Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 62


__ADS_3

Elvan masuk ke kamar dengan segelas susu cokelat hangat di tangannya. Ia meletakkannya di atas nakas karena Vada belum juga keluar dari kamar mandi.


Sementara menunggu Vada mandi, Elvan mengambil ponselnya, ia tampak menghubungi seseorang.


"Yo, pesankan pakaian lengkap untuk Istriku di butik biasa Zoya berlangganan, segera antar ke apartemen!" ucapnya yang langsung menutup telepon tanpa menunggu sahutan dari asistennya.


Beberapa menit kemudian sang istri muncul dari balik pintu kamar mandi. Elvan menoleh dan tersenyum saat melihat Vada sudah berdiri di depannya.


"Baru mau aku susul ke kamar mandi, kok udah selesai mandinya," goda Elvan.


Vada mendekati suaminya, "Ih tuan, kok belum pakai baju juga sih. Nanti masuk angin!" seloroh wanita itu tersenyum.


"Bukankah memakai baju juga percuma? Habis ini juga di lepas lagi," sahut Elva dengan senyum penuh arti. Ia berjalan mendekati nakas lalu mengambil segelas susu cokelat yang tadi ia buat.


"Ini, minum dulu susunya, mumpung masih hangat. Kamu lama mandi ya, untung belum dingin," Elvan memberikannya kepada Vada.


"Aku tuh ngelemesin otot-otot dulu tadi di kamar mandi, habisnya badan terasa pegal dan kaku semua, benar-benar melelahkan!" keluh Vada, ia langsung meminum susunya.


"Melelahkan ya, tapi kapok nggak?" tanya Elvan.


Dengan gelas masih menneple di bibir, Vada menggeleng di serta senyum manja. Membuat Elvan merasa gemas lalu mengacak rambutnya.


"Tuan mau?" Vada menyodorkan susu yang masih setengah gelas, "Pasti tuan juga laar kan?" sambung ya cepat.


Elvan mendekatkan kepalanya ke samping telinga Vada, "Aku lebih suka susu dari pabriknya langsung dari pada dari gelas," bisiknya sensual. Membuat Vada langsung menelan salivanya.


"Ck, dasar!" Vada menabok lengan Elvan pelan, wajahnya terlihat merona, "Jadi bayangin lagi kan akunya, tuan sih," ucapnya malu-malu.


"Kenapa cuma bayangin? Kalau bisa praktek langsung," sahut Elvan tersenyum mesum.


Vada langsung mencebik, "Maunya!" serunya.


"Emang mau, kamu emang nggak mau?"


Vada diam tak menjawab namun senyum-senyum sendiri.


"Udah, habiskan susunya biar tenaganya sedikit bertambah biar aku bisa minum langsung dari pabriknya, biar bisa buat jumpalitan lagi," Kata Elvan.


Vada mengikuti ucapan suaminya, ia minum hingga tandas susunya.


Elvan tersenyum tipis melihat di atas bibir Vada ada sisa-sisa susu yang menempel seperti kumis.


" Ck, kamu. Minum susu kayak anak TK aja," Elvan mengusapnya menggunakan ibu jarinya. Saat jempol ya sampai di sudut bibir sangat istri, ia mendekatkan bibirnya dan langsung memagut bibir Vada.

__ADS_1


Vada menyambut pagutan Elvan, ia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Elvan dan membalas lumataan suaminya tersebut.


Elvan meletakkan gelas ke atas nakas tanpa melepas ciumannya, sebelum tangannya melingkar di pinggang Vada.


Dengan sekali gerakan, tangan kanan Elvan menarik tali handuk piyama yang Vada gunakan untuk menutup tubuhnya.


Elvan mendorong tubuh Vada pelan ke ranjang. Perlahan bibirnya menjalar turun ke leher jenjang Vada lalu berakhir di pabrik susu milik sang istri. Tak menunggu lama, ia langsung merealisasikan kalimatnya yang ingin minum susu langsung dari pabriknya.


Vada langsung di buat merem melek oleh Elvan saat pria itu bak seorang bayi yang haus, menyesap dan memainkan lidahnya.


Sekali lagi mereka melakukan kegiatan panas yang melelahkan namun menagihkan tersebut.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Selesai dengan sesi tambahan penyatuan keduanya, kini Elvan dan Vada sedang menikmati sarapan mereka yang tadi sudah di pesan oleh Elvan.


