa-kenapa. Aku kemarin yang lihat kakak di culik shock banget sampai nggak bisa tidur semalaman tahu nggaj. Untung pas dini hari tadi om Mirza mau angkat telepon aku dan bilang kalau kak Vada baik-baik aja, huhu maaf Kemarin Helen nggak bisa nolongin kakak," dengan penuh drama, Helena memeluk Vada yang hanya bisa tersenyum menanggapinya.


" Kakak katanya kena tembak ya? Ya ampun, gimana rasanya kak? Pasti kayak di film-film itu ya, menengangkan tapi seru! Coba aku di sana ya kemarin. Pasti feelnya dapat!" Helena menggeser kursi di samping ranjang Vada dan mendudukinya.


"Mas Mirza, makasih kemarin udah nolongin aku," Vada mengalihkan pandangannya kepada Mirza yang diam.


"Itu aku loh kak yang menghubungi om Mirza, soalnya mau telepon om kulkas nggak punya nomornya. Om, lain kali harus jagain kak Vada, awas aja kalu sampai di culik lagi," sela Helena cepat.


Vada langsung melihat ekspresi wajah suaminya yang semakin dingin karena di panggil om kulkas oleh Helena. Vada sekuat tenaga menahan supaya tidak tertawa.


" Makasih ya Helen. Sekali lagi terima kasih mas Mirza atas bantuannya," ucap Vada.


"Itu sudah jadi kewajibanku Vada, aku pernah berjanji akan selalu ada buat kamu saat kamu butuh bantuan," sahut Mirza.


"Ehem!" Elvan berdehem mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Mirza.


"Sekarang sudah ada suaminya yang akan selalu ada untuknya, tuan Mirza tidak usah khawatir," ucap Elvan tak mau kalah buat unjuk diri.


Suasana menjadi tegang, namun Helena selalu memiliki cara untuk mencairkan suasana. Ia terus mengajak Vada bicara dengan menanyakan ini itu kepadanya.


"Ih, om kulkas! Siniin selimutnya. Yang sakit siapa yang selimutan siapa. Kasihan kan kak Vada," Helena hendak menarik selimut yang masih Elvan gunakan untuk menutupi bagian resletingnya yang belum di naikkan. Pria itu malah lupa dengan belut impornya yang masih terjaga menjulang tinggi.


Vada langsung was-was melihatnya. Pun dengan Mirza yang paham situasi.


"Jangan macam-macam kamu!" Elvan langsung menepis Tangan Helena demi mempertahankan selimutnya.

__ADS_1


"Ih kenapa sih?"


Elvan tak menggubris pertanyaan Helena, ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengamankan aset masa depan paling berharganya tersebut.


"Suami kakak aneh!" Helena menggelengkan kepalanya. Ia kembali duduk di samping ranjang Vada.


"Dua-duanya aneh ya. Mantan sama suami kakak. Yang satu tukang marah. Dingin kayak kulkas dua puluh pintu, yang satu tukang ngintip," sambung Helena cepat.


Vada langsung mengernyit tak mengerti, mengintip? Siapa yang mengintip.


"Iya, om Mirza tuh tadi nggak berani masuk, kak. Dia cuma diam aja ngintip dari luar. Kalau aku nggak dateng sampai sekarng palingan udah bintitan itu mata kelamaan ngintip. Takut kali sama suami kakak, takut jadi es batu kan suami kakak kulkas dua puluh pintu, hihi,"


Blush!


Baik Vada maupun Mirza sama-sama merah wajahnya menahan malu. Yang satu malu karena diam-diam ada yang mengintip aktivitas pribadinya. Sementara Mirz malu karen ketahuan mengintip.


"Jangan dengarkan dia, suka ngawur kalau ngomong," ucap Mirza.


"Kamu nggak sekolah?" Vada langsung memotong kalimat Helena sebelum jadi makin panjang. Bukan hanya Mirza yang akan semakin Malu, tapi dirinya juga yang pasti.


"Nggak ah. Aku kesiangan bangun tadi, gara-gara om Mirza ngajakin teleponan sampai subuh tadi," jawab Helena santai.


