
Vada langsung memegang lengan suaminya untuk sedikit menenangkan pria tersebut. Ia tahu, pasti suaminya saat ini benar-benar syok mendengar kabar kehamilan Zora. Mungkin jika pria lain yang menghamili Zora, Elvan tak akan seterkejut ini, tapi ini adalah Dimas.
"Zora, Tolong katakan yang jelas, kamu beneran hamil? Dan itu benarkah anaknya Dimas?" ucap Vada. Ia masih bingung dan tak ercaya dengan apa yang terjadi. Ia pikir, Zora selama ini mengincar Elvan. Tapi, wanita utu datang dengan membawa berita yang benar-benar di luar dugaan.
"Iya. Aku hamil dua bulan, dan ini adalah anaknya Kak Dimas,. Selama ini aku dan dia...."
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi sekarang!" Elvan berdiri. Ia benar-benar marah dan kecewa kenapa Zora bisa masuk ke dalam perangkap Dimas sejauh ini. Bahkan kini ada janin yang tak berdosa di dalam perut wanita itu.
"Tapi, kak... Aku mohon. Apapun kesalahan kak Dimas, tolong di maafkan, demi anak yang ada dalam perutku, bukankah kakak juga salah karen sudah menikahi wanita yang sudah menyebabkan kak Zoya meninggal? Apalagi, Vada juga menteri madonor mata dari kak Zoya. Tolong sedikit kasihani aku dan calon anakku kak, setidaknya tunjukkan sedikit rasa bersalah kakak kepada kak Zoya," ucap Zora.
"Laki-laki yang kau puja dan bela itu adalah selingkuhan kakakmu, Zora!" geram Elvan tak bis tertahan. Tangannya mengepal kuat demi menekan amarahnya.
"Tidak mungkin! Kakak jangan buat cerita omong kosong, Kak Zoya sangat mencintai kakak. Nggak mungkin selingkuh. Apalagi dengan kak Dimas, mereka cuma sahabatan! Kaka jangan membuat cerita bohong demi menutupi rasa bersalah kaka keada kak Zoya. Selama ini kak Dimas hanya cinta sama aku," Zora menolak percaya.
Elvan diam, ia terlalu malas menjelaskan kepada wanita yang sudah dibutakan oleh cinta pria brengsek seperti Dimas tersebut.
"Tapi itu kenyataannya, Zora," ucap Vada. Ia menatap suaminya yang terlihat pucat karena sakit.
"Nggak mungkin, pasti itu bohong!" Zora masih tak mau percaya. Namun, matanya kembali berkaca-kaca. Tak di pungkiri jika hatinya sakit mendengar kenyataan ini.
"Kak..." Zora mengiba kepada Elvan.
Tanpa bicara lagi. Elvan memilih beranjak dari sana. Kondisi tubuhnya yng memang masih sakit, membuat Elvan tak bisa berpikir jernih untuk saat ini.
__ADS_1
"Kak, aku mohon bebaskan Kak Dimas!" Ucap Zora.
"Vada, tolong kamu bujuk kak Elvan. Meski benar kak Zoya dan kak Dimas dulu pernah berhubungan, tapi itu sudah masa lalu. Kak Dimas pasti sudah berubah, sekarang dia cuma cinta sama aku, aku tahu itu. kasihan anakku nanti kalau lahir tanpa ayah," rengek Zora, ia menggenggam tangan Vada memohon, wajahnya terlihat sangat memelas sekali.
Vada membuang napasnya kasar, bagaimana mungkin Dimas berubah jika dia mengingat penculikan waktu itu adalah karena Dimas ingin merebut Vada dari Elvan, menjadi miliknya menggantikan Zoya. Di sini sudah jelas jika Zora hanya di jadikan pelampiasan naf sunya saja. Tetapi, Vada tak sampai hati mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa kamu terlalu naif, Zora, begitu buta oleh cinta," batin Vada merasa iba melihat Zora.
"Aku kemarin ke kantor polisi, tapi kak Dimas tidak aku menemuiku, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, Vada. Tolong aku, dia harus tahu kalau aku hamil anaknya. Dia harus bertanggung jawab dan menikahiku," Zora terlihat begitu frustrasi.
" Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, kamu terlihat tidak baik-baik saja. Kamu pucat. Aku mau nyusul suamiku dulu. Kita bicarakan ini lagi nanti," Vada menyentuh Tangan Zora yang menggenggam tangan kirinya. Pelan-pelan Vada mendorong tangan Zora supaya melepaskan tangannya lalu ia juga beranjak Meninggalkan Zora sendiri.
πππ
Vada duduk di samping sang suami, ia menyentuh paha pria yang menunduk dan menutup matanya dengan tangan kirinya, tersebut lalu tersenyum saat Elvan menoleh kepadanya.
Elvan menghela napasnya dalam, "Abang nggak pernah berpikir Dimas akan melakukan hal ini. Bagaimana mungkin dia...." Elvan tak meneruskan kalimatnya. Entah apalagi yang harus ia katakan.
Elvan terdiam. Sebenarnya urusan Zora bukanlah menjadi urusannya. Namun, rasa sayangnya untuk wanita itu sebagai adik tidak bisa dia abaikan begitu saja.
"Aku mengkhawatirkan kesehatan paman (ayahnya Zora), bagaimana ia akan menerima jika putrinya hamil dengan seorang seperti Dimas," Ucap Elvan.
Vada mengerti bagaimana perasaan suaminya saat ini. Ia meraih kepala pria tersebut supaya bersandar di bahunya. Elvan nurut, ia menjadi sedikit lebih rileks dengan begitu.
__ADS_1
"Lalu apa yang abang lakukan? Apa abang akan membebaskan Dimas? Bagaimana pun bayi yang di kandung Zora tidak bersalah, dia butuh ayahnya," ucap Vada hati-hati. Ia tahu betul rasanya tumbuh tanpa orang tua.
"Entahlah. Abang belum tahu. Abang tidak bisa memaafkan apa. Yang sudah Dimas lakukan,"
Apa sebegitu sakit hatinya Elvan karena pengkhianatan Dimas dan Zoya, pikir Vada. Padahal alasan utama Elvan adalah karena dirinya. Ia benar-benar murka saat melihat Vada hampir di lecehkan di depan matanya. Jika ia terlambat sedikit saja, entahlah apa yang terjadi dengan wanita yang ia cintai tersebut. Dan untuk hal itu, ia benar-benar tidak akan memberi ampun.
"Kita bicarakan ini nanti, lebih baik sekarang abang istirahat dulu. Zora juga aku suruh untuk istirahat. Aku lihat dia sangat syok," ucap Vada yang melihat suaminya terlihat sekali masih sakit. Pria itu terlihat pucat.
Elvan tak menyahut, namun ia merebahkan diri di tempat tidur. Ia menarik tangan Vada yang hendak menyelimutinya hingga wanita itu jatuh di sampingnya," Tetaplah di sini. Temani abang. Jangan kemana-mana!" Ucap Elvan yang kini sudah memejamkan matanya. Matanya terasa berat untuk terbuka. Mungkin efek obat yang tadi ia minum. Ia memeluk erat wanitanya tersebut seolah tak aka membiarkan Vada berjarak dengannya sesentipun.
"Hem, abang istirahatlah, aku tidak akan kemana-mana," Vada mengangguk, tangannya mengusap-usah lengan Elvan yang melingkar di pinggangnya. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Beberapa saat kemudian, Vada mendongak demi memastikan jika suaminya sudah pulas. Pelan-pelan ia mengangkat tangan Elvan dari pinggangnya. Ia ingin wrgi melihat Zora. Namun, baru saja bangun, Elvan menarik tubuhnya hingga kembali terjatuh dalam pelukan pria tersebut.
"Mau kemana?" tanya Elvan dengan mata tetap terpejam.
"Abang bilang jangan pergi, jangan bandel!" Elvan malah semakin erat memeluk Vada hingga wanita itu sulit bergerak.
Vada hanya bis pasrah. Membiarkan bayi gede yang manja di saat sakit tersebut berbuat semuanya.
"Peluk aja yang kenceng, bang. Kurang kenceng ini, biar sekalian aku nggak bisa napas," Gumamnya namun tak berniat leas dari pelukan sang suami.
Rupanya Elvan mendengarnya, karena kini pelukannya sedikit melonggar. Hanya sedikit, menyisakan ruang untuk Vada bernafas. Karena ia tak mau menjadi duda.
__ADS_1
ππLike dan komennya jangan lupa...