"Jangan lihat aku kayak gitu terus, tuan. Kayak yang mau makan aku lagi gitu natapnya. Udah nyerah aku, kalau ada kamera udah melambaikan tangan ini aku. Beneran!" ucap Vada yang merasa aneh sejak tadi Elvan menatapnya. Pria itu malah lupa dengan makanan di depannya. Apalagi saat ini Vada hanya memakai kemeja milik Elvan yang kebesaran di tubuhnya. Tapi justru karena kebesaran, setidaknya jadi bisa menutupi sampai bawah bagian sensitifnya.


Ia terpaksa memakai kemeja milik Elvan karena di apartemen tersebut tak ada baju perempuan sama sekali. Hanya ada baju Elvan saja di sana. Dan Vada memilih sebuh kemeja yang bisa sedikit menolongnya dari kepolosan namun ia tidak sadar, jika dengan berpakaian seperti itu justru kembali menimbulkan ketegangan di belut impor Elvan. Pria itu sekuatnya berusaha menahannya.


"Aku pasti jelek banget ya pakai baju kayak gini? Habisnya tuan semalam main tarik aja tanga aku ke sini, jadi aku nggak ada bawa baju sama sekali. Ini juga. Makannya apa! Nggak bikin kenyang, tetap harus makan nasi aku tuh!" keluh Vada menatap piringnya yang sudah kosong.


"Nanti Rio antar baju buat kamu ke sini, sebentar lagi pasti sampai. Sabar.... Mau ini?" Elvan menunjuk makanannya yang baru ia makan dua suap.


Elvan tersenyum melihat tingkah sang istri. Ia lalu mendorong piringnya ke depan Vada, "Makanlah, biar ada tenaga. Nanti kita belanja keperluan yang kamu butuhkan di sini, karena mulai sekarang kita akan tinggal di sini saja berdua," ucap Elvan.


"Benar belanja?" mata Vad langsung berbinar.


Elvan mengangguk, "Iya, penuhi semua keperluan dapur dan juga apartemen, karena sekrang Anda nyonya di sini, nyonya Adhitama. Cepat makan!"


"Tapi tuan?"


"Aku masih kenyang, bukankah tadi habis minum susu dari pabriknya," Seloroh Elvan yang mana membuat Vda langsung mendesis. Pria itu hanya sedikit terkekeh melihat sang istri yang menatapnya sebal.


Selesai makan, mereka berdua hendak kembali ke kamar saat pintu mendadak terbuka.


Melihay siapa yang masuk apartemennya, Elvan langsung menarik Vada yang tadi berada di sampingnya untuk bersembunyi di belakangnya karena tidak mungkin membiarkan Rio melihat Vada dengan pakaian seperti itu.


"Apa tidak bisa memencet bel dulu, yo?" kata Elvan dingin.


"Maaf tuan muda, saya lupa jika Anda sudah menikah," kata Rio. Karena biasanya ia langsung masuk dengan memasukkan kode. Ia mendadak lupa jika bosnya kini butuh lebih banyak privasi.


Vada yang tadi tidak menyadari situasi kenapa Elvan langsung menarik tubuhnya ke belakang pria itu, kini paham setelah mendengar suara Rio. Ia menjadi was-was jika Rio melihat dirinya yang kini terlihat seksi. Apalagi ia tak memakai pakaian dalam sama sekali, hanya kemeja milik Elvan saja. Ia benar-benar malu padahal Rio juga tidak tahu ia memakai penutup pabrik susu dan juga segitiga bermudanya atau tidak. Yang jelas, Paha mulusnya tentu sangat terkespose karena hanya sedikit tertutup bagian atasnya.

__ADS_1


Vada semakin merapatkan pahanya dan juga tubuhnya ke tubuh Elvan. Ia menarik tangan Elvan untuk menutupi samping kana dan kiri supaya tak kelihatan. Elvan yang menyadari ketidak nyamanan sang istri langsunf bereaksi, "Taruh saja di situ, dan kau cepatlah keluar dari sini!" ucap Elvan.


Meski Rio penasaran kenapa Vada ngumpet di belakang Elvan karena biasanya wanita itu selalu ngumpat kalau bertemu dengannya, namun Rio tetap meletakkan paper bag di tangannya lalu memutar badan. Sebelumnya ia sempat melirik, sedikit menegakkan kepalanya untuk mengintip kepala Vada yang hanya nyembul sedikit di balik punggung Elvan.


