
Vada merasa tidak tenang karena membiarkan Andra membawa Kyara bersamanya. Ia takut jika putrinya akan membuat Andra kesulitan. Lebih-lebih ia takut jika Andra akan gagal bekerja sama dengan klien pentingnya karena keberadaan Kyara.
"Cindy, tolong kamu layani pelanggan yang baru datang, ya. Aku mau ke ruanganku sebentar," ucap Vada kepada karyawannya.
"Baik, nona!" sahut Cindy.
Vada langsung mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menelepon Andra. Seharuanya meeting sudah selesai mengingat hari sudah sore. Namun, Andra belum juga mengantar Kyara kembali ke kafe.
.
.
.
Asisten Rio berkali-kali mengerutkan keningnya melihat pemandangan langka di depannya. Dimana Elvan kini sedang bermain dengan Kyara, lebih tepatnya Kyara yang terus merengek mengajak Elvan bermain dan pria itu hanya menurut saja meski tak banyak bicara. Elvan hanya sesekali menanggapi celotehan Kyara.
Andra sudah berulang kali mengajak Kyara untuk pulang, namun anak itu belum mau beranjak dari sana karena masih asyik bercerita dengan Elvan dan juga bonekanya.
Sebenarnya Andra merasa tidak enak dengan Elvan, tapi pria itu tak menolak saat Kyara mengajaknya bermain, meski tak secara gamblang mengiyakan juga.
"Anda harus berterima kasih terhadap putri Anda, tuan Andra. Sepertinya berkat dia tuan muda menyetujui kerja sama ini," ucap Rio. Setelah tiga tahun lebih, baru kali ini ia melihat lagi senyum tuan mudanya meski tipis.
"Ya, sepertinya memang begitu," sahut Andra mengakui sembari melihat ke arah Elvan dan Kyara.
Asisten Rio mendekati Elvan ketika pria itu melambaikan tangan kepadanya. Rupanya Elvan memanggilnya untuk membenarkan kuncir rambut Kyara yang beratakan. Anak itu merengek meminta Elvan untuk membenarkannya namun Elvan bingung, tidak tahu bagaimana cara menguncir rambut.
"Saya juga tidak pandai melakukannya tuan muda, takut menjambak, malah sakit," ucap Asisten Rio. Elvan mendengkus sebal, hal yang sama takutkan, takut kalau menyakiti kepala Kyara jika ia menarik rambut anak itu.
"Kenapa tidak memanggil ayahnya saja, tuan. Biarkan dia yang membenarkan," Rio memberi ide.
"No! Omppa tidak bisya, ompapa jeyek kalau mengikat lambut Kya. Om hancem, halus tandung jawab. Om hancem yang buwat lambut Kya belantakan, Kya tak syuka!" protes Kyara.
Butuh waktu beberapa saat untuk elvan juga Rio mencerna ucapan Kyara hingga paham maksud anak itu.
Kyara duduk di di depan Elvan dengan membelakanginya. Tangannya bersedekap dada, bibirnya manyun karena kesal.
" Yo... "
" No, yo yo! Om hancem yang belbuat, om hancem yang tandung jawab!" kekeh Kyara. Asisten Rio menggedikkn bahunya sambil tersenyum yang mana membuat Elvan berdecih. Mau tidak mau dia menggerakkan tangannya untuk membenarkan rambut Kyara sebisanya.
"Amazing!" batin Rio. Semakin ia melihat, semakin terlihat kemiripan dua orang beda generasi tersebut. Bahkan sikap pemarahnya dan suka mengaturnya sama. Jangan lupakan posisi duduk mereka yang...sama juga.
"Kenapa anak orang bisa semirip ini sama tuan muda? Apakah Ini bukti kalau ada tujuh orang yang mirip di dunia?" batin Rio.
Saat tengah melihat Elvan yang tengah membenarkan rambut Kyara dari jarak yang lumayan jauh, ponsel Andra berdering. Sebuah panggilan video memnuhi layar ponselnya.
__ADS_1
" Iya, Sha.... "ucap Andra saat melihat wajah wanita yang sudh ia kagumi semenjak pertama kali bertemu tersebut .
"Ini udah jam berapa, Ndra. Kok belum balik ke kafe, sih?" ucap Vada.
"Kya-nya belum mau di ajak pulang, suasana di sini asyik buat main Kya, dia kelihatan happy banget dari tadi," jawab Andra.
"Mana Kya? Dia enggak ngerepotin kamu, kan?" tanya Vada khawatir.
"Enggaklah, enggak repot sama sekali. Tuh, anaknya sedang main sama klien aku, dan kamu tahu, kerja sama kali ini langsung deal! Semua berkat Kya, klien aku kayaknya senang dengan Kyara. Dari tadi diajak main terus, nggak protes. Tahu sendiri gimana kya ceriwisnya," ujar Andra dengan wajah sumringah.
" syukur deh kalau begitu. Sekarang mana kya-nya?" tanya Vada belum tenng sebelum melihat putrinya.
" Dia sedang main sama klienku di depan sana, sha," sahut Andra.
"Aduh, kok kamu biarin Kya main sama orang asing sih, Ndra. Ya ampun, jangan kasih semabrang orang buat main sama Kya. Nanti kalau Kya di apa-apain bagimana, nanti kalau..."
