Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 113


__ADS_3

Untuk beberapa saat lamanya, Vada masih terdiam duduk di tempatnya dengan tatapan kosong. Rasanya ini seperti mimpi baginya. Dan berharap jika ini memanglah hanya sebuah mimpi buruk yang akan berlalu setelah ia membuka kedua matanya.


Namun, rasa sakit dalam dadanya yang ia rasakan begitu nyata dan memang nyata . Dan satu hal yang ia sadari saat ini, ini bukanlah mimpi buruk. Melainkan sebuh kenyataan buruk yang sebenarnya sudah ia perhitungkan sejak lama. Ya, sejak ia menyadari cintanya untuk Elvan, ia sudah memikirkan konsekuensi atas perasaannya yang tak bisa ia cegah tersebut. Berani mencintai, maka harus berani menderita.


Pada kenyataannya, meski Vada sering kali berpikir siap dengan segala konsekuensinya, rasa sakit di dadanya tetaplah begitu menyayat. Ia pun tak bisa lagi menahan air matanya yang kini ia biarkan jatuh membasahi kedua pipinya.


Asisten Rio yang berdiri tak jauh darinya karena mendapat tugas membawa Vada kembali, merasa tak tega melihatnya. Ia benar-benar prihatin dengn akhir dari pernikahan tuan mudanya tersebut.


Vada mengusap perutnya, ia bahkan belum semat memberitahu soal kehamilannya kepada Elvan. Ia mengusap wajahnya lalu bangkit dari duduknya. Makan malam yang awalnya indah berakhir dengan begitu menyakitkan.


"Nona, masuklah ke dalam mobil, biar saya antar Ada pulang," ucap Asisten Rio.


Vada menghentikan langkahnya, "Kau tak perlu lagi peduli denganku, bukankah kau tahu sendiri jika mulai sekarang aku bukan lagi bagian dari tuan mudamu? Pergilah, jangan pedulikan aku!" ucap Vada. Ia kembali meneruskan langkah kakinya yang entah akan kemana tersebut.


"Tapi, nona. Tuan muda menyuruh saya..." asisten Rio tak berani melanjutkan bicaranya ketika mendapat tatapan tajam dari Vada.


"Pergi!" sentak Vada. Ia benar-benar ingin sendiri malam ini. Tak peduli seberapa jauh kakinya melangkah, bahkan hingga kedua kakinya lecet seklipun.


Rasanya Vada ingin tertawa sekaligus menangis mengingat Asisten Rio mengatakan jika ia di tugaskan untuk menjaganya, "Hah, apa pedulinya? Pisah ya pisah, kenapa masih peduli?" gumamnya yang membuat air matanya kembali membasahi wajahnya.


Vada berjongkok dan membenamkan wajahnya di antara lututnya, "Kenapa semua jadi begini?" lirihnya. Ia merasa tak memiliki siapa-siapa saat ini. Tak mungkin ia kembali ke Panti asuhan, yang ada hnya akan menambah beban pikiran bunda, pikirnya.


Elvan yang tadi mendapat kabar dari Asisten Rio soal Vada yang tak mau ia antar, kini sedang menatap wanita itu dengan pilu dari kejauhan di dalam mobilnya. Percayalah, melihat wanita yang paling ia cintai menangis seperti itu, membuat hatinya jauh lebih sakit dari yang bisa ia bayangkan.


Elvan kemudian menghubungi seseorang sebelum ia pergi dari sana.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, Vada mulai bisa menguasai diri. Ia duduk di kursi yng ada di pinggir jalan. Ia melambaikan tangannya saat melihat taxi yang lewat.

__ADS_1


"Antar saya ke apartemen xx, Pak!" ucapnya setelah masuk.


"Baik, nona!" jawab sopir taksi


Setelah taksi melaju, sang sopir mengirimkan pesan kepada seseorang,


.


.


.


"Istri Anda sudah aman, tuan. Saya akan mengantarkannya ke apartemen," Elvan sedikit merasa lega setelah menerima pesan dari orang suruhannya yang menyamar sebagai sopir taksi.


Elvan melajukan mobilnya menuju ke bar milik temannya.


