Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 112


__ADS_3

Vada pergi ke mall untuk membeli dress yang akan ia pakai untuk dinner malam nanti sesuai janjinya dengan Elvan.


Ngomong-ngomong soal Elvan, seharusnya pria itu sudah kembali saat ini. Namun, nyatanya sampai sekarang pria itu masih belum menampakkan dirinya di depan Vada.


Elvan hanya mengatakn jika ia benar akan kembali hari ini dan makan malam mereka tetap akan di laksanakan malam nanti sesuai janjinya.


.


.


.


"Tuan muda, makan siang sudah bibi siapkan. Apakah tuan muda ingin bibi antarkan ke sini makanannya atau..."


"Antarkan saja ke kamarku," jawab Elvan singkat. Ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar melewati bibi begitu saja.


Bibi yang melihat tuan mudanya berbeda dari biasanya sejak kedatangan pria itu pagi tadi di mansion tak berani bertanya kenapa atau ada apa. Namun dari raut wajahnya terlihat jelas jika pria itu sedang memiliki masalah yang serius, bahkan pria itu sama sekali tak keluar dari ruang kerjanya sejak kedatangannya pagi tadi.


Padahal terkahir kali bibi lihat tuan mudanya tersebut wajahnya terlihat berseri layaknya orang sedang jatuh cinta, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya kala itu.


Ya, pagi tadi Elvan memang sudah kembali, namun pria itu tak kembali ke apartemen, melainkan ke mansion. Ia perlu waktu lebih lama lagi untuk merenung. Memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dan yang paling utama, ia tak sanggup bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai itu jika pagi tadi kembali ke apartemen.


Saat Elvan keluar dari kamar mandi , di meja dalam kamarnya sudah tersedia menu makan siang yang beberapa saat lalu di antarkan oleh bibi. Namun, ia sama sekali tak menyentuh makanan tersebut. Tak ada selera meski hanya sekedar untuk mengganjak perutnya yang kosong.


Elvan mengambil ponselnya untuk menghububgi Rio.


"Siapkan semuanya sesuai yang aku katakan!" ucapnya dan langsung menutup telepon.


.


.


.


Vada sedang mematut wajahnya di depan cermin. Dress berwarna merah muda yang panjangnya di bawah lutut. Make up natural dengan lipmate berwarna nude sudah sangat cukup membuat dirinya terlihat semakin cantik.


Vada mengambil sebuah kotak berukuran kecil dengan hiasan pita berwarna pink di atasnya dari dalam laci. Dimana di dalamnya terdapat sebuah tespeck dengan dua garis merah yang terlihat jelas. Kotak tersebut akan ia berikan untuk Elvan nanti saat mereka makan malam.


Vada mengembuskan napasnya setelah ia meyakinkan dirinya, bahwa semua akan baik-baik saja setelah ini. Setidaknya itulah yang ia harapkan. Karena entah kenapa perasaannya tidak enak semenjak kepergian sang suami dua hari lalu.


Bukan tak peka dengan perubahan sikap Elvan, hanya saja Vada mencoba untuk tak memikirkannya sebelum semuanya jelas. Dan ia berharap semoga malam ini, setelah ia memberi tahu kehamilannya kepada Elvan semua akan baik-baik saja bahkan semakin baik dari sebelumnya.


Vada memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya. Ia melihat jam tangan pemberian suaminya yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam tujuh lebih, namun suaminya itu belum juga menmpakkan diri di hadapannya. Vada mulai merasa sedikit janggal.


"Kenapa abang belum jemput juga. Bukankah dia sendiri yang menjanjikan makan malam ini? Apa masih di jalan ya?" gumamnya.

__ADS_1


Menit kemudian, ia mendengar bel apartemen berbunyi. Sempat berpikir jika itu Elvan, namun pikiran itu langsung menguap karena jika benar suaminya yang datang, tak perlu memencet bel.


Dan benar saja, saat membuka pintu, asisten Rio yang berdiri di depannya.


"Selamat malam, nona! Saya datang untuk menjemput Anda," ucap Asisten Rio sopan.


"Menjemputku?" Vada mengernyit. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke belakang asisten Rio.


"Di mana suamiku?" tanyanya kemudian.


"Tuan muda akan langsung datang ke sana, beliau memerintahkan saya untuk menjemput nona. Apakah nona sudah siap?" sahut Asisten Rio.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku ambil tas dulu di atas," ucap Vada dan bergegas naik ke lantai atas.


Meski kecewa karena bukan suaminya sendiri yang menjemput, tapi Vada tetap ikut dengan asisten Rio.


