
Pagi sekali, bahkan sebelum Vada selesai memasak, Elvan sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia akan terbang ke Singapura pagi ini karena harus memimpin rapat penting di sana nanti.
"Tuan..." sapa Vada saat suaminya menghampiri ya di dapur. Hal yang tidak pernah Elvan lakukan sebelumnya.
"Aku akan berangkat sekarang," pamit Elvan. Membuat Vada tercengang.
"Tuan mau kemana sepgi ini berangkat?" tanya Vada.
"Aku harus ke Singapura," Jawab Elvan.
Entah kenapa, Vada merasa kecewa karena ia harus sendiri lagi di mansion sebesar itu dalam beberapa hari.
"Tapi, tuan belum sarapan,"
Elvan terdiam, kemarin ia sudah melewatkan sarapan dan juga makan siangnya bersama Vada. Ia lalu merogoh ponselnya, "Yo, berangkatnya di tunda satu jam," ucapnya dan langsung mematikan panggilannya.
Seulas senyum terbit di bibir Vada, "Baiklah, aku akan menyiapkannya di meja makan," dengan semangat Vada menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Elvan mengikutinya di belakang.
"Aku hanya buat nasi goreng ini, nggak apa-apa kan, tuan?"
Elvan mengangguk, dengan lahap ia memakan nasi goreng buatan Vada. Untuk beberapa hari kedepan, ia tak akan bisa memakan masakan istrinya yang kini sudah menjadi candu baginya tersebut.
"Apa nasi gorengnya masih ada?" tanya Elvan.
"Ya? Tuan mau nambah?"
"Mungkin untuk makan siangku nanti," sahut Elvan. Yang mana membuat Vada melongo, jauh-jauh ke Singapura makan siangnya nasi goreng dari rumah?
"Tuan yakin?"
"Kenapa?" Tanya Elvan.
Vada meringis, justru ia yang tidak yakin sebenarnya.
"Aku tidak punya banyak waktu, Nevada,"
"Baik, aku akan iapkan bekal untuk makan siang tuan di Singapura nanti," Vada segera menuju ke dapur, mencari tempat bekal. Ada rasa senang dan bangga saat ia menyiapkan bekal tersebut. Bangga karena nasi goreng buatannya akan terekspor ke luar negeri.
š¤š¤š¤
Terhitung tiga hari sudah Elvan berada di Singapura. Ia sudah tampak gelisah karena sudah tiga hari pula ia tak melihat wajah sang istri.
"Tuan, jam sembilan nanti kita akan meninjau pembangunan hotel yang sedang berlangsung," ucapan Asisten Rio seperti angin yang berlalu begitu saja di telinga Elvan. Laki-laki itu masih menikmati lamunannya.
Asisten Rio mengembuskan napasnya dalam, "Tuan..." panggilnya.
"Apa? Mengganggu saja!" Elvan mencebik.
__ADS_1
"Jam sembilan nanti kita akan..."
"Aku sudah dengar, apa perlu kau mengulanginya, Yo?"
Kali ini asisten Rio yang mencebik samar, "Kalau mendengar kenapa diam saja, tidak menjawab," batinnya sebal.
"Tuan, telepon saja nona, mungkin nona sebenarnya sedang menunggu telepon dari Anda," ucap Rio yang menebak penyebab melamun nya sang bos.
Elvan menatapnya tajam, "Begitu menurutmu?" tanyanya.
"Iya, begitu menurut saya," jawab asisten Rio.
"Kenapa tidak bilang dari tadi. Kalau tahu dia menunggu teleponku kan aku bisa meneleponnya sejak tadi,"
Asisten Rio langsung mengatup, bagaimana kalau sebenarnya Vada tidak ingin di telepon? ManaTuan mudanya sudah GR duluan lagi, astaga! Asisten Rio merutuki mulutnya yang asal bicara saja.
Lagian kenapa tuan mudanya itu kelihatan sekali be gonya jika sedang dilanda ridni seperti ini. Mana asisten Rio tahu apa yang sedang Vada lakukan di Jakarta sana. Mungkin justru sedang berenang-senang karena terbebas dari suami beruang kutubnya untuk beberapa hari.
Elvan langsung menekan kontak bertuliskan Nevada ku di ponselnya. Ia tampak tidak sabar sekali menunggu panggilannya terhubung. Terlihat jelas dari gelagatnya. Membuat asisten Rio mengernyit heran.
"Kenapa lama sekali kau mengangkat teleponku?"
"Lama apanya. Ini begitu ada panggilan masuk langsung aku angkat, tuan," sahut Vada di seberang sana dengan wajah memerah menahan sesuatu.
Elvan diam. Ia tak tahu harus ngomong apa. Sejak tadi ia yang gelisah sendiri, tapi begitu mendengar suara Vada di telepon, ia malah bingung sendiri mau bicara apa.
" Tuan, halo? "
"Dih kumat kan, ham Hem ham hem," cebik Vada.
"Ada apa tuan menelepon, kangen?" tanya Vada to the point. Dan tak mungkin Elvan menjawab iya.
"Kata Rio kau menunggu teleponku, bukankah kamu yang rindu?" Ucap Elvan.
"Siapa bilang? Fitnah itu si Rio, dasar emang! Kalau sama aku nggak tahu tuh orang, sensinya minta ampun!" ucap Vada ngegas, tidak menyadari jika selama ini dirinyalah yang terlalu sensitif terhadap Rio. Padahal Rionya biasa saja.
