
"Tuan maafkan aku, tadi aku..."
"Kenapa kamu senang sekali memancing kemarahanku, Vada?" Elvan mengusap wajahnya kasar. Ia merutuki Kebodohannya yang sudah merasa khawatir istrinya kenapa-kenapa tapi ternyata istri malah pergi keluar.
"Sudah aku katakan, putuskan pacarmu itu atau aku akan menghancurkannya!" ancam Elvan. Ia Curiga jika istrinya itu diam-diam bertemu dengan kekasihnya. Dan itu membuatnya benar-benar marah.
"Aku keluar bukan untuk menemui mas Mirza!" bantah Vada tegas.
Sebutan 'mas' terdengar menjengkelkan di telinga Elvan. Dengannya saja wanita itu memanggil tuan.
"Aku pergi ke panti asuhan, sudah lama aku tidak kesana. Aku hanya memberikan uang untuk keperluan adik-adik aku di sana," jelas Vada.
Elvan diam seketika mendengarnya.
Elvan membuang napasnya kasar," Siapkan baju, aku akan mandi sekarang," ucapnya kemudian.
"Ah baiklah," Vada bergegas menuju ke walk in closet.
"Tunggu! "
"Ya? "
"Kau juga mandi!" turah Elvan.
"Iya, nanti aku mandi,"
"Sekarang!"
"Bareng?"
"Menurutmu?"
Vada mencebik, "Siap-sip bayar hutang ini mah. Hutangku ngumpul berapa ya?" batinnya.
Elvan berkacank pinggang meninggalkan Vada yang masih diam di tempatnya.
"Mau berapa lama kau berpikir?" suara Elvan mmebuat Vada segera melangkah cepat mengikutinya ke kamar mandi.
"Tapi ini di hitung nyicil bayar hukuman ya, tuan?" rengek Vada.
š¤š¤š¤
"Tuan," panggil Vada setelah ia mengetuk pintu ruang kerja Elvan dan menyembuhkan kepalanya sedikit ke dalam.
"Ganteng banget kalau lagi serius begini," batin Vada tak sadar langsung memuji suaminya.
Elvan yang tampak sedang sibuk dengan beberaa berkas, menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya laki-laki itu.
"Makan malam sudah siap," ucap Vada.
"Hem," sahut Elvan pendek. Ia melepas kaca matanya lalu bangkit dari duduknya.
Sesampainya di meja makan, Vada dengan telaten melayaninya dengan baik. Elvan hanya diam sambil memperhatikan sang istri dengan cekatan melayaninya. Hatinya menghangat melihatnya.
"Cukup, Vada. Kau duduklah dan makan!" ucap Elvan.
Vada menurut, ia mengambil duduk di sisi kiri suaminya. Mereka mulai makan tanpa bersuara.
Sesekali Elvan melirik sang istri yang terlihat sekali tidak memiliki selera untuk makan. Istrinya lebih banyak diam dan melamun selama makan malam berlangsung meskipun makanan di piring Vada tetap habis, tapi butuh waktu cukup lama.
Vada terus kepikiran soal panti asuhan. Bagaimana mungkin ia bisa mengumpulkan uang sebanyak lima ratus juta dalam waktu satu bulan. Selama ini saja ia sudah banting tulang dari bangun tidur hingga kembali tidur lagi belum ada terkumpul sepersepuluhnya.
Vada benar-benar bingung. Sebagai anak tertua di panti, ia merasa ikut bertanggung jawab atas kelangsungan hidup panti asuhan, tempat yang menjadi saksi bisu dirinya tumbuh besar menjadi seorang gadis yang sngat cantik seperti sekarang.
Kalaupun mereka harus pindah, ia aking hanya bisa menyewakan sebuah tempat untuk mereka tinggal sementara.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Elvan.
"Ya?" Vada tergagap, tersadar dari lamunannya.
"Sejak tadi kau melamun, ada apa?" selidik Elvan.
"Tidak, tuan. Aku tidak apa-apa," jawab Vada.
Elvan tahu menghela napasnya dalam, istrinya pasti menyembunyikan sesuatu darinya terlihat jelas wajah wanita itu terus berpikir sejak tadi.
"Terserah kalau tidak mau cerita," UCAP Elvan ia lalu bangkit dari duduknya hendak kembali ke ruang kerja.
"Tuan," sergah Vada sebelum Elvan melangkah dari meja makan.
"Apa?"
"Emmm, mansion sebesar ini, apa tidak mubazir jika tidak di manfaatkan?" ucap Vada. Dalam pikirannya, mansion sebesar dan semewah itu mungkin bisa Elvan seakan untuk tempat tinggal anak-anak panti nanti jika mereka di usir dari sana. Luas mansion saja bahkan lebih luas dari panti asuhan, pasti tidak akan mengganggu jika anak-anak tinggal di sana.