Vada Belum selesai bicara dengan segaka kekhawatirannya, Andra langsung mengerahkan kamera ponselnya kearah Kyara, "Tuh lihat, Dia baik baik aja, kan? Dia senang sekali, dari tadi nggak berhenti bermain, sepertinya Kya menyukai klienku," tutur Andra.
"Kamu terlalu banyak berpikir, Sha Kya aman. Kamu terlalu over protectif," ucap Andra.
"Aku hanya nggak mau Kya kenapa-napa, dia satu-satunya yang aku punya, kamu tahu itu!" sergah Vada.
"Iya, aku tahu. Tapi lihat kan, orang asing itu bisa buat putrimu ceria," ucap Andra yang terus mengarahkan kamera ponsel ke arah Kyara.
Namun, dari itu semua, ada yang lebih menarik perhatian Vada. Yaitu pria misterius yang kini sedang melihat Kyara bernyanyi dengan rianh. Entah kenapa melihat punggung pria itu membuat jantung Vada berdetak kencang.
"Dia.... Nggak mungkin!" gumam Vada menyalahkna perkiraannya.
"Kenapa, sa?apany yang nggak mungkin" tanya Andra bingung.
"Eh, bukan apa-apa Ndra. Itu... Klien kamu?" tanya Vada.
"Iya, kenapa? Hebat kan dia, padahal orangnya cuek, tapi Kya bisa meluluhkannnya," jawab Andra.
"Emmm, emang siapa klien kamu itu Ndra?" tany Vada. Entah kenapa ia merasa perlu memastikan sesuatu karen hatinya begitu gelisah hanya karena ounggung pria asing tersebut.
"Namanya...."
"Eh, Ndra. Udah dulu, ya. Itu Cindy manggil, dia kewalahan sendiri, cafe lagi ramai banget," belum juga Andr menyebut siapa kliennya, Vada sudah harus mengakhiri panggilannya.
"Sepertinyabkau butuh karyawan lagi, Sa," ujar Andra.
"Ya, sepertinya emang begitu, nanti aku pikirkan lagi, udh dulu ya. Titip Kya, jangan kasih main sama sembarang orng, apalagi pria asing itu!" pesan Vada sebelum mematikan ponselnya.
"Dia bukan orang sembarangan, dia..."
__ADS_1
Tuuuut
"Kebiasaan, main matiin aja! Orang belum selesai bicara juga!" gerutu Andra.
Andra mendekati Elvan dan Kyara untuk mengajak ank itu kembali ke cafe, namun ia malah harus ke toilet dahulu.
"Van," panggil Andra dan Elvan menoleh.
"Titip sebentar, aku mau ke toilet!" ucapnya yang di balas anggukan oleh Elvan.
Saat berjalan ke toilet, Andra berpapasan dengan Rio yang baru saja keluar dari toilet pria.
"Tuan muda..." panggil Rio. Elvan menoleh, "Buang hajat atau pingsan?" tanyanya sinis.
Asisten Rio mengatupkan bibirnya, salah makn apa smpai dia merasa mules sekali di toilet, "Apa kita kembali ke hotel sekarang?" tanyanya.
"Papanya lagi ke toilet," Elvan menunjuk Kyara dengan dagunya.
Rio memilih ikut duduk di samping Elvan. Kyara datang menghampiri keduanya "Pelmisyi, Kya mau duduk!" gadis kecil itu langsung mengambil posisi di tengah-tengah Elvan dan Rio.
"Gesel uncle, syempit, ndak muat!!" Elvan dan Rio terpaksa menggeser duduk mereka ke sisi kanan dan kiri.
"Huh, capeknaaaa! Gelah!" Kyara mengipaskan tangannya di depan lehernya.
"Ompapa mana?" tanya Kyara setelah ia menyadari ompapanya tak ada.
"Papa kamu lagi di toilet," jawab Elvan.
Baik Elvan maupun Rio tak curiga dengan panggilan 'ompapa' nya Kyara. Kenapa bukannya papa saja? Bukankah anak-anak jaman sekarang suka aneh-aneh memanggil orang tuanya dan mereka masa bodoh dengan hal itu.
"Oooohhh!" bibir Kyara membwnruk hurup 'O', menggemaskan sekli, pikir Elvan.
Secara bersamaan, Kyara dan Elvan meluruskan kaki mereka sambil mengeluh," pegal!" ucap keduanya. Lalu menggerak-gerakkan kaki mereka bersamaan.
"Kompak bener!" gumam Rio.
Kyara yang mendengarnya langsung menoleh kepada Elvan, "Uncle hancem, kita syamaan!" serunya bangga. Seolah kebetulan itu sesuatu yang menyenangkan.
Melihat Kyara tersenyum, Elvan seperti terhipnotis ikut tersenyum.
Kyara menunjuk lesung pipi milik Elvan yang terlihat jelas sat pria itu tersenyum, "Ini juga suama, om hancem milip Kya!" gadis itu menelisik wajah Elvan.
"Kata mama, Kya milip papa. Telus kata Kya om hancem milip Kya, hihihi!" celetuk Kyara.
Celetukam Kyara bersamaan dengan datangnya Andra. Asisten Rio langsung mengamati wajah pria tersebut, "Nggak mirip, mamanya dusta! Kasihan anaknya di bohongi," batinnya.
__ADS_1