
"Kenapa lihatin aku begitu?" tanya Andra pada Rio.
"Putri Anda mirip dengan Anda, tuan," ujar Rio berdusta.
"Hahaha, banyak yang bilang begitu. Tapi, semuanya bohong. Di mirip ibunya," sahut Andra.
Rio hanya tersenyum tipis. Apa ibunya Kyara mirip Elvan? Ah entahlah, ia tak ingin di pusingkan dengan hal itu.
"Kya, kita pulang, ya? Udah sore," ajak Andra. Meski seperti tak rela, akhirnya Kyara mengangguk patuh.
Kyara langsung memeluk Elvan untuk berpamitan, "Kya pulang dulu, uncle hancem!" ucapnya.
Di peluk Kyara, perasaan Elvan seketika menghangat tanpa sebab. Ia hanya bisa diam, namun nalurinya merangsang tangannya untuk mengusap punggung anak itu.
"Ayo, sayang!" Andra mengulurkan tangannya.
Ada rasa tak rela dalam diri Elvan saat Kyara melepas pelukannya. Ia hanya mampu tersenyum tipis ketika Kyara berjalan menjauh sembari melambaikan tangan kirinya, sementara tangan kanannya di tuntun oleh Andra.
"Kya, lain kali kalau sama orang asing, nggak boleh peluk, ya? Nanti kalau mama tahu, mama marah," Andra menasihati Kyara. Untung saja, tak ada Vada di sana. Kalau wanita itu tahu Kyara memeluk kliennya, bisa-bisa kena semprot dia.
"Mamanya galak, tukang bohong lagi! Anak nggak mirip gitu sama papanya di bilang mirip. Malahan mirip tuan muda," celetuk Rio yang mendengar ucapan Andra samar-samar.
Elvan menoleh, mentap tajam asistennya tersebut, "Jaga ucapanmu!" ujarnnya. Meski sebenarnya dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan oleh asistennya tersebut.
Setelah mobil Andra pergi, Elvan juga berniat meninggalkan tempat tersebut.
"Apa ini?" batin Elvan saat kakinya tak sengaja menendang sesuatu. Ia berjongkok dan mengambil sesuatu yang ternyata sebuah boneka.
.
.
Andra dan Kyara sampai di cafe menjelang maghrib.
"Makasih ya, Ndra. Maaf selalu ngerepotin kamu," ucap Vada.
"Jangan bicara begitu. Kyara juga kan anakku," ucap Andra.
"Maksud ku, aku udah anggap Kya seperti anakku," sambung Andra cepat.
Vada tahu maksud pria baik di depannya, "Maafin aku, Ndra. Aku belum bisa..."
"Nggakpapa, aku akan menunggu, sampai kamu siap, Sha. Aku tahu, kamu pasti masih trauma dengan pernikahanmu sebelumnya. Aku cuma ingin kmu tahu, aku serius menganggap Kya sebagai anakku. Dan aku pastikan tidak akan menjadi suami breng sek seperti mantanmu, yang tega membiarkan kamu susah dan menderita saat hamil anaknya," ucap Andra.
Vada tertegun, entah kenapa ia tak setuju dengan tuduhan Andra. Karena pria itubtak tahu yang sebenarnya," Kamu nggak tahu yang sebenarnya, Ndra. Takdir yang membuat kami harus begini, " batin Vada.
.
.
.
__ADS_1
Malam hari....
Vada baru saja membuatkan susu untuk Kyara. Anak itu langsung minum sampai tandas. Setelahnya, anak itu meminta Ibunya untuk membacakan dongeng.
Kyara merangkak naik ke ranjang, di susul Vada yang baru saja meletakkan gelas di nakas.
"Mau dongeng, ya?" tanya Vada.
"No, syekalang gantian Kya yang celita. Mama dengelin!" ucap Kyara.
"Baiklah, Kya punya cerita apa?" Vada mengusap lalu mencium puncak kepala Kyara.