Sudah lama Elvan tak menyentuh minuman beralkohol, dan malam ini ia kembali mendekati minumn tersebut.


"Berisik, mending lo minggat dari sini daripada buat gue makin pusing!" usir Elvan. Ia meneguk segelas kecil minuman yang baru saja ia tuang tersebut.


"Wah, gila! Gue yang punya nih tempat, lo berani ngusir gue?"


Elvan tak menyahut, ia hanya menatap sinis kearah temannya tersebut. Ia benar-benar sedang lelah dengan keadaan dan tak ingin beradu mukut dengan siapapun.


"Wuihhh, santai bro. Ngeri amat tatapan lo. Oke gue pergi dari sini, keep calm, man!" ucap Bryan seraya mengangkat kedua tangannya.


"Apapun masalah lo, tempat ini nggak cocok buat lo jadiin pelarian . Lo bisa cerita sama gue kalau butuh teman curhat, breng sek-breng sek gini, gue bisa jadi pendengar yang baik," Bryan menepuk pundak Elvan sebelum meninggalkan temannya tersebut.


Elvan hnya melirik Bryan sekilas, curhat? Ia bukanlah tipe yang bisa atau terbiasa cerita masalah kepada orang lain. Ia lebih sering memendam semua masalahnya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


Vada mmebuka pintu apartemen, ia tak melihat tanda-tanda Elvan sudah kembali. Atau mungkin pria itu tak akan kembali ke sana malam ini. Ia tak mau ambil pusing.


Suasana apartemen tersebut kini seratus delapan puluh derajat berbeda. Hanya keheningan dan kenangan yang membuat hatinya semakin di landa pilu.


Vada langsung naik ke kamar, kamar yang menyimpan begitu banyak kenangan. Tempat dimana ia dan Elvan sering menghabiskan waktu bersama.


Vada meletakkan tasnya di atas kasur, dengan malas ia melangkah ke kamar mandi. Menyalakan shower dan mulai menangis. Meluapkan seluruh kesedihannya di bawah derasnya shower.


Vada terus memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini. Kemana ia akan pergi karena tidak mungkin ia tetap berada di sana sementara Elvan sudah menyuruhnya pergi, sejauh mungkin.


Lalu, bagaimana dengan calon anaknya? Haruskan ia pergi tanpa memberitahu kehamilannya kepada Elvan? Seraya menangis dalam diam, Vada terus memutar otaknya untuk berpikir. Ingin sekali bertanya kenapa dan, apa salahnya hingga tiba-tiba semua berubah seperti ini dalam hitungan jam bahkan menit tersebut.


Semakin ia mencari jawabannya, semakin Vada merasa sakit. Semakin ia memikirkannya, semakin tak ingin ia menerima keputusan sepihak tersebut namun, ia bisa apa? Jika pria itu benar-benar tak menginginkan kebersamaan dengannya lagi.


.


.


.


"Tuan muda, sebaiknya saya mengantar anda kembali," ucap Asisten Rio yang beberapa saat lalu sudah sampai di bar.


"Minggir, aku masih bisa nyetir mobil sendiri!"


"Tapi, tuan..."


Elvan tak mempedulikan ucapan Rio. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya. Ya, meskipun minum, namun ia masih memiliki kesadaran.


Sampai di apartemen, Elvan menatap lantai atas, dimana ia yakin sang istri sedang menangis di sana. Matanya memerah, selain karen efek minuman, juga karena kesedihannya. Ia memilih melangkah ke ruang kerjanya dan menghabiskan malam di sana.


Malam ini cukup melelahkan untuk Vada dan Elvan. Bagi Vada memang baru mulai malam ini, tapi tidak dengan Elvan yang sudah beberapa hari merasakan sesak di dadanya, sejak ia menemukan kalung lionton milik Vada. Sejak itulah hati dan pikirannya terasa lelah. Dan malam ini, di tempat yang sama namun dalam ruang berbeda, nereka berdua sama-sama merasa lelah, seolah tak punya arah. Menghabiskan sepanjang malam dengan bersanding luka yang baru saja tercipta.

__ADS_1


__ADS_2