"Enggak benar itu, fitnah tuan," ulang Vada sekali lagi. Membuat wajah Elvan langsung merah karena malu sudah terlalu percaya diri dan GR.
Elvan menatap Rio yang berdiri di depannya penuh ancaman. Asisten Rio yang melihatnya hanya bisa pasrah. Lagian, kenapa juga bosnya itu bisa sepede itu mengatakannya. Dan juga, kenapa pula Vada tak bisa sedikit berbohong dengan mengatakan kalau dirinya rindu. Benar-benar pasangan serasi, sama-sama menyebalkannya pokoknya. Kalau jadi satu, hancur sudah dunia Rio.
"Tuan hanya ingin mengatakan itu saja menelepon? Kalau tidak ada yang lain aku tutup teleponnya, aaaahhh,"
Elvan menautkan kedua alisnya, ia mendengar dengan jelas Vada mendesah, "Kau sedang apa? Dimana? Bersama siapa?" tanyanya memberondong, pikirannya sudah langsung kacau seketika. Memikirkan yang tidak-tidak.
"Kau jangan macam-macam, Nevada!" bentaknya.
Vada mendesis sambil menjauhkan ponsel dari telinganya karena bentakan Elvan benar-benar melengking di telinganya.
"Macam-macam apa sih, tuan? Yang suka macam-macam gaya kan tuan, aku mah ngikut,"
__ADS_1
"Vada Laras Sabrina!" jika sudah menyebut nama lengkapnya, mode gawat ini beruang kutub. Vada mengusap telinganya yang pengang, dari telepon saja sudah hampir mmebuatnya tuli, bagaimana kalau langsung di depannya. Tak hanya yuli, lumpuh tak bisa jalan sudah di pastikan.
"Aku di toilet tuan," sahut Vada.
Istrinya mendesah di toilet? Astaga, Elvan langsung naik pitam.
"Beraninya kamu!"
"Nggak berani gimana, orang cuma buang air besar doang. Masa nggak berani,"
Elvan langsung menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi, ia meraup wajahnya kasar. Raut wajahnya berubah seketika, antara merasa bodoh dan juga lega. Lega karena apa yang ia baru saja pikirkan tidak terjadi.
"Kau sedang apa?" memastikan sekali lagi.
"Aku sedang pup tuan, di toilet. Sendiri dan berani tentunya," jelas Vada secara gamblang. Ia kembali menghela napas lega setelah kembali mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Yang mana membuat Elvan langsung menjauhkan ponselnya.
"Jorok!" seru Elvan. Ia meringis membayangkan apa yang sedang istrinya lakukan dan langsung menggeleng. Benar-benar tidak anggun anggun ya sama sekali, apalagi jaim. Waktu itu buang gas di depannya, dan sekarang buang air sambil menerima panggilannya? Hanya Vada yang berani melakukannya!
"Jorok apanya sih?" rupanya Vada mendengar ucapan Elvan.
"Kan pas panggilan tuan masuk, aku pas masuk ke toilet. Kalau nggak diangkat nanti tuan marah. Tadi ja bilangnya lama kan padahal aku langsung angkat,"
"Kamu ke toilet bawa ponsel?"
"Iyalah, nunggu hajat kelar sambil mainan hape. Kenapa? Tuan nggak percaya aku di toilet lagi apa? Mau aku PAP?" tantang Vada.
Elvan langsung menggeleng cepat, "Nggak! Nggak sopan!"
"Doh jangan nyengir, bayanginnya. Kan baunya nggak sampai ke sana juga. Nggak mungkin bisa tembus lewat hape. Lagian bukan cuma aku yang menerima panggilan alam, semua manusia juga sama pernah. Justru kalau tidak bisa melakukannya, bahaya, harus periksa ke dokter. Kayak tetangga kosku dulu, dia sampai harus konsultasi ke dokter karena nggak bisa buang gas coba," ucapan Vada mulai ngelantur kemana-mana.
Elvan hanya diam mendengarkan, setidaknya dia bisa mendengar suara istrinya. Jika perempuan lain akan selalu menjaga penampilan dan image di depan laki-laki, termasuk laki-laki yang mereka benci sekali. Tapi, wanitanya satu ini benar-benar berbdead an langka. Vada gadis polos yang apa adanya. Tak pernah jaim apalagi menjadi orang lain demi menyenangkan orang. Dia selalu menjadi dirinya sendiri.
"Intinya kenapa sih telepon? Bilang aja kalau tuan kangen, ah gitu aja nggak susah kok bilangnya," kata Vada.
"Aku..."
"Aku rindu tuan, gitu aja nggak susah kan? Coba tuan katakan juga! Kalau rindu bilang saja jangan di tahan, nggak enak!"
Benar-benar, membuat Elvan mati kutu di buatnya.
"Iya. Apa yang kamu katakan benar,"
"benar apanya? Yang mana? Rindunya?" DESAK Vada antusias. Senang sekali membayangkan semerahnaoa wajah suaminya saat ini.
" Ya itu," sahut Elvan pendek.
"Itu apa?"
"Astaga Vada, harus aku jelaskan?" Elvan mengusap wajahnya kasar. Sementara Vada terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
"Sudah! lanjutkan apa yang sedang kamu lakukan itu. Aku tutup teleponnya," Elvan segera memutus panggilan. Wajahnya sudah memerah di buat sang istri.
ā¤ļøā¤ļøā¤ļø