Mirza protes dengan menggelengkan kepalanya keada Vada, seolah bicara jangan dengarkan gadis kecil ini. Bagaimana bisa gadis bau kencur itu bilang dia yang ngajak teleponan, padahal sejak kemarin sore gadis itu yang terus menghubunginya tanpa jeda. Sampai Mirza merasa jengah sendiri dan memilih mengangkat teleponnya.


"Helly, jangan ajak Vada bicara terus, dia baru sakit. Masih lemah. Sebaiknya kita pergi saja sekarang," ucap Mirza ia menarik tangan Helena. Namun, gadis itu langsung menepisnya.


"Bentar om, nggak sabaran amat sih. Orang kak Vadanya juga enggak keganggu, iya kan bestie?"


Vada hanya mengangguk pasrah sambil menahan tawanya. Sejak kapan gadis remaja tersebut menjadi bestienya, pikirnya. Tapi, melihat keceriaan dan kepolosan Helena, Vada seperti sedang berkaca pada masa lalunya. Selalu menampilkan sisi ceria tanpa beban meski sebenarnya dalam hatinya penuh dilema.


Elvan baru saja keluar dari kamar mandi, ia langsung menyelimuti Vada dan menoleh ke Helena, "Kenapa masih di sini?" tanyanya jutek.

__ADS_1


"Kan belum di usir, belum di suruh pergi sama kak Vada," jawab Helena tanpa malu.


Ketiga orang yang ada di sana serempak langsung menghela napas mereka.


Waktu terus berjalan, jam pun telah berganti angka. Helana dan Mirza masih berada di rumah sakit. Elvan yang seharusnya ada pekerjaan penting pun memilih membatalkannya karen tidak mungkin ia membiarkan Vada lepas dari pengawasanya selama Mirza masih di sana.


Meski Mirza sadar, Vada kemungkinan besar sudah tak mencintainya lagi, namun ia masih ingin di sana. Hanya untuk memastikan wanita itu kini baik-baik saja.


"Kalian enggak ada yang mau pergi gitu? Nggak kerja?" tanya Vada yang merasa canggung dalam situasi hening namun penuh aura kecemburuan tersebut.


"Tidak!" jawab Elvan dan Mirza kompak.


"Hahahaha mantan sama suami kompak amat jawabnya, kayak kor aja om-om ini!" ledek Helena yang sedang mengupaskan buah jeruk untuk Vada tapi lebih banyak dia yang memakan buah tersebut daripada Vada.


Elvan Dan Mirza langsung saling menatap satu sama lain. Lalu mereka mendengus bersamaan karena kesal.


"Astaga, sampai buang napas aja kompakan gitu," ucap Helena lagi. Bukankah soal hati keduanya juga kompak? Elvan dan Mirza langsung membuang pandangan mereka ke sembarang.


"Udah dulu helen, aku haus mau minum dulu," tolak Vada saat helen hendak memberinya jeruk. Gadis itu denga senang hati langsung memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.


Sementara Elvan dan Mirza sama-sama mengambil minum. Elvan mengambil gelas yang ada di atas nakas, sementara Mirza mengambil botol berisi air mineral di samping gelas.


"Minumlah!" Elvan dan Mirza kompak menyodorkan minuman yang mereka baru saja ambil kepada Vada.


Vada bingun harus menerima minum dari siapa. Ia menatap kedua pria yang saling menunjukkan wajah datarnya tersebut bergantian.


Memilih menerima dari Elvan, ia akan kembali mengecewakan Mirza untuk ke sekian kali. Kalau memilih menerima minum dari Mirza, tentu saja amarah sang suami menantinya.


"Dih, sampai ambilin air aja kompak bener. Sini om. Aku juga haus kali ah!" Helena menyambar botol air mineral yang di pegang oleh Mirza. Ia lngsung menghabiskannya hingga sisa setengahnya. Sementara Elvan membantu Vada minum.


"Makmum masa depan juga butuh di perhatikan kali om, masa laluny sudah ada imam ya sendiri," Helena mengusap bibirnya yang basah lalu menutup kembali botol air mineral tersebut.

__ADS_1


__ADS_2