"Kya, ketemu papa!" ucap anak itu yang sejak sore tadi kepikiran ingin cerita hal tersebut kepada ibunya.
"Ya, kan tadi Kya memang ketemu ompapa," " sahut Vada.
" No, mama! Bukan ompapa. Tapi, Pa-pa!"
Deg!
Vada terkejut sampai dia mengubah posisi dari tiduran di samping Kyara menjadi duduk. Kyara ikut bangun dan duduk. Ia bersila di depan Vada.
" Kok Kya ngomong gitu?" selidik Vada.
"Kata mama, papa Kya milip syama Kya. Tadi Kya ketemu uncle yang milip Kya," Rupanya, saat bertemu dengan Elvan tadi anak itu langsung menangkap sesuatu yang selalu ibunya katakan.
"Sayang, mirip bukan berarti itu papa Kya," Vada mencoba menjelaskan, karena tidak mungkin jika Kyara bertemu Elvan, pikirnya.
Vada menghela napasnya dalam, "Papa Kya kan lagi kerja jauh. Nggak mungkin papa di sini, sayang,"
"Papa pulang, papa ketemu Kya. Kya mau papa, mama," rengek Kyara.
"Kya kan udah punya ompapa. Kya mau ompapa jadi papa Kya?"
Kyara menggeleng, "Kya mau papa Kya, bukan ompapa. Kya syuka uncle hancem. Kya mau papa..." Kyara mulai merengek bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Uncle hancem sama Kayak Kya, mama bilang Kya milip papa....Kya peyuk papa tadi, Kya main syama papa. Kya cayang . Kya csayang!" dan air mata ank itu tak lagi terbendung.
Vada langsung mendekap putrinya, "Iya, papa kya juga sayng sama Kya," ucapnya. Hatinya hancur mendengar Kyara merengek bahkan menangis karena menganggap pria asing sebagai ayahnya.
"Ayo, mama. Kita cali papa!" Kyara
Menarik-narik ujung piyama Vada.
"Iya, besok ya, sayang. Sekarang kan udah malam. Kya harus bobo," ucap Vada berusaha keras untuk tak menitikkn air matanya.
"Nanti papa kebuku pelgi! Ayo mama!"
"Dengerin mama dulu, Kya kalau mau ketemu papa harus jadi ank baik. Anak baik tidak boleh bobo malam-malam. Sekarang Kya bobo dulu. Besok baru cari papanya," Vada berharap setelah tidur, Kya akan lupa akan hal ini.
Kyara mengangguk patuh,"Kya mau bobo, bial papa cayang Kya. Kya mau mothy!" Boneka kesayangannya mampu mengalihkan rengekannya soal papa.
__ADS_1
Boneka? Sejak sore tadi, Vada tak melihat benda itu bersama Kyara. Padahal kemanapun anak itu pergi, boneka yang ia rajut sendiri itu tak pernah absen ikut dengan Kyara.
" Kya mau mothy, mama. Mothy mana?" Kyara tidak akan bisa tidur tanpa bonekanya. Mungkin dari tadi ia sedikit lupa dengan boneka yang di beri nama Mothy tersebut karena antusias ingin cerita soal kemiripannya dengan pria yang mengganggu pikirannya.
Vada berusaha mencari Mothy ke setiap sudut apartemen. Namun tak juga ketemu. Padahal Kyara sudah nangis
Kejer mencari bonekanya.
"Mana mothy, mama. Mothy di culik! Kya mau mothy! kacian mothy di culik olang jahat. Mothy nanyi takut, kya cayang mothy. Mothy di culik!"
Tentu saja Vada kelimpungan untuk menenangkan Kyara. Perkara papa selesai, kini berlih boneka. Vada menghela napasnya dalam. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Andra.
" Halo, Ndra! "
" Ya, Sha. Kenapa? Udah kangen? Baru juga ketemu tadi, " ujar Andra bercanda.
