
"Hei, bangun! Ayo bersihkan diri dulu sebelum tidur!" ajak Elvan setelah ia dan Vada menyelesaikan ronde terakhir olah raga malam mereka. Namun, wanita itu sudah meringkuk di bawah selimut tanpa berniat melakukan apa yang suaminya katakan.
"Aaahhh, aku capek. Mau langsung tidur aja," ucap Vada dengan sisa tenaga yang ia punya.
Elvan menggeleng seraya tersenyum, ia membungkukkan badannya, "Tapi kan bau keringat, kita habis olah raga loh," bisiknya di telinga Vada.
"Nggak apa-apa bau juga, toh keringat kita udah nyatu, mana tahu itu bau keringat siapa. Udah sih, tuan juga tidur, jangan berisik! Aku capek!" Vada menarik tangan Elvan hingga pria itu terhuyung jatuh dan terpaksa menuruti kemauan sang istri untuk rebahan di sampingnya. Vada langsung merangsek masuk ke dalam dada Elvan . Tangannya melingkar di pinggang Elvan.
"Ya udah, tidur!" Ucap Elvan menepuk - nepuk punggung polos Vada seraya mencoba memejamkan matanya sendiri meski susah karena ia merasa tidak nyaman dengan keringat di tubuhnya.
š¤š¤š¤
Pagi kembali menyapa, matahari sudah bertengger menunjukkan sinarnya yang menghangatkan di atas langit, namun Vada masih enggan untuk membuka kedua matanya. Rasa lelah menghampiri seluruh anggota badannya. Entah sampai jam berapa ia dan Elvan melakukan penyatuan semalam. Bahkan sinar mentari yang menembus dinding kaca masuk ke dalam kamar tersebut tak mampu membuatnya membuka mata karena silaunya.
Hingga beberapa menit kemudian, Vada mulai menggeliat, matanya mengerjap ketika mulai merasa silau. Namun, ia kembali memejamkan matanya saat tubuh kekar suaminya menghalau sinar yang mengusik penglihatannya. Pria itu beridiri membelakangi Vada. Sepertinya Elvan baru saja selesai membersihkan diri.
Vada langsung membuka matanya lebar begitu menyadari seseorang yang menjulang tinggi hanya mengenakan handuk yang di lilit di pinggangnya tersebut adalah Elvan, suaminya.
"Wow...!" tanpa Sadar Vada terpesona dengan pemandangan di depannya. "Nikmat mana lagi yang kau dustakan Vada, bangun-bangun di suguhi yang menyegarkan," batinnya heboh sendiri, seperti baru pertama kali melihatnya saja.
Vada menelan salivanya susah payah begitu bayangan permainan panas semalam kembali berputar di kepalanya. Vada senyum-senyum sendiri mengingatnya.
Meski mereka terbilang sering melakukan hubungan suami istri, namun yang semalam terasa sangat berbeda. Dimana mereka, terutama Elvan melakukannya dengan sangat lembut dan juga penuh perasaan. Sangat berbeda dengan baisanya. Meskipun Vada tak tahu, apakah semalam suaminya itu melakukannya benar-benar karena something special atau hanya sedang berusaha menerima takdir mereka yang sudah mereka sepakat semalam. Yang jelas, Vada akui semalam ia benar-benar merasa di mabuk kepayang.
Meski bukan malam pertama mereka, namun rasanya seerti mereka baru melakukannya. Apalagi setelah waktu itu seminggu dirinya datang hilang di tambah hampir seminggu lagi mendiamkan Elvan, membuat pria itu merapelnya semalam.
Saat menyadari Elvan hendak memutat badannya karena pria itu merasa ada yang memperhatikan, Vada langsung menenggelamkan kepalanya di bawah selimut. Entah kenapa wanita itu merasa malu, persis seperti pasangan pengantin baru yang baru saja melewati malam pertama mereka yang panas.
Elvan yang tahu kalau Vada sudah bangun, berjalan mendekati ranjang, "Pagi!" ucap Elvan sambil menyibak selimut yang menutupi wajah Vada.
Vada tersenyum canggung, "Pagi!" balas nya.
__ADS_1
Elvan duduk menyerong di tepi ranjang, ia merapikan rambut Vada yang sedikit menutupi wajahnya, "Masih ngantuk?" Tanya Elvan.
"Sedikit," jawab Vada tersipu. Sungguh lucu dan menggemaskan sekali bagi Elvan. Tidak seperti Vada yang biasanya.
Elvan menatap lekat wajah sang istri yang
baru saja bangun tersebut, yang tampak alami khas orang bangun tidur dengan ajah lelahnya, namun tetap sangat cantik dan enak di pandang.