Sepanjang perjalanan menuju ke restauran yang ada di salah satu hotel bintang lima tersebut, Vada hanya terdiam dengan sejuta pertanyaan dalam benaknya. Kenapa dan ada apa, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ia merasa perasaannya tak enak sama sekali, di tambah sikap suaminya yang ia yakini kini berubah begitu saja.


"Apa abang sudah tahu kalau aku hamil, jadi dia marah?" salah satu pertanyaan dalam benaknya yang tak bisania tanyakan kepada siapapun saat ini.


"Silahkan nona, sebentar lagi tuan muda akan sampai," ucap asisten rio mempersilakan Vada untuk masuk ke dalam restauran mewah yang malam itu di booking secara khusus oleh Elvan sejak beberapa hari yang lalu.


Suasana mewah dan romantis, bunga mawat merah menjadi penghias di berbagai sudut lengkap dengan lilin-lilin yang tersusun indah membentuk sebuah hati dengan kekopak bunga di tengahnya menambah kesan romantis, di tambah dengan musik yang mengalun indah dan menyentuh hati. Romantis sekali. membuat bibir Vada tersenyum manis. Ia sama sekali tak menyangka jika suaminya sudah menyiapkan ini semua untuknya. Sesaat ia lupa dengan pikiran kecewa dan takutnya.


Vada berdiri dengan senyum terbaiknya demi menyambut kedatangan Elvan yang baru saja tiba. Pria itu juga tersenyum meski di dalamnya tersimpan luka.


Elvan ingin makan malam romantis ini tetap berjalan sesuai rencana. Susut matanya memerah ketika sang pujaan hati berhambur memeluknya. Tangannya perlahan terangkat ke punggung Vada.


Sepanjang makan malam ia berusaha bersikap biasa saja, menimpali dengn senyuman terbaiknya setiap perkataan dan candaan dari sang istri yang entah setelah ini akan ia dengarkan.


"Abang kenapa sih? Abang sedang tidak enak badan? Perasaan dari tadi banyak diamnya," tanya Vada penasaran.


"Nggak apa-apa, lanjutkan makannya. Habis ini kita dansa, ya?" ucap Elvan lembut. Ia benar-benar ingin menciptakan memory romantis bersama wanita yang kini berstatus sebagai istri juga sebagai adiknya tersebut.


Vada mengangguk tersenyum. Apalagi saat prianya tersebut berdiri dan sedikit membungkuk demi mengelap sudut bibirnya menggunakan ibu jarinya.


"Kamu makan pelan - pelan. Karena tidak selamanya abang bisa mengelapnya buat kamu," gumam Elvan nyaris tak bersuara.


Setelah makan, mereka berdansa. Vada menyandarkan kepalanya di dada Elvan. Ia merasa bahagia dan terharu, namun tak di pungkiri jika ia juga mencium gelagat aneh dan mencurigakan. Ia merasa berada dalam bom waktu yang setelah ini akan meledak.


Mungkin karena kehamilannya. Atau bisa juga karena hal lain. Apapun itu, seperti sudah ia mantapkan sebelumnya, ia akan menerima hal terburuk sekalipun dalam hubungan mereka. Karena Vada sadar di mulai dari mana pernikahan mereka tersebut.


Dansa romantis mereka di akhiri dengan sebuah kecupan di kening Vada. Lama dan dalam kecupan yang Elvan berikan. Mata mereka sama-sama terpejam dengan perasaan yang sama, sedih. Vada belum tahu yang terjadi, tapi dia sudah memiliki feeling kurang bagus sejak awal.


.

__ADS_1


.


.


"Katanya abang ingin mengatakan sesuatu malam ini, apa? Ayo katakan!" ucap Vada setelah mereka kembali duduk. Karena ia juga tak sabar ingin memberitahu soal kehamilannya.


Elvan meminta asisten Rio mendekat dan memberikan sesuatu kepada Elvan.


"Seperti yang kita berdua sama-sama tahu, pernikahan kita di mulai dari mana..." Rasanya tenggorokan Elvan tercekat untuk melanjutkan bicara.


Vada pun mulai merasa gelisah, feelingnya sepertinya tidak salah. Ia menatap manik mata suaminya, pria itu langsung melengos. Tak sanggup menatapnya lebih lama lagi.


"Ya, seperti yang kmu tahu, aju menikahimu karena Zoya. Wanita yang sangat aku cintai. Untuk membalas dendam akan kematiannya yang di sebabkan kamu..." percayalah, hati Elvan rasanya hancur saat mengatakan hal itu, sama seperti perasaan Vada yang tak menyangka suaminya akan mengungkit lagi hal itu.