"Ck, bukan begitu. Itu Kya nangis nyari bonekanya. Mothy ada sama kamu nggak?" tanya Vada lngsung.
"Nggak ada, ini kebetulan aku masih di mobil mau pulang. Kamu udah cari?"
"Udah,. Aku cari dimana-mana nggak ketemu,"
"Mungkin tertinggal waktu ikut aku meeting tadi, biar aku cari ke sana. Aku putar balik sekarang," Andra yang tahu jika boneka itu adalah boneka kesayangan Kyara karena sejak bayi, boneka itu selalu di sisi Kyara jadi ikut panik.
Vada menoleh. Rupanya Kyara sudah tertidur karena capek menangisi Mothy.
"Ya udah kalau nggak ada, Ndra. Besok aja kamu carinya. Kya-nya juga udah tidur sekarang," ucap Vada.
"Baiklah kalau begitu. Kamu juga cepat istirahat, udah malam,"
"Hem, kamu juga hati-hati," balas Vada sebelum panggilan berakhir.
Vada membenarkan posisi tidur Kyara. Tak lupa ia menyelimuti putri kecilnya tersebut. Ia kembali ingat akan ucapan Kyara tadi, apakah sebegitu rindunya sang anak terhadap sosok ayahnya hingga mengakui pria asing sebagai ayahnya.
Vada membelai lembut pipi Kyara. Tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja. Bukan karena ia merindukan pria itu, bukan. Tapi, melihat puteinya merengek dan menangis meminta untuk mencari papanya bwgitu menyayat hatinya. Baru pertama kali Kyara seperti ini. Vada pikir, dirinya saja yang berperan sebagi ibu sekligus ayah sudah cukup untuk Kyara.
Tak pernah terbesit sebelumnya akan sampai pada titik dimana Kyara mempertanyakan soal ayahnya hingga seperti itu. Merengek bahkan menangis. Sorot matanya begitu tersirat kerinduan yang mendalam terhadap sosok itu.
Vada kembali teringat saat melakukan Video call sore tadi dimana ia melihat punggung pria yang Kyara sebut sebagai 'papa'.
"Tidak mungkin itu dia... Tidak mungkin dia di sini," gumamnya menepis pikirannya sendiri.
Vada mencium kening Kyara, "Maafin mama, sayang," Ia tak ingin membohongi Kyara soal ayahnya dengan mengatakan jika ayahnya sedang bekerja jauh, namun ia juga tak mungkin mengatakan yang sebenarnya terhadap sang putri yang masih terlalu kecil untuk mengerti tentang kejamnya kehidupan.
" Aku udah berusaha menjadi yang terbaik untuk anak kita, Bang. Menjadi ibu sekaligus ayah untuknya. Tapi, dia tetap mempertanyakan keberadaanmu. Semakin besar, pasti Kya akan semakin sensitif dengan hal ini. Aku harus bagaimana?" gumamnya dalam hati.
Ya, tiga tahun lebih Vada berjuang sendiri. Mengandung hingga melahirkan ia menanggung semua sendiri. Rasa cemas dan takut bagaimana bayinya lahir tidak sempurna karena ketidak tahuannya soal ikatan darah antara dirinya dengan Elvan.
Betapa ia sangat bersyukur ketika putrinya kecilnya lahir dengan sehat sempurna tanpa ada kekurangan satupun. Bahkan anak itu kini tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan ceria. Satu hal yang tak henti-hentinya ia syukuri.
Ketakutan dan kekhawatirannya selama ini menguar seiring berjalannya waktu. Berganti dengan ketakutan baru, dan hal itu baru saja terjadi. Sekarang mungkin Vada masih bisa terus membohongi Kyara, namun semakin beranjak besar nanti, tentu anak itu akan semakin curiga, bahkan mungkin akan mencari tahu sendiri kebenarannya.
__ADS_1