"Maksudnya?" tanya Elvan tak mengerti.
"Em, mungkin bisa untuk menampung anak-anak yang kurang beruntung yang tidak memiliki tempat tinggal," ucap Vada ragu-ragi, berharap Elvan mengerti maksudnya.
Elvan langsung menautkan kedua alisnya, "Kau pikir mansion ini panti asuhan?" Elvan benar-benar tak habis pikir, apa yang ada di kepala istrinya itu hingga ketenangan di mansion itu harus terusik dengan kehadiran orang banyak. Bukankah sudah ada panti asuhan yang khusus untuk menampung mereka.
Elvan langsung meninggalkan Vada tanpa suara.
Vada mengembuskan napasnya kasar, "Mana mungkin juga suami beruang kutub itu mengijinkan istanahnya ini untuk tempat tinggal anak-anak. Vada Vada, be go banget sih," gumamnya lirih.
š¤š¤š¤
Vada yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Elvan sudah duduk di ranjang sambil memangku laptopnya.
Vada menuju ke meja rias untuk menggunakan skincare sederhananya.
Elvan hanya meliriknya sekilas saat Vada mengambil pil kontrasepsi di laci nakas. Sejak Elvan menyuruhnya meminum pil tersebut, Vada tak pernah absen meminumnya setiap malam.
Tapi, kadang Vada juga merasa lega, itu artinya ia tak perlu susah-susah untuk melahirkan anak dari pria dingin itu, dan akan lebih mudah jika mereka berpisah suatu saat nanti.
Setelah minum pil kontra sepsi itu, Vada mengambil sebuh buku lalu merangkak naik ke ranjang.
Mereka asyik dengan kegiatan masing-masing. Vada dengan bukunya, sementara Elvan tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari benda pipih di depannya.
Merasa sudah mengantuk, Vada menutup bukunya dan meletakkan di atas nakas. Ia menatap suaminya, "Monoton sekali hidupnya, terlalu lempeng. Hidup cuma di habiskan untuk bekerja dan bekerja. Apa tidak bosan?" batinnya.
"Kenapa Melihatku seperti itu?" tanya Elvan tiba-tiba, rupanya ia sadar jika sedang di perhatikan oleh sang istri.
"Tidak... Em.. Apa tuan tidak bosan kerja, kerja dan hanya kerja. Apa tidak ingin liburan, nongkrong di mall, shopping atau nonton film mungkin. Bis jug nonton konser. Seru loh, tuan. Sesekali harus mencobanya. Setidaknya lihat pemandangan dan menghirup udara bebas, apa nggak pusing kepala isinya pekerjaan terus?"
"Kau mengajakku berkencan?"
"Dih GR!" batin Vada.
"Tidak bukan begitu, hanya saja aku menyarankan alternatif hidup yang menyenangkan tidak monoton dan membosankan, tuan. Kalau di terima syukur enggak juga nggak apa-apa," sahut Vada. Menurutnya, hidup terlalu mubazir kalau di habsikan hanya untuk bekerja tanpa menikmati hasilnya.
Elvan diam tak menyahut, padahal ia berharap Vada benar-benar mengajaknya berkencan. Astaga, Elvan langsung mengusir pikiran anehnya itu. Akan memalukan sekali kalau sampai ketahuan ia mengharap.
Ingat sesuatu, Elvan mengambil sesuatu dari laci nakasnya lalu menyodorkannya kepada Vada.
"Apa ini?" tanya Vada bingung, ia baru pertama kali melihat kartu seperti itu.
"Kau bisa menggunakannya untuk apapun, seperti yang kamu bilang tadi. Kau tidak perlu bekerja lagi," ucap Elvan.
"Ya nggak bisa dong, tetap harus bekerja aku. Baru juga di bilangin hidup harus bervariasi, masa aku cuma mau ongkang-ongkang di rumah, bosanlah, badan malah sakit semua juga,"
Elvan bergeming
Vada mencebik, tiba-tiba jiwa julidnya muncul ,"Tuan, ini uangnya ada lima ratus juta nggak?" tanyanya penasaran, siapa tahu bisa untuk membeli tanah panti.
__ADS_1
"Lima ratus juta? Kau masih bisa menghitung nolnya?"
"Tentu saja, ada..." Vada tampak berpikir.
"Delapan!" Seru Vada.
"Isinya tidak bisa kamu hitung angka nolnya," jawab Elvan santai.