Vada malah merasa aneh rasanya di perlakukan demikian oleh suami beruang kutubnya. Masa iya, suaminya itu bisa berubah dalam semalam saja, tiba-tiba Vada malah merasa curiga sendiri. Apa suaminya itu salah minum obat atau bagaimana, tapi selama itu menguntungkan baginya, tak masalah jika Elvan bersikap aneh kepadanya.
Mungkin pria itu sedang mendalami perannya sebagai suami baik hati dan penyayang demi melancarkan kesepakatan yang mereka lakukan semalam, mulai dari awal dan mencoba saling menerima satu sama lain di luar konteks apakah akan melibatkan sebuah perasaan bernama cinta di antara keduanya. Entahlah, yang Vada tau sampai detik ini Elvan masih belum belum bisa melupakan mantan tunangannya. Pun dengan dirinya yang terbilang baru saja patah hati. Namun, Yang jelas, selama mereka masih berstatus sebagai suami istri yang sah, mereka harus terus berusaha saling menerima satu sama lain.
Elvan mendekatkan wajahnya, tatapan nya fokus ke bibir sang istri. Menyadari sesuatu, Vada langsung menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya, keren rasa malu yang tiba-tiba mendera.
Percayalah, Vada merasa aneh dengan tingkahnya sendiri, padahal sudah jelas ia tahu ini bukan pertama kali untuk mereka.
Elvan tersenyum tipis, ia menurunkan selimut yang menutupi wajah Vada.
"Bukankah semalam. Sudah janji, kau tidak akan menghindar lagi, nyonya Adhitama?"
Mendengar Elvan menyebutnya nyonya Adhitama, hati Vada serasa langsung meleyot, "Ya ampun, di akui!" batinnya girang.
Elvan memiringkan wajahnya seraya mengernyitkan Keningnya melihat wajah Vada yang semakin memerah tanpa blush on tersebut.
Vada hanya bisa mengangguk, mengiyakan perkataan suaminya.
Elvan benar-benar tidak tahan untuk tidak mengecup bibir istrinya. Satu kecupan ia berikan untuk Vada. Vada langsung tersenyum dan menabik lengan Elvan pelan, "Mau yang lama," ucapnya malu-malu. Yang mana membuat Elvan terkekeh.
"Sini!" Elvan menarik tengkuk Vada lalu membenamkan bibirnya di bibir Vada. Wanita itu langsung mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Melupakan alasannya yang belum gosok gigi dan lain-lain tadi.
"Udah, buruan mandi!" ucap Elvan setelah mengurai ciumannya.
__ADS_1
"Tapi aku lapar, tuan menguras habis tenagaku semalam,"
"Bukankah yang mau lagi dan lagi? Kenapa jadi aku yang salah?" Elvan tersenyum menggoda.
"Ck, kenapa harus di jelaskan sih. Kan malu sama readers," ucap Vada berdecak.
"Sudah, sana mandi dulu. Aku akan buatkan susu cokelat untukmu," Elvan mengacak rambut Vada.
"Mau nasi! Ngak bisa sarapan cuma susu doang. Nggak nambah tenaga!"
"Memangnya mau nambah tenaga buat apa, Hem?"
"Buat.... Buat.... Ini kan minggu, tuan. Aku ingin mengahbiskan waktu menjadi kaum rebahan tapi tetap harus ada tenaga," Tidak mungkin Vada terus terang soal isi kepalanya. Yang mana ia berpikir akan di kurung di kamar seharian oleh suaminya itu. Akan sangat malu jika itu hanya ekspektasinya saja yang ketinggian.
"Tenaga buat rebahan? Bukankah kau suka di atas?" goda Elvan.
"Ck, jangan mancing keributan di atas kasur deh, ini masih pagi. Masa mau lagi," sahut Vada.
"Emang nggak mau lagi?" tanya Elvan dengan tatapan tak percaya.
"Tahu ah, aku mandi dulu!" Vada segera turun dari tempat tidur. Sesampainya di kamar mandi, ia kembali membuka pintu kamar mandi lalu melongok keluar, "Mau lagi, nanti kalau udah mandi!" serunya malu-malu dan langsung menutup pintu kembali.
Ceklek, pintu kembali terbuka.
"Apa?mau di mandiin?" Tanya Elvan.
"Susu cokelatnya jadi!" ucap Vada lalu kembali menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Ck, dasar!" gumam Elvan seraya berkaca pinggang.
"Sepertinya konsepnya salah. Bukankah terbalik, harusnya dia yang membuatkan aku kopi?" batin Elvan tak mengerti namun tetap melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
__ADS_1
š¤š¤š¤