Vada masih diam, menunggu Elvan melanjutkan bicaranya meski matanya kini sudah memerah.


"Dan seperti yang pernah aku katakan, jika pernikahan ini akan berakhir atau tidak itu terserah padaku, bukan kamu yang menentukan..." Elvan sama sekali tak kuat menatap kedua mata indah sang istri.


"Sekarang... Aku membebaskanmu dari belenggu pernikahan ini. Karena nyatanya Zora telah menghianatiku begitu dalam sehingga tak ada lagi cinta yang tersisa untuknya, tak ada gunanya lagi pernikahan ini untukku,"


Mata Vada semakin berkaca-kaca. Inilah yang ia takutkan selama ini, saat suaminya benar-benar melepaskannya. Saat ia merasa sok di cintai bak seorang ratu nyatanya di lepaskan begitu saja.


"Pergilah dan raih kebebasanmu di luar sana tanpaku. Karena mulai detik ini aku membebaskanmu dari belwnggu pernikahan . Bahkan kamu bisa kembali dengan mantan kekasihmu itu. Bukankah kalian masih sering bertemu," Elvan sengaja mengatakannya untuk membuat Vada membencinya.


Bagaimana bisa ia mengatakan kepada wanita yang ia cintai sepenuh hati untuk kembali dengan pria lain, sakit yang pasti ia rasakan. Tapi inilah yang bisa ia lakukan, daripada harus mengatakan sebuah kebenaran bahwa orang tua wanita yang ia cintai itu adalah pelakor dalam rumah tangga kedua orang tuanya, kebenaran bahwa mereka memiliki ayah yang sama, itu sangat menyakitkan! Dan yang pasti Vada akan merasa dngat meras bersalah dan berdosa, bagaimana bisa mereka yang kakak adik menikah. Elvan tak sanggup mengatakannya, tak sanggup melihat bagaimana Vada akan terluka dan merasa bersalah karena hak itu. Ia memilih wanita itu tak tahu dan membencinya saja.


Dan untuk saling menerima sebagai sebuah keluarga, sebagai kakak adik, tentu saja Elvan tak sanggup. Pun dengan Vada. Mereka akan semakin tersiksa dengan perasaan masing-masing. Dan Elvan memilih mereka tak lagi saling berhubungan dalam hal apapun.


"Setelah ini kita jalani hidup masing-masing. Lanjutkanlah hidupmu dengan baik tanpaku, sesuai keinginanmu. Pergilah yang jauh dariku, sejauh mungkin dari hidupku. Ini ada sejumlah uang yang bisa kamu gunakan untuk melanjutkan hidupmu. Anggap saja sebagai kompensasi atas kebebasanmu yang aku beli selama ini," Elvan mengangsurkan cek bertuliskan sejumlah nominal yang sangat banyak tentunya ke depan Vada.


Tak sanggup menahan air matanya lagi, Elvan memilih berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Vada yang masih terdiam mematung dengan mata berkaca-kaca sendiri.


Blam!


Elvan masuk ke dala mobilnya, diam untuk beberapa saat dengan mata memerah. Sungguh bukan ini yang ia ingin katakan sebelumnya dalam makan malam ini. 'I love you, i love you so much, my Nevada. I love you with all of my life, i kove you to the moon and back. Jadilah ratuku selamanya, jadilah ibu untuk anak-anakku kelak, ' itulah kata-kata yang ingin ia katakan sebelumnya. Namun, siapa sangka jika semuanya tak berjalan sesuai yang ia rencanakan. Dan justru kaya perpisahan yang ia ucapkan, itu artinya ia telah benar-benar mengakhiri pwrnikahan yang mungkin tidak sah ini. Kata pisah sudah ia ucapkan dengan sadar. Hatinya tersasa seperti tersayat.


"Aaarrhgggh!" Elvan memukul setir mobilnya. Ia merasa hidupnya benar-benar tak adil.


Sementara Vada, untuk beberapa saat ia masih terdiam, tatapannya kosong kurus kedapan, hingga...


Tes... Air matanya jatuh begitu saja. Beginikah akhirnya?


Vada menggenggam erat kotak yang sudah ia ambil setelah mereka berdansa tadi di tangannya, di bawah meja. Bahkan Elvan sama sekali tak memberinya kesempatan untuk berbicara. Pria itu pergi begitu saja setelah berhasil menghantam hatinya hingga hancur berkeping-keping.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2