Jiwa miskin Vada langsung meronta-ronta, tangannya langsung gemetar memegang kartu tersebut.
"Ya ampun, dia bapaknya sultan ya. Kerjanya ngapain sih? Bisa sekaya ini? Apa ini hasil dari hidupnya yang monoton itu, kerja kerja dan kerja! Asti itu moto hidupnya," gumam Vad dalam hati sambil memandangi kartu tersebut takjub.
"Bisa nih buat bayar tanah panti," Vada senyum-senyum sendiri. Namun, di satu sisi ia sadar, semakin banyk menggunakan uang suaminya, semakin banyak hutang ya.
"Jangan Vada, perkara mata kamu saja entah sampai kapan kamu akan menebusnya, jangan di tambah lagi dengan uang. Takutnya nanti ujuk-ujuk di tagih, mau bayar akai apa kamu. Harga diri? Laku berapa?"
Push! Vada langsung mengusir isi pikirannya barusan sambil merengut. Benar, ia tidak bisa menggunakannya sejenak udelnua sendiri. Tahu-tahu kedepannya kalau Elvan sudah sadar, dia di tuntut. Kan seram.
"Aku nggak butuh ini tuan," Vada menyodorkan kembali black card yang ada di tangannya tersebut.
"Itu uang,"
"Iya, aku tahu ada uangnya,"
"Kamu nggak suka duit?" tanya Elvan penasaran.
"Haha tuan bercanda, siapa wanita yang tidak suka uang? Ya sukalah, aku masih normal, tuan.. Tapi... ,"
"Terserah mau di gunakan atau tidak, yang jelas aku sudah memberikannya," ucap Elvan tanpa berniat mengambil kembali kartu itu. Ia heran, jika wanita lain di kasih kartu itu mereka akan kegirangan, tapi ini istrinya malah seperti menanggung beban.
Vada terus memandangi kartu itu sambil terus ngedumel. Ia membolak baliknya hingga tanpa sadar ia terlelap. Elvan yang merasa tak ada keributan lagi yang di buat oleh istrinya menoleh. Di lihatnya sang istri sudah meringkuk di sampingnya.
"Cepat sekali tidurnya, barusan masih ngoceh," batinnya.
Elvan meletakkan laptopnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi asisten Rio.
"Bagaimana, kau sudah cari tahu?"
Entah apa yang asistennya itu katakan di seberang telepon.
"Hem, urus semuanya. Kau tahu apa yang harus kamu lakukan," ucap Elvan dan langsung memutus panggilannya.
Elvan menoleh, menatap lekat wajah istrinya yang sudah beralih ke alam mimpi, "Kau memilih memendamnya sendiri tanpa berniat bercerita apalagi meminta bantuan kepadaku, Vada," ucapnya Dalam hati. Ternyata istrinya tidak mempercayainya.
Elvan melihat tidur sang istri seperti tidak nyaman. Ia membenarkan posisi tidur Vada dengan hati-hati.
"Kalau tidur begini, antenh dan manis sekali, seperti kucing. Tidak berbuat ulah," tanpa sadar ia mengusap lembut pipi Vada.
"Seperti kucing?" ia merasa ada yang salah dengan ucapannya.
"Seperti bayi mungkin ya?" ralatnya bergumam sendiri.
Tiba-tiba Vada menariknya dan langsung menyusup ke dalam pelukannya. Elvan yang terkejut hanya bisa menahan napasnya supaya tidak membangunkan sah istri.
Perlahan tangannya bergerak untuk memeluk Vada yang meringkuk dalam dadanya.
"Hangat, wangi lagi. Mas Mirza ganti parfum?" gumam Vada tanpa sadar. Membuat Elvan langsung menarik tangannya kecewa.
Elvan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Vada, memastikan kalau istrinya sadar atau tidak dengan ucapannya.
Ingin sekali ia menabok pipi istrinya supaya melek. Namun, Vada justru malah semakin ndusel di dadanya. Mencari kenyamanan di sana.
Ya ampun. Sedang mimpi atau apa istrinya itu sampai menyebut nama pria lain saat dalam pelukannya. Jika bermimpi, dia lagi mimpi lagi apa, sampai ndusel-ndusel begitu. Elvan mengusap wajahnya frustrasi sendiri. Ingin rasanya ia masuk ke dalam mimpi istrinya dan mengobrak-abrik apapun yang sedang Vada lakukan dalam mimpinya.
"Aku tarik omonganku tadi, kau tidak ada manis-manisnya. Tidur pun kau berulah, Nevada!" umpatnya dalam hati. Istrinya benar-benar berhasil menjungkir balikan hidupnya.
š¤š¤š¤
__ADS_1