Vada lanhsung bernapas lega setelah Rio keluar, "Gila itu asisten, main masuk aja. Untuk tuan gercep menyembunyikan aku. Coba kalau enggak, beuh! Udah jadi sodaqoh ini paha. Mana aku nggak pakai daleman lagi! Keangkat sedikit nih kemeja, udah deh! Tuan pasti nggak rela kan bagi-bagi surga dunia yang ini?" omelnya kemudian. Yang mana membuat Elvan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Ayo, ganti bajumu! Elvan menarik Tangan Vada setelah mengambil paper bag yang tergeletak di sofa.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


"Bagiamana pas?" Tanya Elvan.


"Pas sih, soalnya kan bahannya melar, tapi sepertinya terlalu menonjol," sahut Vada menunduk melihat ke arah dadanya lalu menoleh ke bagian belakang. Dres yang ia kenakan membuatnya terlihat seksi. Dan itu sama sekali bukan gayanya, memakai dress yang menempel di tubuh.


Elvan langsung paham dengan ucapan sang istri, ia lupa memberi tahu Rio jika tubuh Vada tidak sama dengan Zoya, Vada sedikit lebih berisi dan padat dari pada Zoya.


"Maaf aku lupa memberi tahu Rio kalau ukuran baju kamu dan Zoya tidak sama. Sepertinya Rio memesan ukuran Zoya, dia tidak tahu dengan ukuranmu," kata Elvan.


Mendengarnya entah kenapa, raut wajah Vada sedikit berubah, padahal ia tahu suaminya tak bermaksud apa-apa.


" Oh, ini ukuran dan selera mbak Zoya. Pantas bajunya modelnya bagus begini," ucap Vada dengan nada rendah.


Elvan menyadari perubahan raut wajah dan juga nada bicara sang istri. Memang wanita yang berdiri di depannya ini jadi terlihat seperti Zoya. Ia tak berpikir dahulu tadi saat meminta Rio memesan baju di butik bias ia membeliakkan pakaian untuk Zoya. Ia kira selera perempuan sama saja, tapi sekarang ia menyadari jika yang sekarang berdiri di depannya memang bukan seperti Vada, istrinya tapi lebih ke gaya Zoya. Apalagi saat Vada keluar dari walk in closet tadi, sesaat Elvan seperti melihat Zoya.


"Pakai itu dulu, habis ini kita belanja, sekalian beli baju yang sesuai dengan kamu,"


"Ngga usah nggak apa-apa, ini aja. Tadi ada beberapa belum di pakai, sayang kalau mubazir, kan kalau begini jadi buat tuan ingat mbak Zoya, siapa tahu rasa rindu tuan sedikit terobati," sindir Vada. Membuat Elvan sedikit mencelos.


"Tidak, jika itu tidak buatmu nyaman, karena di sini kamu nyonyanya. Tetaplah jadi Nevadaku. Aku ganti baju dulu, setelah itu kita pergi!" Elvan mencium kening Vada lalu beranjak menuju walk in closet.


Vada mengembuskan napasnya kasar setelah Elvan menghilang dari pandangannya," Maafkan aku mbak Zoya, bukan aku nggak berterima kasih dan nggak tahu diri karena mbak Zoya sudah mendonorkan kornea matanya buat aku, tapi aku tetap merasa tidak nyaman kalau harua menajdi seperti mbak Zoya," gumamnya dalam hati.


Ia ingat, tadi ekspresi wajah Elvan saat pertama kali ia keluar dari walk in closet. Tapi juga tak menyalahkan suaminya itu. Ia pun mungkin akan sama saat nanti melihat Mirza, pasti ada yang beda dari tatapnnya nanti. Tapi, semua kembali ke kesepakatan mereka untuk berusaha saling menerima dan mulai dari awal.


Meskipun begitu, tapi tetap rasa ada sekelebat perasaan yang tidak nyaman di hatinya, "Kenapa ini? Cemburu? Apa aku mulai cemburu?" gumam Vada.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’ πŸ’ 


Maaf semuanya baru bisa up, ada saudara mau menikah jadi othor sibuk sekaleeeee.


Jangan lupa like dan komennya ya, matur suwun πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

__ADS_1


πŸ’ πŸ’ 


__ADS_2